Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 17 |
part* 17
"Gue pengen balik lagi ke dunia ini," gumam Rico
pelan, kedua telapak tangannya menopang dagu. Matanya memandang lurus ke arah
buku-buku dan kliping yang berserakan. "Gue pengen main piano lagi. Gue
pengen bikin konser lagi." Ciya terdiam. Dari raut wajah Rico saat ini,
dia sudah mengerti kalau cowok itu bersungguh- sungguh. Tanpa mengambil buku
apa pun, akhirnya dia memilih duduk kembali di samping Rico. "Heh!"
Rico menyikut Ciya. "Lo dengerin gue nggak?" tanyanya saat Ciya sudah
benar-benar duduk di sampingnya. "Iya, denger." "Kenapa nggak
komentar?" "Mau komentar apa? Mau balik? Balik aja sana. Emangnya gue
peduli. Sekarang kan tukang sopport lo udah pulang. Balik aja sana. Duet sekalian!"
Ciya sendiri hampir tidak percaya kalau nada suaranya bisa jadi sejutek itu.
Rico memasang tampang jelek. "Kok jadi marah-marah sih?" "Siapa
yang marah?" kilah Ciya. Rico menyeringai. "Tingkah lo mirip orang
yang lagi cemburu, tahu nggak?" Ciya melotot. Tanpa sadar, dia menggebrak
meja. Bapak penjaga perpustakaan ikut terlonjak. Tangannya gelagapan
membetulkan kacamata yang melorot dari hidungnya. Dia bersiap untuk marah. Tapi
begitu melihat dua remaja itu, niatnya surut. Gantinya, dia cuma bergumam-gumam
meminta berkat. "Mudah-mudahan jangan berantem..... jangan
berantem...." Untung saja perpustakaan itu selalu kosong di hari-hari
kerja. Kalo nggak, mungkin Rico dan Ciya udah jadi sasaran lemparan bolpoin
pengunjung perpus yang lain. "Ngapain gue cemburu sama orang yang udah punya
tunangan!" Ciya sendiri terkejut dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan.
Dia menutup mulutnya ketika sadar tentang apa yang dia ucapkan, lalu menggumam
tidak jelas.
Rico juga terkesiap mendengar kalimat Ciya. Dari mana cewek
itu tahu perihal pertunangannya? Susah payah dia mikir gimana caranya ngasih
tahu Ciya, ternyata ada orang lain yang udah bilang duluan. Brengsek si
Christian! Tiba-tiba HP Ciya berbunyi. Ciya merogoh HP-nya dari kantong.
"Halo, Yo...." Dari raut muka Ciya yang tiba-tiba berubah, Rico sudah
bisa menebak bahwa Aldy sudah tahu tentang bolosnya mereka. "Iya, maaf.
Gue lagi di...." belum sempat Ciya mengatakan tempat keberadaannya, Rico
berhasil menggapai HP Ciya dan langsung menutupnya. "Apa-apaan sih?"
bentak Ciya. "Pembicaraan kita belum selesai. Jangan undang orang
ketiga!"
Ciya mendelik sambil merampas HP-nya kembali. "Mau
ngomong apa lagi?!" Dia benar-benar kesal sekarang. "Elo ngajak gue
ke sini cuma buat bilang kalo elo bakal tunangan sama Sha- Sha, ya kan? Dan
karena cewek tercinta lo itu udah ada di sisi lo lagi, maka elo juga bisa
dengan tenang kembali ke dunia gemerlap itu lagi, kan? Panggung konser, piano,
tepuk tangan, masuk koran..... Gue udah denger dan gue udah tahu. Oh, apa elo
mau gue ngucapin selamat? Kalo gitu sela....." Belum sempat Ciya
menyelesaikan kalimatnya, Rico memeluknya. Sejenak Ciya tercekat. Tidak
menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu. "Jangan ngambek
lagi!" bisik Rico tepat di telinga Ciya. Bahkan saat ini Ciya bisa
merasakan desahn napasnya. Ciya hendak melepaskan diri dari dekapan cowok itu,
tapi tenaganya tidak cukup untuk memberontak di tengah-tengah rengkuhan tangan
yang begitu kuat. Lagi pula dia juga tahu, apa pun yang dipikirkan Rico saat
ini, cowok itu tidak akan mungkin melepaskannya. Jadi, dia
hanya bisa pasrah dengan posisinya yang sekarang. "Gue nggak
ngambek," sungut Ciya dengan dagu masih berada di bahu Rico. Rico
melebarkan bibirnya. "Bener lo nggak ngerasain apa-apa waktu tahu gue
tunangan sama Sha-Sha?" tanyanya dari sela-sela rambut Ciya. Ciya tak
menjawab. "Ketemu tiap hari, ke sekolah sama-sama, belajar sama-sama,
makan sama-sama, ngobrol sama-sama. Mestinya justru aneh kalau nggak ada
apa-apa antara elo dan gue." Ciya masih tidak menjawab. "Apa karena
Billy?" HP Ciya kembali berbunyi. Ciya mengambil kesempatan itu untuk
langsung menjauhkan tubuhnya. Belum sempat tangannya merah HP, Rico kembali
merebut kemudian mematikannya. "Lo kenap...." "Gue belom mau
pulang!" ujar Rico santai sambil menaruh HP Ciya di kantong celananya.
