Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 24 |
part* 24
Missing Memories
RICO terenyak menatap sesosok tubuh mungil yang berjalan di
hadapannya dengan wajah seputih kapas dan tubuh basah kuyup. "Ci...."
Rico menghampiri Ciya, menggenggam tangannya. Dia bergidik ketika kulitnya
menyentuh sesuatu yang begitu dingin.
Ciya menepis tangan Rico perlahan, lalu berjalan tanpa
ekspresi ke dalam rumah. Rico tercenung. Tidak lagi.... Wajah itu.... Wajah
sama yang selalu dia lihat di awal pertemuannya dengan Ciya. Rico memandang
Aldy yang berdiri mematung di belakangnya, meminta jwaban akan keadaan Ciya.
Tapi, cowok itu hanya mengisyaratkan agar Rico ikut keluar dengannya dan
bicara.
Rico berjalan ke luar pagar, menuju lapangan kosong yang
berjarak beberapa blok dari rumah. Aldy berdiri di tengah lapangan.
"Sebenarnya tadi....." BRUK!! Sebelum Aldy menyelesaikan ucapannya,
tinju Rico sudah lebih dulu melayang. "LO GILA YA?!" bentak Rico
emosi. "LO AJAK DIA KEMANA SAMPE KAYAK GITU?!" Aldy sempat terhuyung.
Ujung bibirnya berdarah. Tapi dia tidak membalas. Aldy hanya mengeluarkan
secarik kertas kecil dari balik sakunya. "Ini alamat yang lo
kasih...." Aldy menyerahkan kertas itu ke tangan Rico. "Gue udah ke
sana." "Apa?" Rico mengambil kertas itu dari tangan Aldy. Jln.
Telaga Biru IV no.52, Griya Hijau, Bandung.
Rico tersentak. Sejujurnya, dia sendiri sudah lupa dengan
alamat ini. "Ketemu?" tanyanya. Aldy menggeleng pelan. "Gue cuma
ketemu dokter yang pernah ngerawatnya." "Tapi lo tahu dia tinggal di
mana sekarang?" Aldy mengangguk. Ujung jarinya mengarah ke langit malam.
"Di surga...." Rico tercekat. "Bohong!" "Lo pikir
masalah kayak gini pantes buat dijadiin bohong-bohongan!" bentak Aldy.
"Lo pikir gue tega ngebiarin Ciya sedih lagi?"
Aldy memandang pria berjas putih di hadapannya. Kalau saja
tidak ingat pria itu jauh lebih tua darinya, mungkin Aldy akan menggebrak meja
mempertanyakan pertanyaannya barusan. "Tadi Dokter bilang apa?" tanya
Aldy lagi. Pria itu mendesah. "Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Sebagai
dokter, tidak ada peristiwa pasien. Tapi waktunya memang sudah tiba. Saya minta
maaf. Saya tidak dapat menyelamatkan Pak Frans. Dia sudah meninggal." Aldy
menyandarkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya tiba-tiba menjadi berat untuk bisa
duduk tegak. Dia menarik napas sebanyak-banyaknya karena jantungnya pun
tiba-tiba terasa menyusut.
"Setahun yang lalu....," pria itu mulai bercerita,
"saya dikagetkan dengan kedatangan pasien gawat darurat. Kabarnya mobilnya
tabrakan dengan truk yang melintas di depannya. Saya sempat syok melihat
kondisinya yang sudah sangat parah."
Pria itu terdiam sejenak. Aldy juga terdiam. Pikirannya
berkecamuk sekarang.
"Memang sempat dilakukan operasi," lanjut pria
itu, "dan berhasil menyelamatkan nyawanya.
Hanya saja dia sempat koma. Dan di saat dia sadar, separuh
tubuhnya yang sebelah kiri tidak berfungsi."
Aldy memejamkan mata, berusaha memercayai peristiwa yang
baru saja ditangkap telinganya. "Sebenarnya Pak Frans sempat menjalani
perawatan intensif selama sebulan. Namun, kondisinya semakin hari malah semakin
buruk. Obat-obatan sudah tidak dapat diterima tubuhnya. Sampai
akhirnya....."
"Cukup!" ujar Rico menyudahi cerita Aldy.
"Gue nggak mau denger lagi!" Rico berjalan menuju pinggir lapangan,
duduk di deretan bangku kayu yang berjajar di sana. "Gue pikir kita bakal
bisa dapet informasi yang jauh lebih berharga. Seenggaknya gue pikir kita bisa
tahu siapa ayah kandung Ciya yang sebenarnya, atau gue pikir kita bisa tahu
kenapa Billy bunuh diri. Lagu pula, kan dia juga yang nyuruh kita nyari
bokapnya Ciya." Rico meremas jari-jari tangannya.
"Gue pikir nggak sesia-sia itu kok." Aldy berjalan
menghampiri Rico. "Seenggaknya dari dokter itu gue bisa tahu siapa pria
lain dalam hidup mama Ciya." "Apa?" Rico terbelalak mendengar
kalimat Aldy yang terakhir. "Pria lain?" Rico mengernyitkan dahinya.
