Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 11 |


part* 11 
Masa Lalu Hitam 
VA-LAUCH CAFE.... Akhirnya Rico menemukan kafe ini setelah nyasar selama satu jam. Dia memarkir motornya di samping pohon bear dekat pintu masuk. "Dasar sinting!" gerutu Rico saat mematikan mesin motor.  "Tuh orang nyari tempat ketemu aja kenapa susah begini." Maklumlah, Va-Lauch Cafe memang terletak di dalam perumahan, bukan di mal-mal seperti kafe lainnya. Tapi jangan salah, walaupun letakknya sukar dicari, banyak yang datang jauh-jauh dari Bandung dan Bogor cuma buat nyobain es krimnya. Tempatnya juga lumayan gede. 
Seorang pelayan menyambut saat Rico membuka pintu kafe. Sesaat dia tercengang melihat ruangan dalam kafe itu. Dari luar memang biasa aja, tapi dalamnya bagus banget. Kesannya hangat. Matanya berputar mencari sosok yang satu jam lalu meneleponnya. 
Aldy melambaikan tangan dari pojok ruangan. Rico tersenyum, berjalan menghampirinya. "Gila lo, susah banget nyari tempatnya," ujarnya menarik kursi. Seoran pelayan membawakan daftar menu. Rico membalik-balik halamannya dengan dahi berkerut. "Mmm.... Yang enak apa, Dy?" sejujurnya sih Rico bingung dengan nama es krim yang aneh-aneh itu. 
"Pesen Ferreeo Rochio-nya satu. Plus topping kacang almond ya. Sama cokelat panasnyasatu, "ujar Aldy kepada pelayan tadi kemudian tersenyum ke arah Rico. "Itu kesukaan Ciya. Siapa tahu li suka. Cobain aja." Rico mengangguk-angguk. "Oh, begitu." Di hadapan Aldy tersisa gelas kosong. "Udah lama nunggu ya?" Rico jadi merasa nggak enak. "Lumayan. Sebenernya ini udah gelas kedua." Aldy tertawa. "Nggak papa kok. Kalo belom pernah ke sini, emang susah nyari tempat ini." Aldy menyerahkan secarik kertas. "Gue uah dapet sedikit kabar. Katanya dia tinggal di daerah ini. Lokasinya di Bandung. Tapi masih belum pasti. Selama dua tahun ini, tempat tinggalnya masih pindah-pindah. Belum punya pekerjaan tetap." 
Rico membaca sebaris tulisan yang tertera pada kertas itu. Griya Permai. Nama sebuah perumahan di daerah Bandung. Rico mengerutkan dahinya. Sepertinya bukan perumahan elite. "Kalo udah ada nama tempat, mungkin gur bisa minta tolong polisi kenalan bokap gur buat bantuin kita. Cuma.... Oh ya, makasih Mbak." Pelayan mengantarkan es krim pesanan Rico dan cokelat pesanan Aldy. "Cuma masalahnya, bokap gue baru pulang bulan depan. Itu juga kalo nggak ada halangan. Tapi mestinya sih nggak ada bokap pun bisa. Yang penting kan ada ini nih." Rico mengusap-usap jempol dengan telunjuknya. 
Aldy mengerutkan bibirnya. Sepertinya dia tidak yakin akan berhasil. "Tenang aja! Pasti dapet. Lo nunggu aja kabar dari gue." Ricom menyendok es krimnya. "Sebenerya ada yang mau gue tanyain ke elo.... Soal Ciya." Dahi Aldy berkerut. "soal Ciya? Kenapa Ciya?" "Sebenernya ada apa sih dengan keluarga Ciya? Apa yang membuat keluarganya hancur seperti ini? Dan kenapa Billy tiba-tiba overdosis?" Aldy menatapa Rico lekat-lekat. "Kenapa lo mau tahu soal ini?"
 Rico mengangkat bahu. "Karena... Selama ini gue emang nggak tahu apa-apa soal dia." 
Aldy mengatupkan bibirnya. Memikirkan apakah harus memberitahu atau sebaliknya, walaupun akhirnya sebuah kalimat meluncur dari bibirnya. "Gue nggak yakin apa lo bakal suka sama jawaban gue. Tapi...." Aldy menatap Rico sebelum menyelesaikan kalimatnya, "Ciya anak haram." Rico terbelalak. "Apa?" 
dia menanti reaksi Aldy selanjutnya. Menanti Aldy akan tertawa dan bilang dia hanya bercanda. Tapi cowok itu hanya menunduk dan terdiam. Rico meletakkan sendoknya. Dia jadi tidak berselera. 
