Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 22 |


part* 22 
Awal Mula Sebuah Waktu 
Dan ketika embusan cahaya tergapai.... Mulai terhampar selembar kenyataan.... 
"NIH...." Ciya menempelkan sekaling Pocari dingin di pipi Rico, membuat cowok itu sedikit terperanjat. "Makasih....," ujar Rico ngengir sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk biru kecil. Suara pantulan bola basket dan teriakan semangat murid-murid dari pinggir lapangan samar- samar melingkupi mereka saat ini. "Meski udah bukan jadi pacar bohongan lo, gue masih mesti beliin minuman ya?" gerutu Ciya sambil duduk di samping Rico di ujung kantin yang mengarah ke lapangan basket, mengamati Natya yang sedang memasukkan bila ke dalam ring. Sekarang giliran murid-murid cewek class meeting. 
Salah satu kebiasaan di sekolah ini adalah class meeting langsung diadakan seusai ujian akhir. Jadi, biasanya sih murid-murid lebih menantikan class meetingnya daripada ujiannya. Jadi, biasanya guru-guru menempatkan cuma satu pelajaran yang diujikan di hari terakhir. Kalo nggak, nilainya bisa jeblok semua. Itu juga alasannya pelajaran bahasa Insonesia dijadikan ujian akhir. Karena murid-murid di sini menganggap pelajaran bahasa Indonesia paling gampang. Masa orang Indonesia nggak bisa bahasa Indonesia? Kesian amat..... 
Nah, gara-gara anggapan yang sudah sangat berbudaya ini jugalah banyak guru bahasa Indonesia minggat lantaran nggak betah. Iyalah.... tiap kali pelajarannya nggak ada yang mau dengerin. Malas sempet ada satu guru yang yang nangis gara-gara nggak ada yang mau memperhatikan pas dia ngajar. Padahal gurunya cowok lho. 
"Lo kenapa nggak main?" tanya Rico menunjuk murid-murid cewek yang sedang berteriak-teriak berebut bola lalu membuang kaleng kosong ke tong sampah di pinggirnya. "Takut matahari, ya?" Rico mencibir. "Kalo lo ngedekem di rumah-berhari-hari, tuh kulit bakal jadi putih!" "Cerewet!" dengus Ciya. "Males tau! Olahraga tuh cuma buang-buang tenaga aja. Mendingan tidur di rumah." 
Rico hanya mendesis melihat kelakuan cewek yang satu ini. "Bilang aja nggak bakat olahraga. Pake bilang males segala," ujar Rico geli. Ciya itu emang punya trademark nggak becus olahraga. Tiap kali main basket, kalo nggak keseleo, pasti keserimpet dribelannya sendiri. Akhirnya malah jatuh di tengah-tengah lapangan. Nggak usah main basket deh, lari aja bisa kesandung. Dan satu hal paling spektakuler yang pernah dilakukan Ciya adalah mementalkan sepatunya sendiri ke belakang ketika sedang lomba lari seratus meter! "Ketawa aja terus!" sungut Ciya sambil memukul kepala Rico dengan handuk. Rio terkekeh. "Heh," Ciya memyenggo bah Rico. "Lo, beneran kangen sama gue ya?" Rico melongo. "Emang gue pernah bilang?" Ciya mendesis. Dasar cowok ini! Ciya jadi menyesal kemaren bilang kangen juga. "Iya, kangen!" Rico tertawa melihat muka cemberut Ciya. "Rumah sepi banget nggak ada lo." Ciya mencibir. "Nggak ada gue kan ada Sha-Sha. Lagian ntar gue malah jadi nyamuk lagi di rumah." Rico tersenyum tipis mendengar ocehan Ciya. "Hari ini pulang, kan?" Ciay mengatupkan bibirnya lalu mengangguk kecil.
Pulang. Satu kata itu sudah sangat jarang dia perhatikan. Dulu, dia cinta sekali kata "pulang". Buat Ciya, kata "pulang" bisa berarti banyak hal. Setiap kali bel sekolah usai, kata "pulang" selalu terbayang di benaknya. Lari ke kelas Billy, beli jajanan di kantin, lari ke mobil Aldy, ketemu Mama di rumah, tidur di kamar kesayangan, nunggu Papa pulang, sampe akhirnya nyusup ke kamar Billy buat ngobrol sampe pagi. Tapi sekarang.... apa iya dia masih bisa pulang? Atau kata "pulang" itu sudah berubah menjadi sebuah formalitas? 
