Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 21 |
part* 21
Silent Hours
Siluet waktu terpekur.... Duduk bersila memandang
angin.....
MAU tahu dua kata yang membuat semua masalah menjadi
setenang Malam Kudus? Yaakkk, betul! Ulangan Umum! Ya.... Kecuali untuk
murid-murid yang tidak bisa melaksanakan profesionalnya sebagai pelajar dan
berniat menghabiskan jatah uang lebih demi kembali mendekam di bangku kelas
yang sama. Ibaratnya, semua masalah cinta segi empat yang memusingkan itu
sedang diawetkan. Menunggu lagi saat yang tepat untuk kembali dicairkan.
Dan saat ini benar-benar seperti neraka buat Rico. Udah
ulangan umum, diajarin dengan omongan Chris yang masih suka berlepotan, dan
yang paling parah.... Rasanya benar-benar aneh tanpa Ciya. Memang sih saat ini
ada Sha-Sha yang selalu ada di sampingnya. Tapi tetap saja rasanya tidak sama.
Sha-Sha terlalu lembut. Nggak pernah ngomel, nggak pernah protes, nggak pernah
minta macem-macem. Rico sendiri juga bingung.... Kenapa dia malah lebih suka
kalo ada cewek yang suka protes, suka ngomel, sama suka minta macem-macem ya?
Sebenarnya sih Rico nggak perlu sampe sebegitu
kehilangannya. Toh mereka masih bisa ketemu di sekolah. Hanya saja.... Alasan
pertama: tempat duduk. Rico membelalakkan matanya ketika melihat denah kelas
yang disusun untuk ujian. Pengen nyontek, tapi dia benar-benar sudah terbiasa
setiap kali membalikkna badannya, akan ada sosok Ciya di sana. Tapi sekarang,
setiap kali membalikkan badannya, dia malah menemukan sosok Danny yang ukuran
tubuhnya segede kingkong. Alasan kedua: Natya. Rico baru saja mau menghampiri
Ciya saat mendapati cewek itu baru datang bersama Natya. Tapi....
"Ciya.... Kita duduk di sana aja yuk. Di sini panas." Natya sudah
lebih dulu memboyong Ciya jauh-jauh. Alasan ketiga: Viktor dan Chris. Ciya
masuk ke kelas. Dan Rico hampir saja berteriak gembira karena mendapatkan cewek
itu tanpa Natya. Tapi.... "Rico, ngapain lo di sini? Ayo ke kantin. Ngisi
perut dulu sebelum berjuang buat ujian." Viktor dan Chris sedah lebih sulu
menyeretnya secara paksa. Hiks.... Alasan keempat: Jesse. "Jesse, sebenarnya
cowok lo ngapain sih?" tanpa Rico ketika tanpa sengaja melihat Jessica
sedang duduk di lapangan tenis seusai ujian. Tapi.... "Hei!!
Chris...." Jesse malag berlari menghampiri Christian, bahkan tanpa
melambaikan tangan ke arah Rico. Alasan kelima: no SMS , no calling-calling.
Dan kalau Rico mencoba menghubungi Ciya lewat SMS, balasannya pasti: Rico, ini
Natya. Ciya lagi bljr. Jngn ganggu yah! Ntar Vik+Chris dtg kok ke sana. Kalau
telepon: "Hei, Rico. Apa apa? Ini Natya. Ciya lagi mandi tuh. Besok aja ya
ketemu di sekolah." Tut.... tut.... tut.... Telepon ditutup. Alasan
terakhir:
Ya Tuhaaaannnnn!!!
Ciya sendiri masih mendekam di rumah Natya. Sebenarnya, dia
ingin sekali pulang. Tapi Natya selalu mendapatkan alasan yang membuat Ciya
terpaksa mengangguk kalau Natya melarangnya kembali ke rumah Rico.
Natya terkadang suka tersenyum puas setiap Ciya
ngomel-ngomel kalau Natya membalas SMS atau mengangkat telepon dari Rico tanpa
izin. Walau samar, Natya bisa melihat dengan jelas adannya sisi gelisah di
sana.
Sementara Sha-Sha sibuk dengan pementasannya akhir bulan
ini. Sebenarnta begini.... Ada satu sekolah musik yang tertarik dan bersedia
menjadi sponsor tunggal konser pianonya. Hanya saja, parahnya, Sha-Sha harus
memainkan lima belas lagu klasik yang harus dihafalkan. Satu lagu kira-kira
berdurasi tiga menit, yang kalau diinterpretasikan dalam bentuk partitur, akan
berdurasi sebanyak tujuh lembar. Dengan kata lain itu berarti dia akan
memainkan setiap lagu sebanyak empat belas halaman! Diulang ya, EMPAT BELAD
HALAMAN!! jadi, intinya, Sha-Sha harus memainkan lagu yang berdurasi empat
belas halaman dikali lima belas lagu!! Kalau ditotal, keseluruhan lagu yang
haris dia bawakan berdurasi DUA RATUS SEPULUH halaman!! Perlu diulang?? DUA
RATUS SEPULUH HALAMAN!!!
