Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 13 |
part* 13
Kembali Sebuah Masa Kecil
Ketika waktu telah kembali berdetak sempurna.... Kenapa
justru bumi yang enggan berputar....?
NATYA memainkan bolpoinnya sambil menatap malas ke arah
kertas-kertas soal yang berserakan di hadapannya. Viktor yang ada di sampingnya
juga tidak mempertinggi minat mengerjakan PR matematika dari Pak Ebol.
(sebenarnya namanya Pak Eman. Tapi karena tubuhnya pendek, murid-murid lebih
suka memanggilnya Ebol, alias Eman Cebol.) Viktor malah lelap tertidur
bersandarkan buku-buku matematika yang tebelnya bisa membuat rambut keriting
jadi lurus kalo dijepit sama buku itu.
"Ci, gue nyerah deh. Soal-soalnya lebih parah dibanding
ikutan Fear Factor. Mendingan ikutan Fear Factor deh. Biar pun makan kecoak,
kita dapet duit. Lah ini.... Botak iya," Natya menunjuk beberapa kali
helai rambutnya yang rontok kemudian merebahkan tubuhnya di lantai.
Ciya sendiri tidak peduli dengan ucapan Natya barusan.
Dahinya berkerut saking seriusnya memperhatikan rumus-rumus yang masih belum
dapat dihafalnya di luar kepala. Kacamata___yang hanya dipakai saat belajar dan
bermain komputer___mulai melotot dari pangkal hidungnya.
Jesse, yang walaupun bergelar sebagai kakak kelas,
sepertinya enggan memberikan contoh yang baik dalam hal sekolah, tapi
memberikan contok yang sangat baik dalam hal pacaran. Sejak tadi pagi mereka
ngumpul di rumah Rico dalam acara belajar kelompok, Jesse malah mojok sama Christian
di taman. Rupanya, walaupun tiap hari ketemu di sekolah, tiap malem teleponan
sampe pagi, dan malem Minggu selalu jalan ke mal, masiih aja nggak puas. Apa
jadinya Indonesia kalau generasi mudanya cuma doyan pacaran? Kalau Chris sih
nggak masalah. Ujung-ujungnya dia bakal jadi pewaris PT Jaya Group yang
kekayaannya nggak habis dimakan tujuh turunan. Tapi masalahnya, bokapnya Chris
akan mencabut hak warisnya kalau Chris nggak lulus dengan nilai A. Kalau nggak,
mana bisa Chris praktik di lapangan ngurusin saham dan tetek bengeknya?
Mudah-mudahan aja dia tahan ngadepin dolar yang kursnya cenderung abnormal.
Jadi, walaupun pacaran, Chris juga memegang coret-coretan jawaban yang sejak
tadi disiapkannya.
Rico dan Rangga malah sibuk main piano. Mau bikin lagu,
cetus mereka, saking stresnya berhadapan sama angka-angka dan rumus-rumus nggak
jelas.
Begini nih jadinya kalo uah mau menjelang ujian akhir.
Lupain yang namanya jalan-jalan ke mal, apalagi nongkrong di kafe. Jangankan 24
jam, kalau satu hari berubah menjadi 36 jam pun rasanya nggak bakal cukup buat
menyelesaikan latihan soal-soal latiha matfiskim yang kayak setan. Bayangin
aja, mana satu soal yang cuma dua baris ternyata jawabannya sepanjang halaman
folio.... Bola-balik!
Ciya sendiri benci setengah mati dengan salah satu guru
fisika yang kepalanya botak. Yang menjadikan guru itu lebih mirip tuyul
dibanding mirip profesor. Udah neranginnya ngalor- ngidul___masa dia malah
cerita soal film Yo Ko dan Siau Liong Lie! Ya Tuhan! Itu film zaman kapan?___ngasih
nilainya pelit pula.
Sedihnya lagi, mereka hanya dikasih waktu dua minggu untuk
menyelesaikan semua soal tadi.