"Gue juga nggak gitu mengerti gimana persisnya. Tapi ternyata Ciya bukan anak Oom Frans. Oom Frans itu bokapnya Ciya," Aldy menjelaskan. "Ternyata selama ini Tante Merina, nyokapnya Ciya, itu masih menjalin hubungan dengan pria lain yang kata nyokap gue sih mantannya Tante Merina. Dan selama ini bokapnya Ciya nggak tahu hal itu. Sampe akhirnya dua tahun yang lalu, entah gimana Oom Frans mengetahui kalau Tante Merina masih suka berhubungan dengan pria itu. Dan hubungan Tante Merina dan pria itu sudah berjalan dari awal perkawinannya dengan Oom Frans. Dan menurut Oom Frans, Ciya itu bukan anak kandungnya. Tapi anak kandung pria itu." Aldy berhenti sebentar. Dia terlihat tidak suka menggunakan kata ganti "pria itu". 
"Soal Billy, dia itu cowok paling setia yang pernah gue kenal. Tapi sekaligus juga paling goblok. Gue yakin kejadian dia overdosis itu ada hubungannya dengan Ciya. Tapi sampai sekarang gue juga masih nggak ngerti untuk apa semua itu." 
Aldy terdiam sejenak. "Itu juga yang bikin gue kalah telak dari dia. Dia pantes ngedapetin Ciya." 
Rico menyingkirkan es krim yang baru disendoknya satu kali. Dia benar-benar tidak selera sekarang. 
"Hebatnya lagi.... Nyokapnya Ciya bisa menutupi hal ini selam empat belas tahun! Bayangin! Empat belas tahun! Hal itulah yang membuat bokapnya marah besar dan pergi dari rumah. Dia nyangka istrinya selingkuh. Dia juga nggak nyangka anak yang paling disayanginya ternyata bukan darah dagingnya sendiri. "Sejak bokapnya pergi dari rumah, Billy luntang-lantung nyari kerjaan. Tapi zaman sekarang, siapa yang mau nerima lulusan SMP? Akhirnya dia cuma kerja kasar, pagi-pagi jadi loper koran, pulang sekolah jadi pelayang restoran. Udah kerja seharian, tapi uang yang didapat nggak mencukupi. Nyokapnya sakit jantung. Buat makan aja kadang-kadang suka nggak cukup, apalagi buat bayar obat. Kadang gue juga menawarkan pinjaman uang buat Billy. Nyokap gue juga coba membantu. Tapi Billy dan Tante Merina menolak. Mereka nggak mau ngerepotin keluarga gue. Tapi keras kepalanya mereka justru memperburuk keadaan mereka sendiri. Waktu itu, Billy bener-bener depresi. Rasa tertekan itu yang membuat dia banting setir jadi pengedar narkoba." 
Rico membelalakkan mata. "Separah itu?" 
Aldy mengangguk. "Tapi dia cuma ngedarin. Dia sama sekali bukan pecandu. Nggak jarang juga, Billy berurusan sama polisi. Kalo dihitung-hitung, dia pernah ketangkep lima-enam kali. Tapi Ciya dan nyokapnya sama sekali nggak tahu, karena gue udah nebus dia duluan." 
Aldy mengembuskan napas panjang sejenak. "Gue terpaksa nyuri duit Bokap buat nebus dia. Untung aja nggak pernah ketauan. Karena setelah keluar, Billy langsung balikin duit bokap gue. Sebenarnya gue nggak setuju dia nyari duit dengan cara kayak gitu. Tapi mau gimana lagi. Kalo ada di posisi dia, gue juga pasti bakal melakukan hal yang sama. Dan.... Waktu Ciya tahu, dia sempet mikir buat bunuh diri." 
Rico menahan napas. "Nggak mungkin." berita apa lagi ini? Kenapa begitu banyak hal yang tidak diketahuinya sama sekali? 
Aldy tertawa sini. "Tadinya gue juga berharap begitu. Untung aja, waktu itu kebetulan Billy udah pulang. Dia menggendong Ciya ke rumah sakit. 
