Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 9 |


part* 9 
Happy Birthday! 
Pukul 07.00 
Bik Nah meletakkan dua keranjang besar di dapur___yang berisi, daging, udang, ikan, salmon, saus barbekyu, arang, daun selada, bubuk cokelat, dan entah ada benda apa lagi___kemudian memukul-mukul pinggangnya, pegal. Man Ujang sibuk nyulap taman belakang menjadi tempat pesta mini. Sebuah meja bundar besar yang dikelilingi tujuh bangku plastik diletakkan di tengah- tengah taman, dua panggangan beserta kipas angin___biar nggak usah capek ngipas-ngipas, jadi pake kipas angin___dan meja kecil berjajar agak jauh di sampingnya. Rumput-rumput sudah dipangkas rapi, kolam renang juha terlihat jernih. 
Dari jam empat pagi Ciya sudah sibuk mencoret-coret daftar belanjaan yang akan diberikannya pada Bik Nah. Dia juga yang menyuruh Mang Ujang membereskan taman. Sepertinya dia jauh lebih bersemangat dibandingkan yang berulang tahun. 
Rico sendiri sampai sekarang cuma duduk-duduk di sofa, sibuk mengangkat telepon dan membalas berpuluh-puluh SMS ucapan ulang tahun, walaupun mama dan papanya sendiri tidak ingat. Dia masih mengenakan celana pendek dan kaus kutung. Matanya sesekali menatap Ciya yang sedang memotong-motong daging bersama Bik Tum dan Bik Nah. Heran, kenapa ada cewek yang suka banget masak?! "Heh, mandi sana!" ujar Ciya saat mendapati Rico sedang memandangnya. "Ngapain? Lagi libur ini. Lagian yang dateng juga cuma anak band doang. Wangi kok!" ujarnya menghampiri Ciya. "Apaan tuh?" tanyanya menunjuk jamur putih yang sedang dipotong Ciya. Ciya hanya mengedarkan pandangan malas seakan ingin bilang, "Jorok banget sih nih cowok!" "Yee, nggak percaya kalo gue wangi? Nih cium!" Rico membuka ketiaknya lebar-lebar ke depan muka Ciya. Dan..... Plukkkkk seonggok daging tepat mendarat ke muka Rico. 
*** 
"Happy birthday!" Natya langsung menghambur ke dalam rumah. Tangannya membawa satu kotak besar berpita. "Nih, kadonya! Tapi patungan sama anak-anak bertujuh," ujarnya nyengir sambil menunjuk kawanan cowok di belakangnya. Viktor, Rangga, Dan Christian melongokkan kepalanya dari balik pintu. "Hei, man! Happy birthday!" Rico tersenyum, ber-high five ria. Kalau mau jujur, baru kali ini dia merayakan ulang tahunnya di rumah. Mmm..... Nggak pernah dirayain sih tepatnya. Paling-paling cuma traktiran ala kadarnya, kalo nggak ya... Paling-paling juga kencan sama mantan-mantannya. Tapi.... Tunggu.... Bertujuh?? Siapa aja? Natya, Viktor, Christian, Rangga.... Dua lagi pasti Ciya sama Aldy. Tapi satu lagi?? "Eh, kadonya patungan berenam, kali. Bertujuh sama siapa lagi?" tanya Rico. Berbarengan dengan itu, muncul lagi satu sosok cewek dari balik pintu. Oh, my God! Dia lagi??!! Christian tersenyum melihat perubahan mimik muka Rico. "Tenang.... Dia udah jinak kok!" lalu dia merangkul Jessica dan membawanya ke depan Rico. "Dia cewek gue sekarang." "Haah?!" Rico melongo. Tapi Jessica hanya senyum-senyum.
 Ceritanya begini. Ternyata sebulan yang lalu, setelah Rico marah habis-habisan karena Jessica ngelabrak Ciya. Christian tidak sengaja menemukan cewek itu sedang menangis sendiri di depan kamar mandi. Tanpa sadar, kakinya melangkah begitu saja. 