"Ci...." Rico menepuk bahu Ciya. "Kenapa?" Ciya menatap Rico, tersadar dari lamunannya barusan. "Nggak apa-apa kok. Oya, tapi gue pulang nggak bareng lo. Tadi akhirnya Yoyo SMS gue. Dia bilang hari ini mau ngajak gue pergi." "Mau kemana?" Ciya mengangkat bahu. "Nggak bilang. Katanya penting. Jadi.... ya udah, sekalian gue mau minta maaf soal tempo hari." "Minta maaf?" Rico mengernyitkan dahi. "Bolos aja mesti minta maaf sama dia? Emangnya dia siapanya lo? Ada juga lo mesti minta maaf sama bokap gue. Yang ngebayarin lo sekolah kan bokap gue, kenapa mesti minta maaf sama dia?" 
Ciya mendecakkan lidahnya. "Perhitungan amat sih! Ntar juga gue minta maaf sama bokap lo! Lagian soal bolos tempo hari itu, bokap lo juga nggak tau. Dia lagi sibuk ngurusin pertunagan lo tau!" semprot Ciya lalu bangkit menuju lapangan basket. "Eh!" tahan Rico sebelum Ciya sempat melangkah. "Jangan pergi!" Ciya berbalik, memandang Rico heran. "Gue cuma mau ngambil tas di lapangan basket. Bentar lagi kan Yoyo dateng. Abis ngambil tas gue balik lagi. Tas lo mau gue ambilin nggak?" Rico mengangguk kecil, melepaskan tangan Ciya perlahan. "Dasar!" gerutu Ciya sambil berlari ke lapangan basket. 
Rico memandang punggung Ciya dari kejauhan sembari mendesah kesal. "Maksud gue jangan pergi sama Aldy, bodoh. Kalo lo pergi, gue takut lo nggak bakal pulang lagi." 
*** 
Rico membanting tasnya ke kasur. Pikirannya melayang-layang. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia jadi sangat tidak suka dengan Aldy. Rasanya tadi pengen menghajar cowok itu. Sebenarnya sih Aldy masih tetap Aldy yang biasa. Yang selalu menyapa ramah semua orang. Termasuk Rico tentunya. Tapi nggak tau kenapa, Rico merasa dia sangat benci dengan senyum Aldy hari ini. Apalagi saat dia melihat Ciya naik ke mobil cowok itu. Bukan karena ucapan Natya tempo hari tentang masalah jadiannya Aldy dengan Ciya. Rico juga tahu Natya bilang begitu cuma buat cuma mancing emosinya aja. Tapi rasanya sesuatu yang buruk akan terjadi. 
Rico menggeser pintu kamar Ciya. Menatap kamar kosong itu sekali lagi. Dia mulai tidak sabar dengan keheningan yang dijumpainya. Rasanya jauh lebih baik jika dia disambut dengan lemparan berbagai barang yang biasa dilakukan Ciya setiap kali Rico masuk ke kamar itu tanpa izin dibandingkan jika dia harus disambut oleh angin saja!! 
Rico menaruh koper Ciya di samping lemari pakaian lalu mengempaskan diri di sofa. Sebelum pergi dengan Aldy, Ciya sempat menitipkan koper bekas acara menginap versi Natya ke Rico. 
Rico mengambil boneka Tweety sebesar anak kecil yang tergeletak di samping sofa, lalu menaruhnya di pangkuan. "Heh! Burung jelek!" Rico menepuk-nepuk kepala Tweety. "Kenapa sih majikan lo sama sekali nggak ngerti kalo gue beneran kangen sama dia!?" Rico merengut sambil
mengempaskan kepalanya ke sela-sela bulu boneka. Dia jadi teringat kejadian waktu membelikan boneka ini buat Ciya. Tepat sehari sebelum kedatangan Sha-Sha. 
Perkaranya, Ciya suka ngeluh susah tidur. Kebetulan ketika Rico sedang mencari-cari pic baru buat gitarnya, dia menemukan boneka gede ini. Waktu itu bukan cuma boneka Tweety ini aja yang ukurannya segede orang. Masih ada Bugs Bunny, masih ada Winnie the Pooh, pokoknya tokoh kartun semacam itulah. Tapi entah kenapa, Rico merasa Tweety itu mirip sama Ciya. Bisa dibilang nggak jelek-jelek amat, cukup lucu, banyak tingkah, cerewet, sekaligus aneh. Mana ada sih burung normal yang lebih gede kepalanya dibanding badannya? 
