Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 11 |
part* 11
Masa Lalu Hitam
VA-LAUCH CAFE.... Akhirnya Rico menemukan kafe ini setelah
nyasar selama satu jam. Dia memarkir motornya di samping pohon bear dekat pintu
masuk. "Dasar sinting!" gerutu Rico saat mematikan mesin motor. "Tuh orang nyari tempat ketemu aja
kenapa susah begini." Maklumlah, Va-Lauch Cafe memang terletak di dalam
perumahan, bukan di mal-mal seperti kafe lainnya. Tapi jangan salah, walaupun
letakknya sukar dicari, banyak yang datang jauh-jauh dari Bandung dan Bogor
cuma buat nyobain es krimnya. Tempatnya juga lumayan gede.
Seorang pelayan menyambut saat Rico membuka pintu kafe.
Sesaat dia tercengang melihat ruangan dalam kafe itu. Dari luar memang biasa
aja, tapi dalamnya bagus banget. Kesannya hangat. Matanya berputar mencari
sosok yang satu jam lalu meneleponnya.
Aldy melambaikan tangan dari pojok ruangan. Rico tersenyum,
berjalan menghampirinya. "Gila lo, susah banget nyari tempatnya,"
ujarnya menarik kursi. Seoran pelayan membawakan daftar menu. Rico
membalik-balik halamannya dengan dahi berkerut. "Mmm.... Yang enak apa,
Dy?" sejujurnya sih Rico bingung dengan nama es krim yang aneh-aneh
itu.
"Pesen Ferreeo Rochio-nya satu. Plus topping kacang
almond ya. Sama cokelat panasnyasatu, "ujar Aldy kepada pelayan tadi
kemudian tersenyum ke arah Rico. "Itu kesukaan Ciya. Siapa tahu li suka.
Cobain aja." Rico mengangguk-angguk. "Oh, begitu." Di hadapan
Aldy tersisa gelas kosong. "Udah lama nunggu ya?" Rico jadi merasa
nggak enak. "Lumayan. Sebenernya ini udah gelas kedua." Aldy tertawa.
"Nggak papa kok. Kalo belom pernah ke sini, emang susah nyari tempat
ini." Aldy menyerahkan secarik kertas. "Gue uah dapet sedikit kabar.
Katanya dia tinggal di daerah ini. Lokasinya di Bandung. Tapi masih belum
pasti. Selama dua tahun ini, tempat tinggalnya masih pindah-pindah. Belum punya
pekerjaan tetap."
Rico membaca sebaris tulisan yang tertera pada kertas itu.
Griya Permai. Nama sebuah perumahan di daerah Bandung. Rico mengerutkan
dahinya. Sepertinya bukan perumahan elite. "Kalo udah ada nama tempat,
mungkin gur bisa minta tolong polisi kenalan bokap gur buat bantuin kita.
Cuma.... Oh ya, makasih Mbak." Pelayan mengantarkan es krim pesanan Rico
dan cokelat pesanan Aldy. "Cuma masalahnya, bokap gue baru pulang bulan
depan. Itu juga kalo nggak ada halangan. Tapi mestinya sih nggak ada bokap pun
bisa. Yang penting kan ada ini nih." Rico mengusap-usap jempol dengan
telunjuknya.
Aldy mengerutkan bibirnya. Sepertinya dia tidak yakin akan
berhasil. "Tenang aja! Pasti dapet. Lo nunggu aja kabar dari gue."
Ricom menyendok es krimnya. "Sebenerya ada yang mau gue tanyain ke elo....
Soal Ciya." Dahi Aldy berkerut. "soal Ciya? Kenapa Ciya?"
"Sebenernya ada apa sih dengan keluarga Ciya? Apa yang membuat keluarganya
hancur seperti ini? Dan kenapa Billy tiba-tiba overdosis?" Aldy menatapa
Rico lekat-lekat. "Kenapa lo mau tahu soal ini?"
Rico mengangkat bahu.
"Karena... Selama ini gue emang nggak tahu apa-apa soal dia."
Aldy mengatupkan bibirnya. Memikirkan apakah harus
memberitahu atau sebaliknya, walaupun akhirnya sebuah kalimat meluncur dari
bibirnya. "Gue nggak yakin apa lo bakal suka sama jawaban gue.
