Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 5|
part* 5
SESUATU TENTANG BILLY
CIYA menyendok es krim vanilanya sambil tersenyum puas. Dia
sudah tidur selama kurang-lebih eman jam. Jadi kalau ditambah dengan waktu
tidurnya tadi malam yang hanya tiga jam itu, berarti dia sudah tidur sembilan
jam. Cuma ada empat hal yang bisa membuat Ciya senang: 1. Cokelat 2. Es krim 3.
Tidur 4. Mawar putih
Untuk yang keempat itu, hanya Aldy dan Billy yang tahu.
"Sebenarnya....," tiba-tiba Aldy berkata, "ada yang pengen gue
omongin sama lo."
Keadaan Va-Lauch Cafe saat ini cukup lengang. Hanya ada beberapa
pasangan yang duduk di meja pojok. Tadinya sih rencananya mau ke mal, tapi Ciya
berubah pikiran. Dia pengen makan es krim. Va-Lauch kafe yang khusus menjual es
krim dalam berbagai macam rasa. Mulai dari Vannila-Spongecake (es krim vanila
yang dicampur dengan remah-remah spongecake yang mengandung rum), Rocky Way (es
krim cokelat berpadu dengan marshmalloe dan potongan kacang almond), Ferrero
Rochio (es krim dengan kandungan gelatin yang lebih banyak sehingga lebih pekat
dan lebih lembut dibandingkan es krim biasa, yang dikolaborasi dengan cokelat
putih, cokelat, dan remah-remah sereal) sampai es krim yang berbentuk kue
bertingkat-tingkat pun ada.
Menurut Ciya, di kafe ini bukan hanya es krimnya yang enak,
tapi ruangannya juga sangat hangat. Warna dindingnya cokelat bergaris putih,
lampunya bernuansa kertas yang bergulung- gulung, suasananya agak temaran.
Banyak bintang buatan yang bergelantungan di langit-langit kafe. Di
tengah-tengha ruangan ada tangga melingkar yang ditiliti lampu-lampu kecil, tirainya
bernuansa sixties, dengan motif segitiga transparan. Pokoknya, menurut Ciya,
kafe ini is the best lah.....
Ciya tersenyum. "Gue juga pengen ngomongin sesuatu sama
lo." kemudian dia mengubek-ubek isi tasnya dan menyodorkan secarik kertas
berwarna hijau. Aldy melihat tulisan yang sangat dikenalnya. Tulisan
Billy....
Aldy meletakkan kembali surat itu ke meja setelah selesai
membacanya. Ciya menggeleng- geleng. "Gue sama sekali nggak ngerti apa
maksudnya!" Ciya menarik kertas itu hingga hurufnya tidak dalam posisi
terbalik. "Walaupun udah baca surat itu ribuan kali sampe mulut gue
berbusa, gue masih tetep nggak ngerti apa maksud dia ngelakuin semua ini."
Ciya mendesis. "Orang yang pertama kali bilang sayang ke gue, orang yang
selalu bilang bakal selalu ada buat gue, orang yang pertama kali bilang nggak
bakal pergi dari gue, malah jadi orang yang pertama kali ninggalin gue!"
Aldy menatap cewek di hadapannya itu dengan tatapan nanar. "Apa cuma dia
satu-satunya cowok di hati lo?" "Apa? Ciya mengerutkan dahinya.
"Maksudnya?" "Chiara...." Ciya berjerit mendengar nama itu.
"Jangan panggil gue Chiara! Jangan pernah panggil gue lagi dengan sebutan
itu!" "Kenapa? Kenapa nggak boleh?" Aldy setengah berteriak.
Walaupun sebenarnya Aldy-lah yang
memberikan panggilan Ciya, tapi sampai sekarang dia tidak
pernah mengerti alasannya.
Saat pemakaman.... "Mulai sekarang, jangan panggil gue
Chiara!" Aldy mengerutkan kening saat Ciya menepis tangannya. Tapi dia
hanya bisa diam. Tangannya kembali merengkuh bahu cewek itu. Saat itu dia tidak
ingin berkomentar apa pun. Dia cuma ingin berada di sisi Chiara, menemaninya
melewati proses pemakaman mamanya. "Chi...." Aldy menghentikan
kalimatnya. Sesaat dia bingung. "Ya.... Ciya.... Kalo panggil Ciya
boleh?" Chiara tidak mengangguk. Tapi juga tidak menggeleng. Namun sejak
saat itu, nama Chiara berganti dengan panggilan Ciya.