"Siapa dia?"
Aldy tersenyum sinis tak bersahabat. "Lo mau
tahu?"
Rico menatap Aldy, tak mengerti akan perubahan sikap cowok
yang berdiri di depannya dengan tiba-tiba. "Dua kata, Ric," ujar
Aldy. "Penyebab penderitaan Ciya adalah satu orang." Aldy menatap
Rico tajam. "Biang keladi semua masalah ini adalah BOKAP LO!!" Aldy
menerjang Rico dan memukul dadanya.
Rico terjerermbab ke semen dingin. Tulang rusuknya serasa
terlepas dari tempatnya semula. Seluruh sudut di otaknya berpikir keras.
Apa-apaan ini? "Apa maksud lo?" Rico terbata sambil berusaha
memperbaiki posisi tubuhnya yang sempoyongan. Ada apa lagi ini? Apa maksud Aldy
dengan menyebutkan bahwa penyebab semua ini adalah papanya?
Aldy merenggut baju Rico, memaksa cowok itu menatapnya.
"Denger baik-baik! Dokter yang gue temui malam itu, yang ngerawat Oom
Frans sewaktu kecelakaan, adalah SAHABAT BOKAP LO!" Aldy kembali memukul
rahang Rico, membuat ujung bibir Rico berdarah. "BOKAP LO UDAH TAHU DARI
DULU DI MANA BOKAPNYA CIYA!" teriak Aldy. "DAN YANG MENANGGUNG SEMUA
BIAYA PERAWATAN OOM FRANS JUGA BOKAP LO!"
Rico terenyak. Rasa sakit di otaknya kini bertambah dengan
rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Satu hal lagi," desis Aldy di telinga Rico,
"pria yang menyebabkan kekacauan di keluarga Ciya...." Aldy menatap
Rico garang. "ITU JUGA BOKAP LO!" "Apa maksud lo?!" Rico
setengah berteriak sambil menepis tangan Aldy yang mencengkeramnya. Dia balik
menatap Aldy tajam. "Jelasin semuanya!! Apa maksud lo?!" Apa- apaan
ini? Seorang Aldy yang biasanya begitu ramah, hari ini menjelma menjadi orang
lain dengan kemarahan membabi buta.
"Pria yang selama ini menyimpan tanda tanya, pria yang
selama ini kita cari-cari, yang membuat semuanya menjadi kacau...." Aldy
menatap Rico yang beringsut menghampirinya. Bibirnya masih
berdarah. "Ternyata bokap lo."
Rico memandang Aldy tak percaya. "Lo gila?" desis
Rico. "APA MAKSUD LO NGOMONG KAYAK GITU?! LO PIKIR GUE PERCAYA SAMA
OMONGAN LO BARUSAN?" Rico berteriak, merenggut kerah Aldy dan memukulnya
tepat dibagian rahang.
Aldy terhuyung. "Rico...." ujar Aldy lirih,
"pria lain itu bokap lo." Dia mencoba sekeras mungkin untuk tetap
sadar.
Rico kembali ternyak. Dia terduduk di samping Aldy.
Pandangannya menatap dalam-dalam mata cowok di hadapannya itu. Berusaha mencari
celah. Tapi dia hanya melihat keseriusan di sana.
Aldy mengusap dagunya. "Dokter itu juga nggak tahu dan
nggak cerita banyak ke gue. Tapi dia tahu Tante Merina dan bokap lo udah kenal
jauh sebelum Tante Merina menikah dengan Oom Frans." "Apa?" Rico
terkejut. "Bokap gue sama Tante Merina sudah kenal selama itu?"
Aldy mengangguk. "Kenapa?" tanyanya tanpa meminta
jawaban. "Karena mereka pacaran. Dan kenapa dokter itu tahu mereka
pacaran?" Aldy menatap Rico. "Karena ketika Tante Merina mengandung
anak di luar nikah, dokter itulah yang pertama kali mengetahuinya." Rico
terbelalak. Jantungnya berdebar kencang. "Jadi Ciya...."
"Bukan....," potong Aldy sambil menggelengkan kepalanya.
"Harusnya bukan Ciya. Kalau dokter itu tidak bohong, harusnya anak itu
bukan Ciya." Rico menatap Aldy tak mengerti. "Dokter itu mengatakan
Tante Merina mengandung anak itu sekitat sembilan belas tahun yang lalu."
Aldy menggigit bibir. "Kalau memang tepat sembilan belas tahun yang lalu,
sudah pasti bukan Ciya." "Lalu?" tanya Rico.
Aldy kembali menggeleng. "Justru itu yang gue juga
masih nggak ngerti. Tapi ada dua kemungkinan." Aldy menatap Rico.
"Pertama, Tante Merima menggugurkan bayinya. Kedua...."
"Billy....," desis Rico lirih saat teringat satu nama. "Kalau
Billy masih hidup, dia berumur sembilan belas, kan?"
