Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 6 |


part* 6 
Pacar?? Bukan Pacar?? 
CIYA baru saja keluar dari WC saat dua makhluk dengan kecepatan tinggi berlari ke arahnya. Belum sempat Ciya merasa ngeri, Rico sudah merangkul pundaknya dan mendorongnya maju dua langkah. "Kenalin, ini Ciya," sahut Rico sambil terengah-engah. Di hadapan Ciya saat ini berdiri cewek dengan rambut sepunggung yang dicat warna pirang. Skraf ungunya tertiup angin. Tanpa berpikir dua kali pun Ciya tahu dia itu Jessica. Ciya melotot segarang-garangnya kepada Rico. Tapi cowok itu, lagi-lagi, hanya menunjukkan senyum tak bersalahnya. "Oh, jadi ini cewek lo?" Nada bicara Jessica sangat tidak enak didengar. "Demi cewek macem ini lo ninggalin gue, Ric?" 
Ciya melongo mendengar kata-kata tadi. Darahnya jadi naik ke kepala. "Eh! Cewek macem ini apaan maksud lo?" 
Jessica menaikkan alisnya, tidak percaya ada adik kelas yang berani membentaknya. (Jessica itu lebih tua setahun daripada Rico. Rico kan playboy yang tidak pandang bulu. Mau kakak kelas, mau adik kelas, mau sepantaran, hajar teruus.) "Lo itu masih kecil! Jangan nggak sopan begitu dong!" 
Ciya yang salah mengartikan ucapan Jessica___Ciya pikir, ucapan Jessica mengarah ke organ tubuh tertentu___langsung memelototi Jessica. "Terus kenapa kalo gue masih kecil? Seenggaknya gue nggak perlu takut ngegabruk ke depan gara-gara punya dada tempayan kayak lo!" 
Mendengar itu, kontan Rico tertawa terpingkal-pingkal. Tapi tawanya langsung berhenti begitu tempelengan Ciya mendarat di kepalanya. "Lo juga! Ngapain ketawa-ketawa?" Ciya kembali menatap Jessica. "Gue bilangin ya, gue itu bukan ce.... mmpphhh.... ffff...." 
Belum sempat Ciya menjelaskan, tangan Rico, yang tadinya digunakan untuk merangkul, sudah menutup mulutnya duluan. "Dia ini cewek gue." Rico memeluk Ciya erat-erat dari belakang sehingga Ciya tidak bisa berontak, salah satu tangan Rico masih menutup mulut Ciya. "Iya kan, sayang?" tangan Rico yang satunya lagi mendorong kepala Ciya sehingga cewek itu terlihat membuat anggukan. 
Dan sepertinya, mantan-mantan Rico emang pada goblok seperti yang Ciya bilang, buktinya Jessica percaya aja tuh dengan sandiwara yang ada di hadapannya itu. Dengan menahan tangis, Jessica berlari menuruni tangga, kembali ke gedung SMK. Begitu Jessica hilang dari hadapan, Ciya menggigit tangan Rico yang mendekap mulutnya. "Adaaawww!!!" 
Ciya menatap Rico dengan tampang ingin menerkam. Dan yang ditatap hanya nyengir sambil mengusap-usap jarinya yang berukir garis-garis kecil bekas gigitan. "Makasih ya, sayang," kata Rico sambil berlari masuk ke kelas sebelum sepatu Ciya sempat mendarat di kepalanya. 
Bisa ditebak.... 
Dalam tempo dua jam, semua kelas sudah tahu bahwa Rico dan Ciya jadian!! "Ci, kok lo nggak bilang-bilang gue sih?" ujar Natya sambil menghentikan suapan baksonya. Saat ini rasanya semua pasang mata di kantin ini tidak ada yang terlepas dari Ciya. Kuping Ciya juga sudah mulai panas. Bayangin saja, mulai dari waktu di kelas, di koridor, di kantin, Ciya harus mendengar bisikan orang-orang tentang dirinya. "Itu tuh, ceweknya Rico yang baru," atau "Hebat juga ya dia!" atau "ceweknya Rico kok beda banget sama Jesse." "Ada lagi "Selera Rico kok turun ya...." "Kyo emang sialaaan!!" Ciya menggebrak meja kantin. Otomatis keadaan yang tadinya ramai berubah sunyi senyap. Melihat itu, Natya langsung menarik tangan Ciya, ngacir dari sana. 