Ciya memandang Adly dengan tatapan tak suka. "Lo kenapa
sih?" "Kenapa gue nggak boleh manggil lo Chiara lagi?" Ciya
mendesis menatap cowok di hadapannya. "Lo kenapa sih, Yo?" Tapi Aldy
tetap mengulang pertanyaan yang sama. Untuk beberapa saat mereka mengucapkan
kata-kata, "kenapa sih?" dan "kenapa nggak boleh?" secara
berulang-ulang.
Aldy benar-benar merasa asing dengan teman masa kecilnya
ini. Dalam beberapa hal, dia sudah menemukan dia sudah menemukan separuh Chiara
yang menghilang. Tapi sering kali Aldy tidak memahami pemikiran Ciya.
"Udah berapa lama lo kenal gue?" akhirnya Ciya
angkat bicara. "Dan lo sama sekali nggak ngerti apa alasan gue? Nama itu
ngingetin masa lalu gue, Yo. Nama itu ngingetin gue sama Billy, sama nyokap
gue, sama bokap gue.... Tiap kali gue ngedenger nama itu, gue selalu berharap
Billy yang manggil gue. Tapi nyatanya bukan! Dan gue benci harapan kosong kayak
gitu. Harapan yang nggak mungkin bakal ada." Sesaat hening..... Ternyata
Billy.... Ternyata semua perubahan itu terjadi hanya karena satu orang.
Billy....
Sering kali, Aldy merasa benci pada dirinya sendiri.
Seandainya saja waktu itu dia tidak menolak Ciya, mungkin keadaannya tidak
seburuk ini. Semua itu memang semata-mata karena gengsinya yang kelewat tinggi.
Dia memang sok jadi pahlawan.
Tapi nyatanya..... Dia malah kehilangan dua-duanya. Seorang
sahabat dan seorang cewek yang paling disayanginya. Aldy memandang tepat ke
manik hitam mata Ciya. "Apa gue nggak bisa ngegantiin posisi Billy?"
Ciya mendelik. "Apa?" tapi sedetik kemudian dia tersadar.
"Yo.... Lo...." "Gue sayang sama lo. Lebih dari apa yang lo
bayangin." Ciya tertawa sinis. "Jangan bercanda, Yo! Lo sendiri kan
yang bilang waktu itu kalo...." "Gue bisa bilang apa lagi?! Billy
sahabat gue. Memutar ingatannya ketika ia berumur sebelas tahun. Seperti biasa,
mereka sedang bermain layangan di taman___waktu itu memang sedang pertengahan
tahun ketika angin sedang berembus kencang___saat Billy tiba-tiba menceritakan
sesuatu yang sangat membuat Aldy terkejut. "Dy, aku mau kasih tahu kamu
sesuatu. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya!" Aldy hanya mengangguk
saat Billy bilang begitu. "Aku suka sama Chiara." "Hah?"
Aldy membelalakkan mata. Tadi layangannya terlepas sehingga benangnya
bergelundung-gelundungan ke tanah. Dia kocar-kacir mengejar layangannya yang
mulai menjauh terbawa angin. Billy tertawa di belakangnya.
"Kok kaget gitu sih?" tanya Billy sambil
menggulung benang layangan miliknya. "Dia kan adik kamu? Kata Mama, kita
nggak boleh suka sama adik sendiri," kilah Aldy setelah berhasil
mendapatkan kembali layangannya. Tapi Billy hanya tertawa sambil membisikkan
sesuatu di telinganya.
"Aku kan anak angkat Mama dan Papa. Jadi kalau aku anak
angkat, aku kan nggak punya hubungan darah. Kata Mama, kalo nggak punya
hubungan darah, bisa pacaran."
