Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 16|
part* 16
Jealousy..... Oh Jealousy.....
Dan ketika semuanya berubah..... Menyisakan dua hati yang
luluh tak berbekas.
"HEH! Kenapa lo bawa roti gue pake mulut? Kena iler lo
semua nih!" protes Rico saat Ciya menyerahkan roti bagiannya.
"Cerewet! Nggak liat tangan gue tadi udah penuh! Salah sendiri!"
sungut Ciya sambil memakan rotinya. "Kalo nggak mau, buat gue
sini!"
Rico menarik rotinya dari tangan Ciya yang terulur. Otaknya
mengingat-ngingat tentang semua kemungkinan penyakit yang bisa menular lewa
ludah. Tapi perutnya yang keroncongan sudah membuat otaknya mati kutu. Mau tak
mau digigitnya roti tadi dengan setengah hati. "Sekarang ceritain
cepetan!" bentak Ciya tak sabar. "Cerewet!" Rico menelan gigitan
roti pertamannya yang.... Basah. "Gue cuma mau lo tidur di kasur semalem.
Lagian, ngapain coba tidur di meja. Ntar masuk anging, tahu! Makanya kalo tidur
jangan kayak kebo! Dibangunin nggak bangun-bangun! Akhirnya lo gue gendong ke
kasur." Rico mengingat-ingat kejadian tadi malam. Untung Ciya kurus. Kalo
nggak, mungkin tangannya yang bakal patah. "Trus gue ketiduran di sofa
lo." Ciya menelan suapan rotinya yang terakhir. "Lo nggak
ngapa-ngapain, kan?" tudingnya curiga. "Emangnya lo mau
diapa-apain?"
Ciya mendesis kesal. Kemudian dia memekik melihat jam yang
sudah menunjukkan pukul setengah delapan. "Ya ampun! Kenapa sih lo
nyetirnya kayak kuya? Cepet dikit! Ini udah telaat!!!" tangannya
menarik-narik baju Rico dan kakinya menjulur ke sela-sela kaki Rico. "Sini
deh, gue yang injek gas, elo yang pegang setir." "Heh! Jangan ngaco!
Duduk aja sana!" Rico memukul kepala Ciya. "Gue belom mau mati! Gue
masih belom kawin tahu!" Ciya merengut sambil mengelus kepalanya. Rico
melihat jam dan tiba-tiba saja ide gila muncul di benaknya. "Hari ini
nggak ada ulangan, kan?" Ciya menggeleng dengan mulut meruncing keluar.
"Kalo gitu.... Bolos aja yuk! Lagian udah telat ini!"
"Apa!" Ciya langsung mendelik. "Heh! Udah gila ya! Lusa tuh
ulangan umum tahu! Lagian hari ini ada matematika, dan mau ngebahas soal-soal
tahun lalu. Kalo kita nggak dateng.... bla....bla....bla..." Tapi Rico
hanya tertawa nakal dan membelokkan mobilnya ke arah berlawanan.
"KYOOOO!!!!"
***
Ciya menekuk mukanya saat Rico menariknya turun dari mobil
dan membawanya ke depan sebuah gedung yang Ciya sendiri tidak mengerti ada di
mana. "Tunggu di sini!" perintah Rico, kemudian dia berbicara
sebentar dengan pria penjaga gedung itu. Ciya melihat Rico menyerahkan beberapa
lembar uang seratus ribu dari dompetnya. "Ayo masuk!" Rico menarik
tangan Ciya lagi setelah melihat Ciya tetap bergeming di tempatnya. "Jadi
cewek kok susah banget diaturnya sih!" sungutnya lagi saat mereka memasuki
lorong gedung. Gedung ini terkesan kuno, masih banyak ukiran bergaya Belanda di
sana-sini. Pilar-pilarnya
tinggi dan berwarna putih kusam. Mungkin karena terlalu lama
tidak direnovasi. Lantainya marmer warna kuning gading. Banyak lukisan dan foto
tentang pertunjukan orkestra dan balet. Sesekali terlihat ukiran malaikat dan
pemain harpa yang terbentang pada salah satu dinding.