Aldy terdiam, mengatupkan kedua tangannya rapat-rapat. Semua
orang tahu Billy itu anak angkat paman dan bibi Ciya yang akhirnya dirawat
Tante Merina setelah paman dan bibinya itu meninggal. Tapi siapa orangtua Billy
sebenarnya memang tidak ada yang tahu. Aldy memandang ke langit malam sebelum
melanjutkan perkataaannya. "Jika benar anak itu adalah Billy.... maka dia
dan Ciya adalah...."
"Saudara kandung." Rico mengernyitkan dahinya tak
percaya lalu mendesah pelan saat kembali teringat sesuatu. "Karena itu
Billy menyebut 'cinta terlarang' di suratnya." "Lo juga baca surat
itu?" tanya Aldy. "Nggak sengaja," ujar Rico pelan, "dan
kalau memang anak di luar nikah itu bukan Ciya, kenapa bokapnya Ciya itu
bersikeras kalau anak itu adalah Ciya?"
Aldy terdiam sebentar lalu menggeleng. "Gue juga nggak
ngerti, tapi itu menjadi mungkin kalau....itu cuma spekuladi Oom Frans
sendiri." "Maksudnya?" tanya Rico. "Itu cuma pikiran Oom
Frans sendiri?" "Mungkin, Ric," ujar Aldy, "itu baru
kemungkinan yang gue pikirin."
***
"Oom....," sapa Ciya saat Henry muncul di depan
pintu. Dari tampangnya, Ciya tahu ayah angkatnya ini sangat lelah. "Ada
apa, Ci?" Henry tersenyum, duduk di sofa sambil melepaskan dasinya.
"Oom...." Ciya ikut duduk di samping Henry.
Menyerahkan segelas air putih yang diambilnya saat mendengar suara mobil. Dia
sudah berpikir seribu kali untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Dia tahu, apa
pun itu, mungkin hanya akan membuatnya semakin sakit hati. Tapi bukankah
mengetahui yang sebenarnya jauh lebih baik dibanding hidup dalam kebohongan?
"Oom..." Ciya menarik napas panjang. "Saya rasa sudah waktunya
Oom memberitahukan alasan kenapa Oom mengadopsi saya."
Henry pasti tersedak kalau saja terlambat menelan air itu
lebih dari satu detik.
"Papa saya sudah meninggal, Oom," kata Ciya
sebelum Henry bicara. "Saya baru terima kabar itu hari ini. Saya nggak
menerima berita buruk lagi, Oom. Saya udah capek. Dan saya harap semua berita
buruk bisa selesai hari ini. Saya nggak mau menerima berita-berita serupa lagi
di kemudian hari. Bisa kan, Oom?" Henry terbelalak. "Kamu barusan
bilang apa?"
Air mata mulai menggantung lagi di sudut mata Ciya. Tapo dia
buru-buru menghapusnya. Dia tidak mau menangis lagi. "Kamu sudah tahu
papamu meninggal?" Ciya terkejut. "Oom tahu keberadaan papa
saya?" Henry tidak menjawab. Ciya bangkit, menatap Henry tak percaya.
"Oom tahu keberadaan papa saya. Oom tahu kondisi papa saya. Tapi kenapa
Oom sama sekali nggak pernah ngasih tahu saya? Kenapa, Oom?"
Henry terdiam. Wajahnya penuh penyesalan. Ciya tercenung.
"Sebenarnya Oom itu siapa? Kenapa Oom tiba-tiba masuk ke dalam keluarga
saya?"
Henry tetap tidak menjawab. Dia menutup wajahnya dengan
telapak tangan. Sebenarnya Ciya takut membuat ayah angkatnya ini lebih lelah
lagi setelah bekerja di kantor. Tapi rasa penasarannya jauh lebih kuat.
"Ciya....," ujar Henry akhirnya. "Duduklah.... Oom ingin
menceritakan sesuatu."
Ciya kembali duduk. Masih dengan penuh tanda tanya.
"Ciya....," ujar Henry. "Oom bukan tiba-tiba masuk dalam
keluargamu. Oom bahkan mengenal mamamu jauh sebelum mamamu menikah dengan
papamu." Maksud Oom?" "Ciya, Oom dan mamamu saling
mencintai."
Ciya terbelalak. Permainan apa lagi ini? "Oom ngomong
apa sih?" "Ciya....," Henry menarik napas panjang. "Om
bukan hanya sekadar kenalan mamamu. Oom adalah kekasih lama mamamu." Ciya
memandang Henry tak percaya. Kekasik lama?? "Dua puluh tahun yang
lalu....," Henry mulai bercerita, "adalah saat pertama Oom mengenal
mamamu. Dan Oom tahu Oom mencintai dia sejak pertama kali
melihatnya." Henry menyungging senyum tipis. "Semua berjalan begitu
lancar pada awalnya. Sampai akhirnya...."
