Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 23 |


part* 23 
"Kenapa?!" tanya Sha-Sha lebih keras setelah sekian lama tidak menerima jawaban. Sha-Sha tidak peduli dengan tatapan Rico yang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Yang ada, dia jutru benci tatapan itu. Tatapan yang membuat dirinya terasa dikasihani. "Kenapa?!" Sha-Sha mengguncang-guncang kaus Rico dengan suara serak. Tangisya pecah. 
Sudah cukup semua kesabaran yang selama ini terus-terusan dihamburkannya keluar. Sudah cukup selama ini dia hanya diam. Dia sudah tidak sanggup lagi terus-menerus berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti apa-apa. Sudah cukup waktu yang diberikan untuk menjadi cewek baik-baik yang selalu percaya pada calon tunangannya. Yang selalu tersenyum padahal setiap hari luka demi luka terus tertoreh di hatinya. Sabar? Percaya? Pergi saja ke neraka! 
Entah berapa lama Sha-Sha menangis. Entah berapa lama Rico harus mematung dan membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya sampai Sha-Sha kembali tenang. Yang jelas, Rico merasa....saat itu adalah saat terlama dalam hidupnya. Merasa seluruh perasaannya tidak berdaya dipompa keluar. Membuat semua perasaan bergejolak di perutnya. 
Rico melepaskan pelukannya, memandang Sha-Sha dalam diam. Memunculkan keberanian untuk mengungkapkan sebuah akhir.....atau mungkin awal mula.....dan sebuah waktu. Rico menyayangi gadis ini. Hanya saja, tidak bisa dipungkiri, telah muncul sosok lain yang memberikan kisah baru bagi dirinya. Dan orang itu....bukan lagi gadis kecilnya dulu. Bukan orang yang sama.... Bukan Sha-Sha. "Dulu gue sayang banget sama lo...," ujar Rico pelan, memandang wajah Sha-Sha yang masih terisak. "Tapi....saat ini terlalu banyak yang berubah." 
Sha-Sha terkesiap mendengarnya. Merasa inilah klimaks yang mau tak mau harus didengarnya. Klimaks yang mungkin akan semakin menggerogoti sakit hatinya. Dia terluka. Dan masih harus kembali terluka. 
Sha-Sha mendongak memandang jauh ke dalam mata Rico. Berusaha menemukan hari kemarin yang masih tersisa. Berusaha mengais apa pun yang mungkin masih dapat dia raih. Tapi ternyata hampa.....tidak ada apa pun di sana. Selain perasaan bersalah yang menyeruak seiring kata demi kata yang mengalir perlahan dalam penyesalan. "Gue punya seribu alasan kenapa gue suka sama lo," ujar Rico. "Sampe sekarang pun alasan itu masih ada.....dan tetap akan selalu ada." 
"Lalu kenapa kamu nggak pakai semua alasan itu untuk tetap suka sama aku!" teriak Sha-Sha. "Kamu tahu nggak, berapa lama aku menunggumu? Kamu tahu nggak, aku sekali pun nggak pernah kepikir untuk suka sama orang lain selain kamu? Kamu tahu nggak, berapa banyak waktu yang aku habiskan buat itu semua?" Sha-Sha mengacungkan tangan kanannya ke dada Rico. "Five years, Ric! Lima tahun aku nungguin kamu! Lima tahun!! Dan kamu pikir apa pernah aku ngelupain kamu? Aku pernah sedetik pun aku nggak mikirin kamu?" Sha-Sha menggeleng kecewa. "Nggak pernah, Ric! Sama sekali!" 
"Apa lo pikir gue juga pernah ngelupain lo?" Rico mengguncang bahu Sha-Sha. "Apa lo pikir gue hidup senang di sini sementara lo di sana?! Karier gue hancur juga karena lo! Lo pikir kenapa gue nggak pernah konser lagi? Lo pikir kenapa gue nggak pernah main piano lagi? Lo pikir kenapa gue bisa pacaran dengan segitu banyak cewek tanpa ada satu orang pun yang gue suka?" Rico memandang lurus ke bola mata Sha-Sha, mencoba menemukan pengertian di sana.
"Semua karena lo, Sha! Karena gue sangat kehilangan lo! Lo bisa nungguin gue karena lo tahu soal pertunangan kita! Tapi gue?! Gue sama sekali nggak tahu apa-apa! Yang gue tahu cuma lo pergi niggapin gue tanpa pernah ada kabarnta lagi dan gue pikir kita udah selesai! Finish!!" 