Tapi, waktu Rico dengan riang gembira ngasih boneka itu ke Ciya.... 
"Kok lo ngasih boneka jelek kayak gini sih??" gerutu Ciya memandang si Tweety sambil merengut. Rico melongo. "Kalo nggak mau ya udah," omelnya, merenggut boneka itu. "Siapa yang bilang nggak mau...." Ciya menarik boneka itu lagi dari tangan Rico lalu mendudukkannya di kasur. "Gue kan cuma bilang bonekanya jelek. Tapi kan gue nggak bilang nggak mau." "Cih...." Rico mendesis. Ciya terkekeh. "Kok tumben ngasih boneka?" 
"Emang nggak boleh?" kata Rico, duduk di samping Ciya sambil mengelus-ngelus boneka gede itu. "Katanya susah lo tidur. Jadi pas tadi gue ketemu boneka gede ini, sekalian gue beliin aja buat nemenin lo tidur. Kalo gue yang nemenin kan sudah pasti digampar!" 
Ciya tertawa sambil menatap Tweety itu di pangkuannya. "Halo, burung jelek!" "Kok burung jelek sih?" protes Rico. "Emang nggak boleh kalo gue kasih nama burung jelek?" Ciya menimang-nimang. "Yang penting kan orang yang ngasihnya...." Ciya nyengir. "Jelek juga."  
"Hei...." sapaan Sha-Sha dari balik pintu membuat Rico tersedot kembali ke detik sekarang. "Hei...." Rico tersenyum. "Sini duduk!" Dia menepuk-nepuk sofa di sampingnya. 
Rico akhirnya kembali menggunakan bahasa "gue-elo" 
Waktu ngomong sama Sha-Sha dan menyerah bicara dalam bahasa "aku-kamu". Bukannya nggak bisa, hanya saja rasanya bener-bener seperti berada dalam kisah telenovela. Tapi Rico menentang keras saat Sha-Sha juga ingin ikut menggunakan bahasa "elo-gue". Sumpah.... logatnya jadi aneh. "Ciya belum pulang?" tanya Sha-Sha, memperhatikan keadaan kamar itu. 
Sha-Sha menyadari satu hal. Sejak Ciya nginap di rumah Natya, rasanya Rico lebih sering ada di kamar Ciya dibanding di kamarnya sendiri. Dan tatapannya seakan berharap semoga tiba-tiba saja akan ada sosok Ciya yang keluar entah dari mana dan bilang, "Hai, gue datang!" "Lagi pergi bentar sama Aldy," jawab Rico. "Mungkin sore baru pulang." Rico memencet tombol on pada CD player. Lagu Lullaby mengalir perlahan. "Sejak kapan kamu suka lagu mellow begitu?" tanya Sha-Sha, berjalan ke meja belajar Ciya. Mengamati pernak-pernik di sana. "Ciya yang suka." Rico mengempaskan tubuhnya di ranjang, menatap Sha-Sha dengan sudut
matanya. "Dia cuma suka musik nina bobo." 
Sha-Sha tersenyum tipis. "Ini siapa, Ric?" tanya Sha-Sha sambil mengangkat foto Billy. "pacar Ciya?" 
Rico bangkit dari tidurnya, mengambil foto dari tangan Sha-Sha. "Iya...." angguk Rico sambil menaruh kembali foto itu ke tempat semula. "Tadinya...." "Tadinya?" "Cowok itu sudah meninggal." Sha-Sha membelalakkan mata. "Meninggal?" Rico mengangguk. "Dunia yang menyebalkan," ujarnya sambil kembali berbaring. "Waktu umur Ciya 14 tahun, bokapnya pergi dari rumah. Setahun kemudian, Billy...," Rico menunjuk tadi, ".... bunuh diri. Dan nggak sampai setahun, nyokapnya meninggal. Hebat, kan?" 
Sha-Sha menautkan alisnya. "Kamu.... serius?" Rico menyeringai. "Bagusnya sih nggak. Tapi kalo semua itu bohongan, Ciya nggak mungkin tinggal di sini." 