Tapi...." Aldy menatap Rico sebelum menyelesaikan kalimatnya, "Ciya
anak haram." Rico terbelalak. "Apa?"
dia menanti reaksi Aldy selanjutnya. Menanti Aldy akan
tertawa dan bilang dia hanya bercanda. Tapi cowok itu hanya menunduk dan
terdiam. Rico meletakkan sendoknya. Dia jadi tidak berselera.
"Gue juga nggak gitu mengerti gimana persisnya. Tapi
ternyata Ciya bukan anak Oom Frans. Oom Frans itu bokapnya Ciya," Aldy
menjelaskan. "Ternyata selama ini Tante Merina, nyokapnya Ciya, itu masih
menjalin hubungan dengan pria lain yang kata nyokap gue sih mantannya Tante
Merina. Dan selama ini bokapnya Ciya nggak tahu hal itu. Sampe akhirnya dua
tahun yang lalu, entah gimana Oom Frans mengetahui kalau Tante Merina masih
suka berhubungan dengan pria itu. Dan hubungan Tante Merina dan pria itu sudah
berjalan dari awal perkawinannya dengan Oom Frans. Dan menurut Oom Frans, Ciya
itu bukan anak kandungnya. Tapi anak kandung pria itu." Aldy berhenti
sebentar. Dia terlihat tidak suka menggunakan kata ganti "pria
itu".
"Soal Billy, dia itu cowok paling setia yang pernah gue
kenal. Tapi sekaligus juga paling goblok. Gue yakin kejadian dia overdosis itu
ada hubungannya dengan Ciya. Tapi sampai sekarang gue juga masih nggak ngerti
untuk apa semua itu."
Aldy terdiam sejenak. "Itu juga yang bikin gue kalah
telak dari dia. Dia pantes ngedapetin Ciya."
Rico menyingkirkan es krim yang baru disendoknya satu kali.
Dia benar-benar tidak selera sekarang.
"Hebatnya lagi.... Nyokapnya Ciya bisa menutupi hal ini
selam empat belas tahun! Bayangin! Empat belas tahun! Hal itulah yang membuat
bokapnya marah besar dan pergi dari rumah. Dia nyangka istrinya selingkuh. Dia
juga nggak nyangka anak yang paling disayanginya ternyata bukan darah dagingnya
sendiri. "Sejak bokapnya pergi dari rumah, Billy luntang-lantung nyari
kerjaan. Tapi zaman sekarang, siapa yang mau nerima lulusan SMP? Akhirnya dia
cuma kerja kasar, pagi-pagi jadi loper koran, pulang sekolah jadi pelayang
restoran. Udah kerja seharian, tapi uang yang didapat nggak mencukupi.
Nyokapnya sakit jantung. Buat makan aja kadang-kadang suka nggak cukup, apalagi
buat bayar obat. Kadang gue juga menawarkan pinjaman uang buat Billy. Nyokap
gue juga coba membantu. Tapi Billy dan Tante Merina menolak. Mereka nggak mau
ngerepotin keluarga gue. Tapi keras kepalanya mereka justru memperburuk keadaan
mereka sendiri. Waktu itu, Billy bener-bener depresi. Rasa tertekan itu yang
membuat dia banting setir jadi pengedar narkoba."
Rico membelalakkan mata. "Separah itu?"
Aldy mengangguk. "Tapi dia cuma ngedarin. Dia sama
sekali bukan pecandu. Nggak jarang juga, Billy berurusan sama polisi. Kalo
dihitung-hitung, dia pernah ketangkep lima-enam kali. Tapi Ciya dan nyokapnya
sama sekali nggak tahu, karena gue udah nebus dia duluan."
Aldy mengembuskan napas panjang sejenak. "Gue terpaksa
nyuri duit Bokap buat nebus dia. Untung aja nggak pernah ketauan. Karena
setelah keluar, Billy langsung balikin duit bokap gue. Sebenarnya gue nggak
setuju dia nyari duit dengan cara kayak gitu. Tapi mau gimana lagi. Kalo ada di
posisi dia, gue juga pasti bakal melakukan hal yang sama. Dan.... Waktu Ciya
tahu, dia sempet mikir buat bunuh diri."
Rico menahan napas. "Nggak mungkin." berita apa
lagi ini? Kenapa begitu banyak hal yang tidak diketahuinya sama sekali?
Aldy tertawa sini. "Tadinya gue juga berharap begitu.
Untung aja, waktu itu kebetulan Billy udah pulang. Dia menggendong Ciya ke
rumah sakit.
