Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 7 |


PART 7
Art and Science.... Art and Science.... Art and Science.... 
CIYa pusing melihat spanduk dan poster-poster yang semuanya bertuliskan kata-kata itu. Baru seminggu lagi acara itu dimulai, tapi semua orang sibuknyaa kayak acaranya bakal dimulai besok aja. "Acaranya ternyata gede ya, Nat?" tanya Ciya sambil mengecat styrofoam yang berbentuk angka 1___kelas Ciya 2-1. Sudah dari tiga hari yang lalu pelajaran ditiadakan, diganti dengan acara itu. 
Anak-anak kelas IPA sibuk membuat proyeknya di laboratorium. Pernah sekali Ciya memergoki adanya letusan di lab kimia saat seorang cowok___dengan kacamata supertebal dan behel warna-warni___sedang mencoba membuat kembang api. Berhasil sih, tapi ujung-ujungnya hampir aja seluruh gedung kebakaran. Akibatnya di penemu kembang api tadi dihukum untuk mengganti barang-barang di lab kimia yang dia hanguskan. 
Beda lagi dengan anak-anak IPS yang membuat peta dunia selebar 2x2 meter. Mereka menggunakan bungkus semen, yang entah diapain, untuk membuat benua dan pulau-pulau. Sedangkan untuk lautan, mereka menggunakan cairan lilin yang berwarna biru. Niat banget deh intinya! 
Nah, buat anak-anak kelas satu dan dua biasanya mereka mempersiapkan games-games yang, menurut Ciya, nggak penting banget. Bayangin aja, masa games-nya makan krupuk. Emangnya tujuh belasan Agustusan? Kalo nggak makan krupuk, paling lempar gelang ke gambar Mickey Mouse. Dan kalau menang, hadiahnya___yang lebih nggak penting lagi___cuma dapat permen lolipol dan tiket games (lagi). Haah.... Plis deh!  Dan kabar baiknya, proyek-proyek tadi yang bakal dipamerkan di acara Art and Science. 
"Lumayan lah.... Kan orang luar juga boleh dateng," ujar Natya dengan tangan berlepotan cat. Ciya tersenyum. Kalo gitu, dia bisa ngundang Yoyo, ujarnya dalam hati. 
"Eh, beliin double tape lagi dong, Ci. Kurang nih....," sahut Danny, cowok bertubuh tinggi besar mirip beruang yang sedang menempelkan gambar-gambar Mickey Mouse ke gelas Aqua untuk keperluan games nanti. "Iya deh." Ciya lalu beranjak menuruni tangga menuju "Warkol". Di sekolah itu memang ada semacam warung yang menjula berbagai macam peralatan. Dari baju seragam, kaus kaki, alat tulis, buku, sampai pembalut wanita. Murid-murid di sana menyingkatnya sengan sebutan Warkol alias warung sekolah. 
Saat hendak melewati ruang band, Ciya refleks menyingkir ke kiri saat ada seorang cewek yang hampir saja menabraknya dari belakang. Salah, ternyata bukan seorang, tapi.... Banyak amat! Berkali-kali Ciya merapatkan tubuhnya ke dinding kalo nggak mau kedorong-dorong. 
Setelah gerombolan cewek itu lewat, Ciya melongokkan wajahnya ke atas kepala cewek-cewek tadi yang semuanya berkumpul di jendela kaca ruang band. Ada apaan tuh? Ingin tahu apa yang diributkan, Ciya menjulurkan lehernya tinggi-tinggi. Dan dia melongo saat melihat Rico bermain gitar di dalam sana. Ya'elah... Kirain apaan, batinnya, kemudian berlalu. 
**
 Hari H tiba. Ciya masih mengeringkan rambutnya saat Rico membuka pintu kamarnya. "Nggak bisa ketok pintu dulu ya?" omel Ciya saat melihat Rico melenggang duduk di sofa. Dia sudah mengenakan kaus Rip Curl warna hitam dan jins belel. Rambutnya diacak-acak dengan gel. Mau tak mau Ciya harus mengakuo bahwa hari ini___okelah, hampir setiap hari___Rico terlihat lebih dari sekadar keren. 