Tau-tau lima menit kemudian mereka ngobrol panjang lebar. Dan ternyata alasan sebenarnya Jesse ngelabrak Ciya bukan karena dia merasa Ciya merebut Rico. "Tadi gue ngeliat Ciya nerima bunga dari cowok lain. Gue cuma nggak pengen Ciya melakukan hal yang sama kayak gue. Gue nggak mau ada orang yang nyakitin Rico lagi. Tapi ternyata dia malah salah paham." 
Saat itu Christian jadi merasa ternyata Jesse tidak sejahat yang diceritakan kebanyakan orang. Apalagi, dia juga sangat cantik. Sejak itu, dimulailah pertualangan mereka. Awalnya SMS-an, membicarakan Rico, kemudian telepon. Dari pembicaraan tentang Rico dan Ciya beralih tentang Christian, kemudian belajar bareng. Ngomongnya sih demi persiapan UTS, nyatanya cuma ngobrol doang. Dan dari topik tentang Christian beralih menjadi topik tentang Jesse. Dari topik tentang Jesse berputar lagi menjadi topik tentang Christian dan Jesse. Akhirnya.... Yah begitu deh. "Iya, gue juga tadi pas jemput si Chris. Tahu-tahu aja ada Jesse di rumahnya. Jadi tenang aja, Ric. Saingan lo buat ngedapetin Ciya berkurang satu," ujar Viktor cengengesan.  "Eh, Ciya mana? Belom dateng ya?" "Udah, tuh di taman. Lagi bantuin naro makanan." Tanpa berpikir dua kali, Natya langsung ngacir ke arah sahabatnya itu. "Ciyaaaaaa....!" 
*** 
Jangan ditanya bagaimana tampang Ciya saat melihat cewek, yang menurutnya berdada tempayan, melongokkan wajahnya di taman. Kalau tidak ada Natya yang mendekapnya habis- habisan, mungkin Icya sudah membuat Jesse menjadi pengganti daging panggang. Setelah diberi penjelasan panjang-lebar oleh Christian, akhirnya Ciya berhenti mengamuk. Jessica malah mengulurkan tanganya untuk minta maaf. Wuaah.... Hebat juga si Christian! 
Hari ini bisa dibilang sebagai hari teramai sejak Ciya melangkahkan kakinya ke sini. Cewek- cewek sibuk panggang-panggang, sedangkan cowok-cowok sibuk nyanyi-nyanyi sambil main gitar. Ciya sesekali menatap sebal ke arah mereka. Kenapa sih cowok-cowok itu selalu tidak punya inisiatif??! Kalo segitu sukanya sama musik, kenapa nggak jadi pengamen aja sekalian? Tapi berhubung Natya sudah sibuk menceramahinya panjang-lebar___"Sekali-sekali nggak papa lah, Ci. Kan hari ini ulang tahunnya Rico. Jadi hari ini dia nggak perlu ngapa-ngapain. Lagian kan sekalian juga ngerayain jadiannya Jesse sama Christian terus sekalian ngerayain persahabatan lo sama Jesse juga trus bla.... bla...."___Ciya jadi malas berkata-kata lagi. Jessica juga tampaknya kewalahan mengatasi hobi berbicaranya Natya itu. Jadi, dia sesekali hanya meringis saat Natya berbicara tanpa titik koma. "Eh....," Natya menyenggol Ciya, "Lo bener-bener nggak ada apa-apa sama Rico?" Ciya mendelik. Saking seringnya Natya menanyakan hal itu, Ciya ingin sekali menyumpal mulut cewek itu dengan daun selada dan udang mentah. Tapi sepertinya Natya tidak mengerti. 