Menurut guru-guru sih itung-itung latihan sebelum ujian.
Tapi bagi murid-murid, itu itung-itung siksaan sebelum bunuh diri beneran.
Tapi jangan salah, hasilnya: hampir semua murid lulusan
sekolah itu diterima dengan mulus di berbagai universitas unggulan di Jakarta
dan di luar negeri___kebanyakan sih di Aussie. Pokoknya kalo orang gaul bilang
sih, sekolah bonafid! Tiba-tiba Bik Imah datang tergopoh-gopoh. "Nyonya
dan Tuan pulang...."
***
Ciya tercenang di bangkunya. Pikirannya sudah tidak
tertambat pada otaknya dan kupingnya juga sudah tuli terhadap Bu Anita___guru
Bahasa Indonesia yang mirip helm___yang sedang mengoceh tentang pembuatan
drama.
Soal-soal ulangan PKKN (yang tadinya terkenal dengan sebutan
PMP) tadi pagi tidak ada yang dijawabnya dengan benar. Otaknya benar-benar
kosong hari ini. Jangankan mengingat pasal- pasal yang jumlahnya puluhan, isi
Pancasila aja lupa. "Sha-Sha...."
Nama yang disebut lirih oleh Rico dengan pasti telah
mengubah aura dalam rumah itu seketika. Ciya yang sedari tadi hanya menunduk
saat menghadapi kedatangan mama dan papa angkatnya langsung mengangkat wajah
dan membelalakkan mata. Tadi Rico bilang apa? Sha-Sha? Sha-Sha yang ada di foto
waktu itu? Sha-Sha yang dikucir dua dan pipi tembem itu? Ciya memperhatikan
cewek yang kini diapit oleh Fatma dan Henry. Tinggi semampai, rambut lurus
sepinggang, memakai kemben putih dan jins selutut, bersepatu hak tinggi,
berkulit putih, dan kacamata merah jambu membingkai matanya yang sipit. Yang
benar aja! Cewek cantik itu.... Sha-Sha?? Acara belajar selesai sampai di situ.
Sisanya, di rumah itu serasa diputar film nostalgia yang berjudul "Raisha
Wellina dan kehidupannya di masa lalu bersama Enrico Leman". Dulu Sha-Sha
itu begini, Sha-Sha itu begitu, Sha-Sha yang jadi cantik, Sha-Sha yang tadi
tambah manis, menawan hati, memesona, mengesankan, bla.... bla.... bla.... Dan
bejibun ungkapan serupa.
Dan hari itu, Ciya benar-benar jadi kambing congek tulen.
Menyebalkan! Apalagi setelah Henry dan Fatma beranjak ke tempat tidur. Sampai
jam dua belas malam pu, Ciya masih melihay Rico ngobrol berdua Sha-Sha di kolam
renang. Oh ya, masih ada lagi. Ternyata Sha-Sha jug akan tinggal SERUMAH dengan
mereka, dan NGGAK tahu kapan pindah rumahnya. Wuaw.... Kabar yang benar-benar
bagus, kan?
Ciya mendengus sambil melemparkan tirai yang tadi dubkanya
sedikit untuk mengintip. Dia membanting tubuhnya di kasur dan mematikan lampu
kamarnya. Hanya tersisa cahaya-cahaya samar dari bintang-bintang glow in the
dark yang menempel di langit-langit.
***
Ciya menopang dagunya dengan telapak tangan. Apa bagusknya
cewek yang.... Paling-paling kerjaannya cuma shopping barang-barang bermerek kelas
atas. Tadi pagi aja bajunya Channel, tasnya Prada, celananya Dior.
Paling-paling setipe sama cewek-cewek di sekolahnya yang lebih demen dandan
dibanding nonton berita. Okelah, Sha-Sha masih lebih baik daripada Jesse.
Seenggaknya Sha-Sha nggak pake make-up yang tebelnya
setengah senti. Hmm.... Oke, bukan itu kok alasannya. Sebenarnya saat Ciya
berkenalan dengannya, Sha-Sha memberikan first impression yang baik. Dia murah
senyum, baik, dan kelihatan tidak sombong.