Tunggu dulu!!! Bukan cuma itu. Kalau siangnya Sha-Sha sibuk
latihan, malamnya dia selalu menyempatkan diri "menemani" Rico.
Menemani belajar lah, menemani ngobrol lah, menemani makan lah, menemani nonton
lah, menemani apa aja. Mungkin kalau Ciya melihat semua itu, dia pasti tidak
akan segan untuk berkata, "Kenapa nggak nemenin tidur
sekalian??"
Tapi di balik semua itu, justru yang paling parah capeknya
dalam minggu ini adalah Viktor dan Christian. Bayangin aja! Masih dengan muka
kuyu habis berjuang buat ulangan umum, merek a langsung cabut ke rumah
Natya.
BRUKK!!!
Ciya menumpukkan setumpuk buku ke hadapan Viktor dan Chris.
"Sekarang, buka halaman 22. Besok kemungkinan bab ini bakal keluar.
Sekarang lo berdua dengerin gue.... pokoknya, apa pun yang gue bilang, elo
mesti nyampein sama persis ke Rico berikut titik komanya!" ujar Ciya
sambil membetulkan kacamatanya.
Viktoe mengernyit ke arah Natya sambil menggerak-gerakkan
bibir tidak jelas. Sedangkan Natya membalas tingkah Viktor itu hanya dengan
cengiran.
Ampun deh!!
Dan waktu di rumah Rico, Viktor dan Chris masih harus
berjuang keras membuat Rico mengerti apa yang mereka ucapkan dengan otak yang
berkadar pas-pasan. Untung aja Ska-Sha suka menemani mereka belajar.
"Walaupun capek, lumayan ada pemandangan cewek bagus," ujar Viktor
pada Natya yang melahirkan sebuah tamparan. Plak!!
***
Ciya melepas kacamatanya, mencoba menghilangkan penat yang
menggantung di kepala. Ujuan
full dua minggu ini benar-benar menguras tenaganya sampai
titik akhir. Jangan ditanya deh capeknya kayak apa. Mending kalo cuma capek
badan. Lah ini mah.... udah capek badan, capek otak.... capek hati
pula....
Maih tersisa satu hari lagi menjelang selesainya ulangan
umum. Dan selama di rumah Natya, Ciya semakin menyadari benar-benar ada yang
luruh jauh di dalam hatinya. Luruh untuk meninggalkan semua sisi ego dan
angkuhnya. Luruh untuk berpaling dari sisi hatinya yang selama ini tertidur di
antara kenangan.
"Gila...." Viktor merentangkan tangannya
lebar-lebar. "Akhirnyaa.... Yes!! Besok ulangan terakhir!! Tengkyu banget
loh, Ci, buat bimbinganya selama ini," ujar Viktor sambil membereskan
buku- bukunya.
Christian menyisir rambutnya dengan tangan. Dia masih tidak
mengerti apa yang Ciya ajarkan tadi. Tapi kalo diliat dari tampangnya, sepertinya
Chris udah nggak sanggup membahas lebih lanjut. Iyalah.... Kertas lecek aja
lebih bagus daripada tampangnya sekarang.
Viktor terkekeh menepuk bahu Christian. "Kenapa lo?
Mabok ya? Ya udah, tenang aja. Gue deh yang ngajarin Rico."
"Viktor!!!" mendengart itu Chris berteriak semangat. "Elo memang
teman yang pengertian!! Gue ke rumah Jesse aja ya?? Ntar maleman deh gue nyusul
ke rumah Rico." Viktor mendelik. "Gue tampar mau lo?" Ciya
tersenyum melihat tiga orang itu beranjak ke luar kamar Natya. "Balik ya,
Ci," kata Viktor dan Chris sambil melambaikan tangan. Natya melompat dari
duduknya. "Gue nganter dia dulu ya.... lo tiduran aja. Ntar gue minta
pembokat gue buat ngambilin es krin cokelat. Okayyy!!"
Tepat saat pintu ditutup, bunyi HP membuat Ciya beranjak....
Dan senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat nama yang tertera di sana.
"Hei...," ujar Ciya. "Akhirnyaa.... bisa denger suara lo juga.