"Tenang aja. Jesse kan udah nggak ngejar-ngejar Rico lagi. Ya, kan?" Natya memalingkan wajahnya ke Jessica yang hanya menonton mereka bekerja. Sebenarnya Jessica juga mau membantu. Tapi waktu disuruh memotong daging, Jessica malah memotong jarinya sendiri. Saat disuruh membalik daging yang di panggang, dia malah membuat daging itu jatuh ke arang.
Alhasil, Ciya melarangnya menyentuh apa pun. Jadi Jessica hanya menonton saja. 
"Iya, soal yang kemaren itu, maaf ya." Jessica tersenyum. Ciya sampai melongo. Beda sekali Jessica hari ini dengan rok mini, masih pake make-up yang tebelnya setengah senti, masih ngomong dengan suara selembut burung camar dan nggak becus disuruh ngapa-ngapain, setidaknya tingkah lakunya hari ini sudah membuat Ciya agak berubah pikiran. 
Ciya mendecakkan lidahnya. "Mau sampe kapan lo baru bosen nanyain gue soal itu? Gue aja sampe bosen ndengerinnya! Heran gue....." 
Natya mencibir. Mestinya dia yang heran, bilang nggak ada apa-apa, tapi Ciya deket banget sama Rico. Sejak dia jadian sama Viktor, jarang banget Rico gabung sama mereka berdua. Tapi sejak ada Ciya, apalagi sejak insiden pacaran pura-puranya mereka, mereka berempat jadi sering bareng. Ke kantin bareng, praktikum satu kelompok, ngobrol bareng. Hari ini aja Ciya yang dateng duluan. Masih bilang nggak ada apa-apa. 
*** 
"Gue nggak nyangka lo bisa jadian sama Jesse," ujar Rangga sambil menyuapkan sepotong daging ke mulutnya. Telunjuknya mengarah ke seorang cewek berambut pirang yang berada tiga meter di samping mereka. Cukup jauh agar mereka tidak mendengar pembicaraan masing- masing. 
Christian cuma cengar-cengir. "Gue juga nggak kepikiran kok sebelumnya. Tapi ternyata nyambung aja. Lagian anaknya ternyata nggak sejahat yang gue kira kok." Dia mengalihkan pandangannya ke Rico. "Lo nggak mau jadian beneran sama Ciya? Baru kali ini gue ngedenger Enrico Leman pura-pura pacaran." Christian meneguk Cola-Cola-nya. "Kenapa? Ciya nggak tertarik sam lo ya?" 
Rico tersentak. Gengsinya terlalu besar untuk sekadar menganggukan kepala. Tapi sepertinya tanpa mengangguk pun Christian sudah mengerti, buktinya dia ketawa terpingkal-pingkal. "Hahaha.... Bener ya? Kacau juga tuh cewek! Baru kali ini gue liat ada cewek yang nggak nafsu sama lo. Tinggi juga seleranya." Rico mendengus mendengar sahabatnya berkata begitu. "Kenapa? Seneng ya? Gue juga nggak tertarik sama dia kok." Viktor berhenti memetik gitar dan tertawa. "Yakin lo, nggak ada apa-apa? Terus tadi Ciya dateng ke sini sama siapa?" "Hah? Itu.... ngg.... itu.... Tadi gue jemput." Rico memamerkan tawa terpaksanya. Otaknya tidak bisa memikirkan alasan lain yang lebih menyakinkan. "Tuh kan! Dibela-belain jemput. Masih bialng nggak ada apa-apa," sembur Viktor. 
"Lagian....," sambing Christian, "baru kali ini gue liat lo betah nggak nyari pacar selama lebih dari dua bula9. Lo udah jomblo tiga bulan, man! Nggak nyadar ya? Udah gitu, selama gue temenan sama lo baru kali ini gue liat lo nggak tertarik sama cewek yang naksir sama lo." Christian menyuap sepotong daging. "Lo tahu kan, si Henny naksir banget sama lo? Tapi reaksi lo malah biasa aja. Sebelumnya, nggak perlu mikir dua kali udah lo embat! Dan gaya tebar pesona lo udah berkurang.....JAUH!!" Christian mendengus. "Gue aja nyadar. Masa lo sendiri nggak nyadar!" 
