Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 18 |


part* 18 The Beginning of The Plan 
JADI.... siapa yang bego sih sebenarnya? Ciya memandang malas ke arah rumput sekolah yang kini mulai menghijau. Kemarin semuanya kacau-balau. Saat dia dan Rico pulang, Aldy sudah tidak ada di sana. Dia sempat melihat mobil Aldy keluar dari garansi rumah, tapi tetap saja tidak terkejar. Dan cowok itu marah besar. Ciya tahu itu. Karena tidak ada satu pun telepon yang diangkat dan tidak ada satu pun SMS yang dibalas. Tadi pagi pun, Aldy tidak menjemput Ciya tanpa memberi kabar terlebih dulu. 
Kalau Rico jangan ditanya. Dia sudah pasti bertengkar hebat dengan Sha-Sha. Memang sih, Ciya tidak mendengar secara jelas apa yang mereka perdebatkan. Hanya saja, saat mereka pulang, Sha-Sha sudah menunggu di depan pintu rumah sambil menangis. Lalu mereka malah bertengkar di kolam renang. 
Kenapa sih dua bocah itu malah memilih berantem di samping kolam renang? Nggak ada tempat lain apa? Tapi, bagus juga sih. Kalau-kalau tidak terjadi kesepakatan kan lebih gampang menjadikan salah satunya basah. Walaupun sepertinya tidak akan pernah terjadi, karena Sha- Sha itu kan cewek kalem yang sama sekali bukan tipe yang suka menceburkan orang. Dan Rico.... Hah! Berani taruhan, sifat playboy-nya itu pasti akan dijadikan tameng untuk tidak bersikap kasar pada cewek cantik. Bah! 
Pagi harinya, Ciya akhirnya berangkat sekolah naik angkot. Dia malas nebeng Rico. Takut menimbulkan masalah yang aneh-aneh lagi. Lagian nggak lucu kan kalo tiba-tiba Sha-Sha nangis di depan Henry dan Fatma cuma gara-gara ngeliat Ciya pergi bareng Rico ke sekolah. Bukan cuma itu.... 
Bisa dibilang hari ini adalah hari tersial buat Ciya. Udah pake acara kepentok pintu angkot, ditambah kena omel sopirnya gara-gara waktu turun lupa bayar. Dan yang paling parah, dia harus berjalan lima puluh meter untuk mencapai gedung SMA. Mau nangis rasanya. "Ci...." Natya duduk sambil menyerahkan satu piring kentang goreng yang baru saja dibelinya dari kantin. Dia memandang HP yang sedari tadi melintir-melintir di tangan Ciya. "Belom ada SMS?" tanyanya sambil memasukkan potongan kentang ku mulutnya. 
Ciya menggeleng tanpa menggubris kentang yang disodorkan Natya. Dia malah ganti bertanya. "Mana Viktor? Tumben istirahat panjang dia nggak bareng lo?" "Lagi di ruang band." Ciya mengernyitkan dahi. "Ngapain? Latihan? Kan udah nggak ada acara apa-apa lagi? Masa buat penyambutan murid baru latihannya sekarang? Ujian akhir aja belom mulai." 
Natya mengangkat bahu. Bukan karena dia tidak tahu kenapa Viktor latihan, tapi justru karena dia sendiri tahu dengan jelas bahwa Viktor di sana memang bukan buat latihan. 
*** 
Viktor hampir saja menyemburkan Pepsi yang baru saja diminumnya sambil melotot tak percaya. "Apa?! Tunangan?!" "Gila lo!!" sembur Christian kesal. "Lo liat! Viktor aja nggak gue kasih tahu. Trus lo nuduh gue bilang soal pertunangan lo sama Ciya? Lo sinting apa?!" 
Rico membanting tubuhnya di lantai ruang band sambil meremas rambutnya dengan kesal. Kalau mengingatkan kejadian kemarin, jantungnya benar-benar hampir berhenti berdenyut. "Kyo, udahlah.... Jangan bikin kesalahpahaman lagi," Ciya memandang Rico dari balik asap spageti yang baru saja diantarkan pelayan. "Jangan membuat semua orang serbasalah! Yoyo pasti khawatir sama gue sekarang. Dan Sha-Sha juga pasti khawatir sama lo." Rico meletakkan pizza yang baru digigitnya sepotong. Ditatapnya mata Ciya. Dia bisa melihat kesungguhan di sana. "Jadi Aldy sumber masalahnya?" 
Ciya mengembuskan napas panjang. "Elo! Elo sumber masalahnya, Kyo. Denger! Sekarang Yoyo pasti lagi nyariin gue, dan dia pasti nyari ke rumah. Dan kalo dia sampe ketemu sama Sha- Sha, apa lo nggak merasa bersalah sama tunangan lo itu?" bentak Ciya sambil memberi lafal keras pada "tunangan". "Lagian, gue nggak mau bikin Sha-Sha mengira antara elo sama gue ada apa-apanya. Sekarang terserah kalo lo masih mau makan. Tapi gue mau pulang. Gue juga bisa kok naik bus sendiri." Ciya mengambil tasnya yang tergeletak di meja. Tadinya Rico hanya diam. Tapi begitu Ciya hampir mencapai pintu, Rico sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu ke tempat parkir. Tiba di rumah, Rico masih sempat melihat Bik Tum sedang membujuk Sha-Sha agar berhenti menangis sebelum akhirnya wanita itu menyerah dan memilih masuk setelah melihat mobil Rico sudah parkir di garansi. "Kamu kenapa? Sebenarnya ada apa? Tadi ke mana?" Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Sha-Sha. 