"Mau ke mana sih, Kyo....?" ujar Ciya kesal
setelah harus berjalan terus-menerus melewati lorong yang panjangnya minta
ampun, tanpa ada juntrungannya. "Kyo, sebenarnya mau ke ma...." Ciya
menghentikan ucapannya sesaat setelah Rico membuka lampu-lampu sorot memancar,
menerangi tempat mereka berada saat ini. Ciya terbelalak.
"Wuaahh...." Iya tertegun memandang ke sekelilingnya.
Mereka berada di sebuah panggung yang sangat besar. Di
depannya terbentang deretan bangku sejajar dari atas ke bawah. Dua helai tirai
besar tergantung di sisi kiri dan kanan panggung. Tidak ada jendela di sana.
Satu-satuya penerangan berasal dari beratus-ratus kristal bening yang
tergantung di langit-langit yang memantulkan cahaya lampu sorot. Seperti
bintang-bintang buatan yang memberi nuansa malam. Klik.... Sebuah lampu sorot
menyala lagi. Kali ini sinarnya menuju ke tengah-tengah panggung. And guess
what?? Di sana terdapat sebuah grand piano hitam mengilap. Kaki-kakinya dicat
warna emas, dan rangkanya terbuat dari kayu ebony. Dari bagian dalam grand
piano yang terbuka berpendar warna keemasan saat lampu sorot tepat
menyinarinya.
"Gila!!" teriak Ciya sambil mengelilingi piano
tadi. "Keren banget!"
Dengan hati-hati, seakan takut sedikit gerakan saja akan
membuat lecet, Ciya duduk dan membuka tutup piano. "Boleh dipencet?"
tanyanya. Rico mengangguk dan duduk di sebelahnya. Terdengar dentingan nada do.
Ciya tertawa. Kemudian dia melirik Rico. "Katanya bisa main piano juga.
"Sini...." dia menepuk-nepuk sisi bangku di sampingnya. "Coa
main!" Rico mendesis. "Meremehkan...." Dia menepuk bahu Ciya
agar bergeser. "Denger nih!" Kemudian jarinya memainkan nada-nada
asal tidak keruan. Ciya menyeringai. "Heh! Ngapain ketawa? Itu baru
pemanasan tahu!" omel Rico. Lalu, tiba-tiba saja terdengar alunan nada.
Jari-jari Rico menari-nari di atas tuts-tuts hitam dan putih, kadang
meloncat-loncat, kadang meluncur lurus. Dan senar-senar kuning itu terlihat
bergerak-gerak naik turun. Ciya terperangah.... Lagunya memang bukan lagu
mellow, lagu yang juga baru didengarnya untuk pertama kali. Tapi entah kenapa,
nada-nada itu bukan hanya sekadar rangkaian not balok yang terpasang sempurna.
Lebih dari itu. Ciya sepertinya merasakan dirinya luruh pada sebuah penghayatan
yang dalam. Berulang-ulang dia memperhatikan Rico dan memasang telinganya
lekat-lekat. Separuh karena tidak percaya Rico bisa memainkan lagu sebagus itu,
separuh lagi karena memang tidak mau percaya kalau yang memainkan lagu sebagus
itu adalah Rico.
Rico nyengir saat menyelesaikan permainannya. "Gimana?
Keren kan permainan gue?" Ciya mencibir. "Itu lagu apa?"
"Pagode, ciptaan Debussy."
Ciya melongo. Apaan lagi tuh? Nama orang atau nama tempat?
Tapi akhirnya dia tertawa. "Iya, kali ini gue nyerah deh. Tadi emang
keren. Hehehe...." Rico terkekeh, kemudian berjalan ke tengah panggung.
Dia membentangkan tangannya lebar- lebar dan menghirup udara panggung seluas
ini! Dan ditonton oran sebanyak bangku-bangku di sana!" Matanya menatap
lurus-lurus ke tengah ratusan penonton yang memberinya tepuk
tangan. Dia tersenyum. Pikirannya jauh melayang ke masa
silam.