Sha-Sha terpekur mendengar semua ucapan Rico. Air matanya mengalir begitu saja an tubuhnya merosot ke lantai. Sha-Sha menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana sementara bahunya berguncang pelan. "Sha...." Rico mengelus rambut Sha-Sha. "Tapi kamu tunanganku, Ric...." 
Hanya empat kata yang mampu keluar dari mulut Sha-Sha saat ini. Selebihnya hanya terdengar isakan pelan. Sha-Sha bahkan tidak peduli kalau Rico baru saja memeluknya, membiarkannya menyusup di sela bahunya. Dia juga tidak mendengar ketika Rico mengatakan maaf tepat di telinganya. Berkali-kali..... 
*** 
Aldy memarkir mobilnya di tepi pantai. "Ngapain lo ngajak gue ke sini?" tanya Ciya, melepas sabuk pengamannya dan berjalan mengikuti Aldy, lalu duduk di sebatang pohon yang tumbang. Ciya memandang Aldy tak mengerti sambil memainkan pasir dengan ranting pohon yang tergeletak di sebelah kakinya. Ciya tahu, mungkin saja Aldy masih marah soal tempo hari, tapi hari ini Aldy jadi terlalu diam. "Masih marah ya, Yo?" tanya Ciya pelan. "Kan gue udah minta maa...." "Gue ngajak lo ke sini bukan buat ngomongin itu kok," potong Aldy, memandang ke laut lepas. Dia mengembuskan napas panjang. "Masih inget nggak kapan terakhir kali kita ke sini?" 
Lewat pertanyaan Aldy yang terakhir, Ciya tahu Aldy bukan memandang laut yang sekarang. Tapi laut tiga tahun yang lalu. Laut yang masih menggemakan suara Billy. Laut yang masih menjadi saksi kebahagiaan tiga sahabat yang sedang berlibur. Laut yang mendengar pertanyaan "Gue sayang sama lo!" yang pertama kalinya dari mulut Billy. Laut yang menemani kemunafikan Aldy untuk menerima hubungan kedua orang itu. 
Ciya menarik napas panjang, memandang lurus ke arah kapal yang mulai terlihat seperti titik kecil. "Kalo yang lo maksud soal Billy," Ciya berujar pelan, "gue udah bisa nerima semuanya kok, Yo." Aldy menatap Ciya, seakan Ciya baru saja mengeluarkan pertanyaan aneh. 
Ciya tersenyum memandang awan. "Dia memang pernah hidup.... Dan dia akan terus hidup di sini." Ciya meletakkan telapan tangannya ke dada. "Selamanya dia akan menjadi kenangan yang terindah buat gue. Walaupun mungkin nggak bisa disentuh, tapi kenangan itu masih bisa dibuka sewaktu-waktu. Ingatan mungkin bisa hilang seiring berjalannya waktu. Tapi waktu nggak bakal sanggup buat menghilangkan perasaan gue ke dia. Waktu cuma sekadar membuat kata tamat tentang kisah gue dan Billy." Ciya memandang Aldy. "Bener, kan?" 
Aldy tidak menjawab. Dia masih memandang ke arah batas cakrawala. Berharap dia dapat melihat sekilas..... Sekilas saja bayangin Billy di sana dan menceritakan semua hal. Billy, sejak kapan gadis kecil kita menjadi dewasa ini? Apa dia masih sanggup menerima kenyataan pahit sekali lagi? Mestinya elo yang ada di sampingnya saat ini! Mestinya elo yang bertugas menceritakan ini! Gue nggak tahu apa gue masih sanggup buat mencegah Ciya bertindak konyol
lagi...... "Yo....," panggil Ciya lagi. "Sebenernya ada apa sih?" "Sebenernya.....," Aldy terdiam sejenak, "....beberapa hari yang lalu gue pergi ke tempat bokap lo...." "Apa?!" Ciya bangkit. Emosi mulai menghantui pikirannya. "Ngapain lo cari bokap gue? Masih belum cukup apa dia ngancurin hidup gue? Dia itu bokap kandung gue, Yo! Dia nggak pernah nganggep gue anaknya! Dia itu...." "Dia udah meninggal!" Apa?! Ciya terbelalak. Tadi Aldy bilang apa?! 
Aldy menundukkan kepalanya dalam-dalam, seakan seluruh keberaniannya tersedot jauh ke dalam hatinya. Seakan dia tidak sanggup lagi menghadapi semua hal yang akan terjadi di depan matanya. "Dia udah meninggal, Ci....," ujar Aldy lirih. 