Acara Art and Science memang membebaskan murid-murid dari ketentuan seragam. Waktu Rico latihan aja cewek-cewek histerisnya udah setengah mati. Apalagi ntar pas manggung beneran. "Hari ini pergi bareng gue ya?" Ciya yang terkejut tanpa sengaja mengarahkan hair Dryernya terlalu sekat dekat dengan rambutnya. "Aduh.... Aduh...." Dia mematikan hair dryer-nya saat merasakan batok kepalanya terasa panas. "Kenapa emang?" Hair dryer-nya kembali dinyalakan. "Ini kan acara sekolah. Semunya kan tahunya kita nggak tinggal serumah. Ntar semuanya curiga gara-gara gue nggak pernah jemput lo. Apalagi lo malah dateng sama cowok lain." "Oh... Ya udah, bilang aja kita putus," ujar Ciya enteng. "Lo mau dilabrak Jesse?" Ciya merengutkan bibirnya. "Nggak mau sih... Tapi ya udahlah. Mau dilabrak, dilabrak lah. Emang gue peduli." "Nggak bisa!" Rico bangkit dari duduknya kemudian mengambil HP Ciya. "Nih, telepon Aldy! Bilang hari ini nggak usah jemput lo." ciya mematikan lagi hair dryer-nya. "Kok gitu sih?" Dia menatap Rico dengan tatapan tidak suka. "Nggak mau. Gue nggak mua naik motor. "Kan, pake helm, bego!" "Kalo pake helm, ntar rambut gur kayak mangkok, tahu. Udah gitu duduknya miring. Gue takut jatuh. Lagian kalo naik motor sersa makan angin...." "Cerewet!" bentak Rico. "Ya udah, hari ini gue bawa mobil." Ciya menggigit bibirnya. "Tapi.... Hari ini sebenernya gue ngajak Yoyo." Rico mendesisi kesal. "Gue kan cuma bilang pergi bareng lo! Gue kan nggk bilang kalo Aldy boleh dateng." Rico kembali menyodorkan HP cewek itu. "Nih...." Ciya mendecakkan lidahnya. Dasar cowok rese....! 
** 
Ciya buru-buru masuk ke mobil setelah menyambar tas selempangnya. Dia melihat Rico sedang memasukkan gitar elektriknya ke mobil. "Ayo, jalan," sahut Ciya setelah memasang sabuk pengaman. Tangannya memencet tombol untuk menyalakan radio. 
Suara penyiar siaran pagi-paginya Prambors berkumandang. Sesekali Ciya bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar. Rico juga tidak banyak bicara. Sudah lama tidak nyetir, jadi dia agak kagok. Baru saja keluar dari pagar rumah, Rico sudah hampir menabrak tukang bakso yang mangkal di perempatan jalan. Dan kadang-kadang___sebenarnya hampir dua menit sekali___Rico menyuruh Ciya untuk memeperhatikan apakah ada mobil di kiri atau kanan. Karena kalau nengok ke kaca spion, dia tidak akan memperhatikan jalanan di depannya dan kagoknya semakin menjadi-jadi. 
Ciya juga jadi menyesal menuruti keinginan Rico. Seandainya dia menolak, mungkin saat ini dia sudah selamat sampai di sekolah. Sejak empat puluh lima menit yang lalu___waktu dari rumah
ke sekolah hanya berkisar lima belas menit___jantungnya selalu berhenti berdenyut setiap Rico mengincak rem mendadak. "Sekarang kita mau puterin lagu yang udah lumayan lama nih. Tapi masih enak banget. Andre Hehanusa dengan Karena kutahu Engkau Begitu." 