"Dulu, semuanya adalah kehidupan gue," ujar Rico
tanpa menatap Ciya. "Piano, musik klasik, panggung konser, tepuk tangan,
dan cahaya lampu. Semua itu membuat gue serasa benar- benar menjadi...."
dia menunjuk salah satu patung malaikat zaman Yunani yang sedang terbang sambil
membawa alat musik tiup semacam flute, lalu berseru keras-keras,
"Angel!" Dia tertawa sinis. "Apa yang kurang dari seorang Enrico
Leman? Anak seorang pengusaha sukses, menggelar konser perdana saat berumur
delapan tahun, masuk berita di koran dengan gelar sebagai 'Pianis Termuda'
tinggal di rumah mewah dan sangat berkecukupan...."
Ciya terdiam, dia tidak menggubris semua ucapan Rico yang
belakangan. Dia hanya mendengar sampai baris Rico mengatakan perihal dirinya
masuk koran. Otaknya berpikir keras. Pianis Termuda? Pianis termuda? Kayaknya
pernah dengar... Apa ya? Dia berusaha mengorek semua ingatannya. Tunggu
dulu.... Sepertinya dia ingat sesuatu.
Ciyam melemparkan tasnya begitu saja ke sofa sepulang
sekolah. Matanya berkeliaran mencari- cari makanan. Kemudian Billy muncul
dengan seragam putih merah yang berlepotan lumpur bekas main bola di sekolah.
"Mama.... Chiara lapar." Billy dan Chiara berlari begitu mendengar
sayup-sayup suara mamanya. Tapi langkah mereka terhenti begitu mengetahui suara
itu bukan ditujukan untuk mereka. Mamanya sedang telepon. "Oh ya? Jadi
pianis termuda itu anakmu? Iya, aku sudah baca beritanya di koran. Eh,
anak-anak sudah pulang. Sebentar ya," Merina menurunkan telepon,
"kalian makan dulu sana. Aduh.... Billy! Kenapa bajumu kotor
begitu...."
Ciya terkesiap mengingat hal itu. Apakah pianis muda yang
disebut-sebut itu Rico? Dan orang yang sedang telepon mamanya berarti....
Henry? Kalau orang itu benar-benar Henry, berarti mereka sudah kenal selama
ini? Dan kalau memang sudah kenal selama ini, kenapa Henry tidak pernah ke
rumah? Kenapa dia sama sekali tidak pernah tahu tentang keberadaan Henry?
Bahkan Ciya baru tahu tentang Henry pun saat dia diangkat anak olehnya. Kenapa
Mama tidak pernah bicara perihal Henry? Tentang persoalan pianis termuda itu
pun tidak. Padahal Mama selalu membicarakan dan berdebat tentang berita-berita
yang ditulis di koran dengan Papa. Ada apa ya? Tiba-tiba saja, Ciya merasa ada
sesuatu yang janggal. "Begitulah.... Gur selalu berpikir begitu. Semuanya
serba sempurna! Walaupun bokap gue nggak pernah hadir di tiap konser, walaupun
nyokap gue juga nggak pernah tertarik dengan yang namanya musik, tapi berkat
dukungan uang mereka, gue bisa mencapai itu semua." Rico menekan
kalimatnya pada kata "uang". Kemudian mendesah kesal. "Dan,
semua itu karena Sha- Sha. Dia yang support gue tiap kali konser, dia yang selalu
ada setiap kali gue butuh seseorang, dia yang selalu ada tiap kali gue jenuh,
semuanya semata-mata karena dia!" Rico mengakhiri kalimatnya dengan wajah
muram. "Dan ironisnya, karena dia yang memulai, dia juga yang mengakhiri.