"Lo apa-apaan sih? Bikin malu gue aja. Mana bakso gue belom abis, lagi. Goceng tuh tahu nggak?" kata Natya sambil memasuki ruang gimnasium. Pada jam istirahat panjang begini___sebutan untuk istirahat ketiga yang lamanya satu jam___biasanya gimnasium sepi. Murid-murid kebanyakan bermain bola atau basket di lapangan. Ciya mengekor di belakangan Natya dengan langkah gontai seperti seorang tahanan. Mulai deh, pikir Ciya. Natya memang suka menceramahi Ciya dengan nasihat-nasihatnya. 
Tiba-tiba Viktor berlari-lari kecil menghampiri mereka. "Hei, sayang...." dia berjalan sejajar dengan Natya. Ciya memang paling malas kalau ada Viktor. Soalnya Viktor suka memonopoli Natya, sehingga Ciya jadi kayak kambing congek nemenin mereka pacaran. Viktor sebenarnya baik, tapi kalo udah berurusan sama Natya, dia menjadi cowok menyebalkan. 
Namun, sepertinya kali ini Ciya puasa jadi kambing congek karena Viktor langsung beralih menatapnya. "Ci, lo beneran jadian sama Rico?" tanya Viktor sambil duduk di tangga di depan panggung. Gimnasium ini memang dipakai kalo ada acara-acara tertentu, seperti malam kesenian, pentas seni, yah.... Pokoknya acara-acara seperti itulah. Jadi di sana terdapat panggung superbesar yang di depannya terbentang tangga yang juga superbesar. 
Ciya mengempaskan tubuhnya di samping Natya yang juga sedang menantikan jawabannya. Dia memandang Viktor dengan tatapan malas. "Elo kan temennya. Kenapa lo nggak tanya sendiri aja sama dia?" Ciya mengusap-usap tangannya yang tadi ditarik Natya terlalu keras sehingga meninggalkan bekas kemerahan. "Liat nih, tangan gue jadi merah. Sakit, kan? Elo malah ribut soal bakso. Nih, goceng." Ciya menarik selembar uang dari saku seregamnya. "Udahlah...." Natya mendorong balik tangan Ciya. "Sekarang jelasin ke gue. Beneran lo jadian sama Rico?" 
Iya memonyongkan bibirnya. "Ya enggak laahh.... Dia cuma pura-pura, biar si Jesse nggak ngejar-ngejar dia lagi. Sialan emang tuh cewek! Masa dada gue dibilang kecil!" Ciya masih tetap salah pengertian. Mendengar itu, Natya dan Viktor berpandangan. Sedetik kemudian mereka tergelak bersamaan. "Kenapa lo? Malah ketawa....! Ciya menampakkan muka jeleknya. 
"Eh, mestinya lo beruntung bisa jadi ceweknya Rico biar cuman pura-pura. Ada kemungkinan dia tertarik beneran sama lo. Buktinya, dari sekian banyak cewek, dia malah milih lo buat jadi pacar gadungannya," ujar Viktor sambil mengeluarkan satu bungkus cokelat dari sakunya. "Wah, cokelat. Minta dong." tanpa ba-bi-bu lagi, Ciya menyambar cokelat itu dari tangan Viktor. "Apanya yang beruntung? Pasaran gue turun, tahu," ujarnya sambil menguyah cokelat tadi. Ciya sendiri juga heran, kenapa sih Rico malah nyebut nama dia. Hih!! 