"Tapi, dua minggu kemudian Billy overdosis. Sejak Billy meninggal, Ciya jadi sangat pendiam. Dia tidak pernah bicara. Kerjanya hanya duduk di kamar Billy selama berhari-hari. Nggak mau sekolah, nggak mau makan. Hanya menangis setiap hari." Aldy menghentikan perkataannya sejenak. Pikirannya menerawang. 
Cewek itu duduk sambil bertekuk lutut di samping tempat tidur. Sudah tidak ada air mata yang keluar. Atau mungkin sudah tidak bisa keluar. Matanya bengkak, tampangnya lebih parah dibandingkan orang mati. Tidak menyangka sebegitu berartinya sosok Billy bagi cewek ini. Aldy menekuk tubuhnya dan duduk tepat di sebelahnya. Cewek itu tetap bergeming. Beberapa hari ini keadaannya memang seperti itu. Tidak bersuara dan tidak mau mengeluarkan suara. Ada siapa pun dan apa pun di sebelahnya tidak akan membuatnya bereaksi. Mukanya sudah semakin tirus dan pucat. Setelah kematian Billy, jangankan nasi, setetes air pun tidak yang hinggap ke mulutnya. Kalau ada mesin waktu yang bisa mengubah segalanya, Aldy pasti akan membeli barang itu berapa pun harganya. Hatinya sakit melihat cewek yang disayanginya tidak lebih dari sekadar mayat hidup. "Chiara...." Aldy mengelus rambut cewek itu. Lewat celah pintu, Aldy dapat melihat dengan jelas, mamanya sedang menemani mama Chiara yang sedang menangis. Saat ini, pasti jadi saat yang sangat sulit untuk wanita yang baru saja kehilangan anak dan suaminya. Apalagi, anak bungsunya berubah jadi seperti ini. Chiara memang tidak pernah berniat bunuh diri lagi. Tapi keadaannya sekarang ini jauh lebih parah daripada mencona bunuh diri. Dia berusaha menutup kehidupannya dari dunia luar. Dia menciptakan dunianya sendiri. Tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya. Itu sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. Berhari-hari Aldy menemani Chiara yang dalam kondisi seperti itu. Berusaha menyuapinya, berusaha mengajaknya bicara, berusaha mengembalikan kesadarannya. Tapi mungkin sia-sia. Chiara tetap diam, berhari-hari tidak mau makan, tidak mau tidur, tidak mau bicara. Hanya duduk di samping tempat tidur Billy. Menatap kosong ke arah lantai. 
Tiga minggu kemudian, Chiara masuk rumah sakit. Dia mengalami dehidrasi hebat yang membuatnya hampir kehilangan nyawa untuk kedua kalinya. Tapi, Tuhan memang maha pengasih. Bukan saja Chiara selamat, tapi peristiwa itu menggugah kesadarannya. Saat membuka mata, Chiara mencium bau obat. Tangannya basah. Air mata bundanya membasahi tangannya selama dia tidak sadarkan diri. Detik itu, Chiara menangis. Menangis gila- gilaan tanpa henti. 
Selama ini, hanya ada Billy dalam otaknya. Selama ini, dia terlalu terbelenggu oleh kematian Billy, hanya ada satu nama yang mengisi pikirannya. Nama yang membuatnya tidak lagi
mengingat dunia. Nama yang membuatnya lengah dan terlupa. Dia lupa.... Dia bahkan melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.... Seorang bunda.... "Maafin Chiara, Ma.... Maafin Chiara...." berkali-kali diucapkannya kata-kata itu sambil terisak. Dan kata-kata itu serasa angin sejuk yang berembus ke dalam hati mamanya. Sambil berurai air mata, mereka berpelukan di tengah heningnya rumah sakit. 
Tak urung Aldy ikut gembira. Dia telah mendapatkan Chiaranya kembali. Seorang gadis kecil yang amat disayanginya. Sejak itu, Chiara menyimpan semua ingatan tentang Billy. Seakan-akan dia memasukkannya ke kotak, lalu menyimpan kotak itu ke suatu tempat dan menggemboknya. Tidak ada orang yang bisa mengambil dan menyentuhnya. Bahkan Chiara sendiri. Karena kunci gembok itu.... Telah ia patahkan. 