Tapi masalahnya, Ciya salah besar.... Sha-Sha itu bukan
sekadar cewek yang cuma doyan dandan dan menghambur-hamburkan uang. Dia belajar
di sekolah musik. Dan, menurut berita yang sudah-sudah, cewek itu sudah pernah
mengadakan konser di beberapa kota Taiwan. Walaupun masih standar lokal, tetap saja
hebat kalau dilihat dari umurnya yang belum lagi tujuh belas. Pengetahuan
Sha-Sha tentang musik jangan ditanya. Mau disuruh nyebutin siapa pemain piano
dari zamannya Mozart sampe era reformasi, dia hafal semua. Yang lebih
mencengangkan lagi, hampir semua lagu bisa dia mainkan___piano maksudnya. Dan
untuk pemberitahuan, ternyata sebelum beralih main gitar, Rico juga bermain
piano klasik. Bisa dibilang itu awal mula mereka bisa bermain musik, karena
mereka berasal dari sekolah musik yang sama. Jadi sejak siang tadi mereka hanya
membahas tentang Khachaturian yang begini, Paul McCartney yang begitu,
Pachelbel yang bikin lahu ini, Tchaikovskt yang bikin lagu itu. Please dong!
Mereka tuh bikin lagu apaan? Mau baca namanya aja sudah bikin lidah keserimpet.
Kenapa nggak ngomongin Armand Maulana kek, Westlife kek, Ungu kek, atau siapa
lah, yang penting Ciya kenal.
Getaran SMS dari HP di saku roknya membuat Ciya tersadar bel
istirahat panjang sudah berbunyi sejak tadi. SMS dari Aldy. Ntar bisa pergi
sebentar? Ciya langsung membalasnya. Lho, elo gank ada bimbel buat UAN? Ada,
tapi mau bolos aja. Ada yang mau diomongin. Boleh? Blh dong. Tp kl lo gak lulus
UAN, gue ngak ikutan ya? Sip, bos. Gue jmpt plg sklh ya? Ok d.... Asala jngn
plg mlm2 ya? Ada oom ama tante. Gak enak kl plg mlm.
Tulisan delivered tertera di layar. Ciya langsung
menghapusnya dan menaruh kembali HP-nya di saku.
Natya menarik bangku dan duduk di sampingnya. Dari
tampangnya aja, Ciya sudah tahu kalau si ratu gosip ini pasti mau nanyain kabar
terbaru tentang cewek cantik berpostur tinggi langsing yang dilihat Viktor
dengan mata berbinar-binar kemarin siang. "Eh, lo kenapa? Tampang lo kusut
amat? Ulangan tadi nggak bisa ya? Udahlah, nggak udah dipikirin. Gue juga nggak
bisa kok tadi."
Lho, ternyata salah. Sahabatnya ini lebih memperhatikan
dirinya dibanding memperhatikan Sha- Sha. Ciya jadi menyesal telah mengira yang
bukan-bukan. "Oh ,iya.... Gimana tuh Sha-Sha sama Rico?" Jeng....
jeng.... Ciya jadi membuang kembali semua penyesalannya. Dasar cewek
menyebalkan! Gerutunya. Ciya melihat dari ujung matanya Angga dan Viktor menuju
meja Rico. Pasti mau nanyain soal Sha-Sha deh. Huh! "Heh! Ditanyain malah
bengong!" Natya merengut. Namun, sedetik kemudian dia meluncurkan senyum
nakal dan berbisik ke telinga Ciya. "Kenapa? Merasa ada saingan ya?
Makanya, kalo suka tuh bilag aja. Jangan sok malu-malu. Ntar ujung-ujungnya
malah malu-maluin. Tenang aja, Ci, elo juga nggak kalah cantik dibanding
Sha-s.... aww...." Ciya mencubit tangan Natya keras-keras sebelum ratu
gosip itu berlakar lebih jauh lagi. "Mau ke
kantin nggak? Gue laper nih," sungut Ciya sambil
ngeloyor pergi.
