Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 8 |


part* 8 
She Is Sha-Sha.... 
Sudan tiga minggu berlalu sejak kejadian labrakan itu. Dan sepertinya apa pun yang dikatakan Rico kepada Jesse waktu itu berhasil!! Walaupun sempat gempar dengan adegan pacaran pura-pura itu, toh akhirnya semua kembali seperti biasa. Apalagi saat itu sudah mendekati jadwal ujian. Jadi, para penggosip itu lebih mengkhawatirkan nasib kelulusan mereka dibandingkan dengan berita kebenaran tentang "Ada apa dengan Ciya dan Rico?" 
Jesse juga seperti lenyap ditelan bumi. Nggak ada kabarnya lagi, nggak keliatan hidungnya lagi. Dan itu artinya___ khususnya buat Rico___adalah KEDAMAIAN! Sekarang dia bisa berangkat dan pulang sekolah dengan tenang. Tanpa ada yang mengatakan "Kita balikan lagi yuk!" Tapi, buat Ciya, sepertinya dia nggak mau ambil pusing dengan semua itu. Satu hal yang membuatnya lega adalah tidak perlu nyamar jadi ceweknya Rico lagi. Kepura-puraan itu membuatnya hampir gila! Selama dua minggu mereka pura-pura jadian___berlangsung sejak acara Rico memproklamirkan hubungan mereka di depan Jesse sampai acara Art and Science___lebih pantes kalau mereka dibilang sebagai majikan dan pembantu dibanding pacar. Iya lah, banyak sekali aturan yang harus dijalani Ciya! 
1. Ciya harus membelikan minum setiap pelajaran olaharaga. "Kenapa nggak lo yang beliin minum buat gue? Sekarang kan emansipasi" "Dan zaman ke zaman, cewek gue selalu ngebeliin gu minum. Perhatian sedikit kenapa sih?!" ujar Rico masih dengan seragam yang penuh keringat. Ciya mendengus. "Nih!" Dia memberikan botol minumnya. "Nggak mau, gue mau Pocari!" Ciya mengepalkan tangan kanannya sambil mendengus kesal. "Cerewet!!" 
Kalau saja semua orang tidak memperhatikan mereka saat itu, Ciya lebih memilih membuat Rico mati kering kehausan dibanding harus berjalan ke kantin, yang jauhnya satu kilometer dari lapangan bola, hanya untuk membelikan cowok belahu itu minuman. Rico tersenyum saat melihat Ciya berjalan menjauh sambil mengumpat-umpat. Kenapa sih cewek itu suka sekali mengumpat orang?! 
2. Setiap istirahat panjang, Ciya harus menemani Rico dan bandnya latihan. "Nggak mauuu!!" Ciya mati-matian berpegangan pada tiang bendera saat Rico menyeretnya ikut ke ruang band. "Itu ritual cewek-cewek gue!" "Kenapa cewek-cewek lo itu bego semua sih!" 
Kalau tidak ada Natya yang mengalah untuk ikut menemaninya, diseret sepuluh kuda pun, Ciya nggak bakal mau mendekam di ruang band selama satu jam!! Bayangkan! Satu jam! Satu jam hanya untuk mendengarkan musik yang sama sekali tidak dimengerti Ciya di mana sisi bagusnya. Nggak budek aja udah untung! Sekadar catatan, Ciya nggak suka musik rock. Dia lebih suka musik pop yang agak-agak mellow. Kayak musiknya Norah Jones dan Enya. Dan karena itu juga, Ciya harus makan siang___dengan piring styrofoam, karena nggak bisa makan di kantin___ diiringi lagu yang membuat jantungnya berdenyut-denyut setiap Christian memukul drumnya. Indah sekali, BUKAN??!! 
Untung ajamsa kepura-puraannya selesai dalam jangka waktu dua minggu. Kalau lebih, mungkin Ciya bakal bener-bener harus pindah ke sekolah khusus tunarungu. 
3.Ciya harus bersedia dirangkul semaunya oleh Rico. "Emang orang pacaran nggak boleh rangkulan?" tanya Rico saat Ciya menepis tangannya sewaktu mereka berjalan menuju kantin. "Emang di sekolah perlu pamer kalo kita pacaran?" Ciya melotot. Sementara Rico hanya nyengir kuda. "Ayolah, sayang! Jangan malu-malu...." Rico makin mempererat rangkulannya saat gerombolan Meta cs___ mantannya sebelum jadian sama Jesse___lewat di depan mereka. 