"Tapi, dua minggu kemudian Billy overdosis. Sejak Billy
meninggal, Ciya jadi sangat pendiam. Dia tidak pernah bicara. Kerjanya hanya
duduk di kamar Billy selama berhari-hari. Nggak mau sekolah, nggak mau makan.
Hanya menangis setiap hari." Aldy menghentikan perkataannya sejenak.
Pikirannya menerawang.
Cewek itu duduk sambil bertekuk lutut di samping tempat
tidur. Sudah tidak ada air mata yang keluar. Atau mungkin sudah tidak bisa
keluar. Matanya bengkak, tampangnya lebih parah dibandingkan orang mati. Tidak
menyangka sebegitu berartinya sosok Billy bagi cewek ini. Aldy menekuk tubuhnya
dan duduk tepat di sebelahnya. Cewek itu tetap bergeming. Beberapa hari ini
keadaannya memang seperti itu. Tidak bersuara dan tidak mau mengeluarkan suara.
Ada siapa pun dan apa pun di sebelahnya tidak akan membuatnya bereaksi. Mukanya
sudah semakin tirus dan pucat. Setelah kematian Billy, jangankan nasi, setetes
air pun tidak yang hinggap ke mulutnya. Kalau ada mesin waktu yang bisa
mengubah segalanya, Aldy pasti akan membeli barang itu berapa pun harganya.
Hatinya sakit melihat cewek yang disayanginya tidak lebih dari sekadar mayat
hidup. "Chiara...." Aldy mengelus rambut cewek itu. Lewat celah pintu,
Aldy dapat melihat dengan jelas, mamanya sedang menemani mama Chiara yang
sedang menangis. Saat ini, pasti jadi saat yang sangat sulit untuk wanita yang
baru saja kehilangan anak dan suaminya. Apalagi, anak bungsunya berubah jadi
seperti ini. Chiara memang tidak pernah berniat bunuh diri lagi. Tapi
keadaannya sekarang ini jauh lebih parah daripada mencona bunuh diri. Dia
berusaha menutup kehidupannya dari dunia luar. Dia menciptakan dunianya
sendiri. Tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya. Itu sama saja dengan bunuh diri
pelan-pelan. Berhari-hari Aldy menemani Chiara yang dalam kondisi seperti itu.
Berusaha menyuapinya, berusaha mengajaknya bicara, berusaha mengembalikan
kesadarannya. Tapi mungkin sia-sia. Chiara tetap diam, berhari-hari tidak mau
makan, tidak mau tidur, tidak mau bicara. Hanya duduk di samping tempat tidur
Billy. Menatap kosong ke arah lantai.
Tiga minggu kemudian, Chiara masuk rumah sakit. Dia
mengalami dehidrasi hebat yang membuatnya hampir kehilangan nyawa untuk kedua
kalinya. Tapi, Tuhan memang maha pengasih. Bukan saja Chiara selamat, tapi
peristiwa itu menggugah kesadarannya. Saat membuka mata, Chiara mencium bau
obat. Tangannya basah. Air mata bundanya membasahi tangannya selama dia tidak
sadarkan diri. Detik itu, Chiara menangis. Menangis gila- gilaan tanpa
henti.
Selama ini, hanya ada Billy dalam otaknya. Selama ini, dia
terlalu terbelenggu oleh kematian Billy, hanya ada satu nama yang mengisi
pikirannya. Nama yang membuatnya tidak lagi
mengingat dunia. Nama yang membuatnya lengah dan terlupa.
Dia lupa.... Dia bahkan melupakan sesuatu yang sangat penting dalam
hidupnya.... Seorang bunda.... "Maafin Chiara, Ma.... Maafin
Chiara...." berkali-kali diucapkannya kata-kata itu sambil terisak. Dan
kata-kata itu serasa angin sejuk yang berembus ke dalam hati mamanya. Sambil
berurai air mata, mereka berpelukan di tengah heningnya rumah sakit.
Tak urung Aldy ikut gembira. Dia telah mendapatkan Chiaranya
kembali. Seorang gadis kecil yang amat disayanginya. Sejak itu, Chiara
menyimpan semua ingatan tentang Billy. Seakan-akan dia memasukkannya ke kotak,
lalu menyimpan kotak itu ke suatu tempat dan menggemboknya. Tidak ada orang
yang bisa mengambil dan menyentuhnya. Bahkan Chiara sendiri. Karena kunci
gembok itu.... Telah ia patahkan.