Mendengar suara penyiar itu, Ciya refleks mematikan radio. Rico mengernyitkan dahu. "Kenapa? Lagunya kan bagus?" jari Rico mengarah ke tombol on. "Jangan dinyalain!" teriak Ciya. "Kenapa sih?" Rico tetap memencet tombol tadi. Ciya langsung mematikannya lagi. Rico memencet tombol on lagi. Tapi kemudian Ciya mematikannya lagi. Begitu terus sampai.... "Kenapa sih?!!" bentak Rico. "Lagunya tuh bagus! Lo nggak tahu ya, yang nyanyi tuh Andre Hehanusa. Liriknya juga bagus. Nggak ngerti seni ya? Lagunya...." "Berisik!!" bentak Ciya yang langsung membuat Rico diam.  Ciya mengatupkan bibirnya hingga membentuk garis tipis mendatar. "Lagu itu ngingetin gue sama Billy," Ciya berkata lirih. "Dulu dia suka nyanyiin lagu ini." 
Rico sesaat terdiam. Sebenarnya ada berapa banyak kenangan pahit yang dialami adik angkatnya ini? Seperti saat ini, tatapan Ciya seperti orang yang terempas dalam suasana dunia yang bernama putus asa. Mata yang penuh tanda mencari cara menghilangkan suasana tidak enak ini. Kemudian senyum iseng muncul di bibirnya. "Kalo gitu sekarang gue aja yang nyanyiin." Ciya mendelik. "Nggak usah." "Menghina banget sih! Gini-gini kan anak band. Biar bukan vokalis, gue bisa nyanyi." Matanya menatap Ciya lalu langsung kembali melihat jalanan, takut nabrak lagi. Tapi dia sempat melihat perubahn pada raut muka Ciya. "Eh...." Rico menyenggol Ciya dengan sikutnya. "Kalo mau nangis, nangis aja," tangan kanannya melepas setir, menepuk bahu kirinya beberapa kali. "Nih, pake bahu gue." Ciya mendengus. "Nggak mau nangis kok...." 
** 
Panggung superbesar berdiri di atas lapangan upacara yang gedenya bermeter-meter. Sound system-mya ada di sisi kanan dan kiri panggung. Tapi, panggungnya kok lebih mirip buat orang kawinan? Atap panggung berhiasan kain rumbai-rumbai warna kuning. Terus kalo ketiup angin, ada yang nyangkut ke atas. Jadi kesannya agak-agak norak. 
Permadani merah tergelar panjang di lapangan berumput dari gerbang masuk menuju tangga ke arah panggung. Para dancer yang menggunakan kostum dan dandanan heboh mulai berdatangan. Eyeshadow di sekeliling mata dengan bentuk aneh-aneh, baju superketat dan bolong-bolong___ada juga yang nggak sih. Rambut mereka digerai acak ala Britney Spears. Iya lah, mana ada dancer yang rambutnya dikonde ala emak-emak? Badan mereka juga penuh glitter warna-warni. Tadinya Ciya pikit badannya belang-belang. Buat Ciya, para dancer itu lebih mirip kampaye Halloween pagi-pagi. 
Koridor lantai dasar bagian belakang yang berdampingan dengan panggung penuh dengan pameran-pameran anak-anak IPA dan IPS. Sementara yang bagian depan penuh dengan peralatan games anak-anak kelas 1 dan kelas 2. Koridor sebelah kanan, di depan ruang komputer, dihiasi tirai-tirai hitam yang bergelantungan. Lampu-lampu diganti dengan penerangan lilin. Beberapa nisan tiruan dipasang bergelantungan. Di dinding penuh dengan poster-poster dan tulisan "Say No To Drungs!", "Berhenti Merokok Kalau Mau Panjang Umur", "Gue Bego Kalo Pake Narkoba", dan petuah-petuah lain semacam itu deh. Yang intinya sih cuma mau bilang kalo
pake narkoba bakal cepet mati. 