Jadi mau tak mau Ciya hanya bisa menyeringai kalau tidak mau penyamarannya terbongkar. 
4. Ciya harus menemani Rico makan di kantin saat istirahat pertama. "Emang nggak bisa makan sendiri?" Ciya meletakkan bukunya dengan kasar di atas meja. Dia lebih suka mengobrol di kelas bersama Natya dibanding ke kantin selama lima belas menit lalu lari sekencang-kencangnya agar tidak ketinggalan pejalaran berikutnya. "Cuma nemenin doang kok." Rico menowel-nowel dagunya. "Ayolah, sayang! Sayaaang!!!" Hiaahh!!! Mendengarnya saja Ciya sudah bergisik! Mau tidak mau, daripada ntar malem mimpi aneh, dia menemani Rico ke kantin. Walaupaun sebelumnya dia sempat melemparkan buku yang tadi dipegangnya___sampai menghasilkan suara. "buk!"___tepat ke muka Rico. 
5. Rico bener-bener nempel sama Ciya kayak cicak setiap hari. Saat di sekolah, Rico tidak pernah menjauh sedetik pun dari Ciya. Mau di kantin, di perpus, di kelas, di laboratorium, di ruang band semuanya bareng. Paling-paling cuma ke WC aja yang nggak barengan. 
Natya sendiri sampai geleng-geleng kepala. Kalau dia tidak diberitahu Ciya keadaan yang sebenarnya, mungkin dia pun akan mengira mereka benar-benar pacaran. Gimana nggak, sama pacar sebelum-sebelumnya aja Rico nggak selengket ini. 
Walaupun lebih sering bertengkar dibanding sayang-sayangannya, kalau di depan orang lain, mereka berubah menjadi pasangan yang lebih berbahagia dibandingkan Britney Spears dan Justin Timberlake semasa jadian. Jadi nggkak banyak yang curiga, kecuali satu-dua orang yang sempat memergoki mereka timpuk-timpukan buku. 
6. Udah cukup ah! Pokoknya banyak banget deh! 
Untung saja hampir setiap malam, Rico membawakan sekeranjang cokelat sebagai upah tutur mulut. Sehingga walaupun tidak tersenyum, Ciya tidak komplain apa pun tentang penderitaannya. 
Dan hari ini adalah hari pertama liburan tengah semester. Yes!! Setelah seminggu kemarin harus jungkir balik belajar buat ujian, liburan penuh satu minggu tampaknya cukup membuat semua muris terpingkal bahagia. 
*** 
Pari ini cuaca cerah. Ciya memilih kegiatan pertamannya di hari pertama liburan ini dengan berselonjor di kursi malas
yang terletak di pinggir kolam renang sambil membaca novel Harry Potter V yang sudah berpuluh-puluh kali dibacanya, ditemani jus stroberi buatan Bik Nah. Matahari bersinar di balik awan, jadi tidak cukup panas untuk membuat Ciya memakai sunblock. Lagi pula, sinar matahari pagi kan memang bagus untuk mengubah pro vitamin D di dalam tubuh menjadi vitamin D. 
"Haloo...." Rico mesem-mesem, memaksa Ciya menggeser duduknya, dan berselonjor di samping Ciya. Ciya menutup kasar novelnya. Untung aja tangannya nggak kejepit. Harry Potter V kan tebelnya cukup buat nimpuk anjing. "Emangnya nggak tempat duduk lain ya? Kenapa mesti duduk di sini?" 
Rico hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. 
"Tuhaaannn! Kenapa di dunia ini harus ada playboy yang genitnya nggak ketulungan?!!!" Ciya melempar bukunya ke bagian bawah perut Rico___ "Auuwww!!!!___kemudian ngeloyor pergi. "Hei! Mau ke mal nggak?" tanya Rico masih mengusap-usap bagian sensitifnya itu. Mendengar kata mal, Ciya langsung bernalik dengan senyuman selebar bahu. Dia mengangguk beberapa kali. "Cih.... Dasara." Rixo lalu bangkit dan berjalan masuk ke rumah. "Tapi naik mobil ya, Kyoooo!" 
*** 
Ciya berjalan sempoyongan mengikuti Rico yang berada semeter di depannya. Di tangannya bertumpuk kantong-kantong belanjaan yang membuat kakinya hampir tidak terlihat. "Dasar berengsek cowok itu!" 