"Henry, aku hamil...." Merina menatap Henry
gelisah. Air mata menggenang dipelupuk matanya. "Bagaimana ini?"
Henry memeluk Merina. "Kita menikah...." "HENRY!! KAMU GILA!!
KAMU PIKIR IBU MENGIZINKAN KAMU MENIKAHI PEREMPUAN YANG TIDAK SEBANDING DENGAN
KELUARGA KITA?" seorang wanita separuh baya berteriak di hadapan pasangan
yang memohon restu. "KELUAR KAMU!" perintahnya pada si wanita.
"KAMU TIDAK AKAN PERNAH DITERIMA DI SINI!"
"Merina...." Henry memeluk Merina di tengah hujan.
"Aku akan pergi bersamamu."
"Akhirnya Oom kabur dari rumah." Mata Henry
terlihat berkaca-kaca. "Kami mengontrak sebuah rumah."
Ciya terduduk lemas. "Oom pernah menikah dengan
Mama?" tanya parau. Henry mengangguk pelan. "Menikah sederhana di
gereja. Hanya dihadiri paman dan bibimy. Tapi kami sangat bahagia."
Ciya melihat Henry menerawang. Dari mata ayah angkatnya itu
Ciya mengerti. Pria ini tidak bohong. Mata itu......mata yang sama dengan mata
Mama ketika Papa pergi. Mata yang penuh kehilangan.
"Namun, empat bulang kemudian semuanya hancur,"
Henry terdiam. "Merina tiba-tiba pergi dari rumah. Menghilang begitu saja.
Tanpa meninggalkan kabar apa pun. Oom sangat mengkhawatirkan kandungannya. Oom
sangat ingin mendampinginya sampai dia melahirkan." Ciya menggigit bibir.
Anak di kandungan mamanya kala itu.....dirinyakah?
"Oom berusaha mencari mamau ke mana pun. Tapi hasilnya
nihil. Tidak ada tanda-tanda sama sekali," lanjutnya. "Akhirnya
setelah kira-kira satu bulan berjalan tak tentu arah, keluarga Oom menemukan
keberadaan Oom. Mereka membawa Oom pulang dengan paksa. Di saat itulah Oom tahu
keluarga Oom yang memaksa Merina pergi meninggalkan Oom.
"Saat mendengar semua itu, Oom mengamuk habis-habisan.
Tapi apa daya. Merina telah menghilang. Berbulan-bulan Oom mencarinya, tapi
tetap tidak ada kabar sama sekali. Bahkan paman dan bibimu ikut
menghilang." Henry meremas rambutnya. "Sampai frustasi
rasanya."
Ciya tercenung. Dia sama sekali tidak apa-apa tentang kisah
ini. Apakah Billy? Tahu tentang ini? Apa Papa tahu juga tentang ini?
"Akhirnya dua tahun kemudian, Oom menikah dengan Tante
Fatma. Itu pun karena ditunangkan orangtua. Segala macam penolakan yang Oom
lakukan sia-sia saja. Semua berjalan seperti yang digariskan oleh orangtua
Oom," ujar Henry sedih. "Namun, di saat yang hampir bersamaan, Oom
menemukan keberadaan Merina. Rasanya senang sekali. Tapi ketika berhasil
menemuinya, ternyata dia sudah menikah...." Henry memandang Ciya.
"Dengan papamu."
Ciya merasa tubuhnya mulai menggigil. Tidak ada angin yang
berembus. Tadi dia merasa seluruh kaki dan tangannya seperti direndam dalam air
es.
"Sejak saat itu kami berhubungan diam-diam," ujar
Henry. Ciya Terkejut.
"Bukan seperti yang kamu pikirkan, Ciya," ujar
Henry melihat reaksi Ciya. "Kami hanya sekadar menanyakan kabar. Itu pun
sangat jarang. Kami sendiri pun sudah mengerti posisi masing- masing yang tidak
mungkin kembali seperti dulu." Henry tersenyum.
Ciya mulai tidak sabar. "Lalu anak itu, Oom?"
tanyanya. "Apa Oom sama sekali tidak berniat menengok anak itu?"
jantung Ciya mulai berdetak tak keruan. Bersiap menerima kabar buruk yang akan
dan harus didengarnya. Untuk memastikan segalanya. "Anak itu...."
Henry terdiam sejenak. Matanya mengesankan penyesalan yang teramat dalam.
"Oom bakhan tidak sempat berbuat apa pun untuknya. Tapi dia sudah pergi meninggalkan
Oom."
Ciya mengerutkan dahinya. "Pergi?" Bukankah anak
itu adalah dirinya? Dan dirinya tidak pergi ke mana-mana. Bahkan ada di hadapan
Henry saat ini.
Henry tertunduk. "Harusnya saat itu akan jauh lebih
baik jika Oom tidak menceritakannya kepada kakakmu."
"Kakak? Ciya bertanya dalam hati. Kakakku? Billy?
Ngomong apa sih Oom ini?