Chiara berusaha menyimpan Billy. Berusaha tidak mengingatnya lagi. Berusah menghindari semua kenagan dan peristiwa atas nama Billy. Dia kembali belajar untuk tertawam belajar hidup tanpa kehadiran separuh jiwanya. Hanya saja, Chiara tidak pernah belajar untuk menerima kenyataan. Tidak pernah belajar untuk menerima bahwa Billy telah tiada. Chiara hanya menghindar. 
Aldy tepekur mengingat semua kenangan tadi. Rasanya tidak percaya kematian sahabatnya sudah berlalu lebih dari dua tahun. "Mungkin sangat besar pengaruh seorang ibu. Hanya karena satu tetes air mata mamanya, Ciya berusaha bangkit. Bangkit kembali untuk membenahi kehidupannya yang sudah luluh lantak. Ciya kembali ceria. Hanya saja, dia jadi terlalu sering tertawa. Untuk hal-hal yang nggak lucu sekalipun, dia bisa tertawa terbahak-bahak. 
"Sebenarya Ciya itu cewek pendiam. Bahkan tergolong cengeng. Untuk hal-hal kecil pun, dia gampang sekali menangis. Dia suka menangis." Aldy memamerkan deretan giginya. Rico tahu mata Aldy sekarang sedang memandang jauh ke masa-masa silam. 
"Tapi sejak hari itu, gue nggak pernah ngeliat dia nangis lagi. Dia benar-benar mengganti air mata dengan derai tawa. Bahkan waktu mamanya meninggal pun, Ciya nggak ngomong satu patah kata pun. Satu-satunya kalimat yang dia bilang adalah 'Jangan pernah panggil gue Chiara lagi!"' Aldy meneguk cokelatnya sejenak. Tiba-tiba kerongkongannya terasa sangat kering. "Sola Billy, gue masih nggak ngerti kenapa dia berbuat begitu. Tapi gue yakin, asal kita nemuin orang itu, dia pasti bisa ngasih alasannya. Jadi gimana pun caranya, elo mesti nemuin orang itu!" 
Rico terdiam. Tidak menyangka kisah sesungguhnya serumit itu. Tadinya, Rico pikir Ciya itu ibarat warna putih, polos, tanpa goresan tinta. Ternyata di alah. Ciya justru memiliki warna putih itu karena di dalamnya terkandung pelangi. Kumpulan teka-teki yang membentuk cinta dan kehidupan. "Dia harta gue yang paling berharga," Aldy mengganti topik dari tentang Ciya menjadi tentang mereka. Tatapannya saat ini tepat menusuk ke manik mata Rico. Seakan menyuruh Rico bungkam. 
Selama ini Aldy merasa jika tidak membutuhkna Billy, Ciya akan membutuhkan dirinya. Tapi dia salah! Dia salah besar! Karena perlahan-lahan.... Dan entah sejak kapan, di dalam kehidupan gadis itu ada sosok lain yang mengisi hari-harinya. Satu sosok yang bahkan selama ini tidak pernah dia perhitungkan.
 Dan Aldy tahu telah ada celah yang menganga lebar-lebar di antara dia dan Ciya. Terdapat jurang pemisah yang membuat Ciya terlepas dari pandangannya. Dan jika dia tidak hati-hati, satu-satunya jembatan kecil yang menghubungkan kedua tebing itu akan ambruk karena keteledorannya. Saat ini, kebersamaannya dengan Ciya tidak sesering dulu. Ciya memang tetap Ciya. Tapi banyak hal yang telah berubah. Rumah mereka sudah tidak berhadapan lagi. Ciya bukanlah lagi Chiara kecil yang dengan gampang memanjat pagar rumahnya malam-malan dan berceloteh di sana jika sedang bertengkar dengan Billy. 
Aldy cuma berpikir bahwa saingannya hanya Billy. Hanya satu orang: Billy! Dia tidak pernah memperhitungkan akan muncul Billy-Billy lain di dalam kehidupan Ciya. Dia tidak pernah berpikir bahwa bisa saja Ciya akan jatuh cinta pada orang selain Billy dan dirinya. Dia tidak pernah memperhitungkan hal itu. 
Memang tidak ada satu pernyataan terang-terangan dari mulut Ciya tentang perasaannya saat ini. Aldy sendiri pun sudah berjanji akan menunggu Ciya dengan senang hati. Tapi dia lupa satu hal. Dia juga harus berjuang! Berjuang untuk mendapatkan kembali gadis yang sempat kabur dari genggaman. Dan bukan hanya menunggu. 