Kata-kata yang diucapkan Aldy barusan seperti petir di kepala Ciya. Membuat dirinya serasa lupa ingatan selama beberapa detik. Semua kata yang ingin dia ungkapkan sebelumnya terasa tercekat di tenggorokan. "Tadi...." Ciya mencengkeram kaus Aldy. Memaksa cowok itu mendongakkan kepalanya lagi. "Lo bilang apa?" "Mungkin bokap lo ada di salah satu sisi di laut ini." Aldy mengalihkan pandangannya ke laut. "Abunya dibuang di sini...." "Lo ngomong apa sih, Yo?" tanya Ciya terbata lalu beranjak pergi. "Gue mau pulang....." "Ciya!" Aldy menarik tangan Ciya. "Denger gue!" "Nggak mau!" bentak Ciya, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. "Ayo, Yo! Pulang aja! Gue nggak mau di sini." "Ciya...." Aldy menatap Ciya dengan pandangan memohon. "Gue juga syok waktu denger soal ini, tapi bokap lo udah meni...." 
"NGGAAKK!!!" teriak Ciya. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. "Lo juga denger sendiri kan waktu itu bokap gue bilang dia cuma mau pergi dari rumah? Dia nggak mau ketemu gue lagi! Dan sekarang dia udah nggak pernah ketemu gue lagi. Jadi dia pasti bisa hidup bahagia lagi bersama keluarga barunya." "Ciya....," gumam Aldy lirih. "Sekarang baru jam tiga sore. Dia pasti sekarang lagi kerja di kantornya." 
"Ciya....." "Lo pasti salah...." "Ciya...." "BOHOOOONNGG!!!" Tangis Ciya meledak. "BOHONG!" Ciya memukul Aldy. "LO PASTI BOHONG!" ujar Ciya serak, mengguncang-guncang bahu Aldy. "LO BOHONG, KAN? IYA, KAN?!? BILANG SAMA GUE KALO LO BOHONG!!" 
"Ciya...." Aldy memeluknya. "Oom Frans udah meninggal. Bokap lo dah nggak ada," bisik Aldy pelan....sangat pelan. Tapi bisikan itu lebih tepat dikatakan sebagai pengganti ribuan batu yang menggencet kepala Ciya saat ini. Semakin pelan Aldy bicara, semakin dalam batu-batu itu menggencet kepalanya. 
Mungkin seandainya masih ada hal lain yang dapat diharapkan Ciya, dia pasti akan berharap
tiba-tiba ada kamera dan reporter yang keluar dari balik pohon kelapa, lalu memberitahu ini cuma sekadar reality show aneh yang nggak penting. Dia pasti berharap Aldy akan tertawa sambil teriak "Gotcha!!!!" seperti yang sering dilakukannya dulu. Berharap Aldy akan memukul kepalanya dan mengatainya bodoh karena percaya begitu saja dengan sandiwara yang dia buat. Ayolah! Apa saja! "Maaf, Ci....," ujar Aldy di telinga Ciya. "Maaf kalo gue ngasih lo kabar yang menyakitkan lagi...." Ciya mengempaskan tubuh Aldy, lalu berlari ke arah laut. "Ciya!!" teriak Aldy mengejarkan di belakang. Takut gadis itu melakukan sesuatu yang aneh-aneh lagi. Tapi Ciya berhenti ketika air laut mencapai lututnya. "PAPAAA!!!" 
Tangannyamengambil segenggam pasir lalu melemparkannya kasar ke tengah laut. "PENGECUT!!" teriak Ciya sekencang-kencangnya. "JANGAN CUMA SEMBUNYI DI BALIK AWAN, PA! KE SINI!! KALO PAPA EMANG MARAH SAMA CHIARA, CEPET KE SINI! PAPA BOLEH MAKI-MAKI CHIARA! PAPA BOLEH PUKUL CHIARA! CEPET KE SINI, PA! JANGAN SEMBUNYI LAGI! CEPET KE SINI!!!" 
Tapi hanya suara ombak yang menjawab semua tantangannya. Ciya jatuh terduduk. Menangis sejadi-jadinya. 
Aldy menatap Ciya nanar. Dia memandang ke arah langit, memastikan seluruh awan memandang gadis kecilnya yang berduka. Apa belum cukup takdir mempermainkan kebahagiaan cewek ini?

Komentar