Dari dua jam yang lalu merek berputar-putar memasuki seluruh toko HANYA untuk membeli kaus, kemeja, jaket, kardingan, celana pendek, celana panjang, topi, ikat pinggang, sepatu, kaus kaki, tas pinggang, tas selempang, tas ransel, dan entah apa lagi..... Tapii semuanya itu buat Rico. 
Tidak habis pikir! Sebenarnya buat apa barang sebanyak ini? Kalo Oom Henry tahu, apa dia nggak jantungan ya? Dalam dua jam anaknya menghabiskan tiga juta buat semua barang ini. Emang beda ya kalo jadi anak orang kaya. Cukup gesek-gesek kartu, barang langsung berpindah tangan. "Kyoooo!!!" semua orang yang ada di situ mendadak melihat ke arah mereka. Rico berbalik. "Kenapa?" Ciya mengempaskan semua kantong belanjaannya. "Bawa sendiri!! Gue mau pulang!" "Yakin?" tanya Rico saat Ciya hendak berbalik. "Barang yang mau gue beli udah cukup kok. Sekarang mau nyari buat lo. Bener nggak mau?" Ciya berbalik, senyuman tiak tulus tersungging di wajahnya. 
*** 
Wuaouw....! Baru kali ini Ciya belanja barang sebanyak ini. Sudah lima belas toko yang dia kunjungi. Di setiap toko dia mencoba minimal lima baju, dan membeli minimal dua baju. Dari kaus tangan pendek, celana tiga perempat, tank top, gaun baby doll, celana panjang, rok mini, kulot, sepatu hak tinggi, clutch bag, dan jaket. Dan itu berarti beban bawaannya semakin BANYAK.
"Nih, gue bantuin deh," ujar Rico sambil menenteng dua kantong. Dan itu berarti beban bawaan Ciya masih dua puluh enam kantong! "Kyo, tunggu dong!" teriak Ciya saat Rico sudah menuruni tangga eskalator. Kaki Ciya mencoba meraih anak tangga berjalan itu, tapi sepertinya lebar eskalator tidak cukup besar untuk memuat lebar tubuh Ciya ditambah dengan kantong-kantong belanjaannya. Braakk.... Bruukk.... Seluruh kantong belanjaan menimpa muka Rico, kemudian jatuh bergelindingan, isinya berhamburan ke mana-man. Ada yang nyangkut di kepala oom-oom, ada yang nyangkut di kondenya ibu-ibut, ada yang nyangkut di.... 
Ciya sendiri kehilangan keseimbangannya. Rico, yang masih kaget akibat tertimpa kantong belanjaan tadi, hanya bisa membelalakkan mata saat tubuh Ciya melayang ke arahnya. Dan yaakk.... Mereka sukses guling-gulingan dan tumpuk-tumpukan 
*** 
"Iya, maaf...," kata Rico sambil menyodorkan sekaleng Coca-cola ke arah Ciya. Kepalanya memar akibat kepentok pegangan tangga. Ciya duduk di sofa dengan muka ditekuk. Walaupun tadi dia mendarat tepat di atas punggung Rico, sekaranf seluruh badannya sakit semua. 
Dua puluh delapan kantong belanjaan sudah tersusun rapi di tempat tidur Rico. Gara-gara insiden jatuh tadi, tanpa disadarinya kunci kamar Ciya ikut terjatuh. Jadi, sekarang dia nggak bisa masuk ke kamarnya. Sambil menunggu tukang kunci datang, dia duduk di kamar Rico. 
Baru kali ini Ciya masuk ke sana. Nuansanya hitam-putih. Di pojok ruangan ada gitar eletrik, gitar biasa, dan keyboard. Permadaninya bercorak zebra terhampar di seluruh ruangan. Sofanya berwarna hitam dengan garis putih. Selebihnya, posisi barang-barang lainnya tidak beda jauh dengan yang ada di kamar Ciya. Buat Ciya, kamar ini terlalu rapi untuk ukuran cowok. "Lagian pake acara bawa kunci kamar segala. Udah, tenang aja, bentar lagi juga tukang kuncinya dateng." Rico mengempaskan tubuhnya di samping Ciya sambil meneguk Cocacola- nya. Dia meringis sambil memegangi kepalanya yang biru. "Sakit ya?" tanya Ciya. Rico mengangguk. Tangannya masih mengusap-usap dahinya. "Sini liat!" Ciya mencodongkan kepalanya. Tapi tiba-tiba.... CUP.... Rico mencium pipi Ciya. "Hiiaa!!!" Ciya berteriak-teriak sekerasnya. Rico membelalakkan matanya, kaget. Apa lagi ini?? Ciya mengusap-usap pipinya. "Ngapain cium-cium gue!??" Rico mendelik. "Cuma mau bilang makasih aja karena hari ini udah mau nemenin gue ke mal." 