Meski benci, dai harus mengakui cowok di hadapannya ini bukannya sosok yang bisa dilihat dengan sebelah mata. Hanya dalam hitungan bulan, cowok itu telah bisa mengembalikan senyum Ciya sepenuhnya. Senyum yang bahkan tidak pernah dia wujudkan selama ini. Senyum yang hanya Ciya tunjukkan untuk Billy. Dan di saat ia mulai menyadarinya, semua sudah terlambat. 
Dan sepertinya Rico mengerti maksud perkataan Aldy tadi karena dia membalas tatapan Aldy dengan pandangan tajam. "Oh ya?!" ucapnya dingin. "Sekarang dia juga harta gue yang paling berharga!" Tanpa ada yang menyadari, dua kalimat tadi telah berubah menjadi pernyataan dua cowok terhadap cewek yang sama-sama telah memberikan untaian nada dalam kehidupan mereka.
Ciya duduk di tepi kolam renang. Separuh kakinya masuk ke air. Tampangnya sesekali melihat ke sekeliling, mencari sosok Rico yang sejak jam delapan pagi sampai jam tiga sore ini nggak kelihatan batang hidungnya. HP-nya juga nggak aktif. "Kira-kira ke mana ya? Mentang- mentang hari Minggu, pergi seharian. Dasar...." Ciya memonyongkan bibirnya. "Non, mau jus wortel nggak?" Bik Nah berdiri di belakang Ciya sambil mengacung-acungkan dua wortel panjang. "Iya, tapi dicampur sama jeruk aja ya, Bi. Jangan dicampur sama belimbing. Rasanya aneh banget!" 
Bik Nah ini suka banget bikin jus dengan mencampur berbagai jenis buah. Hanya saja kadang- kadang rasanya nggak keruan. Bayangkan saja, minggu lalu dia dicampur alpukat dengan sawo. Dua minggu sebelumnya, dai mencampur pepaya dengan ketimun. Alpukat dengan sawo masih bolehlah.... Tapi pepaya dengan ketimun!!! Yaiks! Ciya menggoyang-goyangkan kakinya sehingga membentuk riak-riak kecil di kolam renang. Dari tadi dia sendirian di rumah, jadi merasa bosa. Tidak biasanya rumah jadi begini sepi. Sesaat pikirannya menerawang. Begitu banyak hal yang terjadi selama ini. Rasanya seperti melewati samudra besar dengan rakit kecil. Salah sedikit saja, dia bisa tertelan hidup-hidup ke dalam lautan yang bernama kehidupan.
Begitu banyak peristiwa membuat Ciya merasa pikirannya hanyalah kecil. Begitu kecil dan sempit. Di dalam panjangnya waktu, Ciya hanya bisa membuat otaknya berpikir akan satu hal. Kehilangan.... Perasaan kehilangan yang begitu menusuk. Bukan hanya tentang papanya, bukan hanya tentang sosok bundanya, bukan hanya tentang pangeran berkuda putihnya. Ciya juga kehilangan dirinya. Dia kehilangan Chiara-nya. Berbagai peristiwa kehilangan itu membuatnya takut menjadi sosok Chiara. Takut kalau jangan- jangan masih ada berbagai rentenan peristiwa semua itu jauh-jauh di belakang punggungnya dan tidak pernah ingin berbalik untuk melihatnya. Namun, peristiwa di Dufan beberapa waktu yang lalu selalu menari-nari dalam pikirannya. Rico telah membuatnya sadar akan satu hal penting. DIA MASIH HIDUP! Dia masih punya kehidupan, dia masih punya impian, dan dia masih punya masa depan. Selama ini, Ciya tidak pernah memikirkan hal itu. Dia terlalu sibuk menghindar dari semua perasaan kehilangannya. Ciya sendiri pun kadang-kadang masih tidak percaya bahwa orang yang bisa menyadarkannya adalah seorang Enrico Leman! Seorang cowok yang dikenal playboy yang masih kelas dua SMA dan kini tinggal satu rumah dengannya. Ternyata ada juga sisi dewasanya cowok belagu itu, Ciya tersenyum tipis. "Mau sampai kapan duduk di sini?" tanya Rico tiba-tiba. Tangannya menyodorkan segelas penuh wortel yang baru saja keluar dari blender. Ciya memamerkan senyumnya. "Dari mana?" Tangannya mengambil gelad dari tangan Rico. Sesaat jantung Rico bergetar. Setiap kali cewek itu memamerkan senyum yang sama, sepertinya ada sesuatu yang menyumbat pembuluh darahnya sehingga detak jantungnya tak keruan. "Ketemu sama Aldy" Ciya membelalakkan mata. Membuat matanya yang belo terlihat lebih besar. "Kok nggak ngajak gue?" "Urusan cowok." Rico merebut gelas dari tangan Ciya dan ikut meminumnya. "Cih...." Ciya mencibir. "Gue tahu kok elo ngapain." Ciya mengerling Rico nakal. "Elo homo, kan? Hahaha...." Jus yang ada di mulut Rico hampir saja kembali berhamburan keluar kalau saja Rico tidak menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sementara Ciya tertawa ringan. "Gue tahu kok, elo jadi playboy cuma buat nutupin kalo elo itu sebenarnya homo. Teruus... Elo naksir Aldy. Ya, kan?" Ciya tertawa nakal kemudian mengibaskan tangannya. "Percuma deh.... Aldy itu cowok tulen. Nggak bakal naksir makhluk luar angkasa kayak lo!" 