Mau tak mau, hal itu mengingatkan Ciya pada Billy. Sehingga dia lebih memilih jalan memutar lewat koridor yang satunya lagi ketimbang lewat koridor itu. Ibu-ibu kantin mendapat rezekinya. Murid-murid yang memadati acara ini bisa dibilang tiga kali lipat dari jumlah normal. Gimana nggak, tiket masuknya ja gratis. Soalnya ini acara perdana, jadi belum dipungut bayaran. Konter-konter past food lain yang menyewa tempat di sana juga ikut dikerubungi anak-anak yang kelapan saat hari beranjak siang. 
Alumni-alumbi juga banyak yang datang buat sekadar bersay hi___reuni tepatnya___satu sama lain, begitu juga dengan katanya sekarang sudah merambah ke dunia model dan sinetron, juga datang. Buat anak-anak panitia dan OSIS sih luar duit. Soalnya dana mereka memang udah nggak cukup buat manggil bintang tamu. Paling-paling cuma bisa manggil pengalaman yang bagus-bagus amat. Jadi belum banyak sponsor yang mau nyumbang dana. Terus kalau ada yang mau foto-foto, ada juga konter photo box. Tapi rata-rata sih pada bawa kamera sendiri. Murah meriah euy....
Buat cowok-cowok yang mau nembak gebetannya, atau buat yang mau ngerayu pasangannya, juga ada konter bunga mawar. Lumayan mahal sih, satu tangkai harganya dua puluh ribu rupiah. Tapi demi cinta apa sih yang nggak?? Soal MC.... Lumayanlah! Biarpun nggak terkenal-terkenal amat, yang penting bisa bikin penonton ngakak. Bikin suasana yang panas begini jadi nggak tambah garing. Ditambah dengan dance heboh para dancer seksi yang membuat liur cowok-cowok menetes-netes. 
Ciya sendiri menutup kupingnya saat bergerombolan band beraksi. Entakan drum dan petikan gitar yang menyatu membuat aura sekolah itu lebih liar. Area sekeliling panggung penuh sesak, meloncat-loncat, bergoyang-goyang, berisik banget pokoknya. Mau tak mau dia dan Natya berusaha keluar dari kerumunan, kalo nggak mau badan mereka keinjek-injek. "....Forget tomorrow.... I just wanna jump... Don't wanna think about tomorrow.... I just don't care tonight.... I just wanna jump.... Don't wanna think about my sorrow.... Lest's go...." 
Warna suara Rangga nggak beda jauh dengan Pierre Bouvier, vokalisnya Simple Plan. Lagu Jump yang nge-rock itu dibawakan dengan suara yang nggak kalah cadas. Masalahnya, Rangga itu terlalu cool. Banyak yang mengkritik gaya bernyanyi Rangga yang cuma diam di tempat seperti itu. Tapi mau gimana lagi? Udah bawaan orok. Christian akhirnya mau manggung setelah Ciya membujuknya dan bilang bahwa dia dan Rico cuma pura-pura pacaran. Walaupun Christian masih sesekali melirik Rico dengan tatapan sebal, gebukan drumnya tetap seirama. 
Rico masih tetap dengan gaya tebar pesonya. Mulai dari sekadar mengedipkan mata, tersenyum menggoda, bukan baju, bukan celana.... Nggak deh.... Hehehe.... Sementara Viktor tetap dengan gaya sok asyiknya sewaktu memetik bas. Senyum Ciya mengembang melihat Aldy yang celingukan di gerbang masuk. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan bekas desak-desakan di depan panggung tadi, Ciya mengangkat dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi. 
"Kenalin ini temen gue." Ciya menyikut Natya yang masih terpana dengan penampilan pacarnya yang sibuk memetik bas di atas sana. Mereka kini berada di baris paling belakang dari gerombolan penonton. "Natya!!" setelah tersadar dari keterpanaannya, Natya berteriak agar suaranya bisa terdengar.