Henry memandang Ciya. Memegang tangan gadis yang memucat itu
lalu menggenggamnya. "Maafkan Oom, Ciya," ujarnya dengan mata
berkaca-kaca, "maafin, Oom. Harusnya Oom menghilang dari kehidupan
kalian." "Oom....," ujar Ciya masih penuh tanya. "maksud
Oom?" "Billy itu....anak Oom." Henry menangis. Seketika Cita
mendengar ada suara teriakan.
Ciya pikir suara teriakan itu berasal dari mulutnya sendiri,
tapi ternyata bukan. Tante Fatma berdiri di ujung ruangan dan berteriak sambil
menutup telingannya. Sha-Sha yang berada di sampingnya mencoba menenangkan
wanita itu.
"Fatma!" Henry berlari menghampiri istrinya lalu
memeluknya. "Maafkan aku."
Tapi wanita itu hanya menangis. Ciya seperti melihat adegan
ulang yang terjadi di rumahnya beberapa tahun yang lalu. Bedanya, beberapa
tahun yang lalu itu tidak ada pria yang menghampiri wanita yang menangis itu
untuk memeluknya. Pria itu justru berjalan keluar rumah dan tidak pernah
kembali. "Mama!"
Ciya melihat Rico yang baru memasuki rumah langsung berlari
begitu melihat mamanya menangis. Aldy memandang Ciya seakan bertanya ada apa.
Tapi Ciya sendiri tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
Sampai akhirnya Henry kembali berjalan ke arahnya setelah
mengantarkan Fatma kembali ke kamar.
"Saya mau bicara berdua sama Oom," ujar Ciya
sebelum Henry duduk. "Boleh bicara di taman saja, Oom?" Henry
mengangguk lalu berjalan mengikuti Ciya. Aldy memandangi punggung gadis
kecilnya itu dengan tatapan tak rela. Dia takut sesuatu akan
terjadi. "Oom lagi ngomong apa sih?" tanya Ciya
tak sabar setelah mereka berada di kursi panjang di pinggir kolam renang.
"Oom lagi bercanda apa sih sebenarnya?" Henry mengelus rambut Ciya
pelan. "Ciya, Oom nggak bercanda." "Anak Oom itu saya,
kan?" ujar Ciya serak. "Papa bilang anak di luar nikah itu
saya...." tangis Ciya pecah. "Anak itu nggak mungkin
Billy....."
Inikah maksudnya surat Billy yang ditinggalkan untuknya?
Cinta terlarang.....cinta yang melanggar semua norma dan aturan..... Inkah
pernyataan konyol yang tak pernah dimengerti Ciya? Cinta yang mengatasnamakan
kakak-adik....dia dan Billy memang kakak-adik. Tapi Ciya tak pernah menyangka
mereka adalah kakak dan adik sesungguhnya. Kakak dan adik sedarah. Dan bukan
hanya saudara tiri....
"Lalu kenapa Papa bilang aku anak haram??" ujar
Ciya setengah berteriak. "Kenapa Papa pergi dari rumah?" Ciya
mencengkeram tangan Henry dan mengguncangnya. "Kenapaa??"
"Ciya....." Henry memeluk anak angkatnya itu.
"Karena papamu berpikir Oom dan mamamu berselingkuh." Henry menghela
napas.
Henry memandang Merina penuh harap. "Apa kali ini aku
bisa bertemu anakku?" tanya Henry untuk yang kesekian kali. "Dia
sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya, Merina. Dia sudah hampir tujuh
belas tahun." Merina menggeleng pelan. "Tidak bisa, Hen. Kau datang
ke sini pun sudah merupakan kesalahan yang sangat besar. Bagaimana kalau ada
yang melihat? Pergilah! Tidak ada oang di rumah." "Tapi aku hanya
ingin melihatnya. Dan aku janji. Aku tidak akan pernaj menampakkan wajahku lagi
dihadapannya. Aku hanya ingin melihatnya."
"Henry....," ujar Merina. "Aku tidak mau
Billy mengetahuinya. Aku juga tidak mau Frans mengetahui keberadaanmu."
Merina menatap Henry seakan memohon. "Berkali-kali aku bilang padamu Frans
hanya mengertu bahwa aku pernah diperkosa. Aku tidak mau dia mengetahui keadaan
yang sebenarnya. Apalagi sampai aku memiliki...." Sebelum perkataan itu
selesai, berdiri sosok lain di sana.... "Katakan ada apa ini,
Merina?" Frans berjalan menghampiri Merina. "Kau memiliki apa? Dan
siapa pria ini?"
"Saat itu papamu marah besar....," ujar Henry
menerawang.
"Jadi selama ini kau membohongiku?" ujar Frans
geram. Dia memandang Henry dengan tajam lalu merenggut kasar kerah bajunya.
"Jadi Billy itu anakmu?" lalu pandangannya beralih pada Merina.