Rico masih ingat, saat masih kecil Sha-Sha juga sering sekali merajuk seperti ini. Biasanya Rico hanya tertawa sambil mencubit pipi Sha-Sha lalu mengumandangkan berbagai bujukan. 
Hanya saja kali ini dia merasa sangat lelah. Bukan hanya lelah, dia tahu bahwa jauh di lubuk hatinya ada luka yang bergulir di sana. Luka yang diperoleh bukan karena air mata, bukan karena ucapan kasar, juga bukan karena pukulan. Tapi hanya karena kejadian semenit.... satu menit yang lalu. 
Ciya turun dari mobil, bahkan sebelum Rico menginjak rem, lalu mengejar mobil Aldy yang baru saja keluar dari garasi rumahnya. Ciya pulang dengan tampang lusuh dan langsung masuk ke kamar tanpa melihat Rico dengan sebelah mata sekalipun, padahal Rico jelas-jelas ada di depannya 
"Ric...." Panggilan Chris membuat Rico meninggalkan ingatannya. "Lo denger nggak sih gue bilang apa? Berhentilah main-main! Sejak kapan lo berubah jadi playboy aneh kayak begini?" Christian medengus kesal. "Asal lo tahu, penyakit 'pangeran' lo kalo ini udah bener-bener parah!! Ibaratnya kalo...." BRAKK!! Natya menendang pintu ruang band dengan kasar. "HEH!! COWOK GILA!! Beneran lo tunangan?!" 
Christian mendelik melihat kedatangan Natya di saat yang sangat-sangat tidak tepat. Bahkan dia juga belum sempat menyelesaikan ucapannya. Tapi emosi Natya sudah tidak mampu membuat cewek itu mengerti apa maksud pelototan Chris mau pun kedipan mata Viktor. Dia malah memandang Rico dengan tatapan tidak percaya saat cowok itu tidak membantah pernyataannya tadi. "Gila lo ya! Lo beneran udah tunangan?" Natya menggeleng-geleng.
"Nat...." Viktor menghampiri Natya lalu membujuknya untuk duduk. Dia tahu, kalau ceweknya ini sudah emosi, pasti tingkahnya bakal tidak terkendali. "Sekarang kita juga lagi ngebahas itu. Mana Ciya?" "Lagi dipanggil Pak Emon, disuruh bantuin buat persiapan praktikum," jawab Natya ketus dengan pandangan masih lurus ke arah Rico. "Sekarang jelasin apa maksud lo? Kenapa?? Nggak punya keberanian buat bilang soal pertunangan lo dari mulut lo sendiri?" Natya mencibir. "Masa mesti Sha-Sha yang ngasih tahu Ciya soal pertunangan lo? Asal lo tahu ya, buat cewek, kemenangan yang dilaporkan oleh saingan sendiri jauh lebih menakutkan dibanding dipermainkan!" Rico terbelalak. "Apa?" Dia beringsut dari duduknya lalu menatap Natya lekat-lekat. "Apa maksud lo tadi?" "Maksud gue?" Natya menghela napas. "Udahlah. Gue capek ngomong sama orang yang otaknya di dengkul. Sekarang terserah lo aja deh." 
Tepat di saat Natya menyentuh gagang pintu.... BRUK!! 
Sebuah tangan melayang menonjok tembok tepat di depan muka Natya. "JELASIN KE GUE APA MAKSUD LO BARUSAN!" bentak rico kasar. "Ric!" Viktor menarik sahabatnya itu agar menjauh dari Natya. Sedang Natya masih menatap Rico, tak percaya karena Rico bisa membentaknya seperti itu. "Lo masih nggak ngerti maksud gue?" Natya membelalakkan matanya. "Ciya itu suka sama lo, GOBLOK!" Rico tertegun. Separuh hatinya masih merasa semua itu hanya tipuan. Tapi begitu dia melihat Natya, cewek itu masih tetap menatapnya lurus-lurus. Dan Rico tahu cewek itu memang tidak pura-pura. 
Seperti tersadar dari lamunan panjang, Rico hendak berlari mengejar cewek yang selama ini seperti ada dalam dunia maya. Tapi..... Bruk... Kaki Natya menjegalnya tepat ketika Rico hendak mencapai pintu. "Mau apa?" tanya Natya ketus "Mau ngejar Ciya? Baru sekarang mau ngejar Ciya? TELAT! dia udah jadian sama Aldy!" "Apa?!" "Kenapa? Nggak percaya? Gue yang nyuruh Ciya buat nerima Aldy. Dan tadi gue juga denger sendiri waktu mereka ngomong di telepon." Natya menatap Rico seakan-akan bertanya "Mau bilang apa lagi lo?". 
Kalau saja Viktor tidak berusaha menangkap lengan Rico yang sudah hampir melayang, mungkin tangan itu sudah mendarat di pipi Natya. "Lo jangan gila, Ric!" seru Viktor kaget. Tapi Natya tidak peduli. "Kenapa? Mau nyalahin gue? Atau mau nyalahin Aldy?" Natya mendekatkan wajahnya ke wajah Rico dan berbisik di sana, "Seenggaknya, DIA BUKAN COWOK PENGECUT KAYAK LO!"    

Komentar