Rico tersentak. Iya juga ya, udah tiga bulan dia nggak pacaran. Tapi, entah kenapa, dia sama sekali nggak kesepian. Biasanya dia juga selalu menyurvei cewek-cewek di setiap kelas. Tapi
belakangan ini dia memang sudah melupakannya. Bahkan lupa sama sekali. Apa iya semua itu gara-gara Ciya? "Heh!" Viktor mengibaskan tangannya di depan muka Rico. "Malah bengong! Tuh, sainganlo dateng." Telunjuknya mengarah ke sosok cowok yang berjalan sambil membawa kotak persegi. "Puding datangg!" Ciya berteriak menghampirinya. "Lama banget sih, Yo?" kedua tangannya mengambil puding tadi. "Nih," Aldy menyerahkan satu buket mawar putih. Ciya terkejut sebentar, lalu tertawa. "Wahh.... Baik sekali." Dia menggandeng Aldy menuju meja panggangan. Sepertinya Aldy juga agak heran___karena dia mengerutkan dahinya dan mengerjap-ngerjapkan mata___saat melihat Jessica ada di sana. Dia baru mengangguk-angguk mengerti saat Ciya terlihat berkomat-kamit mengucapkan beberapa patah kata. "Lo mesti waspada sama cowok itu. Kayaknya Ciya lebih tertarik sama dia dibanding sama lo," ujar Rangga, masih dengan mulut penuh makanan. "Pas di Art and Science gue liat dia ngasih mawar juga ke Ciya." 
Rico tidak menjawab. Dia masih memandang tingkah Ciya dan Aldy. Dia sendiri menyadari hal itu sejak pertama. Entah kenapa, dia tidak suka saat melihat mereka berdua. Masa sih dia cemburu? Rico menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Nggak mungkin! Sejak kapan dia suka sama cewek yang depan belakang rata? "Cheers!" 
Akhirnya semua daging selesai dipanggang. Dentingan gelas dan gelak tawa mewarnai siang ini. Semua sibuk berceloteh ria dengan mulut penuh makanan. Natya saling suap dengan Viktor, Christian juga suap-suapan dengan Jesse. Aldy juga sesekali menyuapi Ciya. Rico hanya menelan ludah melihat pemandangan di depannya. Mestinya kan dia yang jadi bintang utama hari ini. Kenapa malah dia yang nggak ada pasangan? Masa dia mau suap-suapan sama Rangga? Membayangkannya saja, jadi merinding. Tapi, sepertinya, Rangga tidak peduli tuh. Dia tetap makan dengan sekuat tenaga, sampai-sampai tidak sempat mengambil napas karena terlalu sibuk menelan. "Sekarang mana kotak kadonya, Ric?" tanya Natya. "Ada di ruang tamu. Emangnya kenapa?" "Itu kan cake-nya. Kenapa nggak dibawa ke sini?" Natya bangkit. "Udah, gue aja yang ambil. Sekalian mau ke kamar mandi." 
Rico melongo. Jadi kadonya cake doang. Dasar....! Ciya cengengesan. "Jangan ngambek! Itu ide gue, hehehe..... Waktu itu kan gue bilang nggak usah pake cake. Biar cake-nya buat kado aja. Lagian lo kan udah punya semua. Mau ngasih apa lagi?" Ciya mengakhiri kalimatnya dengan cibiran. 