Semua kegemerlapan itu tiba-tiba kandas di tengah jalan. Setelah Sha-Sha pergi,
semuanya serbakacau. Tidak ada semangat latihan, makan omelan tiap hari,
sekolah juga nggak karuan. Semua pandangan yang tadinya sangat terpesona,
berubah menjadi tampang melecehkan. Sungguh melelahkan." Rico
menunduk.
Ciya terdiam. Tidak tahu harus bicara apa. Otaknya masih
berslieweran antara kisah pianis termuda, Henry, dan mamanya. Tapi begitu
mendengar Sha-Sha, perhatiannya kembali terpusat pada Rico. Sebesar itukah
pengaruh Sha-Sha terhadap Rico? Hampir sama seperti pengaruh Billy sepenuhnya,
walaupun saat ini dia sudah bisa melepaskan Billy sepenuhnya, tapi dia tahu
bagaimana sulitnya melupakan orang yang memiliki pengaruh sangat besar.
Terlebih, orang yang memiliki pengaruh besar itu telah kembali dan
sungguh-sungguh berada tepat di hadapan.
Dan orang itu benar-benar bernapas dalam kehidupan
nyata!
Tiba-tiba saja Ciya merasa sesak. Sejak kedatangan Sha-Sha,
dia sering merasa seperti ini. Perasaan pengap yang dia sendiri tidak mengerti
karena apa. "Hei...." Ciya berdiri dari duduknya. Berusaha menepis
perasaan itu. Dia berjalan ke pinggir panggung, menatap deretan bangku merah
dan pantulan sinar kristal yang bergerak-gerak. "Apa perlu senaif
itu?"
Ciya membalikkan badannya dan memandangi Rico sekarang.
"Panggung ini, bangku-bngku di sana, lampu-lampu kristal, pujian,
pandangan terpesona.... Semuanya hanya benda maya. Dan walaupun elo kehilangan
itu semua, ada satu bagian yang tetap akan selalu ada. Di sana." Ciya
menunjuk grand piano tadi.
"Musik...." Ciya tersenyum. "Musik itu kan
milik semua orang, bukan cuma milik oran yang berpakaian formal, bukan cuma
milik gedung yang mewah, bukan cuma milik lampu-lampu kristal, juga bukan cuma
milik lo dan Sha-Sha." Ciya memandang Rico dalam-dalam. "Jadi.... Lo
salah besar kalo bilang hidup lo kacau di saat lo kehilangan semua kegemerlapan
itu! Buktinya, lo masih bisa eksis bareng band lo dan.... Yah, elo juga cukup
menghibur cewek-cewek waktu lo manggung tempo hari. Beda-beda. Bener,
kan?" tanyanya nyengir.
Rico tergelak kemudian berjalan ke samping Ciya. Itulah yang
dia suka dari cewek ini. Sok tahu, sok pinter, sok benar, tapi___harus
diakui___kata-katanya sangat menyejukkan.
"Lagi pula....," Ciya memandang Rico yang ada di
hadapannya sekarang, "yang memulai semua itu bukan Sha-Sha, bukan juga
nyokap lo, bukan bokap lo, bukan panggung konser, dan bukan semua kegemerlapan
itu. Tapi ELO!! Elo yang memulai, Kyo. Dan kenapa semua itu berakhir? Juga
karena elo! Karena kemunafikan lo dan karena kemajuan lo!!"
Rico tersentak. Sorot mata Ciya saat mengucapkan itu
benar-benar memberikan sinar terang di hatinya yang sempat buta. Rico
tersenyum. Tangannya terjulur untuk mengelus rambut Ciya. "Jadi....,"
Ciya menepis tangan Rico, "kita bolos cuma mau begini doang nih?" dia
merentangkan tangannya lalu duduk di bangku piano tadi. "Mendingan ajarin
gue main!" Rico masih tersinggung dengan kelakuan Ciya tadi, tapi mau
tidak mau dia duduk di sebelahnya. "Alah, main begini doang mah gampang!"
Ciya memencet satu tuts. "Ini do, kan?" "Bukan.... Ini fa. Yang
ini baru do. Jangan sok tahu makanya!" "Enak aja bilang gue sok tahu.