Chiara berusaha menyimpan Billy. Berusaha tidak mengingatnya
lagi. Berusah menghindari semua kenagan dan peristiwa atas nama Billy. Dia
kembali belajar untuk tertawam belajar hidup tanpa kehadiran separuh jiwanya.
Hanya saja, Chiara tidak pernah belajar untuk menerima kenyataan. Tidak pernah
belajar untuk menerima bahwa Billy telah tiada. Chiara hanya menghindar.
Aldy tepekur mengingat semua kenangan tadi. Rasanya tidak
percaya kematian sahabatnya sudah berlalu lebih dari dua tahun. "Mungkin
sangat besar pengaruh seorang ibu. Hanya karena satu tetes air mata mamanya,
Ciya berusaha bangkit. Bangkit kembali untuk membenahi kehidupannya yang sudah
luluh lantak. Ciya kembali ceria. Hanya saja, dia jadi terlalu sering tertawa.
Untuk hal-hal yang nggak lucu sekalipun, dia bisa tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarya Ciya itu cewek pendiam. Bahkan tergolong
cengeng. Untuk hal-hal kecil pun, dia gampang sekali menangis. Dia suka
menangis." Aldy memamerkan deretan giginya. Rico tahu mata Aldy sekarang
sedang memandang jauh ke masa-masa silam.
"Tapi sejak hari itu, gue nggak pernah ngeliat dia
nangis lagi. Dia benar-benar mengganti air mata dengan derai tawa. Bahkan waktu
mamanya meninggal pun, Ciya nggak ngomong satu patah kata pun. Satu-satunya
kalimat yang dia bilang adalah 'Jangan pernah panggil gue Chiara lagi!"'
Aldy meneguk cokelatnya sejenak. Tiba-tiba kerongkongannya terasa sangat
kering. "Sola Billy, gue masih nggak ngerti kenapa dia berbuat begitu.
Tapi gue yakin, asal kita nemuin orang itu, dia pasti bisa ngasih alasannya.
Jadi gimana pun caranya, elo mesti nemuin orang itu!"
Rico terdiam. Tidak menyangka kisah sesungguhnya serumit
itu. Tadinya, Rico pikir Ciya itu ibarat warna putih, polos, tanpa goresan
tinta. Ternyata di alah. Ciya justru memiliki warna putih itu karena di
dalamnya terkandung pelangi. Kumpulan teka-teki yang membentuk cinta dan
kehidupan. "Dia harta gue yang paling berharga," Aldy mengganti topik
dari tentang Ciya menjadi tentang mereka. Tatapannya saat ini tepat menusuk ke
manik mata Rico. Seakan menyuruh Rico bungkam.
Selama ini Aldy merasa jika tidak membutuhkna Billy, Ciya
akan membutuhkan dirinya. Tapi dia salah! Dia salah besar! Karena
perlahan-lahan.... Dan entah sejak kapan, di dalam kehidupan gadis itu ada
sosok lain yang mengisi hari-harinya. Satu sosok yang bahkan selama ini tidak
pernah dia perhitungkan.
Dan Aldy tahu telah
ada celah yang menganga lebar-lebar di antara dia dan Ciya. Terdapat jurang
pemisah yang membuat Ciya terlepas dari pandangannya. Dan jika dia tidak
hati-hati, satu-satunya jembatan kecil yang menghubungkan kedua tebing itu akan
ambruk karena keteledorannya. Saat ini, kebersamaannya dengan Ciya tidak
sesering dulu. Ciya memang tetap Ciya. Tapi banyak hal yang telah berubah.
Rumah mereka sudah tidak berhadapan lagi. Ciya bukanlah lagi Chiara kecil yang
dengan gampang memanjat pagar rumahnya malam-malan dan berceloteh di sana jika
sedang bertengkar dengan Billy.
Aldy cuma berpikir bahwa saingannya hanya Billy. Hanya satu
orang: Billy! Dia tidak pernah memperhitungkan akan muncul Billy-Billy lain di
dalam kehidupan Ciya. Dia tidak pernah berpikir bahwa bisa saja Ciya akan jatuh
cinta pada orang selain Billy dan dirinya. Dia tidak pernah memperhitungkan hal
itu.
Memang tidak ada satu pernyataan terang-terangan dari mulut
Ciya tentang perasaannya saat ini. Aldy sendiri pun sudah berjanji akan
menunggu Ciya dengan senang hati. Tapi dia lupa satu hal. Dia juga harus
berjuang! Berjuang untuk mendapatkan kembali gadis yang sempat kabur dari
genggaman. Dan bukan hanya menunggu.