*** 
Natya mendongakkan kepalanya ke setiap kamar. Kamar mandinya di mana ya? Kenapa sih rumah ini besar begini? "Kenapa, Non?" suara Bik Nah yang tiba-tiba berada di depannya membuatnya terlonjak ke belakang beberapa senti. Tangan Natya menepuk-nepuk dada. Aduh, nenek ini bikin kaget aja. Nggak heran sih kalo Natya kaget. Bik Nah memang punya tampang yang agak menyeramkan. Ditambah keriput-keriput di wajahnya, membuatnya mirip dukun di film-film. Biarpun begitu, wanita berusia enam puluhan itu biak kok. "Anu, Bik. Kamar mandinya di mana ya?"
"Oh, mau cari kamar mandi. Yang di kamarnya Non Ciya aja, soalnya kamar mandi di bawah lagi dibersihin sama Mang Ujang," ujar Bik Nah menyuruh Natya mengikutinya. "Oh, gitu...." Natya mengangguk. Sedetik kemudian, dia terdiam. Tunggu.... Tunggu dulu. Tadi nenek itu bilang apa? Kamar Non Ciya? KAMAR NON CIYA??? "Mmm.... Bik, tadi Bibik bilang kamar Non Ciya?" Natya menowel punggung Bik Nah. Bik Nah menggangguk. "Iya, kamarnya Non Ciya. Non Ciya kan tinggal di sini. Emang nggak tahu? Sejak mama Non Ciya meninggal, Non Ciya diangkat anak sama Bapak. Bibik seneng deh sama Non Ciya. Sejak Non Ciya datang, Mas Rico jadi sering ketawa. Biasanya.... Lho?" Bik Nah melongo melihat dia tinggal begitu saja oleh Natya yang langsung lari kembali ke taman. "Non, nggak jadi ke kamar mandinya? Ntar sembelit lho, Non!" Natya kembali dengan napas terengah-engah. Telunjuknya mengarah ke Rico dan Ciya bergantian. "Lo.... hhh..... hah...." Natya mengelus dadanya, mencoba menenangkan jantungnya.  "Hhh.... lo.... hh.... Tinggal serumah?" 
*** 
Ciya meneguk Cola-Cola-nya banyak-banyak, sedangkan Rico sibuk menjelaskan duduk perkaranya. Dia merasa seperti di persidanan. Semua mata mengarah ke mereka berdua. Okelah, kecuali Aldy. Tapi kan itu karena dia udah tahu. "Jadi begitu...." Viktor manggut-manggut. "Pantes aja lo ditutup-tutupi sih? Emangnya kalo kalian tinggal serumah, kami bakal mempermasalahkan itu? Nggak, nggak?" Ciya mencibir. "Tuh, si Rico tuh, gengsi dia." Rico hanya mendelik. "Udah puas semuanya? Yang jelas, jangan ada yang bocorin ini ya. Gue nggak pengen ada anggapan yang nggak-nggak soal gue dan Ciya." 
Viktor memukul bahu sahabatnya. "Dasat! Tenanglah, kayak baru kenal kami aja. Pake rahasiaan segala. Udah, potong kuenya! Aduh...." Natya memukul kepala Viktor. "Heh! Mainp potong aja, nggak sopan! Tiup lilin dulu." 
Lima belas menit kemudian semuanya sibuk kejar-kejaran sambil saling mencolekkan krim. Dan di sela-sela keributan itu, Aldy menghampiri Rico. "Gimana? Udah ketemu?" bisiknya. Rico menggeleng. "Belum, kayaknya nggak gampang deh. Tapi tenang aja. Gue lagi usahain. Mudah-mudahan dalam waktu beberapa bulan ini bisa ketemu. Lo gimana?" Aldy menggeleng. "Gue juga belum...." "Hiiiaat!!!" Ciya mengoleskan seluruh krim di tangannya ke pipi Aldy sambil tertawa lebar-lebar. "Ngapain berduaan? Kayak homo aja. Nih....." dia mengoleskannya lagi di pipi Rico. Kemudian kembali tertawa lebar sambil berlari menghindar saat Rico dan Aldy mengajarnya. 