Ciya semakin ngakak melihat Rico yang semakin memerah. Tidak berpikir pun Ciya tahu darah cowok itu sudah naik sampai ubun-ubun. "Maaf.... maaf.... Bercanda." Tapi sebelum Ciya menyelesaikan kalimatnya, Rico sudah menceburkannya ke kolam renang. Air kolam renang bercipratan ke mana-mana sementara tangan Ciya berusaha menggapai- gapai udara. "Ga...." Ciya megap-megap. "Ga.... Blup.... bi.... blup.... be.... blup.... nang...." Rico, yang tadinya tidak mengerti ucapan Ciya, akhirnya sadar bahwa Ciya semakin lama semakin tenggelam. Tanpa melepas bajunya, dia buru-buru berenang dan menarik Ciya dari sana. "Hei.... Nggak apa-apa, kan?" Rico membaringkan Ciya hati-hati di rumput. Tetesan air rambutnya jatuh mengenai wajah cewek itu. Ciya sudah tidak mampu berkata-kata. Napasnya sudah satu-dua. Rico buru-buru menggendong Ciya ke kamar. 
Bik Tum dan Bik Nah sama-sama panik melihat keadaan anak angkat majikannya itu. Mereka buru-buru mengganti baju Ciya dan membuatkan teh hangat. "Kenapa lo nggak bilang kalo nggak bisa berenang?" Rico duduk di samping tempat tidur Ciya.
Memeriksa apakah keadaan cewek itu baik-baik saja. Saat itu, Ciya sudah mengganti baju dan memegang gelas tehnya. Rambutnya masih setengah basah. Dia hanya memandang Rico dengan muka ditekuk. Rico menyodorkan sekotak cokelat. "Maaf deh...." "Nggak mau cokelat lagi! Tiap gue bete bisanya cuma ngasih cokelat. Kalau tadi gue tenggelam beneran gimana!?" 
Rico menggeser duduknya lebih dekat. "Ini gue beliin di Va-Lauch pas gue tadi ketemu sama Aldy. Di sana cokelatnya banyak banget. Gue inget lo, makanya gue beli. Bukan cuma buat bikin lo nggak bete. Soal tadi, gue minta maaf. Gue beneran nggak tahu kalo lo nggak bisa berenang. Jangan marah lagi ya...." Rico menyerahkan cokelat itu ke dalam genggaman Ciya. Jemarinya mengusap pipi Ciya pelan. "Gue juga sama takutnya ngeliat elo mulai tenggelam." Ciya menepis tangan Rico. "Ya udah, dimaafin.... Tapi jangan begitu lagi ya." 
Rico tersenyum tipis. Biasanya semua mantannya akan luluh jika dia sudah bersikap manis seperti itu. Ternyata menundukkan seorang Ciya perlu energi ekstra! Tapi Rico memang tidak berbohong. Saat dia melihat Ciya mulai tenggelam. Jantung Rico langsung mencelos. Saat melihat Ciya lemas tidak berdaya dengan napas terputus-putus, dia benar-benar sangat panik. Entah sejak kapan cewek itu bisa menempati posisi begitu penting di hatinya.                 

Komentar