Dia bilang apa tadi? Makasih? Makasih? Sejak kapan makasih mesti ditunjukkan dengan ciuman?? 
Ciya membulatkan matanya. "Tuhan, kenapa gue mesti ditakdirkan serumah sama PLAYBOY kayak lo?! Asal lo tahu ya! Ini pertama dan terakhir kalinya gue nemenin elo ke mal!!" Ciya memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Kenapa gue setuju buat tinggal di sini." dia menepuk-nepuk pipinya. "Gue pasti udah gila! Ini pasti mimpi! Iya, kan? Ini pasti mimpi...... Aduuuhhhh....." 
Rico tertawa sekeras-kerasnya melihat tingkah Ciya. Tubuhnya benguncang-guncang, membuat
Coca-cola-nya bercipratan keluar dari kaleng. Ciya yang seperti ini nih yang membuatnya tidak tahan. Cewek itu sendiri mungkin tidak pernah menyadri terkadang dia bisa menjadi.... Sangat lucu. 
"Heh!! Nggak lucu!" Ciya bangkit dan beranjan ke ranjang, mengempaskan tubuhnya di sana. Rasanya pegal banget! Dia sendiri masih tidak percaya, dapet kekuatan dari mana bisa membawa belanjaan sebanyak itu hanya dengan dua tangan. Dia berbalik. Matanya menangkap sesuatu di meja belajar Rico. 
"Hei, siapa nih?" Ciya mengambil foto yang terpasang di sana. Seorang anak kecil, umurnya kira- kira sembilan tahun. Rambutnya dikucir kuda, pipinya merah terkena sinar matahari. Bergaya bertolak pinggang sambil tertawa. "Lucu banget!" Ciya membawa foto itu dan duduk di samping Rico. "Siapa nih, Kyo?" "Jangan liat-liat!" Rico merampas foto tadi dan kembali menaruhnya di meja. "Pelit! Siapa sih?" Rico terdiam selama beberapa menit, sebelum mengucapkan satu patah nama. "Sha-Sha." Ciya memandangnya dengan tatapan ingin tahu. "Sha-Sha?" dahinya berkerut, memikirkan semua kemungkinan tentang cewek itu. Lalu cibiran kecil muncul. "Cewek pertama lo, kan?" Toeng!!! Tepat sekali! "Ya, kan?" Ciya tertawa penuh kemenangan saat melihat pipi Rico bersemu merah. "Cerita dong! Gimana ceritanya?" Rico duduk di ranjangnya. "Malu ah." Gubrakk!! Gubrak!!! "Malu apaan? Dasar aneh! Paling juga dia sama kayak mantan-mantan lo yang lain, kan?" "Jangan sembarangan! Dia nggak sama!" Rico menatap Ciya marah. "Dia satu-satunya cewek yang gue sayangi!" Ciya melongo, mulutnya membulat membentuk huruf O. "First love ceritanya? Hebat juga! Ternyata ada cewek yang bisa bikin lo jatuh cinta beneran. Nggak nyangka. Gimana orangnya?" 
Pandangan Rico sekilas menerawang .muncul senyum kecil di bibirnya. "Dia cewek hebat. Cewek yang ngajarin gue segalanya. Cewek yang selalu ada tiap kali gie butuh dia. Satu-satunya orang yang bakal selalu ada di hati gue." 
Ciya mendengarkan cerita Rico sambil sesekali tersenyum kecil. Baru kali ini Ciya melihat Rico sangat antusias terhadap sesuatu. Dia menceritakan segal hal tentang Sha-Sha dengan mata berbinar-binar. Mulai dari saat mereka kecebur watu mancing, waktu pertama kali belajar naik sepeda, waktu dia mengajak Sha-Sha manjat pohon, waktu dia mencuri mangga di rumah sebelah, waktu tidur bareng di samping kolam renang, sampai saat kepergian Sha-Sha ke Taiwan. Ciya terkadang tergelak saat Rixo meneragakan ceritanya dengan gaya-gaya aneh. Tidak disangka ada juga sisi baik cowok ini! Tadinya Ciya pikir semua playboy itu nggak pernah mau tahu tentang cinta. Ternyata nggak juga. Tapi satu-satunya orang yang bisa mengeluarkan sisi baik Rico hanyalah Sha-Sha. Hanya satu orang, Sha-Sha. "Lo sayang banget sama dia ya?" tanya Ciya. Rico mengangguk. Tiba-tiba Ciya melihat ada sebutir kristal bening yang menetes. "Kyo..." Rico cepat-cepat mengusap air matanya. "Kyo...." Ciya menepuk-nepuk bahunya meniru ucapan Rico. "Kalo mau nangis, nangis aja." Rico menatapnya. "Siapa yang mau nangis?" ujarnya ketud.