*** 
Rico termenung di balkon kamarnya. Angin malam sesekali menyapu wajahnya. Dia menengok ke samping dan mendapati kamar Ciya sudah gelap. Dia pasti sangat lelah setelah seharian tadi, sampai-sampai baru kali ini Rico melihat tertidur tanpa melihat bintang-bintang terlebih dulu. Rico menengadahkan wajah. Apa sih bagusnya bintang? Bintang itu kan cuma titik-titik kecil di langit, itu pun kalo lagi keliatan. Kalo lagi mendung, sampe mata mau copot pun pasti nggak bakal keliatan. Huff..... Rico mengembuskan napas panjang. Kata-kata Christian tadi siang terngiang-ngiang di telinganya. Masa sih dia jatuh cinta beneran sama Ciya? Mau dipikir berapa kali pun, satu-
satunya cewek yang mengisi hari-harinya belakangan ini memang Ciya. Sampai-sampai dia sendiri lupa udah jomblo berapa lama. Biasanya nggak sampai sebulan, Rico pasti sudah menargetkan incaran baru. 
Rico tersenyum. Lucu juga ya? Pertama kali Ciya ke sini, dia benci setengah mati sama cewek itu. Tapi sekarang, nggak melihatnya sehari saja rasanya pasti akan aneh. Sejak Ciya merawatnya malam itu, Rico sendiri menyadari ada sesuatu yang menarik dari cewek itu. Ciya itu spesial. Seseorang yang istimewa. Bukan istimewa karena dia secantik Katie Holmes, juga bukan karena dia seseksi Mariah Carey. Ciya nggak cantik. Dia hanya cewek jangkung bertubuh kurus dan.... Berdada rata. Mungkin satu-satunya kelebihan fisik yang dimiliki Ciya hanya kulit kuning langsat yang mulus dan sepasang bola mata belo yang selalu berbicara. 
Tetapi disaat mendekatkan diri padanya, ada sesuatu yang membuat siapa pun merasa sangat nyaman berda di dekatnya. Saat Rico sedih, Ciya bisa membuatnya tertawa tanpa henti. Saat Rico kesal, Ciya bisa membuatnya lupa akan segala hal. Walaupun banyak tingkah menyebalkan Ciya yang bisa membuat Rico jengkel setengah mati, Rico tidak pernah bisa benar-benar marah padanya. 
Ciya terlalu berbeda dengan semua cewek yang pernah dikenalnya. Apa pun yang ada di pikiran Cia pasti akan dikeluarkan begitu saja. Tidak pedulu apakah kata-kata itu akan sangat menyakitkan, atau malah sebaliknya. 
Ciya bisa menjadi setegar tembok Cina dan di saat lain bosa tajam seperti mawar. Walaupn di saat manja, Ciya lebih memuakkan dibanding putri malu, tapi di saat Rico memergokinya menangis diam-diam, cewek itu menjadi serapuh kapas. "Tuh, saingan lo dateng...." Tiba-tiba Rico teringat sosok itu. Sosok yang semakin lama semakin membuatnya penasaran. Apa sebenarnya hubungan mereka berdua? Rasanya aneh kalo cuma sekadar teman masa kecil. Kalau mau jujur pun, Rico merasa kalah telak dengan Aldy. 
Aldy sangat mengerti Ciya. Semua kesukaan, semua hal yang bisa membuat Ciya sedih, semua hal yang bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak, Aldy tahu semuanya. Satu hal lago, Aldy sangat baik... Malah terlalu baik. Terhadapa semua teman Ciya maupun terhadap Rico sendiri, dia tidak pernah menampakkan sesuatu yang dinamakan cemburu. Padahal Rico sangat yakin, Aldy sangat menyukai Ciya. Ciya sendiri juga pernah bilang bahwa dia menyukai Aldy. Rico jadi tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi. 
Tapi satu hal yang Rico tahu, saingan terbesarnya saat ini bukanlah Aldy. Melainkan..... Billy!      

Komentar