"Jadi pria inikah yang kaubilang memerkosamu delapan belas tahun yang
lalu?" "Frans, aku tidak bermaksud membohongimu." "Tidak
bermaksud??" teriak Frans. "Kau tidak bermaksud membohongiku tapi kau
menutupi semua ini selama delapan belas tahun, Meriean. Dan ini yang kaubilang
dengan tidak bermaksud membohongiku? Dan kau....!" serunya pada Henry.
"Kau itu pria atau bukan sih? Meninggalakn wanita yang mengandung anakmu
dan memiliki keberanian mengakui semuanya sekarang? Begitukah?"
"Frans...." Merina menangis. "Bukan begitu...." "Oh
ya?" kata Frans sinis. "Bukan begitu? Lalu apa?"
"Frans, tenang dulu...." Henry berusaha meraih
bahu Frans, tetapi Frans menepisnya bahkan sebelum tangan Henry menyentuh
tubuhnya. "Apa cuma ini saja kebohongan kalian? Atau mungkin....,"
Ujar Frans berapi-api, "Chiara juga ternyata anak kalian?"
Ciya gemetar.
"Sejak saat itu, papamu seakan menutup mata terhadap
semuanya," ujar Henry. "Dia tidak mau mendengar apa pun yang
dikatakan mamamu maupun Oom. Dia sudah terlalu marah karna mamamu
menyembunyikan semuanya terlalu lama." Henry menengadahkan kepalanya.
"Mungkin jauh lebih baik kalau Merina mengatakannya sendiri. Bukan melalui
peristiwa itu....."
Ciya terdiam. Bulir-bulir air mata mulai berurai melewati
pipinya. Jadi karena itukah? Ciya menutup wajahnya dengan tangan. Sesaat Ciya
merasakan hangat di bahu kirinya. Cukup untuk membuatnya melepaskan tangannya
dan melihat Aldy berdiri di sana seakan bilang ''aku ada di sini".
"Apa Billy tahu tentang hal ini, Oom?" tanya
Aldy.
Henry mengangguk. "Setelah papamu pergi, Oom harus
pergi ke Autralia selama satu tahun mengurus bisnis di sana. Jadi Oom hanya
bisa membantu mamamu dengan mengirimkan uang. Tetapi semua uang yang Oom kirim
selalu di kembalikan. Mamamu menutup diri dari Oom setelah kejadian itu. Mamamu
bahkan tidak mau menerima telepon dari Oom. "Oom hanya bisa pasrah. Oom
tidak tahu bagaimana keadaan kalian saat itu. "Setahun kemudian, saat Oom
kembali, Oom sangat Shock melihat mamamu begitu pucat dan keadaan jantungnya
begitu lemah. Saat itu mamamu berkata, 'Aku mungkin tidak bisa bertahan lebih
lama lagi, Henry. Aku mohom, aku titip anak-anakku padamu.' "Dan akhirnya
mamamu memperkenalkan Oom pada Billy...."
"Billy..." ujar Billy saat berjabat tangan dengan
seorang pria yang tak dikenalnya. Tapi wajah pria itu tampat begitu hangat.
"Billy....," panggil Merina. "Duduklah. Mama mau membicarakan
sesuatu denganmu. "Dia itu ayah kandungmu..." Billy terbelalak. Pria
ini....ayah kandungnya? Sesaat dua bingung, apakah harus senang atau sedih
dengan berita yang baru saja didengarnya.
Seharusnya sebagai anak angkat yang tidak mengerti
asal-usunya, bukankah ini berita yang membahagiakan? Menemukan orangtua kandung
yang diidamkan semua anak. Tapi kenyataan memang tidak seindah dongeng....
"Mama adalah mama kandungmu...." Apa?? Billy tersentak. Mama....
Tidak mungkin...."Mama bohong, kan?" Tak ada jawaban. "Mana
mungkin!!" teriak Billy histeris. "Maa....aku dan Ciya...."
Billy menatap Merina penuh harap. Meminta mamanya menarik kembali kata-katanya
tadi.
Aldy terduduk di samping Ciya. Inikah penyebabnya? Aldy
memandang Ciya. Dia tahu gadi ini memiliki pemikiran yang sama. "Apa Oom
tahu?" ujar Aldy lirih. Ciya mulai terisak. "Billy...." Aldy
merangkul Ciya. "Billy itu mencintai Ciya, Oom...."
Tangis Ciya meledak. "Billy mencintai Cita. Sangat
mencintai Ciya. Dan itulah yang membuatnya tidak dapat bertahan," ujar
Aldy parau. Henry terkesiap. "Apa?" ujarnya memandang Ciya dan Aldy
bergantian. "Ciya dan Billy...."
Rico memandang semua itu dari kejauhan. Walau begitu, dia
cukup mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan detik itu juga Rico menyadari
satu hal.
Selama ini papa dan mamanya tidak pernah saling mencintai.
Papanya masih mencintai kekasih lamanya sampai sekarang. Dan mamanya tidak
pernah mau membuka hati untuk siapa pun karena dia tahu suaminya menikahinya
hanya untuk sebuah status dan tanggung jawab.