Ada siapa di sana?" Rico bernapas lega dari seberang. "Nggak
ada." Ciya tertawa kecil. "Baru aja Chris sama Viktor mau jalan ke
rumah lo. Natya lagi nganter mereka ke bawah." "Ciya...," kata
Rico lirih. "Lo ngapain sih betah banget di sana? Ayo, pulang!" Ciya
tertawa. "Kenapa? Kangen sama gue?" "Iya!" teriak Rico,
membuat Ciya harus menjauhkan HP dari telinganya. "Gue kangen sama lo!
Cepet pulang!" "Tadi...." Ciya tercenung. "Lo bilang kangen
sama gue ya?"
Kali ini hanya terdengar dengusan pelan. Ciya membayangkan
dengusan itu sebagai arti bahwa Rico tersipu-sipu. Rico? Tersipu-sipu? Iih,
amit-amit.....
Ciya tertawa kecil. "Udahlah.... Tadi bilang kangen,
kan? Dasar playboy.... belajarlah berbicara dari lubuk hati, bukan cuma ngomong
yang manis-manis doang." "Heh!" bentak Rico. "Gue beneran
kangen sama lo!" Tawa Ciya lenyap. "Eh!! Mana ada orang kangen ngomongnya
kasar begitu?" Rico mendesis. "Ya udah deh. Gue nggak jadi kangen!
Gue tutup ya...." "Eh!" ujar Ciya buru-buru sebelum Rico menutup
telepon. "Mana bisa kangen dibungkus lagi?" Ciya terkekeh. "Iya
deh, gue juga kangen kok sama lo."
***
Sha-Sha tercenung di balkon kamar Rico. Sementara backsound
cuap-cuapnya Viktor masih merajalela. Kalo Chris jangan ditanya. Dari dua jam
yang lalu, dia udah teler, ngegabruk di kasur Rico dan langsung tidur.
Desau angin mengalir pelan. Membuat Sha-Sha sedikit terusik
sejenak dari semua lamunannya. Lamunan yang membuat harapannya jauh menerawang.
Seakan ingin menembus batas cakrawala dan menyeret semua waktu. "Yap...
Ngerti kan, Ric?" tanya Viktor sambil membereskan kertas-kertas coretan.
Tidak ada jawaban. "Ric...." panggil Viktor lagi. Masih tidak ada
jawaban.
Viktor akhirnya mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas
yang berserakan. Dilihatnya Rico sedang bengong. Sambil mesem-mesem tepatnya.
"Heh!! Bocah!!" teriak Viktor. "Ngapain lo
senyum-senyum?!"
Rico yang tersandar ada orang yang mencoba merusak
lamunannya, memberengut kesal ke arah Viktor. Kata-kata Ciya yang terakhir
masih terngiang dengan sangat jelas. "Elo kenapa sih?!" desak Viktor
ketika Rico kembali tidak mendapatkan jawaban. Tapi Rico hanya tertawa kecil.
Viktor mengerutkan dahi. "Daripada lo cengengesan nggak jelas kayak gitu,
mendingan lo urusin tuh!" Viktor menunjuk ke arah Sha-Sha. "Bisa
sakit tunagan lo kalo dia terus-terusan di luar kayak gitu. Lo mau nggak jadi
tunangan?" ujar Viktor ngakak. "Cerewet!" Rico mengumpat pelan.
"Tidur aja sana!" Viktor mendesis. "Nggak usah disuruh juga gue
emang udah mau tidur. Nggak liat sekarang udah jam berapa?" dia menunjuk
jam dinding yang menunjukkan pukul satu pagi, lalu beranjak ke balik selimut sambil
masih terkekeh. Dia menatap Rico sambil mengedipkan mata dengan ancungan jempol
yang diputarnya ke bawah. Kalau Viktor tidak cepat-cepat mengganti gerakan
tangannya menjadi telunjuk yang menjelaskan tempat keberadaan Sha-Sha, Rico
pasti masih terpikir untuk menonjoknya.
***
"Lagi ngapain?" Rico duduk di samping Sha-Sha lalu
menunjuk langit. "Liat Bintang?" "Bintang?" mengernyitkan
keningnya. "Apa bagusnya bintang? Bintang kan nggak sering keliatan. Aku
lagi liat bulan. "Sha-Sha mendorong tangan Rico yang masih mengarah ke
langit agar bergeser sedikit ke kanan. "Liat! Bagus, kan? Kalo bulan kan
lebih keliatan. Lebih besar, lebih terang, lebih bagus." Rico terdiam, dia
memandang Sha-Sha. Antara bulan dan bintang.... Bulan.... dengan sinarnya yang
lebih terang. Dengan kepastian yang akan selalu terlihat tanpa melalui alat
bantu. Dengan keberadaannya yang jauh lebih dekat. Dengan sisi misterius yang
selalu membuatnya terlihat sangat indah.
