Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 1|
Part* 1
Tujan dari semua kehidupan.... Hanya Dia yang tahu.....
JARUM jan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Bintang-bintang mulai menunjukkan sinarnya setelah hujan mulai berganti menjadi
gerimis kecil. Tapi jendela kamar itu masih terbuka, menunjukkan dengan jelas
wajah penghuninya yang masih sibuk komat-kamit menghafal. Buku dengan tulisan
GEOGRAFI besar-besar di sampulnya tergenggam di tangannya. Sesekali dia melirik
ke arah tulisan di buku itu, tapi selebihnya matanya jelajatan melihat
bintang-bintang melalui jendela kamar. Karena gerimis, dia malas beranjak ke
balkon. Lagi pula hari ini bintang tidak begitu terang sinarnya, tidak bagus.
Angin malam yang sepoi- sepoi sesekali mengibaskan rambut hitamnya yang lurus
sebahu.
"Huuff... Akhirnya selesai juga," gumamnya seraya
menutup buku dan meletakkannya di meja belajar. Saat ingin berbalik,
pandangannya menyapu sekilas sebingkai foto yang terpajang di meja belajarnya.
Dia mengambil foto itu dan membawanya ke ranjang. Sesaat pandangannya
menerawang jauh. Jauuhhh ke masa lima tahun silam. Ada empat sosok dalam foto
itu. Foto sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia. Di tengah- tengah,
seorang gadis mungil berdiri sambil membawa boneka beruang besar. Itu dirinya
saat berumur sebelas tahun.
Terkadang dia sering merasa iri pada dirinya sendiri di foto
itu. Dia masih bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas tanpa beban. Entah sejak
kapan dia lupa rasanya punya keluarga yang bahagia. Di sebelahnya berdiri
sesosok wanita dengan tubuh kurus dan kelihatan pucat. Namun, senyumnya tidak
dapat memungkiri perasaan tulus yang yang terpancar dari sosok seorang bunda.
Seorang bunda dengan senyum emas dan hati seindah pelangi. Bunda terbaik yang
pernah dia miliki.
Lalu sosok jangkung yang merangkulnya. Pandangan yang begitu
ramah, begitu hangat. Seorang yang telah menempatkan dirinya lebih daripada
sekadar seorang kakak. Sebuah cinta yang telah mengisi kotak hatinya yang
terdalam walaupun kemudian berubah menjadi mimpi buruk sepanjang masa.
Mereka.... Dua orang yang paling dicintainya, dua orang yang
selalu bilang sangat mencintainya. Tetapi mereka jugalah yang pergi
meninggalkannya. Pergi jauh.... Lebih jauh dari embusan angin dan bentangan
awan. Mereka telah menemukan tangga.... Ke surga.
Terakhir, sosok pria yang paling dewasa di foto itu. Sosok
dengan kehangatan seorang ayah. Sosok yang membawanya bermimpi menjadi putri
kecil dengan baju dan istana indah. Namun, sosok itu pula yang melemparkannya
ke tempat penyihir jahat yang penuh ular berbisa.
Dia mendesah. Senyum sinis tersungging di bibir cewek itu.
"Foto yang menipu," gumamnya. Dia beranjak dari tempat tidurnya,
meletakkan kembali foto tadi di meja belajar. Sesaat dia tercenang, sebelum
akhirnya setetes air bening mengalir melintasi pipinya.
"Ciya......"
Ketukan dan panggilan dari arah pintu membuat Ciya buru-buru
menghapus air mata dan merapikan rambut di depan cermin, sebelum melangkahkan
kaki membukakan pintu.
Ciya mengangguk pelan begitu melihat sosok di depannya ini.
"Masuk, Oom....," ujarnya seraya mundur beberapa langkah memberikan
jalan, dan kembali menutup pintu saat sosok itu sudah duduk di sofa di sebelah
tempat tidur. Ciya tersenyum lalu ikut duduk. "Kamu suka sama kamar
kamu?" tanya pria itu. Ciya mengangguk. "Suka, Oom."