Sha-Sha mengambil kalender yang tergeletak di meja Ciya. Membaca tulisan yang tertera di sana. Hampir di setiap tanggal. Jangan lupa beli buku tentang serangga buat PR biologi saja Kyo! Ajarin Kyo math! Beli kue buat Kyo! Bikin chicken steak buat Kyo! Kyo kasih boneka.... Kyo beliin cokelat.... "Kyo...," tanpa sadar Sha-Sha bergumam. "Hmm?" 
Tapi sedetik kemudian, seperti tersadar akan sesuatu, Rico bangkit, memandang Sha-Sha. "Kamu tadi bilang apa?" "Kyo...." Sha-Sha mengacungkan kalender tadi. "Dia memanggilmu begitu, kan?" Rico mendengus. "Ciya itu emang suka ganti-ganti nama orang seenaknya." Sha-Sha tersenyum tipis. "Eh....," panggil Rico. "Gimana persiapan konser? Udah beres semua?" "Udah...." Sha-Sha mengangguk. "Kamu nggak mau main bareng sama aku, Ric? Atau sekadar nyumbang lagu, gitu? Itu kan sekalian pesta pertunangan kamu juga...." 
Apa?! Rico bangkit mendadak dari posisi tidurnya dengan mata terbelalak! Apa lagi ini? Pesta pertunangan? Jadi konsernya Sha-Sha sekaligus pesta pertunangan mereka? Gila! Rico mengumpat dalam hati. Hebat sekali rencana dua direktur perusahaan ternama itu! Yang ditunangin aja malah nggak tau apa-apa soal pesta pertunangannya sendiri! "Kamu belum tahu?" Sha-Sha melihat keterkejutan di mata Rico. "Sama sekali belum." Rico menggeleng kesal. "Lalu.... apa nggak mau tunangan?" tanya Sha-Sha. Rico mengerutkan dahinya. "Kok nanyanya gitu?" "Kalo emang mau, mestinya kamu senang , kan?" desah Sha-Sha sambil membuka laci meja Ciya. "Tapi kamu malah keliatan nggak suka." "Sori....," gumam Rico, menyadari bahwa dia lagi-lagi menyakiti gadis itu. "Sha, soal pertunangan ini, apa lo yang bilang ke Ciya?" Sha-Sha mengangguk sambil mengeluarkan sebuah kamera dari laci. "Iya. Emang kenapa?" 
Rico menggeleng sambil memencet tombol on pada kamera itu saat dia melihat Sha-Sha
mencari-cari tombol untuk menyalakan kamera yang dipegangnya. Ternyata memang bukan Chris yang ngasih tau Ciya, pikir Rico. Sesaat Rico jadi mengerti apa arti bentakan Natya tempo hari. Dia memang pengecut! "Ini kamera Ciya?" tanya Sha-Sha memandang kagum kamera keluaran terbaru tujuh megapixel. "Dari papa kamu?" "Dari gue...." "Apa?" Sha-Sha terkejut. "Ini?" "Kenapa?" seringai Rico. "Gue kan punya tabungan, Non. Lo pikir gue semiskin itu?" 
Sha-Sha terdiam. Masalahnya, bukannya bisa nabung apa nggak. Semua orang juga tahu, Rico nggak nabung pun, duitnya udah banyak. Tapi cuma orang gila yang nggak jealous kalau tunangannya ngasih barang semahal ini buat cewek lain." "Ciya itu suka sekali bintang," ujar Rico menunjuk bintang-bintang palsu di langit-langit kamar. "Buat dia.... bintang itu sebagai pengganti kenangan. Bagus kan, kalau kenangan bisa dibekukan?" Sha-Sha menatap Rico. "Membekukan kenangan?" 
Lampu kamar masih menyala ketika Rico mendapati Ciya sedang memeluk lututnya di samping tempat tidur. Rico melepas ranselnya lalu menghambur mendekati Ciya. "Katanya sakit?" Tangannya terulur memegang dahi Ciya. "Udah turun panasnya?" tanyanya lagi. Hari itu adalah hari Ciya mengunjungi makam mamanya dan Billy. Ciya menggeleng, menatap menembus dinding di hadapannya. "Seandainya....," Ciya berucap lirih. "Seandainya kenangan itu bisa dibekukan. Pasti akan jauh lebih baik. Kalau setiap saat ingin melihatnya, tinggal buka lemari pendingin aja. Kenangan itu masih akan tersimpan rapi di sana." Membekukan kenangan? "Nih! Simpan semua kenangan lo mulai hari ini." Rico menyerahkan sebuah kamera ke genggaman Ciya. Ciya menatapnya penuh arti. "Kamera? Buat gue?" Dia mngerjapkan mata tak percaya. "Iya.... Bagus kan kalau kenangan bisa dibekukan?" Rico tersenyum. "Tapi kenangan yang bisa dibekukan saat ini cuma kenangan antara lo dan gue aja ya...." 