Jelas-jelas ini do." "Itu fa. Yang ini baru do. Nih.... Do re mi fa
sol...." "Itu bukan do. Yang ini baru do. Gue pernah main seruling
kok waktu SMP." "Apa hubungannya seruling sama nada do??"
Siang itu tidak ada dentingan piano yang keluar. Sha-Sha
merebahkan tubuhnya di salah satu kursi di pinggir kolam renang. Dia memejamkan
mata. Hatinya terasa sakit.... Sangat sakit.
"Makasih ya, selama ini kamu udah banyak bantuin
Rico....," ujar Sha-Sha saat menemukan Ciya duduk di belakang meja
belajarnya.
Ciya terperanjat, bukan hanya karena Sha-Sha tahu-tahu sudah
masuk dan sekarang malah berdiri di belakangnya, tetapi lebih pada kalimat yang
diucapkan barusan. "Bantuin? Emang gue bantuin apa?" Ciya tertawa
kemudian merengut. "Rico sendiri aja nggak pernah bilang terima
kasih." Sha-Sha ikut tersenyum, dia mengulurkan tangan
kanannya. "Mulai hari ini kita temenan ya?" Ciya masih menebak-nebak
apa yang sebenarnya dipikirkan cewek itu. Tapi kemudian dia ikut tersenyum
sambil menyambat uluran tangan Sha-Sha. "Lagi belajar?" tanya Sha-Sha
sambil memandang ke arah buku-buku yang berserakan di meja. Belum sempat Ciya
berkata apa-apa, Sha-Sha sudah lebih dulu mengambil salah satu foto yang ada di
meja. "Ini pacar kamu ya?" tanya Sha-Sha sambil mengacungkan foto
Billy. Ciya yakin Rico telah mengatakan tentang Aldy, kalo nggak, cewek itu
pasti akan mengira Aldy adalah pacar Ciya. Ciya baru mau berkata bukan ketika Sha-Sha
lagi-lagi mendahului. "Untung deh. Aku pikir kamu ada apa-apa sama
Rico." Sha-Sha tersenyum. "Aku bisa patah hati kalau tunanganku
pacaran sama cewek lain." Apa??!!! Ciya mematung. Pensil yang ada di
tangannya jatuh begitu saja ke lantai. "Tunangan?"
Sha-Sha mengangguk, masih sambil tersenyum. "Iya,
tunangan." Sha-Sha berbisik ke telinga Ciya, "Dia nggak suka sama
cewek lain, kan? Di sekolah dia nggak punya pacar, kan?" Ciya masih tak
percaya dengan apa barusan dia dengar. Sebenarnya, si Sha-Sha ini bicara apa
hi? Tunangan? Mana mungkin mereka tunangan? Rico kan jelas-jelas patah hati
karena kepergian Sha-Sha beberapa tahun lalu? Lalu kenapa cewek ini dengan
riangnya mengatakan mereka tunangan? "Ciya, Rico nggak punya pacar lain,
kan?" Ciya tersentak ketika Sha-Sha mengulang pertanyaan yang sama. Ciya
menggeleng tanpa sadar. "Satu-satunya cewek yang ada di hati Rico cuma
elo."
Mestinya kata-kata Ciya kemarin sore sudah cukup membuatnya
yakin tentang Rico. Tapi hatinya malah terasa lebih sakit lagi. Entah kenapa,
Sha-Sha selalu merasa ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Sebenarnya
ketakutan Sha-Sha bukan karena Rico mempunyai pacar di sekolah, tapi justru
karena Ciya.
Sering kali dia menemukan sosok Rico yang belum pernah
dikenalnya, yang hanya bisa terlihat bila cowok itu sedang bersama Ciya.
Berkali-kali Sha-Sha mendapati Rico yang terlalu khawatir, padahal Ciya hanya
tergores pisau, atau kaki Ciya hanya tersandung meja, atau..... Entahlah.