Selama ini Fatma bukannya tidak mencintai keluarganya. Sikap
acuh tak acuh yang selama ini dia tunjukkan lebih tepat sebagai pembalasan
dendam akibat cinta yang juga tidak pernah dia terima. Ternyata keluarganya
terkenal dingin bukan karena mereka hanya sibuk mengejar uang dan
materialistis, tapi karena memang tidak ada cinat di sana....
Rico berjalan menghampiri mereka. Inikah alasan Papa
mengangkat anak Ciya? Untuk membalas perlakuannya di masa lalu terhadap anak
dan istri yang tidak sempat dia bahagiakan? Mencoba memperbaiki sesuatunya,
walau sesuatu yang telah pecah itu tidak dapat menjadi rangkaian yang utuh
kembali?
"Lalu kenapa Papa bisa mengetahui keberadaan Oom
Frans?" tanya Rico ketika sampai di sana. "Apa kamu pikir Papa bisa
tinggal diam sementara Merina kehilangan suaminya?" tanya Henry pada Rico.
"Tidak, Ric. Walau Papa saat itu masih di luar negeri, Papa berusaha
mencarinya. Tapi hasilnya susah sekali menemui keberadaan papanya Ciya. Hingga
suatu hari kecelakaan itu terjadi dan kebetulan sahabat Papa yang merawatnya.
Dari situ Papa tahu dan Papa sangat mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan
Frans," ujar Henry sendu. "Tapi sayangnya...." "Apa Mama
tahu tentang keberadaan Papa?" tanya Ciya tersendat.
Henry mengangguk. "Tapi semua sudah takdir,
Ciya."
Air mata Ciya kembali merebak. Penyesalah tumbuh di hatinya.
Mestinya dia tidak berprasangka sejelek itu pada papanya. Mestinya dia tetap
percaya dia memang benar-benar anak Papa. Mestinya dia tidak boleh berpikir
senaif itu. Mestinya dia tidak boleh menyalahkan Papa sola kematian Billy. Dan
nyatanya, seuma pemikiran itu...salah TOTAL.
Tiba-tiba saja Ciya merasa mual. Seperti ada ratusan tangan
yang tidak kelihatan sedang mengaduk-aduk isi perutnya. Tapi sebelum perasaan
mual itu selesai, Ciya kembali___untuk yang kesekian kalinya___tersedot dalam
dunia putih. Yang hanya brisi dia, dan pikirannya.... Dan warna yang dibencinya
waran rumah sakit!
Kalau Rico tidak buru-buru memapahnya, kepala Ciya mungkin
sudah terbentur tanah. Dan detik itu juga, Sha-Sha, yang melihat dari tempat
awal Rico melihat, merasa jantungnya berhenti.
"Pa," ujar Rico sambil menggendong Ciya, "aku
nggak mau mengulangi kesalahan tolol Papa untuk kedua kalinya! Aku nggak mau
lagi jadi boneka papa! Aku nggak mau bertunangan untuk menyatukam dua
perusahaan besar! Cukup satu orang yang membuat dua keluarga jadi
berantakan!" Rico menyandarkan kepala Ciya di bahunya. "Pertunanganku
batal!!"
Sha-Sha berteriak histeris. "Nggak boleh!!" jerit
cewek itu. "Kamu tunanganku!" tangannya menggapai mencoba merampas
Ciya, seakan-akan ingin membanting gadis itu ke tanah.
Aldy mendekap Sha-Sha, menyuruh Rico berjalab lebih cepat,
dan baru melepaskan Sha-Sha ketika Rico sudah menghilang di balik tangga."
Plakk!! Tangan Sha-Sha meluncur begitu saja ke pipi Aldy. "Jahat!"
Sha-Sha berlari keluar kamar. Aldy mengejarnya. "Sha!"
Tapi Sha-Sha tidak mau mendengar. Dia hanya ingin berlari.
Tidak peduli hanya kulit yang membungkus kakinya saat ini. Tidak peduli aspal
dan krikil dapat membuat kakinya terluka. Dia bahkan berharap ada hujan lebat
dan petir yang menemani dirinya saat ini. Senggaknya, bukan hanya desir angin
yang berlalu di telinganya. Dia tidak mau menangis sendirian. Tapi kenapa awan
pun enggan menangis? Apa harus dia sendiri yang sedih? "Sha-Sha!"
Aldy menarik tangan Sha-Sha, mencegah gadis itu berlari lagi.
"Mau ngapain lagi?!" bentak Sha-Sha menepis tangan
Aldy. "Kamu puas, kan? Ini kan maunya kamu? Kenapa sih? Kenapa kamu mesti
bilang semuanya? Kenapa kamu mesti cerita yang sebenarnya? Kenapa kamu mesti
bilang begitu?" jerit Sha-Sha histeris. "Sha....." "Kamu
mungkin ingin yang terbaik buat Ciya! Tapi gimana dengan aku?" bentak
Sha-Sha di sela tangisnya. "Aku sayang banget sama Rico. Aku
berusaha....aku berusaha menunggu selama lima tahun, aku berusaha selalu
melakukan yang terbai cuma demi pertunangan ini, tapi....."