Jelad aja suka, gimana nggak suka samar kamar yang besarnya
aja empat kali lipat besar kamarnya yang dulu. Bukan hanya lebih besar, isinya
juga lebih banyak. Kamar Ciya tepat berada di sudut kiri lantai dua. Di
tengah-tengah kamar terdapat double-bed, berseprai biru dengan motif
kotak-kotak, di sebelah kirinya ada meja belajar superbesar berbentuk huruf L.
Lengkap dengan dengan laci-laci dan rak buku. Di sebelah kanan tempat tidur
masih ada sofa yang superempuk, lengkap dengan boneka-boneka. Di depan sofa
bertengger dengan gagah sebuah TV flat ukuran 34 inch berikut DVD/VCD/CD player
dan mini compo. Di sekeliling sofa dan tempat tidur tergelar permadani yang
kalau diinjak kakimu akan tenggelam beberapa senti saking tebalnya. Di pojokan
samping meja belajarnya, Iya menaruh meja kecil yang dipasangi taplak biru tua
untuk meletakkan cermin kecil dan peralatan cewek lainnya. Biasanya dia
menyebut tempat itu "pojokan dandan". Di sebelahnya ada pintu menuju
kamar mandi. Dan dinding di bagian kanan, yang letaknya bersebelahan sengan
sofa, terbuat dari kaca dengan pintu geser yang juga dari kaca, untuk menjadi
pemisah antara kamar dan balkon. Dari sofa itulah, Ciya selalu menghabiskan
malamnya memandangi bintang-bintang. Di langit-langit kamarnya pun banyak bertempelan
bintang-bintang dan bulan glow in the dark. Coba aja, dengan kamar sepert ini
mana bisa Ciya nggak bilang suka.
Priya tadi adalah Henry. Dia ayah angkat Ciya sejak tiga
minggu yang lalu. Sejak mamanya meninggal tiga bulan yang lalu, Ciya diangkat
anak olehnya. Tidak jelas apa alasannya dan apa hubungan Henry dengan
keluarganya. Ciya pun baru bertemu dengannya sekali ini. Pria itu hanya bilang
bahwa dia teman lama mamanya. Ciya memang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Kakek dan nenek sudah tidak ada. Papanya anak tunggal, jadi tidak punya
saudara. Satu- satunya saudara mamanya sudah meninggal sejak Ciya belum lahir.
Sulit baginya menerima semua kenyataan yang tergelar di hadapannya sekarang
ini. Sejak kepergian papanya, yang berlanjut dengan kematian kakak dan mamanya,
Ciya benar-benar sebatang kara. Sehingga saat ada sesosok pahlawan yang
menawarkan rumah, makanan, pakaian, uang, dan segala kebutuhan lainnya, mana
mungkin Ciya menolak. Apalagi saat ini dia hanya seorang anak berumur emam
belas tahun. Belum lulus SMA, mana bisa cari kerja?
Henry sendiri seorang pria berusia 48 tahun. Pekerjaannya
direktur sebuah industri teksil. Dengan perusahaan yang sudah bertaraf
internasional, tidak mengherankan kalau dia jarang ada di rumah. Sering
bepergian ke luara kota maupun ke luar negeri, mengurus anak-anak
perusahaannya, yang sudah menjadi makanannya selama dua belas tahun ini. Jangan
heran kalau dalam satu tahun dia hanya berkunjung ke Indonesia (ke Jakarta
tepatnya) sekali-dua kali saja. Itu pun paling satu atau dua minggu.
Istrinya, Fatma, juga tidak ada bedanya. Dia lebih pantas
disebur wanita karier daripada seorang istri. Sifatnya sangat tegas,
berkarakter, elegan, benar-benar mencerminkan wanita kelas atas. Hanya saja,
dia tidak pantas disebut ibu yang baik. Kesibukannya dalam mengurus bisnis
tidak ada bedanya dengan Henry. Walaupun tidak sampai harus terus-menerus ada
di luar negeri, dia jarang sekali ada di rumah.