Ciya mengeluarkan suara "cih" pelan, rasa simpatinya jadi hilang semua. Dia beranjak ke meja belajar Rico, melihat foto itu lagi. "Anaknya lucu ya, Kyo!" 
Pandangannya beralih pada kalender yang terpajang di sana. Alisnya naik. Bukan karena kalender itu memuat foto artis seksi yang mengenakan baju renang, tapi karena dia melihat sebuah tanggal yang dilingkari dengan spidol merah dan bertulis "My birthday". "Kyo, lo besok ulang tahun?" tanya Ciya. Rico mengangguk. Ciya tertawa kecil sambil menarik napas lega. "Untung deh. Tadinta gue pikir lo alien. Ternyata li punya tanggal lahir juga, manusia beneran ternyata, hahaha...." Rico melotot. "Heh! Nggak lucu!" ujarnya meniru ucapan Ciya. Ciya masih cengengesan. "Bercanda.... Ada acara apa besok? Lo kan lagi nggak ada cewek, jadi besok dirayain bareng-bareng aja. Ajak temen-temen band lo sama Natya. Ajak Yoyo juga ya." "Eh! Yang ulang tahun siapa? Kenapa malah lo yang ngatur?" Ciya mendesis. "Ya udah, terserah lo deh...." Rico memutar-mutar bola matanya. "Gue mau ke Dufan. Lo ikut ya?" Ciya mengerutkan dahinya. Tadinya Rico pikir Ciya bakal menertawakannya. Iya lah, siapa sangka Rico kena sindrom Peterpan! Cowok umur enam belas tahun kok malah masih suka main komidi putar? Tapi ternyata Ciya cuma menggeleng. "Nggak ah." Rico memasang tampang jeleknya. "Kenapa?" "Tempat itu ngingetin gue sama Billy," ujar Ciya sedih. Rico terdiam melihat Ciya. Entah kenapa setiap ali menyebut nama Billy, cewek itu memasang tampang sedih yang sama. "Eh...." Rico menyikut Ciya. "Sebenarnya udah lama gue mau nanya ini sama lo. Tapi takut lo marah." "Kenapa? Tanya aja?" "Billy itu kan kakak lo, kok lo malah...." "Billy bukan kakak kandung gue. Dia anak angkatnya adik nyokap gue. Bibi dan paman gue udah meninggal waktu Billy umur dua tahun karena kecelakaan mobil. Jadi, sejak itu dia tinggal sama bokap gue. Lagian gue kan...." Ciya tidak melanjutkannya. "Ganti tempat aja ya? Jangan ke sana!" Rico sebenarnya masih tidak puas. Tapi melihat raut muka Ciya saat ini, Rico hanya bisa mengangguk. "Ya udah, mau ke mana?" 
Ciya tampak berpikir. Alisnya bergerak-gerak. Susah juga ya! Arena ice skating (ulang tahun kok main ice skating?), pantai (ih, kayak orang pacaran aja), kebun binatang (ini lebih nggak banget!), apa lagi ya.... Ah iya.... "Kyo, kita barbekyu aja yuk! Kita barbekyu di sini aja! Ntar gue suru Bik Nah siapin panggangannya sama bahan-bahannya. Ntar gue suruh nyokap Yoyo bikinin puding. Pudingnya nyokap Yoyo enak banget! Kalo soal kue, nggak usahlah.... Udah makan daging pasti rasanya kalo dicampur sama cake. Lagian kan udah ada puding. Teman belakang kan luas, kita barbekyu di sana aja. Jangan bilang kita tinggal serumah , bilang aja gue udah duluan dateng. Beres, kan?" Rico tertawa kecil sambil mengacungkan kedua jempolnya, berbarengan dengan teriakan Bik Nah dari bawah. "NON!!! TUKANG KUNCINYA DATENG NIIHH!!!"  

Komentar