"Apa lo pikir gue nggak sakit hati?!" segah Aldy
kesal. "Lo pikir yang sakit cuma lo sendiri?" Aldy mengacungkan
tangan kanannya. "Lo nunggu Rico cuma selama lima tahun, Sha..... Dan lima
tahun itu masih bisa dihitung dengan dengan satu tangan. Tapi gue?! Gue nunggu
Ciya dari kecil. Dari pertama kali gue kenal dia. Dari pertama kali gue
tetanggaan sama dia. Lo tahu itu berapa lama? Enam belas tahun, Sha! Enam belas
tahun!! Dan selama enam belas tahun itu, cewek yang gue suka selalu ada di
samping gue. Gue selalu berusaha yang terbaik buat dia. Tapi selama enam belas
tahun itu pula gue mesti ngeliat dia jalan sama orang lain!! Kalau mau tanya
siapa yang paling sakit, itu mustinya gue!"
Air mata Sha-Sha menetes. Bahunya berguncang pelan. "Dari awal nggak mungkin kan kalo lo
nggak tahu hubungan mereka?" tanya Aldy dengan lebih pelan, mencoba
menghampiri sha-Sha.
Sha-Sha tidak menjawab. Tubuhnya lunglai ke tanah.
"Tadinya gue juga berpikir senaif elo," Aldy jongkok di samping
Sha-Sha, mengelus rambutnya. "Tadinya gue juga dengan sabarnya menunggu
sampe Ciya mau kembali ke gue. Tapi sepertinya, sesabar apa pun gue, selama apa
pun gue nunggu, rasanya cuma buang-buang waktu."
Aldy memandang bintang-bintang. "Karena ternyata Billy
lebih memilih mengirim adiknya sendiri buat ngegantiin dia."
***
Aldy duduk di samping Rico. "Ciya udah tenang?"
Rico mengangguk. "Kata dokter nggak apa-apa. Sha-Sha
gimana? Udah tidur?" Aldy mengangguk. "Sori, ngerepotin lo, Dy."
Rico menepuk bahu Aldy. "Semua jadi berantakan hari ini."
"Nyokap lo gimana?" "Baik-baik aja. Papa udah mencoba
menenangkan Mama." Rico menghela napas. "Mungkin udah waktunya juga
bagi mereka untuk memulai dari awal. Mencoba saling menyayangi dan melupakan
semua masa lalu."
Aldy mendesah. Masih tidak percaya dengan semuanya.
"Billy terlalu sayang sama Ciya." Dia menatap Rico. "Gue masih
susah buat percaya. Dia lebih memilih pergi ke tempat yang sangat jauh
dibandingkan harus terpisah dengan Ciya di dunia yang sama. "Dasar
bego!" teriak Aldy memandang bintang-bintang. "Seumur-umur gue nggak
pernah nemuin cowok bego kayak Billy! Bego!" Rico terdiam. "Ternyata
terlalu banyak cinta bisa membunuh," ujar Aldy. "Too much love will
kill you. Bener, kan?" Rico tersenyum. "Begitulah."
Aldy menelan ludah, menatap dalam-dalam. Begitu banyak
perasaan yang berkecamuk saat ini. Setelah semua ini, ternyata masih ada babal
kedua yang menyisakan kejadian pahit. Haruskah penantiannya terhadap Ciya
berakhir dengan kisah yang sama sekali tidak menyenangkan penantiannya yang
entah sudah berapa tahun. Apakah semua cintanya ini harus berakhir dengan
pertanyaan tak terbalas? Lalu kenapa harus ada Rico? Kenapa harus cowok itu
yang justru merebut Ciya-nya?
Tiba-tiba Aldy merasakan sesuatu yang menggelitik di
hatinya. Apakah ini cemburu? Ataukah perasaan tidak ingin dikalahkan?
"Sori, Al...."ujar Rico lirih. "Gue nggak tahu kalau semua ini
karena keluarga gue."
aldy tercenung. Dia mengempaskan tubuhnya di sebelah Rico,
sehingga mereka bisa bertatap- tatapan sekarang. Dan Aldy melihat.... Dengan
sangat jelas, sebuah sorot mata penyesalan dari pandangan di hadapannya.
"Gue tahu lo sayang sama Ciya," Rico berucap pelan. Sangat pelan.
Hampir-hampir Aldy tidak mendengarnya kalau saja dia tidak membaca gerak bibir
Rico. "Tapi gue juga sayang sama Ciya." "Mungkin rasa sayang gue
ke dia nggak sedalem rasa sayang elo ke dia. Tapi...." Rico menatap Aldy.
"Tapi gue yakin rasa sayang gue nggak bakal lebih sedikit daripada rasa
sayang elo ke dia."
Komentar
Posting Komentar