***
Suara pantulan bola basket menggantikan suara musik yang
menemani Rico siang ini. Dia duduk di bangku paling atas. Memperhatikan cowok-cowok
kelas 3 IPA 1 tanding dengan cowok-cowok kelas 3 IPS 2. Suara teriak supporter
yang kebanyakan cewek terdengar membahana di lapangan tanpa atap itu. Rico
sendiri saat ini berharap suara-suara ingar-bingar di sekelilingnya bisa
menutup suara cewek yang terdengar semalam tadi.
"Aku bilang kalau aku pasti pulang...." Sha-Sha
tersenyum di sisinya. Menikmari malam dengan mengobrol di ayunan kayu di taman.
Mama dan Papa pasti sudah tidur. Saat makan pun mereka hanya berbicara
basa-basi. Kebiasaan yang memuakkan, desis dalam hati. Tidak pernah benar-benar
ada komunikasi. Pulang semaunya, pergi seenaknya. Ciya juga tidak ada di balkon
seperti biasanya. Rico tahu cewek itu pasti belum tidur karena lampu kamarnya
masih menyala terang benderang.
Rico menatap Sha-Sha. Rambutnya dicat warna burgundy dengan
potongan layer yang dinamis. Wajahnya mulus dengan sapuan make-up tipis.
Pinggangnya ramping dan bodinya seksi. Kulitnya putih sehalus sutra. Inikah
Sha-Sha yang dikenalnya? Terlalu cantik.... "Ehm... Kamu kenapa bisa
pulang bareng Nyokap.... Maksud gue.... Eh, maksudku kenapa bisa pulang bareng
mamaku?" ucap Rico tersendat. Dia khawatir Sha-Sha sudah lupa bahasa
Indonesia karena terlalu lama tinggal di Taiwan, sehingga dia memutuskan
memakai bahasa Indonesia yang formal.
Sha-Sha tertawa terenyah. Lesung pipinya terlihat jelas.
Cuma orang buta yang bisa menahan godaan melihat kecantikannya. Rico sendiri
merasa jantungnya berdebar-debar. Bagaimanapu, inilah cinta pertamanya....
Mimpinya.... Penantiannya.... "Memang perjanjiannya kan begitu...."
"Perjanjian?" Rico mengerutkan dahi. "Kamu nggak tahu?"
tanya Sha-Sha heran. Rico menggeleng. Sha-Sha mengangkat alisnya. "Papaku
dan papamu mengadakan perjanjian sebelum aku berangkat ke Taiwan. Saat aku
sudah berumur enam belas tahun, papamu akan kembali menjemputku ke sini. Aku
kan tunanganmu." Whaattt??? Apa tadi dia bilang? Tunangan? Sejak kapan
mereka bertunangan? Sha-Sha kembali memamerkan tawanya. "Makanya aku
bilang aku pasti akan kembali. Karena...." Sha-Sha mengerling manja.
"aku sayang kamu."
Rico tersentak saat ada bola yang melayang ke arahnya. Duk!
Bola itu sukses mendarat di kepalanya. "Eh, sori.... sori....," ujar
Joni, si pelempar bola yang terlalu bersemangat sehingga melenceng keluar
lapangan. "Nggak papa.... Nggak papa....," ujar Rico saat cewek-cewek
berusaha mengerubutinya untuk melihat luka di kepalanya. Kapan lagi bisa
deket-deket sama cowok ganteng? Mungkin begitu pikir mereka. Dengan susah
payah, akhirnya Rico berhasil meloloskan diri, berjalan ke gim. Tidak ada orang
di sana. Rico duduk di anak tangga panggung. Pikirannya benar-benar kacau
sekarang. Tunangan?
Dia sama sekali tidak punya pikiran ke arah sana!
