Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 10 |
part* 10
Dunia Fantasi
Kalau sosok itu sudah tak lagi terjangkau, haruskah
melepaskannya?
CIYA bangun dengan mata setengah tertutup. Sinar matahari
yang menembus jendela kamarnya memaksa dia meninggalkan mimpinya. "Aduh,
Kyo," Erang Ciya, menutup kepalanya denan bantal. "Bangun!" Rico
menarik bantal Ciya lalu duduk di sebelahnya. "Ngapain sih? Masih
ngantuk!" Merasa kehilangan bantalnya, Ciya menarik selimutnya tinggi-
tinggi. "Bangun! Udah jam sepuluh!" Rico mengguncang-guncang badan
Ciya. "Kita ke Dufan!" "Nggak mau! Gue masih ngantuk! Lo pergi
sendiri aja sana!" "Bangun!" Rico meloncat ke badan Ciya dan
membuka selimut yang menutupi wajah cewek itu. "Apa mau gue cium?"
Rico mendekatkan wajahnya ke muka Ciya yang masih setengah melek. Ciya hanya
menutup mukanya dengan kedua telapak tangan tanpa berkata apa-apa.
"Rico mendengus. Dasar cewek kebo! "Bangun! Ayo,
bangunnnn!!!" Rico mengguncang-guncang bahu Ciya kuat-kuat. Tapi
kemudian..... "Hiiyyyaaaawwww....." Gabruk!! Lutut Ciya tanpa sengaja
menendang punggung Rico, dan tangannya mendorong tubuh cowok itu sampai jatuh
terlentang di lantai. Ciya akhirnya duduk tegak dan memamerkan tampang
marahnya. Matanya mencari-cari sosok pengganggu itu. Tapi begitu melihat Rico
meringis di bawah ranjang. Ciya malah tertawa keras. "Makanya, gangguin
mulu sih!"
***
Rico melepas sabuk pengamannya. Ciya masih memamerkan
tatapan kesal. Setelah berantem dan pukul-pukulan bantal selama satu jam,
akhirnya Rico berhasil menyeret cewek itu ikut ke Dufan. "Kenapa sih?! Gue
kan udah bilang nggak mau ke sini. Kenapa nggak pergi sama yang lain
aja?"
Rico mendesis. Dia nggak habis pikir kenapa ada cewek yang
begitu keras kepala.
Ciya membenturkan kepalanya pada sandaran bangku. "Lo
tuh kenapa sih? Salah makan ya? Kemarin kan gue udah bilang, tempat ini
ngingetin gue sama Billy. Gue nggak mau turun!"
Rico mendengus. "Heh.... Mau sampe kapan kayak
gitu?" tanya Rico. "Mau sampe kapan lo menghindar begitu?"
"Menghindar apa?" Ciya mendelik. "Apanya yang menghindar?"
"Sampe kapan lo mau menghindar dari bayangan Billy?!" Rico menatapnya
tajam. "Daripada sibuk menghindar, lebih baik lo hadapin!" Ciya
mendengus. Bisa-bisanya cowok itu menceramahinya panjang-lebar. "Cih....
Elo sendiri? Apa lo bisa ngelupain Sha-Sha?"
Rico menaikkan sebelah alisnya. "Siapa yan ngomong soal
ngelupain? Gue nggak bilang lo mesti ngelupain. Dia emang udah ada dalam
ingatan lo. Sekeras apa pun elo mau ngelupain dia, itu mus-ta-hil! Tapi
seenggaknya, bisa kan, lo mengubah ingatan itu menjadi kenangan? Bukan
menyimpan ingatan tadi menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Bisa, kan?"
***
Ciya melangkah ragu. Memandang keseluruhan tempat ini dengan
perasaan takut. Sedikit rasa kangen menyelubungi hatinya. Terakhir kali ke
sini, waktu dia kelas 3 SMP. Barisan mbak-mbak yang bersiap-siap mengecap
setiap tangan yang masuk membuat jantungnya berdetak keras.