Ciya mendelik kesal. Dia benar-benar tidak habis pikir tentang kelakuan Rico
hari ini. "Tapi gue mau pulang!" bentak Ciya. Rico tidak menanggapi.
Dia hanya bangkit dan menggandeng Ciya keluar.
Pak tua penjaga perpus, yang sedari tadi menonton, kembali menggeleng-gelengkan
kepalanya. Sambil terbungkuk-bungkuk memegang tongkat, dia berjalan ke arah
meja yang tadi di tempati Ciya dan Rico, kemudian membereskan buku-buku yang
berserakan di sana.
***
"Brengsek!!" Hampir saja Aldy membanting HP-nya ke
kolam renag kalau bukan Sha-Sha yang mencegahnya. Pikirannya benar-benar kacau.
Ciya kenapa sih? Kenapa setiap kali Aldy menghubunginya, teleponnya selalu
di-rejeck? "Hei...." Teguran Sha-Sha membuat pikiran Aldy yang
menerawang ke mana-mana kembali berkumpul ke tempatnya semula. Dia menatap
Sha-Sha tanpa senyuman. "Mereka itu kemana sebenarnya?"
Sha-Sha hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Aldy. Dia
sendiri merasa lehernya hampir patah karena cowok itu terus-terusan mengajukan
pertanyaan yang sama, yang membuatnya juga harus menggeleng terus-terusan.
Aldy membanting tubuhnya kesal. Sekarang pikiran bersalah
mulai merasuki otaknya. Seharusnya dia nggak bilang "iya" begitu saja
waktu Rico meneleponnya agar tidak usah menjemput. Seharusnya tidak.....
"Jangan sepanik itu bisa nggak?" cetus Sha-Sha akhirnya. Jangan
dikira dia tidak gelisah saat Aldy tiba-tiba nongol di hadapannya dan bilang
bahwa Ciya dan Rico bolos sekolah. Jangan dikira dia tidak memikirkan apa yang
Ciya dan Rico lakukan di luar sana. Hanya saja, tingkah Aldy yang lebih parah
darinya malah membuat hatinya tambah kacau.
Aldy mendesah panjang. "Sori....," katanya
akhirnya. Dia memandang wajah cewek di hadapannya lalu menjulurkan tangan
kanannya. "Gue Ryonaldy. Panggil aja Aldy."
Aldy sudah pernah melihat cewek ini sebelumnya, waktu
menjemput Ciya dua hari yang lalu. Tapi mereka memang belum berkenalan secara
resmi. Dan hari ini dia malah tanpa ba-bi-bu lagi
langsung datang ke hadapan cewek itu dengan tampang jutek
plus ngomel-ngomel. "Raisha," jawab Sha-Sha singkat. Tapi senyum
tipis muncul dari bibirnya. Ditatapnya Aldy yang masih gelisah. Tanpa perlu
bertanya lagi pun dia tahu apa yang dirasakan cowok itu. Sama-sama merasa takut
kehilangan.
"Mereka itu memang ada hubungan khusus ya?" tanya
Sha. Aldy tidak menjawab. Bibirnya ingin sekali mengatakan "tidak".
Tapi sayangnya, sadar tidak sadar, percaya tidak percaya. Ciya dan Rico pasti
ada apa-apa. Terdengar desahan kecil. Aldy mengangkat kepalanya. Dilihatnya
cewek itu. Detik itu Aldy menyadari bahwa ternyata Sha-Sha memiliki bola mata
sebening kaca!
***
"Dasar goblok!" bentak Natya kesal. "Ya
ampun, Vik! Ngapain bilang sama Aldy kalo Ciya bolos bareng Rico?"
Viktor masih memandang Natya tidak mengerti. "Emang
kenap...." Viktor langsung menunduk tanpa melanjutkan ucapannya saat
melihat Natya menatapnya sambil melotot. "Viktor...." Natya
menggeleng-geleng. Sementara Chris yang duduk di sebelah Natya juga ikut
menggeleng-geleng. Hanya saja, Chris menggeleng-geleng bukan karena menyesali
perbuatan Viktor itu tadi, melainkan karena kasihan temannya lagi dimaki-maki
pacarnya sendiri.
Mereka bertiga duduk di depan gerbang SMA. Waktu sudah
menunjukkan jam setengah lima. Murid-murid yang lain sudah pulang, cuma sisa
beberapa yang belum dijemput. Dan sisa yang belum dijemput itu cuma anak-anak
kelas satu yang nggak tahu apa-apa. Jadi, Natya nggak peduli mau teriak-teriak
sekeras apa pun. Jesse sedang karya wisata, jadi dia nggak ikut soal perdebatan
ini.
"Aldy itu sangat-sangat overprotektif sama Ciya,
Vik," kata Natya lemas lalu menjatuhkan pantatnya ke lantai. "Gue
nggak ngerti deh gimana jadinya kalo Aldy tahu soal ini. Lagian...." Natya
memandang kedua cowok di hadapannya itu, meminta dukungan kalau-kalau dia
berkata salah. "Aldy itu kan suka sama Ciya. Masa sih dia nggak cemburu
kalo Ciya bolos Rico?" "Udahlah....," Chris menengahi.
"Biar waktu aja yang menyadarkan mereka semua tentang siapa yang paling
berarti."
Komentar
Posting Komentar