Bisa-bisanya papanya kembali memutuskan sesuatu yang vital tanpa memberitahunya
dulu.... Untuk kesekian kalinya.
"Emang apa masalahnya?" tanya Henry dengan rambut
acak-acakan habis bangun tidut saat anaknya masuk ke kamar pukul lima pagi dan
mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan Fatma saja masih tidur.
Hah? Masalahnya apa? Bisa-bisanya Papa cuma bilang
masalahnya apa? Halloo!!! Dia itu ditunangkan dan papanya hanya bertanya apa
masalahnya? Itu masalahnya! Emang dipikir sekarang ini zaman apa? Siti Nurbaya?
Apa belum cukup cerita itu menerangkan tentang penderitaan orang yang dijodohkan
sepihak oleh orangtua? Rico menggeram. Bisnis apa lagi ini? "Dia itu
menyukaimu, kan? Dan bukannya kamu juga mati-matian cinta sama dia sampe-sampe
kamu bilang sama Papa bakal nyusul ke Taiwan?" Rico berdecak. Kamuflase!
Umpatnya kesal. Bilang aja iyu perjodohan bisnis! Demi menggabungkan dua
persahaan terkenal skala internasional. Bilang aja demi menguasai perekonomian
dunia sebanyak-banyaknya. Walaupun begitu, perkataan papanya tadi ada benarnya.
Toh Sha-Sha memang cintanya, bukan? Satu-satunya orang yang pernah mengisi
hatinya yang terdalam. Pernah.... Apa iya cuma sekadar pernah?
Rico membaringkan tubuhnya di lantai panggung. Dia
benar-benar pusing sekarang. "Hei...." suara seseorang menyentaknya.
Rico mendongak melihat Henny berdiri di sampingnya. Rico kembali mengambil
sikap duduk bersila. Henny itu teman sekelas sekaligus cewek yag sering
diceritakan Christian yang naksir berat sama Rico sejak kelas 3 SMP.
"Masih sakit?" Henny menunjuk-nunjuk kepalanya. "Apa? Oh...
Nggak kok. Udah nggak papa," ujar Rico sok cool.
Henny mengambil tempat di samping Rico, kemudian menatap
mata cowok itu dalam-dalam. "Kalau kamu ada masalah, bisa kok cerita sama
aku." Rico menyeringai. Dasar cewek! Pendekatannya jelek amat. Pake
aku-kamu lag. Ditatapnya balik cewek itu. Hmm.... Not bad... Tidak secantik
Jesse sih, tapi juga tidak jelek. Manis juga. "Lagi kesel?" tanya
Henny lagi setelah nggak mendapatkan jawaban. "Butuh sesuatu?" Rico
mengangguk. "Iya, mending lo beliin gue Pocari gih. Gue suntuk." Rico
menyerahkan selembar sepuluh ribuan dari saku seragamnya. Henny memandang uang
itu. Tapi tangannya malah mendorong balik tangan Rico ke tempatnya semula. Dia
mencodongkan tubuhnya ke tubuh Rico lalu berbisik," Mau aku kasih sesuatu
yang jauh lebih menyenangkan dibanding Pocari?" Cewek itu tersenyum genit.
Mendekatkan wajahnya.... Semakin dekat.... Dan.... Bibir keduanya pun
bersentuhan. Cukup lama.... Ric mematung. Dia tidak mengelak, tapi juga tidak
membalas. "Lebih baik?" tanya Henny setelah melepaskan bibirnya.
"Lebih buruk," ujar Rico menghapus sisa lipgloss di bibirnya dengan
punggung tangan. Henny melotot. Tidak mengira akan jawaban yang diterimanya.
Mukaya merah padam menahan malu. Tersinggung. Rico kembali menyeringai.
"Lo kenapa sih?" "Mestinya gue yang tanya kenapa!" Henny
mendadak emosi. Dia sampai bangkit dan mukanya semakin merah menahan geram.