"Chiara, sini!" Billy memanggilnya. Dia
menggenggam tangan Chiara dan merangkulnya. "Hari ini kita nge-date!
Okay!"
Kalau saja Rico tidak menarik tangan Ciya, mungkin Ciya akan
tetap mematung di depan loket selamanya. Dengan mengandalkan senyum mautnya
kepada si mbak pemegang stempel, Rico mengambil cap Dufan dan tanpa ba-bi-bu
lagi langsung memukulkannya ke tangan Ciya. "Ayo, masuk!" Rico
menarik lengan Ciya. Tapi, belum dua langkah Ciya menepisnya. "Gue bisa
masuk sendiri," ujarnya cemberut. Maunya apa sih cowok itu? Kenapa mesti
maksa ke sini? Ciya memandang sekelilingnya. Banyak yang berubah. Malah hampir
semuanya berubah. Sekilas semua kenangan kembali berputar ulang. "Chiara...."
Ciya berdiri mematung. Itu suara Billy. "Chiara.... Chiara...." itu
Billy, itu suara Billy. Ciya melihat ke sekelilingnya. Di setiap sudut, di
setiap tempat, dia melihat sosok Billy di sana. Billy yang tersenyum, Billy
yang melambaikan tangan, Billy yang tertawa. Ciya merasakan detak jantungnya
mulai tidak teratur. "Chiara...." Ciya menutup telinganya.
"Jangan panggil gue Chiara!!!" Tapi semakin kencang dia menutup
telinganya, suara itu semakin jelas. Ciya berjongkok. "Jangan panggil gue
Chiaraa!!" Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Semua bayangan itu
hilang. Berganti sosok Rico yang ikut jongkok di depannya. Tangannya
mencengkeram pipi Ciya erat-erat.
"LO PIKIR BILLY BAKAL TENANG KALO TAHU ELO KAYAK
GINI?!" Rico tidak bakal mampu lagi menahan emosinya . Kenapa Ciya yang di
hadapannya sekarang menjadi begitu rapuh? Kenapa Ciya yang dikenalnya berubah
menjadi sangat cengeng? Kenapa Ciya sekarang ini menjadi begitu pengecut?
Inikah sosok asli Chiara? Chiara yang sangat ingin melupakan masa lalunya? "Denger!"
Rico memaksa Ciya memandang matanya. "Walaupun gue nggak kenal siapa itu
Billy, biarpun gue nggak tahu kenapa dia ngelakuin semua itu, gue percaya, kalo
dia ngeliat lo kayak gini, dia pasti bakal kecewa karena pernah sayang sama
cewek aneh kayak lo!"
Ciyam menangis. Dia sungguh ingin menangis. Tapi air matanya
tidak bisa keluar. "Trus kenapa?" tanyanya memandang Rico. "Trus
kenapa kalo emang dia sayang sama cewek aneh kayak gue? Kenapa...." Belum
selesai Ciya bicara, tiba-tiba Rico memeluknya.
"Kalau mau nangis, nangis aja sepuasnya. Kalau mau
teriak, teriak aja sepuasnya! Nggak usah disimpen lagi. Lo mesti percay, apa
pun itu, dia pasti pengen elo bahagia."
***
"Nggak mau naik itu!" teriak Ciya saat Rico
menariknya ke arena Kora-Kora. "Kenapa? Di sini elo bisa teriak sepuasnya.
Ayo naik!" Rico menarik Ciya sekuat tenaga. Menyeret tepatnya, karena kaki
Ciya bergeser secara bersamaan.
Sebenarnya, Ciya tidak mau naik bukan karena takut akan
kenangan dengan Billy. Tapi karena dia.... Memang takut. Saat perahu itu
berayun perlahan, Ciya memegang palang besi di depannya kuat-kuat, sampai
buku-buku jarinya memutih. Tadinya dia ingin berteriak, tapi begitu perahunya
mulai meninggi, dia malah mengcengkeram lengan Rico dan menyembunyikan wajahnya
di bahu Rico. Boro-boro teriak, nggak pingsan aja udah bagus.