"Aldy!!" Aldy juga berteriak sambil menjabat tangan Natya. Lalau Aldy mengeluarkan setangkai mawar putih dari balik punggungnya dan memberikannya pada Ciya. Ciya tertawa sementara Natya melotot, berharap nggak ada satu pun yang melihat kejadian tadi. Kalo nggak, bisa-bisa nyawa temannya terancam. Sementara itu, di balik panggung, sepasang mata ternyata melihat.... Melihat dengan sangat jelas kejadian tadi 
** 
Hari beranjak sore. Matahari sudah mulai tidak terlihat lagi sinarnya. Hiruk-pikuk juga sudah mulai berkurang. Beberapa panitia sudah mulai membereskan pameran-pamerannya. Guru-guru sudah tidak ada yang kelihatan batang hidungnya. Murid-murid juga sudah beranjak pulang. Suasananya, paling tidak, jauh lebih hening dibanding tadi siang. Walaupun masih ada DJ yang asyik menyetel lagu dengan volume besar dan beberapa murid berdugem ria di depan panggung. 
Ciya berdiri, yang sudah kelelahan, duduk di lantai di depan Health Center___satu-satunya tempat yang terbebas dari pameran dan games___sementara Natya dan Aldy juga tepar di sampingnya. Viktor yang juga tampak kelelahan duduk di samping Natya sambil mengipas- ngipas. Anggota band yang lain masih membereskan peralatannya di ruang band. "Gue haus nih," ujar Ciya sambil mengelus tenggorokannya. "Gue beli minum dulu ya." "Mau gue beliin?" tanya Aldy yang disambut gelengan Ciya. Sudah dua kali Ciya direpotkan temannya yang satu ini. Pertama, saat waktu mau ke WC, Aldy malah nyasar ke gudang. Kedua, waktu mau ke WC (lagi), malah nyasara ke ruang guru. "Nggak usah." Ciya lalu bangkit dan belok ke kanan. Sesaat dia teringat soal koridor tentang antinarkoba. "Eh, salah...." Lalu dia berbalik ke kiri, memutar arah. 
Tak lama kemudian, Rico yang menenteng gitar elektriknya, serta Rangga dan Christian dengan simbal dan tiang penyangganya, datang. "Gue balik duluan ya," ujar Rangga sambil membetulkan letak ranselnya. "Capek banget nih. Mau tidur." "Ati-ati ya, man," kata Viktor sambil melambaikan tangannya. 
Rico meletakkan gitarnya di lantai lalu duduk di samping Aldy. Rambutnya sudah tidak serapi tadi pagi walaupun gelnya masih terlihat kaku. Christian juga sama kusutnya. Rupanya, menggebuk drum lima lagu berturut-turut cukup menguras tenaganya. "Mana Ciya?" tanya Rico. "Lagi beli minum di kantin. "Natya menyandarkan kepalanya di bahu Viktor. "Oh iya, kenalin nih." Rico menepuk bahu Christian kemudian menunjuk Aldy. "Ini temen deketnya Ciya." Christian mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Aldy. "Gue mau ngomong sama lo bentar," ujar Aldy pada Rico tiba-tiba. "Bisa?" 
Rico masih terlihat bingung, tapi anggukan muncul dari kepalanya. Mereka berdua berjalan ke arah ruang band, yang tidak jauh dari situ, tapi cukup menyembunyikan suara mereka. "Hei...." Viktor menyenggol Christian___yang duduk di depannya___dengan kakinya. "Lo yakin masih mau suka sama Ciya?" jari telunjuk Viktor menunjuk Aldy. "Itu.... Saingan lo juga." 
Christian mendengus. Bagus sekali!! Seorang Rico aja udah cukup bikin dia minder sampe nggak berani ngapa-ngapain. Sekarang muncul lagi seorang Aldy.
"Nggak tahulah... Gue mau minum. "Christian bangkit menuju kanton. Sementara Natya dan Viktor terkikik-kikik. Kasihan juga temannya yang satu intu.