Sha-Sha menatap keseluruhan foto di sana. Bisa ditebak.... Semuanya cuma ada foto Ciya atau Rico atau foto keduanya. Tiba-tiba saja Sha-Sha sangat merasa lelah dengan keadaan yang terpancar dari sana. Melihat bagaimana cerianya Ciya, bagaimana Rico merangkul Ciya, mengacak-acak rambut Ciya, bergandengan tangan, menyuapi makanan.... "Kenapa?" tanya Rico mengambil kamera itu dari tangan Sha-Sha. "Fotonya lucu, kan?" dia tersenyum. Satu lagi! Senyum itu.... 
Sha-Sha masih ingat dengan jelas. Lima tahun yang laly, hanya dia....semua orang pun bilang bahwa hanya seorang....hanya satu orang Sha-Sha yang bisa membuat Rico tersenyum seperti itu. Tapi sekarang, lima tahun kemudian, senyum itu bukan lagi miliknya sendiri. Ada orang lain yang dapat membuat cowok itu mengeluarkan senyum yang sama. "Rico...," panggil Sha-Sha pelan. "Hmm?" Rico menekan tombol off, mengembalikna kamera itu ke tempat semula. "Ciya itu punya kebiasaan jelek." Rico mengerutkan dahinya. "Dia meletakkan barang di kamar ini selalu dengan posisi yang sama. Dia paling nggak suka kalo kamarnya diacak-acak tanpa izin. Makanya gur mesti hafal letak tiap barang biar nggak ketauan," jelas Rico nyengir. 
Sha-Sha menarik napas panjang. Meletakkan kedua telapak tangannya di wajah Rico agar cowok itu fokus memandangnya. "Sejak kapan kamu lupa sama aku?" 
Rico terdiam. "Gue nggak pernah lupa sama lo...." Lagu Lullaby sudah berganti dengan lagu Only Tinne. Who can say where the road goes.... Where the day flows..... Only time.... Lirik demi lirik sekan membungkus Rico dan Sha-Sha dalam jawaban yang tidak perlu dipertanyakan. Tidak pernah melupakan. Yah...memang tidak akan pernah lupa. Hanya saja, seluruh waktu, lima tahun, telah menjadi jarak yang begitu kuat untuk membuat segala peristiwa menjadi sebuah kenangan indah. Kenangan.....hanya kenangan. Kenangan manis yang tidak mungkin terlupakan. 
Kenangan yang perlahan mulai memudar karena berjalannya roda kehidupan. Karena terlalu banyaknya mimpi. Karena terlalu banyaknya harapan. Dan karena terlalu banyaknya cerita. Mimpi mungkin terlalu indah. Harapan yang mungkin terlalu tinggi. Dan cerita yang mungkin terlalu happy ending. 
Namun, bukankah mimpi yang membuat harapan itu selalu ada? Dan bukankah harapan yang membuat segala cerita menjadi lebih memiliki makna? Dan mungkinkan....mimpi itu pula yang menjadikan segala sesuatunya berjalan pada belokan yang salah? 
Rasanya naif kalau harus menyesal sekarang. Sha-Sha mengakui, mimpi menjadi pianisnya yang menghalangi kepulangannya ke sini. Lalu.... Akankah keberhasilan satu mimpi indah akan menjadi mimpi buruk lagi yang lain? Apakah mimpi itu hanya bisa dipilih satu saja? 
Rico memandang Sha-Sha. Tapi tiba-tiba saja dia seakan melihat seluruh dunia di sekelilingnya berputar. Sosok Ciya dan Sha-Sha muncul bergantian. 
Mulai dari awal pertemuannya dengan Sha-Sha kecil, kepergian gadis itu dan depresinya. Kemunculan seorang Ciya dengan segala masalahnya, perasaan hangat yang menjalar ketika melihat Ciya tersenyum, dan rasa sakit yang menusuk saat cewek itu mengejar sosok lain.... Semua peristiwa itu seakan berkecamuk di otaknya, membuat Rico tiba-tiba merasa pusing. Apa memang setipis itu perbedaan antara iya dan tidak?         

Komentar