"kenapa nggak bilang kal elo takut!" omel Rico
mendapati tangannya___saking dicengkeram terlalu keras___nyut-nyutan saat turun
dari Kora-Kora. "Liat nih, sampe merah begini." Dia menunjukkan capl ima
jari yang masih berbekas.
Ciya mendelik. Wajahnya pucat. "Tadi kan gue udah
bilang nggak mau naik. Salah sendiri maksa." Tangannya masih mendekap
mulutnya menahan takut. Tiba-tiba mata Ciya berbinar. "Beliin gue itu
dong!" Ciya berlari menuju penjual arum manis. Rico menggelengkan
kepalanya. Dasar cewek aneh! Sebentar marah, sebentar ketawa, sebentar sedih.
Hih! "Heh, mana duitnya?" Ciya menunjuk arum manis ukuran superbesar
yang dibawanya. "Udah gue makan nih! Tuh, abangnya nungguin. Kan gue nggak
bawa duit. Elo yang bilang kalo...."
Rico menempelkan selembar lima ribuan ke muka Ciya.
"Bayar sana! Dasar cerewet! Makan mulu kerjanya! Kalo gigi lo
bolong-bolong baru tahu rasa," omel Rico meninggalkan Ciya menuju wahana
berikutnya. "Apa sih?!" dengus Ciya sambil menyerahkan gocengan itu
ke tukang arum manis. "Makasih ya, Bang." Lalu dia berlari mengejar
Rico
***
Power Surge baru saja berhenti. Tanpa memakai sandalnya
lagi, Rico tiba-tiba langsung berlari meninggalkan Ciya___yang masih gemeteran
dijungkir-balikkan sampai 180 derajat. Rambut panjangnya kusut, membuatnya
mirip tokoh Hermione di film Harry Potter yang selalu tampil dengan rambut
mengembang dan awut-awutan. Ini juga salah satu alasan Ciya nggak mau naik
motor. Rambutnya gampang banget kusut. Dan kalo udah kusut pasti susah banget
dirapiin lagi. Boro-boro rapi, kadang-kadang malah sisirnya yang patah.
Ngapain sih tuh cowok? Udah maksa naik kipas angin nggak
penting begini, lamah ngabur duluan? Ciya ngedumel sambil mengambil sandal dan
tas Rico dengan tangannya yang gemetar. Kakinya masih belum bisa menapak dengan
benae, sehingga dia berjalan seperti orang sempoyongan.
"Kyo, elo di man...." Ciya tidak melanjutkan
perkataannya saat melihat Rico jongkok di selokan mengeluarkan semua isi perutnya.
Hah?? Yang bener aja? Cowok jagoan itu bisa muntah?! Tadinya Ciya ingin berlari
ke sana dan membantu, karena dia memang khawatir. Tapi sepertinya hormon
tertawanya lebih dulu bekerja.
"Huhahaha.... Cowok jagoan kok muntah!" Ciya
mengusap-usap leher Rico. Rico ingin sekali
melotot dan menghajar Ciya, tapi perutnya tidak bisa
kompromi. "Hoeek...."
***
Ciya berlari menghampiri Rico yang terduduk lemas di kursi
taman di depan McD. "Nih...." Ciya mnyerahkan sekantong besar
makanan. "Sori, ngantrenya lama banget." Dia mengipas-ngipas dengan
tangan kanannya. "Haduh, ngapain makan di sini sih, Kyo? Panas, tau! Kalo
di dalem kan ada AC." Tangannya mengambil sebungkus Beef Burger dan satu
cup Coca- Cola. Rico tidak memedulikan ocehan Ciya. Dia sudah sangat kelaparan.
Dua Big Mac aja sanggup dihabisin sekali suap. Nggak ding, ekstrem.
"Eh...." Rico menyikut Ciya. "Ngu.... Sebuuk.... Tu....
Kan?" tanyanya dengan mulut masih penuh berger. "Hah?" Ciya
menajamkan telinganya. "Heh! Kalo ngomong, abisin dulu makanannya. Gue
nggak ngerti lo ngomong apa."