Aldy hanya melongo. Tapi dia tidak bisa mengatakan tentang
perasaan yang sesungguhnya terhadap adik sahabatnya itu. Dia terlalu menyayangi
Billy. Dia terlalu bersikap seperti malaikat. Jadi dia hanya mendengarkan Billy
bercerita dengan mata berbinar-binar, sambil menarik-ulur tali layangannya
dengan jemari bergetar. Bukan hanya karena Billy dan dia menyukai cewek yang
sama, tapi kenyataan yang dibisikkan Billy cukup membuatnya tidak percaya.
"Sekarang emang masih kecil sih. Aku juga belom tahu
orang pacaran itu kayak apa. Tapi kalo udah gede, aku pengen kawin sama Chiara
kayak yang di film-film itu loh...." Billy tertawa memamerkan giginya yang
berderet rapi.
Sejak saat itu, Aldy memutuskan untuk melupakan Chiara. Dia
berusaha menganggap Chiara hanya sebagai adik. Sampai saat dia kelas 6 SD,
Chiara menyatakan perasaannya. Sebenarnya, waktu itu Aldy tidak mau menolaknya.
Hanya saja, dia tidka mampu mengkhianati Billy.
Setahun kemudian, walaupun tidak ada ucapam yang resmi,
tanpa ada siapa pun yang menyadari, kedekatan Billy dan Chiara jauh melebihi
dari apa yang dinamakan suka. Saling ketergantungan mereka lebih dari apa yang
mereka sadari sendiri. Seandainya semua tragedi itu tidak pernah terjadi, Billy
dan Chiara pasti masih pacaran sampai sekarang. Dan Aldy juga menyadari, tidak
ada apa pun yang bisa membuat Ciya melupakan Billy.
Tapi sekarang Billy sudah tidak ada. Aldy sudah tidak
mempunyai alasan apa pun untuk tidak mengutarakan perasaannya. Dan dia juga
tidak mau menjadi pengecut untuk yang kedua kalinya. "Kenapa lo suka sama
Billy? Apa karena gue?" "Hah?" Ciya berusaha mencerna pertanyaan
Aldy tadi. Kemudian dia menggeleng. "Gue sayang sama Billy. Bukan karena
gue patah hati sama.... Iya sih, gue emang patah hati, tapi gue sama sekali
nggak mikir kalo Billy itu pengganti lo. Tanpa sadar, keberadaan dirinya jadi
semakin kuat. Gue semakin susah menjga hubungan sebagai kakak dan adik, lagian
gue dan dia kan emang bukan kakak-adik kandung. Dia kan anak angkatnya paman
dan bibi gue. Dia juga jarang bilang perasaannya secara langsung ke gue. Tapi,
nggak perlu dibilang pun, gue tahu seberapa besar rasa sayang dia ke gue."
Ciya menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya. "Sebenernya gue sempat
merasa beruntung karena kita nggak jadi pacaran. Karena akhirnya gue punya
Billy." Ciya tersenyum. "Cuma...." "Billy udah nggak
ada," Aldy menyambung cepat. Ciya mengangguk pelan kemudian berkata lirih.
"Iya, dia udah nggak ada." "Kalo gitu, biar gue
nunggu....." Ciya menaikkan alisnya. "Gue bakal nunggu lo, sampai lo
bisa ngelupain Billy."
Pukul delapan malam....
Ciya berjalan gontai masuk ke kamarnya tanpa memedulikan
Rico yang sedang asyik di meja
komputer walaupun Ciya berjalan melewatinya___melewati Rico
maksudnya. Rico juga sebenarnya tidak tertarik dengan cewek itu, tapi dia
melihat ada selembar kertas hijau yang terjatuh dari tas Ciya.
Dia menelengkan kepalanya sambil mengambil kertas tadi.
Sedetik kemudian, matanya mulai menekuri deretan huruf yang tertera di
sana.
Sekarang pukul sebelas malam kurang sepuluh menit. Di hari
kesembilan belas di bulan januari. Dulu gue pernah bilang kalo gue benci dengan
cinta yang tidak bisa memiliki. Tapi sekarang akhirnya gue sadar, ternyata
memang ada cinta yang tidak harus memiliki. Gue mungkin bukan Kahlil Gibran
yang bisa menyerukan kata-kata cinta dengan lantang, gue juga bukan Shakespeare
yang bisa membuat kata-kata cinta dengan mendayu-dayu. Tapi saat ini, gue
mencoba menjadi seorang Billy yang ingin menyatakan sayang untuk yang terakhir
kalinya pada seorang cewek bernama Chiara. Selama lima tahun ini ternyata gue
terjerat cinta yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai cinta terlarang.