"Gue suka sama lo sejak kelas 3 SMP, bego! Masa sih lo nggak nyadar? Tiap
Valentine gue ngirimin lo cokelat. Tiap hari gue ngirimin lo SMS. Tiap lo ulang
tahun gue selalu telepon. Tapi kenapa lo malah milih si Jessica yang... Yang
goblok itu. Trus.... Kenapa juga lo malah pura-pura pacaran sama si.... Siapa
itu namanya.... Chi.... Chiara
itu. Yang udah jelas-jelas nggak ada bagus-bagusnya. Udah
jelek, kutu buku, nggal gaul...."
"CUKUP!" geram Rico. Dia berdiri dan mendekatkan
wajahnya dengan tatapan mata yang menyala-nyala. Cukup untuk membuat Henny
melangkah mundur. "Ja-ngan per-nah ngejudge orang da-ri penampilan luar!
Lo juga nggak sebagus yang lo kira!" jawabnya sinis. Rico kembali
membanting tubuhnya ke lantai. Kepalnya benar-benar pening sekarang.
"Sebenarnya....," ujar Rico setelah agak tenag. Henny masih mematung
di posisinya semula, tidak berani bergerak. ".... Kenapa lo bisa suma sama
gue?" Henny bengong menatap Rico yang kini juga sedang menatapnya.
Takut-takut dia melangkahkan kakinya maju dan kembali duduk. Dia memainkan
jari-jarinya, menimbang-nimbang sebentar. "Karena.... Elo cakep, elo baik,
elo.... Jago ngeband."
Rico tertawa mendengar alasan-alasan klise yang selalu di
dapatkannya dari semua mantannya. "Kalo tiba-tiba gue kecelakaan yang
bikin muka gue rusak, tangan gue buntung, dan jadi gila, apa li masih bisa suka
sama gue?" tanya Rico. Henny terdiam. "Nggak, kan?" Rico
mengembuskan napas panjang. "Itu bukan suka namanya, apalagi cinta. Cinta
itu nggak butuh alasan. Jika sebuah cinta membutuhkan alasan, ketika alasan itu
hilang, cinta juga akan hilang bersamanya."
***
"Nggak berhasil merayunya?"
Jesse dan Christian tak jauh dari pintu gim yang terbuka.
Sudah sejak setengah jam yang lalu mereka nongkrong di sana. Henny melongo,
merutuki nasibnya yang hari ini sial nggak jelas. Mukanya pucat pasi sekarang.
Walaupun Jesse sudah bukan pacar Rico lagi, ketenaran labrakannya yang bikin
orang sakit jantung tetap menggema. "Lo nggak bakalan mungkin ngedapetin
dia," cetus Christian. "Dia itu bukan lagi cowok playboy yang demen
sama cewek murahan kayak lo." Henny mendelik marah tapi tak berani melawan.
"Dan lo tahu... Siapa yang bisa ngubah dia kayak gitu?" tanya Jesse.
"Dia.... Cewek yang lo bilang nggak gaul, kutu buku, dan jelek itu."
Glek! Henny memucat. Tamatlah riwayatnya. "Dan gue juga denger kok waktu
lo bilang gue goblok." Matilah.... Benar-benar mati kali ini, rutuk Henny
dalam hati.
"Cepat pergi dari sini kalau mau selamat!"
perintah Jesse. Henny melongo. Dirinya selamat! Ya Tuhan, dirinya boleh pergi.
Tanpa harus menunggu diusir lagi, Henny cepat-cepat ngacir dari sana. Jesse dan
Christian saling pandang. Kemudian mereka melangkahkan kaki ke pintu gim,
melongok Rico dari sana. Christian ingin melangkah maju saat Jesse menahannya
sambil menggeleng perlahan. "Dia lagi bingung.... Biarin deh dia berpikir
dulu." Sejak melihat Sha-Sha kemarin, mereka mengerti beban apa yang ada
di pundak Rico. Namun, tak ada yang tahu seberapa berat beban itu. Hanya Rico
sendiri yang mengetahuinya.
Komentar
Posting Komentar