Alih-alih menelan, Rico malah tersedak, batuk-batuk sampai
mengeluarkan air mata. Semua yang ada di mulutnya berhamburan ke mana-mana.
Ciya langsung melotot dan refleks berdiri. Haduh.... Cowok ini!!
"Minum.... Minum...." Cia menepuk-nepuk punggung Rico dan menyerahkan
Cola-Cola-nya. "Makanya, makan udah kayak babi. Nggak digigit, main telen
aja. Pelan-pelan makannya. Tuh, liat." Ciya menunjuk bajunya yang penuh
percikan roti dan saus. "Jadi, kotor deh." Ciya mengelapnya dengan
tisu.
Rico tidak mendengar kata-kata Ciya. Membuat makanannya
kembali ke jalur yang benar aja udah susah payah. Gimana mau dengerin Ciya?
"Tadi gue bilang 'Nggak seburuk itu, kan?" ujar Rico setelah semuanya
tenang. "Apanya yang nggak seburuk itu?" Ciya bicara dengan mulut
yang agak berlepotan karea Mc Flurry-nya sudah agak mencair. Rico tidak menjawab.
Matanya tepat menatap mata Ciya dalam-dalam. Sesaat Ciya merinding. Mata
itu.... Mata itu persis seperti mata Billy. Di balik selaput hitam-putih yang
menyorot tajam itu ada keteduha. Keteduhan yang selalu di dapatkannya dari
Billy. Tapi, kenapa justru mata Rico yang memiliki keteduhan yang sama?
Ciya buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia takut.... Takut
ada sesuatu yang l uruh, jauh di dalam relung hatinya.
Rico mengambil sejumput rambut Ciya dan memainkannya.
"Yang namanya obat itu pasti rasanya pahit. Justru karena pahit baru
berkhasiat. Kalo dikasih gula, malah jadi nggak berpengaruh. Makanya biar
pahit, lo mesti tahan. Seenggaknya elo mesti sembuh dari semua ketergantungan
lo."
Ciya menepis tangan Rico dan mengerutkan dahinya. "Lo
ngomong apa sih? Semua orang juga tahu kalo obat itu pahit. Tapi waktu kecil,
gue suka kok minum obat pake gula. Tetep aja berkhasiat. Lagian emangnya gue
ketergantungan apaan? Lo kira gue pake narkoba? Ciya menyorongkan bibirnya.
"Dasar aneh!"
Cewek ini! Rico jadi ragu sebenarnya Ciya beneran pinter
nggak sih? Masa juara kelas IQ-nya jeblok? Rico kan tadi menggunakan
perumpamaan.
"Eh...." Ciya menepuk bahu Rico. "Hari ini
sebenarnya kenapa? Kenapa ngajak gue ke sini? Kenapa hari ini tahu-tahu lo jadi
baik? Ada maksudnya apa?" tanya Ciya sambil meminum Cola- Cola-nya. Mc
Flurry-sudah habis.
Rico terdiam. Matanya memandang Ciya lekat-lekat.
"Karena gue suka sama lo." Ciya melongo. Sepertinya dia merasa ada
yang tidak beres dengan telinganya. "Hah? Tadi lo bilang apa?"
Rico mendengus. "Gue bilang gue suka sama lo."
Ciya mengerjapkan matanya.
Sedetik.... Dua detik.... Tiga detik.... Empat detik....
"Huahuahahahahaha...." Ciya tertawa geli. Tapi kemudian. "Nggak
lucu!" Dia merengut. "Nggak bosen-bosennya iseng sama orang."
Ciya bangkit dari duduknya. "Udah ah, sekarang kita main lagi! Gue udah
kenyang." Ciya menarik tangan Rico yang masih menatap denga9 pandangan
tidak percaya.
***
Berhubung Ciya takut Rico muntah pagi, akhirnya mereka
memutuskan melakukan permainan yang "tidak berbahaya.". Ciya yang
memegang kendali permainan apa saja yang boleh dan tidak boleh dinaiki.