Meski benci, dai harus mengakui cowok di hadapannya ini
bukannya sosok yang bisa dilihat dengan sebelah mata. Hanya dalam hitungan
bulan, cowok itu telah bisa mengembalikan senyum Ciya sepenuhnya. Senyum yang
bahkan tidak pernah dia wujudkan selama ini. Senyum yang hanya Ciya tunjukkan
untuk Billy. Dan di saat ia mulai menyadarinya, semua sudah terlambat.
Dan sepertinya Rico mengerti maksud perkataan Aldy tadi
karena dia membalas tatapan Aldy dengan pandangan tajam. "Oh ya?!"
ucapnya dingin. "Sekarang dia juga harta gue yang paling berharga!"
Tanpa ada yang menyadari, dua kalimat tadi telah berubah menjadi pernyataan dua
cowok terhadap cewek yang sama-sama telah memberikan untaian nada dalam
kehidupan mereka.
Ciya duduk di tepi kolam renang. Separuh kakinya masuk ke
air. Tampangnya sesekali melihat ke sekeliling, mencari sosok Rico yang sejak
jam delapan pagi sampai jam tiga sore ini nggak kelihatan batang hidungnya.
HP-nya juga nggak aktif. "Kira-kira ke mana ya? Mentang- mentang hari
Minggu, pergi seharian. Dasar...." Ciya memonyongkan bibirnya. "Non,
mau jus wortel nggak?" Bik Nah berdiri di belakang Ciya sambil
mengacung-acungkan dua wortel panjang. "Iya, tapi dicampur sama jeruk aja
ya, Bi. Jangan dicampur sama belimbing. Rasanya aneh banget!"
Bik Nah ini suka banget bikin jus dengan mencampur berbagai
jenis buah. Hanya saja kadang- kadang rasanya nggak keruan. Bayangkan saja,
minggu lalu dia dicampur alpukat dengan sawo. Dua minggu sebelumnya, dai
mencampur pepaya dengan ketimun. Alpukat dengan sawo masih bolehlah.... Tapi
pepaya dengan ketimun!!! Yaiks! Ciya menggoyang-goyangkan kakinya sehingga membentuk
riak-riak kecil di kolam renang. Dari tadi dia sendirian di rumah, jadi merasa
bosa. Tidak biasanya rumah jadi begini sepi. Sesaat pikirannya menerawang.
Begitu banyak hal yang terjadi selama ini. Rasanya seperti melewati samudra
besar dengan rakit kecil. Salah sedikit saja, dia bisa tertelan hidup-hidup ke
dalam lautan yang bernama kehidupan.
Begitu banyak peristiwa membuat Ciya merasa pikirannya
hanyalah kecil. Begitu kecil dan sempit. Di dalam panjangnya waktu, Ciya hanya
bisa membuat otaknya berpikir akan satu hal. Kehilangan.... Perasaan kehilangan
yang begitu menusuk. Bukan hanya tentang papanya, bukan hanya tentang sosok
bundanya, bukan hanya tentang pangeran berkuda putihnya. Ciya juga kehilangan
dirinya. Dia kehilangan Chiara-nya. Berbagai peristiwa kehilangan itu
membuatnya takut menjadi sosok Chiara. Takut kalau jangan- jangan masih ada
berbagai rentenan peristiwa semua itu jauh-jauh di belakang punggungnya dan
tidak pernah ingin berbalik untuk melihatnya. Namun, peristiwa di Dufan
beberapa waktu yang lalu selalu menari-nari dalam pikirannya. Rico telah
membuatnya sadar akan satu hal penting. DIA MASIH HIDUP! Dia masih punya
kehidupan, dia masih punya impian, dan dia masih punya masa depan. Selama ini,
Ciya tidak pernah memikirkan hal itu. Dia terlalu sibuk menghindar dari semua
perasaan kehilangannya. Ciya sendiri pun kadang-kadang masih tidak percaya
bahwa orang yang bisa menyadarkannya adalah seorang Enrico Leman! Seorang cowok
yang dikenal playboy yang masih kelas dua SMA dan kini tinggal satu rumah
dengannya. Ternyata ada juga sisi dewasanya cowok belagu itu, Ciya tersenyum
tipis. "Mau sampai kapan duduk di sini?" tanya Rico tiba-tiba.
Tangannya menyodorkan segelas penuh wortel yang baru saja keluar dari blender.