"Eh, gue mau bilangin nih. Bulan depan bakal ada acara Art and Science," ujar Viktor mengambil satu blok cokelat. Ciya menatap cokelat tadi melayang ke mulut Viktor dengan tatapan tidak rela. Tapi ini kan emang cokelatnya Viktor, jadi mau tak mau Ciya harus rela. "Apaan tuh?" Natya mengerutkan dahinya. Sekolah ini memang suka mengadakan kegiatan dengan nama yang keliatannya sih keren, tapi acaranya banyak yang nggak sebanding sama namanya. "semacem pensi gitu deh....." Tuh kan bener! Bilang aja pensi, pake istilah Art and Science segala. "Band gue bakal manggung nih. Jangan lupa nonton ya...." Ciya mencibir. "Masih satu bulan. Latihan dulu yang bener sana." 
Viktor balas mencibir. "Cowok gadungan lo juga manggung tuh. Eh iya, soal itu, jangan sampe ada yang tahu loh. Kalau Jesse sampai tahu lo cuma pura-pura, dia pasti ngelabrak lo abis- abisan. Sekarang dia nggak berani ngapa-ngapain karena dia takut sama Rico." 
Ciya langsung melotot ke anak tangga paling bawah. Dia bukannya takut sama Jessica. Hanya saja, dia memang tipe yang nggak suka mencari masalah. "Udah tahu kayak gitu, lo masih bilang gue beruntung lagi." 
** 
Di ruang band.... 
Christian masih memandangi Rico dengan tatapan marah. Baru kali ini Rico mendapati temannya semarah itu. Nggak sih, waktu kelas 2 SMP dulu, Christian juga pernah marah gara-gara Rico matahin stik drumnya. Akibatnya mereka batal manggung gara-gara Christian ngambek dan nggak mau latihan band sampai sebulan. 
"Gue kan udah bilang berkali-kali kalo Ciya itu inceran gue. Lagian ngapain juga sih lo pura-pura pacaran segala. Kenapa nggak nyebut si Henny aja, dia kan naksir berat sama lo. Kenapa mesti Ciya?" "Gue juga nggak tahu!!" Rico berhenti memainkan senar gitarnya. Lama-lama darahnya mulai naik ke kepala. "Nama dia keluar begitu aja dari mulut gue." 
Untung saja di ruang band cuma ada mereka berdua. Jadi mau teriak-teriak macam apa pun, nggak bakalan kedengeran keluar. Ruang band kan kedap suara. "Lo suka dia, kan?" tanya Christian. "Ampun deh, Chris. Udah berapa kali gue bilang, gue beneran nggak ada apa-apa sama dia. Suer!" 
Chris membuat gerakan mengusir lalat di udara___mengibaskan tangan maksudnya. "Gue tuh kenal lo sama lo udah empat taun. Empat taun, Ric! Dari gaya ngomong lo sampe cara lo kencing ,gue tahu semua." 
Rico mendesis. Entah gimana lagi cara meyakinkan temennya ini. Kemarahan Christian sebenarnya beralasan sih. Sebab sepanjang hidupnya, sepanjang enam belas tahun ini, Rico naksir tujuh cewek. Tapi..... Ketujuh cewek tadi, semuanya naksir sama Rico. Intinya, setiap cewek yang dia taksir, selalu buntut-buntutnya malah jadian sama Rico. Hahaha.... Kasian yaa. Rico juga nggak bisa dibilang salah sih. Toh cewek-cewek itu yang naksir Rico duluan. 
Dan di saat dia menemukan cewek yang nggak naksir dia___Christian dapat informasi ini dari Natya___ternyataaa.... Masih juga dia harus berhadapan dengan sahabatnya itu. Bagus sekali!!! 
"Udahlah, gue nggak mau persahabatan kita ancur cuma gara-gara cewek." Christian bangkit dari antara simbal-simbalnya. "Gue nggak mood latihan hari ini. Bentar lagi juga Viktor sama Rangga___vokalis band___dateng. Lo latihan sama mereka aja dulu." dia melangkah menuju pintu. Rico baru saja mau bangkit ketika Christian tiba-tiba berbalik. "Soal pura-pura lo tenang aja. Gue nggak bakal bilang siapa-siapa."                        

Komentar