"Pertama.... Komidi putar!!" Rico melotot. Berkali-kali dia merasa
tidak enak dengan anak-anak kecil yang berada di kiri dan kanannya yang memandang
mereka dengan tatapan aneh. Sementara Ciya sepertinya menikmatinya saja.
"Istana boneka...." Whaattt!!! Istana boneka? Apaan tuh? Seumur-umur
Rico nggak pernah masuk ke wahana nggak penting itu. Kalau saja Ciya tidak
selalu menepuk-nepuknya untuk menunjuk-nunjuk boneka- boneka yang cuma bisa
geleng-geleng itu, mungkin Rico bisa tidur lelap di sana. "Rumah
miring!" Berkali-kali Rico hampir terpeleset di dalam sana. Sandal yang
dia pakai hari itu memang agak licin. Jadi berkali-kali juga dia menarik baju
Ciya. Untung aja pengunjung yang masuk ke sana sedikit. Jadi, waktu Rico dan
Ciya jatuh berbarengan, nggak ada yang ngeliat. Paling-paling Ciya cuma
ngedumel.
"Rumah cermin!" Mati deh! Kenapa begitu banyak
rumah dan istana?! Rico hampir mati di dalam sana. Ciya sengaja masuk
belakangan. Tapi sampai Ciya keluar, Rico tetap berputar-putar di dalam sana
kurang-lebih setengah jam. Malah pake acara kepentok kaca segala. "Jangan
cerewet! Siapa suruh maen beginian. Gue nggak pernah masuk ke sana tahu!"
bela Rico saat Ciya mengatainya sambil ketawa-tawa.
Jadi begini nih gaya pacarannya Billy dan Ciya kalau ke
Dufan. Hebat juga ya si Billy, bisa tahan ngadepin cewek kayak gini. Rico aja
udah hampir gila. "Wuahh.... Capek juga yaa...." Ciya merentangkan
tangannya dan menarik napas panjang- panjang saat berada di atas Bianglala.
Angin berembus agak kencang saat mereka berada di posisi puncak. Rico terduduk
lemas. Tahu gini nggak ada deh acara saingan sama Billy.
"Liat tuh.... Pantainya keliatan." Ciya menunjuk
ke arah kejauhan. Matahari sudah mulai tenggelam. Bias-bias keemasan mulai
memudar. "Hari ini.... Makasih ya....," ujarnya tersenyum sambil
menatap Rico. Lagi-lagi senyum itu.... Saat tersenyum seperti itu, Rico merasa
Ciya terlihat cantik.
"Sebenernya.... Gue ngerti kok maksudnya." Ciya
tertawa kecil. "Itu lho... Tentang pepatah obat pahit. Gue juga ngerti kok
alasan sebenernya lo ngajak gue ke sini. Gue nggak nyangka lo bisa mikir sejauh
ini. Ketakutan akan kenangan dilawan dengan kenangan. Ternyata manjur
juga." Ciya manggut-manggut. "Billy memang sosok yang paling berarti.
Tapi.... Di saat dia hilang, gue nggak harus hilang bersama dia. Ya, kan?
Maksud lo itu, kan?" Ciya kembali tersenyum. "Eh.... Tapi jangan
ngomong suka sama orang sembarangan, tahu! Entar kualat. Sampe suka beneran
sama gue, baru tahu rasa lo!"
Rico ikut tertawa. Ternyata hari ini nggak terlalu buruk
juga. Dia malah mulai menikmati angin yang menerpa wajahnya dan wajah cewek di
depannya.
Ciya mengikat rambutnya. Hanya poni dan anak-anak rambutnya
yang masih bergerak-gerak tertiup angin. Jari Rico terulur untuk menyampirkan
anak rambut Ciya ke belakang telinga.
Lo cantik...." dua kata itu meluncur begitu saja dari
mulut Rico. "Haiya...." Ciya merinding. "Kenapa semua cowok playboy
selalu ditakdirkan bermulut manis?"
Komentar
Posting Komentar