Ciya memamerkan senyumnya. "Dari mana?" Tangannya mengambil gelad
dari tangan Rico. Sesaat jantung Rico bergetar. Setiap kali cewek itu
memamerkan senyum yang sama, sepertinya ada sesuatu yang menyumbat pembuluh
darahnya sehingga detak jantungnya tak keruan. "Ketemu sama Aldy"
Ciya membelalakkan mata. Membuat matanya yang belo terlihat lebih besar.
"Kok nggak ngajak gue?" "Urusan cowok." Rico merebut gelas
dari tangan Ciya dan ikut meminumnya. "Cih...." Ciya mencibir.
"Gue tahu kok elo ngapain." Ciya mengerling Rico nakal. "Elo
homo, kan? Hahaha...." Jus yang ada di mulut Rico hampir saja kembali
berhamburan keluar kalau saja Rico tidak menutup mulutnya dengan telapak
tangan. Sementara Ciya tertawa ringan. "Gue tahu kok, elo jadi playboy
cuma buat nutupin kalo elo itu sebenarnya homo. Teruus... Elo naksir Aldy. Ya,
kan?" Ciya tertawa nakal kemudian mengibaskan tangannya. "Percuma
deh.... Aldy itu cowok tulen. Nggak bakal naksir makhluk luar angkasa kayak
lo!"
Ciya semakin ngakak melihat Rico yang semakin memerah. Tidak
berpikir pun Ciya tahu darah cowok itu sudah naik sampai ubun-ubun.
"Maaf.... maaf.... Bercanda." Tapi sebelum Ciya menyelesaikan
kalimatnya, Rico sudah menceburkannya ke kolam renang. Air kolam renang
bercipratan ke mana-mana sementara tangan Ciya berusaha menggapai- gapai udara.
"Ga...." Ciya megap-megap. "Ga.... Blup.... bi.... blup....
be.... blup.... nang...." Rico, yang tadinya tidak mengerti ucapan Ciya,
akhirnya sadar bahwa Ciya semakin lama semakin tenggelam. Tanpa melepas
bajunya, dia buru-buru berenang dan menarik Ciya dari sana. "Hei.... Nggak
apa-apa, kan?" Rico membaringkan Ciya hati-hati di rumput. Tetesan air
rambutnya jatuh mengenai wajah cewek itu. Ciya sudah tidak mampu berkata-kata.
Napasnya sudah satu-dua. Rico buru-buru menggendong Ciya ke kamar.
Bik Tum dan Bik Nah sama-sama panik melihat keadaan anak
angkat majikannya itu. Mereka buru-buru mengganti baju Ciya dan membuatkan teh
hangat. "Kenapa lo nggak bilang kalo nggak bisa berenang?" Rico duduk
di samping tempat tidur Ciya.
Memeriksa apakah keadaan cewek itu baik-baik saja. Saat itu,
Ciya sudah mengganti baju dan memegang gelas tehnya. Rambutnya masih setengah
basah. Dia hanya memandang Rico dengan muka ditekuk. Rico menyodorkan sekotak
cokelat. "Maaf deh...." "Nggak mau cokelat lagi! Tiap gue bete
bisanya cuma ngasih cokelat. Kalau tadi gue tenggelam beneran
gimana!?"
Rico menggeser duduknya lebih dekat. "Ini gue beliin di
Va-Lauch pas gue tadi ketemu sama Aldy. Di sana cokelatnya banyak banget. Gue
inget lo, makanya gue beli. Bukan cuma buat bikin lo nggak bete. Soal tadi, gue
minta maaf. Gue beneran nggak tahu kalo lo nggak bisa berenang. Jangan marah
lagi ya...." Rico menyerahkan cokelat itu ke dalam genggaman Ciya.
Jemarinya mengusap pipi Ciya pelan. "Gue juga sama takutnya ngeliat elo
mulai tenggelam." Ciya menepis tangan Rico. "Ya udah, dimaafin....
Tapi jangan begitu lagi ya."
Rico tersenyum tipis. Biasanya semua mantannya akan luluh
jika dia sudah bersikap manis seperti itu. Ternyata menundukkan seorang Ciya
perlu energi ekstra! Tapi Rico memang tidak berbohong. Saat dia melihat Ciya
mulai tenggelam. Jantung Rico langsung mencelos. Saat melihat Ciya lemas tidak
berdaya dengan napas terputus-putus, dia benar-benar sangat panik. Entah sejak
kapan cewek itu bisa menempati posisi begitu penting di hatinya.
Komentar
Posting Komentar