Sementara bintang.... Dengan penampilan tidak lebih dari
sekadar titik sederhana. Dengan sinar yang timbul-tenggelam. Dengan keberadaan
yang terkadang serasa tidak terjangkau. Dengan sisi yang polos tanpa pantulan
cahaya.
Tapi pernahkah sedikit terpikir.... Hanya kanena bulan lebih
tepat berada di hadapan, adakalanya kita tidak menyadari masih ada bintang di
luar sana.....yang mungkin jauh lebih bersinar tanpa harus memantulkan cahaya.
Hanya saja....bintang itu berada pada tempat yang berbeda, dan pada waktu yang
berbeda. "Sha....," panggil Rico. "Hmmm?" "Lo kok dulu
nggak pernah ngubungin gue lagi?" Rico melipat kedua tangannya di depan
dada saat angin malam meluncur menerpa tubuhnya. "Kita udah lama banget
nggak kontak-kontakan. Gue pikir lo udah lupa sama gue. Dan gue pikir lo nggak
bakal pulang lagi."
Sha-Sha tersenyum. "Kamu sendiri?" Sha-Sha
memandang Rico. "Kamu juga kenapa dulu nggak pernah hubungin aku lagi?
Justru malah aku yang mikir kalo kamu udah lupa sama aku. Aku pikir kamu udah
nggak mengharapkan aku pulang lagi." "Gue nggak ngelupain lo!"
sergah Rico. "Gue tiap hari ngarepin lo pulan. Sampe bosan rasanya."
"Sampe bosan dan akhirnya ngejar cewek-cewek cantik?" Rico memamerkan
wajah jeleknya mendengar perkataan Sha-Sha tadi.
Sha-Sha tertawa. Dia tahu, mendengar perkataan Rico tadi,
ada sisi di hatinya yang sedikit merasa lebih lega dibandingkan hari kemarin.
"Aku juga nggak pernah ngelupain kamu." Sha- Sha menyibakkan
rambutnya lalu menatap Rico. "Aku tiap hari mikirin kamu. Kamu lagi
ngapain, kamu makan apa, kamu latihan lagu apa hari ini. Sedetik pun aku nggak
pernah berhenti mikirin kamu. Aku juga selalu ngebujuk Mama dan Papa buat balik
lagi ke sini." Sha-Sha mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dan
beranjak ke pagar teras, menyandarkan badannya di sana menatap kolam renag.
"Tadinya Mama nggak mau bilang soal pertunangan kita. Mama maunnya bilang
kalo kita udah siap. Tapi karena sikap manjaku, aku yang ngerengek terus pengen
balik, akhirnya Mama nyerah. Mana akhirnya pulang bilang kalo kita udah
ditunangin. Jadi kapan pun aku balik, aku pasti bisa ketemu kamu."
Rico tercenung. Jadi selama ini hanya dia yang bingung
sendiri. Apa hanya dia yang merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan cinta
pertamannya? Kenapa semua jadi terlihat tidak adil? Sha-Sha bisa dengan
sabarnya menunggu karena telah tahu tentang pertunangan ini. Tapi Rico? Rico
sama sekali tidak tahu apa apin. Dia hayna tahu Sha-Sha telah menghilang dari
hadapannya dan menyisakan lembar demi lembar kenangan yang Rico sendiri tak
mengerti kapan bisa menjilid lembaran itu menjadi sebuah bukuu dengan cerita
yang telah usai. Lalu, siapa yang salah sebenarnya?
Rico menatap Sha-Sha. "Maksudnya saat yang tepat
itu....," tanya Rico. "Saat ini?" Sha-Sha mengangkat bahi.
"Mungkin iya, dan mungkin nggak...." Rico mengerutkan kedua alisnya,
lalu menggeser duduknya ke samping Sha-Sha. "Maksudnya?"
Sha-Sha melipa bandannya, ikut berjongkok di samping Rico.
"Kamu tahu apa salah satu alasan aku nggak nyari kamu?" Rico
menggeleng. "Karena perkataan kamu yang terakhir.... Saat di bandara,
tepat sebelum aku pergi, kamu pernah bilang kalo kamu bakal nungguin aku. Dan
aku percaya itu.... Dan saat itu aku juga bilang aku akan balik lagi. And here
I am...." Sha-Sha menusukkan telunjuknya di bahu Rico. "Kamu justru
yang membuat saat yang tepat itu menjadi 'mumgkin- saat yang tepat."
Sha-Sha memberikan penekanan pada kata mungkin. "Kamu tahu kenapa?"
Sha-Sha memandang Rico. "Karena kamu telah merusak kepercayaanku dan
kepercayaanmu....."
Komentar
Posting Komentar