Cinta yang mengatasnamakan kakak dan adik. Cinta yang melanggar batas norma dan
aturan. Cinta yang sampai mati pun nggak akan pernah gue lupakan. Cinta
terakhir yang selalu membuat gue merasa she's the one. Tapi sekarang gue harus
pergi. Pergi jauh..... Gue harus pergi meninggalkan cinta itu. Meninggalkan
semua kenangan, menghapus semua waktu. Jangan tanya seberapa sedihya gue!
Karena gue pun nggak bisa menghitung tetes kesedihan itu. Maaf.... Gue nggak
bisa ada di samping lo lagi. Maaf... Gue nggak bisa nepatin janji gue buat
selalu ngejagain lo. Maaf.... Atas kekecewaan lo karena gue. Terima kasih....
Atas semua cinta. Terima kasih.... Atas senyun dan kesabaran. Terima kasih....
Atas semua pengertian. Terima kasih.... Telah membuat gue menjadi cowok paling
beruntung di dunia. Terima kasih... Atas lima belas tahun yang penuh
kebahagiaan. Terima kasih... Atas semua kehidupan yang ada. Chiara, apa pun
yang terjadi setelah ini, lo mesti percaya kalo yang gue lakuin ini bukan hal
yang konyol. Gue tahu lo pasti marah.... Lo pasti sangat marah. Tapi satu hal
yang gue pengen lo percaya, lo adalah anugerah paling berharga yang pernah gue
punya. Ada alasan di balik semua ini. Maaf...sekarang gue nggak bisa ada di
samping lo setiap kali lo butuh gue. Tapi lo nggak perlu setegar itu! Setiap
kali menangis, cari bintang dan liat ke langit. Bintang-bintang itu yang akan
menjadi pengganti bahu gue buat lo. Jangan lupa, di mana pun itu, ada seseorang
yang sayang banget sama lo. Satu hal yang gur minta sama lo. Setelah ini, apa
pun yang terjadi, lo harus bahagia.... Lo mesti bahagia.... I lovee you,
Billy
NB: Chiara, capi papa! Dia adalah keping puzzle yang
tertinggal.
Rico melangkahkan kakinya masuk ke kamar Ciya. Dia mendapati
Ciya berada di balkon memandangi bintang-bintang. Jadi, inikah alasan yang
membuat cewek itu selalu berada di sana setiap malam? Sedikit demi sedikit,
Rico jadi mengerti tentang sesuatu yang terselubung dari setiap tingkah laku
Ciya. Cewek itu berusaha menutup air mata dengan mata. Dan keberadaan cowok
yang menulis surat inilah yang membuat seorang Chiara berubah menjadi seorang
Ciya. "Cowok itu Billy, kan?" Ciya terperanjat saat mendengar suara
Rico tepat dari balik punggungnya.
"Cowok yang lo suka itu Billy, kan?" Rico
memperlihatkan kertas hijau yang dia pungut barusan. Ciya merampasnya dari
tangan Rico dengan kasar. "Lo baca ya?!"
Tatapan Ciya seakan memaksa untuk berkata "nggak",
tapi jawaban yang didapatkan Ciya hanya bahu Rico yang terangkat. Ciya
mengembuskan napas panjang sambil kembali membalikkan badannya.
Rico menyandarkan tubuhnya di pagar di samping Ciya.
"Kalo mau nangis, nangis aja...." Rico memandang Ciya. "Nggak
usah ngeliat bintang lagi. Pake bahu gue aja."
Ciya memutar bola matanya menatap Rico. Kalo mau
jujursih, dia sedikit terharu juga mendengar Rico bilang begitu. "Tapi lo
mesti pura-pura jadi cewek gue...." Rico nyengir. Detik berikutnya, Rico
kembali terusir keluar dengan lemparan benda-benda yang melayang.
Komentar
Posting Komentar