Makanya, Ciya sendiri sebenarnya merasa sangat bingung dan
heran. Seorang pengusaha kelas
atas, yang banyak kenal dengan menteri-menteri di sana-sini,
sibuknya setengah mati, datang ke rumahnya dua bulang yang lalu untuk
menghadiri pemakaman mamanya sekaligus menawari Ciya untuk menjadi anak
angkatnya. Ciya sendiri tidak terlalu mengerti alasannya. Setiap Ciya bertanya,
jawabannya hanya lima patah kata. "Nanti kamu juga kan tahu." tadinya
Ciya juga agak-agak takut menerima tawarannya. Tetapi, setiap hari Henry
membujuknya, datang ke rumahnya dan memastikan bahwa dia memang tidak punya
maksud tertentu. Dia benar-benar ingin mengangkat Ciya tanpa alasan yang
terselubung.
Sempat sih terpikir oleh Ciya kalau ujung-ujungnya dia akan
dijadikan istri simpanan, sekarang kan banyak penjahat kelas atas yang
mengambil istri muda yang beda umurnya dua puluh sampai tiga puluh tahun. Tapi
akhirnya, karena Ciya merasakan ketulusan pria yang terus- menerus membujuknya
tanpa henti selama satu bulan, dia menyetujui tawaran mengangkatan anak itu.
Dengan satu syarat, dia tidak mau memanggil Henry dengan sebutan papa dan Fatma
dengan sebutan mama. Henry langsung menyetujuinya. Prosedur pengangkatan tidak
terlalu lembar berkas, kemudian dia resmi diangkat anak. Seminggu kemudian
semua barang miliknya sudah diangkut ke kamar barunya di rumah itu. Dan
dimulailah kehidupan Ciya yang baru.
Oh, ya, Henry dan Fatma mempunyai satu anak. Namanya Enrico
Leman. Maklum kakek buyut mereka orang Jerman, jadi namanya masih berbau-bau
Jerman. Ciya tahu dari awal kehadirannya di sini, Enrico dan Fatma sangat tidak
menyukainya. Memang sih, mereka tidak menyuruh Ciya bekerja yang berat-berat
seperti layaknya ibu dan kakak tiri Cinderella. Jelas aja, pelayan mereka
segudang kok. Bik Nah khusus memasak, Bik Tum khusus mencuci baju, Bik Imah
khusus membersihkan rumah, Mang Ujang khusus mengurus kebun dan kolam renang,
ada juga Mang Asep yang jadi satpam. Apa coba yang mesti dikerjakan Ciya
lagi?
Hanya saja sikap mereka sangat-sangat tidak bersahabat.
Mereka sering kali menganggap Ciya hanya bayangan yang tidak kelihatan,
sehingga menyapa pun mereka tidak pernah. Sebenarnya Ciya juga itdka terlalu
pusing dengan persoalan ini, dia juga tidak mau pedulu. Ada yang ngasih makan
aja udah bagus. Dia lebih menganggap semuanya itu sebagai anugerah dibanding
penyiksaan mental. Biarpun begitu, siapa coba yang nggak keki kalau
terus-terusan dicuekin. Emangnya dia tembok? Tapi harus diakui, kehidupan
materinya sangat berubah sembilan puluh derajat.
Kehidupan Ciya sebelumnya tidak tergolong miskin. Papanya
bekerja sebagai karyawan swasta. Penghasilannya cukup besar. Mamanya memang
tidak bekerja, lebih banyak meluangkan waktu di rumah mengurus rumah tangga dan
anak-anaknya. Dia dan kakaknya, Billy, bersekolah di sekolah unggulan. Dia juga
bisa membeli barang-barang yang dia inginkan. Memang tidak berlebihan, tapi
hidupnya bisa dibilang sangat berkecukupan. Apalagi Ciya tidak pernah
kekurangan kasih sayang. Baik dati Mama, Papa, maupun kakaknya. Hanya saja
semua itu terjadi sebelum tragedi itu datang.