Brak.... Brak.... Brak.... Belum ada lima belas menit, Christian menggedor pintu ruang band dengan kekuatan penuh. Rico dan Aldy itu ngapain sih? Pake ngunci pintu segala. Brak.... Bark.... Tuk.... Tangan Christian tanpa sengaja memukul kepala Rico yang sudah membukakan pintu. Rico mengelus kepalanya di bagian yang terkena pukulan Christian itu. "Kenap..." "Ciya dilabrak Jesse di depan kantin...." 
Ciya bersnadar pada pilar yang menyangga atap kantin. Dua cewek menjambak rambutnya, membuatnya mendongakkan kepala beberapa senti ke atas. Di hadapannya berdiri seorang cewek yang bertolak pinggang. Rambut cewek itu dikuncir kuda, roknya sepuluh senti di atas lutut, bajunya agak kependekan sehingga memperlihatkan pusarnya. "Lo pacaran sama Rico tapi masih nerima bunga dari cowok lain??" tanpa pengeras suara pun suara Jessica sudah bisa di dengar oleh seantero sekolah. 
Beberapa kali terlihat dia menampar dan menendang kali Ciya sambil mengucapkan umpatan- umpatan yang terdengar aneh di kuping Ciya. "Udah selesai??!!" bentak Ciya setelah kesabarannya habis. Dia menepiskan tangan-tangan yang menjambak rambutnya. Kupingnya sakit mendengar teriakan-teriakan Jessica yang nggak jelas. Jessica mengerjapkan mata. Tapi sebelum dia membuka mulut.... Plak.... Plak.... Plak.... Duk.... Duk.... "Lima kali tamparan, tiga kali tendangan, empat kali cubitan, dan...." "Auww....!" tangan Ciya menarik rambut dua cewek yang berdiri di kanan-kirinya. "Dua jambakan...."Ciya memperlihatkan beberapa hlai rambut yang berada di sela-sela jarinya dan menjatuhkannya ke tanah. Jessica mengerjapkan matanya marah. Ciya membalasnya dengan tersenyum sinis. "Tadinya gue bingung kenapa Rico mati-matian nolak lo." Ciya menghunjamkan pandanganya ke arah Jessica. "Dan ternyata.... Lo itu nggak lebih dari sekadar cewek aneh.... Sampah... Dan kecentilan!!!" Mendengar itu, Jessica mencengkeram rahang Ciya dengan tangan kanannya. Sementara kedua temannya mengcengkeram tangan Ciya erat-erat agar tidak bisa melawan. Ciya memejamkan matanya menahan sakit. "Sakit lagi lo...." Plok.... Plok.... Plok.... Plok....! "Udah main-mainnya, nona-nona?" 
Jessica menoleh ke arah sosok yang menganggu acaranya. Aldy menepukkan tangan dengan frekuensi tetap, sementara Rico berdiri di sampingnya. Christian terlihat berlari menyusul di belakang mereka. Jessica melepaskan cengkeramannya dan Ciya menepiskan tangannya dari cengkeraman dua cewek di sampingnya itu. 
"Masih zaman ya, main keroyokan?" Aldy berjalan mendekati Jessica. "Tiga lawan satu.... mmm.... Perbandingan yang lumayan." Dia menyentuh dagu Jessica dengan telunjuknya sambil tersenyum nakal, kemudian berlalu menghampiri Ciya. Jesse terlihat pucat pasti sekarang.
Matanya memandang Rico dan Ciya bergantian. Aldy merangkul Ciya. "Boleh dia gue bawa pergi?" tanya Aldy masih dengan senyuman. Jessica sepertinya tidak sanggup berbicara apa-apa. Aldy mengerjapkan mata. "Sepertinya boleh....," dia berkata lagi dan menuntun Ciya pergi dari situ. Setelah tiga langkah, Ciya berbalik. "Oh ya, gue sama Rico cuma pura-pura pacaran kok." Lalu dia menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Aldy menepuk bahu Rico___yang masih memandang lurus ke arah Jessica___beberapa kali. Sepertinya tepukan itu menyatakan, "Giliran lo sekarang!"                        

Komentar