Setiap kali Sha-Sha menanyakan hubungan mereka berdua, Rico
hanya tersenyum tipis. Dan kalaupun menjawab, paling-paling jawabannya cuma,
"Lho, dia kan saudara angkat gue." Emangnya Rico pikir dia bego apa
ampe nggak tahu kalo mereka berdua saudara angkat? Hanya saja, raut muka memang
tidak bisa berbohong, kan? Raut wajah tegang Ciya semalam apa belum cukup
menunjukkan bahwa Sha-Sha memang perlu khawatir? Tiba-tiba seseorang berlari,
lalu berhenti tepat di depannya, masih dengan napas terengah- engah dan
mengenakan seragam SMA. "Mana Ciya?!"
***
Rico menunjuk salah satu fotonya di sebuah klipingan koran
yang sudah menguning. "Liat nih! Ini konser perdana gue. Waktu itu masih
cupu ya?" Saat ini mereka berada di ruang perpustakaan. Hebat juga yang
Gedung Nasional ini! Ciya baru mengetahui nama gedung ini akhir-akhir ini. Ciya
pikir gedung ini hanya untuk konser. Ternyata ada ruang penyimpanan alat-alat
musik zaman dulu. Semacam museum gitu deh. Tadi Ciya juga sempat melihat
piringan hitam. Keren banget! Terus ada ruangan buat menyimpan kostum-
kostum tari. Katanya sih, kostum-kostum itu memang sudah
tidak terpakai dan disimpan buat pajangan aja.
Ada lagi perpustakaan! Ternyata setiap acara seni yang
pernah dilangsungkan di gedung ini dibuatkan makalahnya. Baik yang difoto
secara langsung maupun yang dikliping dari koran. Biar ada nilai historisnya,
kata pak tua penjaga perpustakaan tadi. Ciya sempat menganga saat masuk ke
perpustakaan ini. Rasanya seperti masuk ke abad pertengahan. Desain dindingnya
berukir daun-daun merambat. Ruangannya hampir setinggi katedral dengan ornamen
kaca di tiap sudut ruangan. Semua buku tersusun tapi pada rak-rak yang
panjangnya bermeter- meter. Banyak buku yang sudah menguning saking lamanya,
tapi___yang mengherankan___tidak ada satu titik debu pun di sana. Hmmm....
Sepertinya pak tua itu bisa diandalkan. Ciya tertawa melihat foto Rico yang
mengenakan tuksedo hitam dengan potongan rambut belah tengah. Bayangkan saja
potongan rambut Aldy Lau delapan tahun yang lalu. "Emangnya sekarang udah
nggak cupu?" tanyanya. Rico mendelik. "Bukannya elo pernah bilang
kalo gue cakep?" Ciya melongo. "Hah? Kapan gue pernah bilang?"
"Pokoknya waktu itu elo pernah bilang!" sengit Rico. Dia malas
mengingatkan Ciya tentang peristiwa waktu itu. Itu lho, waktu Rico menyerahkan
kertas Peraturan. Saat itu kan Ciya pernah bilang bahwa tampang Rico bisa
dibanggakan. Walaupun kalimat lanjutannya sangat menyebalkan. "Paling lo
salah denger." Ciya terkekeh. Dia membalik klipingan koran yang sudah
menguning dengan hati-hati. "Kalo nggak, berarti gue ngomongnya pas lagi
mabok. Hahaha..... Adaw!" Rico menjitak kepala Ciya.
Sejenak mereka adu pelotot-pelototan. Kalau saja penjaga
perpus tidak berdeham-deham kencang, mungkin aksi pelototan itu akan
sungguh-sunggu melahirkan huru-hara.
Akhirnya mereka tidak berani bertingkah. Ciya tidak lagi
memelototi Rico, sebagai gantinya, ia beringsut mengambil lagi beberapa kliping
dari rak bertulisan "Tahun 1980". Sedangkan Rico kembali bergelut
dengan pikirannya. Tentang pertunangannya, perasaannya, dan.... Kariernya.
Komentar
Posting Komentar