Sekarang dia pindah sekolah ke SMA yang setingkat di atas
golongan elite. Makan makanan mewah setiap hari (kecuali sarapan yang cuma roti
panggang), tidur di kasur empuk dengan bantal dari bulu angsa, bisa berenang
kapan saja dia mau (mmm... Nggak juga sih, soalnya Ciya nggak bisa berenang),
dan tidak perlu mengurus rumah. Sebelum ini, mamanya tidak suka dengan
pembantu, bukan karena tidak mampu membayar, hanya saja dia lebih suka mengurus
rumah sendiri, sehingga Ciya dididik untuk mandiri.
"Luda Oom akan berangkat ke Singapura," ujar Henry
lagi. "Oom harap kamu bisa cepat kerasan tinggal di sini."
Ciya hanya tersenyum
kecut. Sepertinya akan susah. Sebenarnya Ciya masih ingin menanyakan alasan
kenapa Oom Henry mengangkatnya menjadi anak, tapi Ciya melihat hari ini tampang
Henry sangat letih sehingga dia mengurungkan niat tersebut. Dia malas mencari
masalah hari ini.
"Sebenarnya Oom berencana ingin menjual rumahmu."
Kalimat yang cukup membuat Ciya membelalakkan mata. "Apa?" Yang benar
saja! Dia sudah kehilangan Mama, Papa, Kakak, dia sudah kehilangan semua orang
yang dicintainya. Sekarang, satu-satunya benda yang dimilikinya juga harus
hilang?
Melihat mata Ciya yang lebih membulat dibanding biasanya,
mau tak mau Henry melepaskan senyum tipis. " Oom belum menjualnya kok. Oom
mau meminta persetujuan kamu dulu. Lagi pula, rumah itu kosong. Kan repot juga
ngurusnya. Belum lagi bayar PBB, biaya iuran ini, iuran itu...."
Ciya mendengus. Emangnya semahal apa sih iuran-iuran itu
dibandingkan kekayaan yang dimiliki pria itu. Paling juga nggak sampe
seperseratus dari kekayaannya. Tapi sedtik kemudian dia tersadar, buru-buru dia
menepis pikiran jeleknya tadi. Udah numpang, masa nggak tahu diri sih.
"Mmm, gimana ya.... Gimana ya? Soalnya.... Itu
kan.....," Ciya menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya dia sangat tidak
ingin kehilangan rumah itu, tapi dia juga merasa tidak enak kalau ingin tetap
mempertahankannya.
"Oh iya, Oom...." tiba-tiba dia mendapatkan akal.
"Kalo dikontrakin aja gimana, Omm? Jadi kan ada yang ngurus. Terus Oom
juga nggak repot tapi kepemililkan masih tetep milik papa saya, gimana,
Oom?"
Henry hanyan tersenyum. Biasanya kalau dia tidak berkata
apa-apa tandanya setuju. "Oke kalau begitu. Sekarang kamu tidur deh, udah
malem. Besok sekolah, kan? Oom keluar dulu. Maaf ya udah ganggu kamu. Oom harap
kamu bisa betah tinggal di sini. Tante Fatma sama Rico memang agak keras kepala.
Tapi sebenarnya mereka baik kok. Mereka belum kenal kamu saja. Jangan
sungkan-sungkan ya," ujar Henry sambil mengelus rambut Ciya. Sekilas
tebersit kembali pikiran jeleknya tentang istri simpanan. Tapi dia buru-buru
menepisnya. "Iya, Oom. Tenang aja. Makasih, Oom. Ciya udah banyak
ngerepotin Oom."
Setelah Oom Henry keluar, Ciya beranjak ke balkon. Gerimis
sudah berhenti. Bintang sudah mulai bermunculan. Bulan separuh bersinar tidak
begitu terang. "Bintang, mudah-mudahan besok lebih baik daripada hari ini."
Komentar
Posting Komentar