Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 12 |


part* 12 
Akhir Kisah 
Saat serpihan perlahan menghilang.... Itu pasti karena waktu.... 
ONLY TIME-nya Enya mengalun sendu. Membuat gelisah Ciya semakin menjadi-jadi. Sinar bintang yang biasanya menentramkan hatinya hari ini serasa tidak berfungsi. Ciya memandang diary biru di hadapannya. Diary yang terakhir kali ditulisnya pada saat kematian Billy. Diary yang sejak hampir dua tahun yang lalu hanya disimpan di laci meja belajar tanpa pernah tersentuh. Diary yang memuat semua kenangan dan ingatannya... Hanya tentang Billy. 
Perlahan dibukanya halaman demi halaman. Diperhatikannya setiap ukiran tinta dan potongan- potongan foto. Sesekali bibirnya tersenyum tipis saat membaca beberapa baiy puisi yang ditulisnya sendiri. 
Ciya memang lebih suka mengungkapkan isi hatinya lewat untaian bait dibandingkan bernarasi. Kesannya keren, kilahnya saat Billy tanpa sengaj memergokinya sedang membuat puisi waktu itu. 
_Jika sesuatu itu bisa seaneh cinta _Berlari ke mana pun.... _Akan buntu oleh untaian angin _Jika kehidupan itu adalah jalan tanpa ujung _Akankah ada cabang yang berbeda _Untukku dan untuknya? _Jika harapan tak lagi ada _Masihkah boleh mengharapkan keajaiban? _Berpaling untuk menemukan serbuk peri _Atau semanggi berdaun empat.... _Jika waktu hanyalah detik yang berputar _Ingin kekacaukan mesinnya agar diam _Memutar jarumnya pada sebuah masa lalu _Jika perpisahan selalu akhir dari pertemuan _Apalah arti sulaman panah cupid? _Jika kemarin menjadi terlalu sempit _Haruskah aku mengejarnya? 
Itu puisi terakhir yang dibuatnya di hari kematian Billy. Puisi yang terakhir kalinya ditulisnya, sekaligus menjadi puisi yang mengisi halaman terakhir diary-nya. 
Akhirnya, semua memori yang selama ini dipendamnya rapat-rapat kembali muncul dan berputar ulang di depan matanya. Di hadapannya seperti terbentang sebuah layar lebar yang menayangkan seluruh masa lalunya. Akhirnya, isi kotak yang di simpannya dalam ruangan tertutup itu berhasil meloloskan diri. Di saat dia berpikir telah berhasil mengubur semuanya dalam-dalam, muncullah orang yang bisa menyambung kunci yang telah dia patahkan. Orang yang sama sekali tidak pernah terduga sebelumnya.... Rico. 
Masih berbekas dengan jelas di matanya, bagaimana pertahanannya runtuh saat menemukan Billy yang telah tak bernyawa. Dengan mata tertutup pun, dia bisa membayangkan bagaimana rapuhnya dia saat tahu orang yang paling dicintainya pergi begitu saja. Masih tersisa rasa sakit hati yang selalu menggerogoti hari-harinya saat harus hidup tanpa Billy. Juga, bagaimana penderitaan bundanya saat harus menghadapi kenyataan yang tergelar untuk mereka berdua. Dia masih ingat bagaimana suasana hatinya saat menulis puisi tadi. 
Sudah tidak terhitung banyaknya air mata yang keluar. Bagaimana penyesalan merobe-robek hatinya. Bagaimana perasaan limbung yang menghantui emosinya. Bagaimana perasaan menyerap semua harapannya yang bersisa. Bagaimana inginnya dia memutar ulang waktu dan membuat dirinya bisa mencegah Billy saat itu. Bagaimana perasaan kehilangan menusuk jantungnya beratus-ratus kali. Bagaimana dia mengharapkan adanya bintang jatuh yang bisa melemparnya ikut ke luar angkasa.... Menjauh dari semua kepenatan yang ada. 
Tadinya dia pikir Billy adalah satu-satunya hal yang akan menghantui dirinya sampai kapan pun. Dia pikir Billy satu-satunya orang yang bisa dia cintai. Tapi saat ini.... Semua itu hilang. Tidak ada lagi perasaan sedih saat membaca semua itu, tidak ada lagi perasaan gelisah yang mengetuk hatinya dan tidak ada lagi perasaan kecewa yang sama. Dia merasa puisi itu hanya sebatas kata-kata yang tergores indah. 
Apakah dia sudah bisa menjadikan Billy sebagai kenangan? Apakah kisahnya dan Billy sudah mencapai kata The End? Ciya menutup diary-nya dan memandang awan yang hitam legam. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? "Hei...." Ciya terperanjat saat Rico tiba-tiba melongokkan wajah di hadapannya. "Tiap kali masuk kamar orang kenapa nggak ketok pintu dulu sih?" umpat Ciya sambil melotot. "Udah ketok kok dari tadi. Elonya aja yang budek," kilah Rico sambil menyandarkan tubuhnya di balkon. 
Dipandanginya Ciya lekat-lekat. Tanpa berkata apa pun, Rico tahu apa yang ada di pikiran cewek itu. Malas rasanya mengakui kalau seorang playboy terpandang seperti dirinya___Rico kadang- kadang emang najis kok___kalah telak oleh seseorang yang sudah tidak kasatmata. Rico mendengus. Kenapa sih cowok itu tidak membiarkan saja Ciya bebas? Tok mereka sudah beda dunia. Kenapa masih saja mengendap di pikiran cewek ini? Dan yang membuatnya lebih malas lagi untuk mengakui adalah dirinya memang benar-benar telah jatuh cinta pada cewek ini. Cewek yang sama sekali jauh berbeda dengan tipe cewek kriterianya. "Elo nggak niat buat nyari bokap lo?" tanya Rico setelah mereka hening sesaat. Dia teringat akan pembicaraannya dengan Aldy tadi siang. Tentang satu-satunya orang yang tersisa dari masa lalu Ciya. 
Ciya terlihat tidak menduga pertanyaan yang terlontar dari mulut Rico. Buktinya dia sempat mengernyitkan dahi dan membuka mata lebar-lebar. "Buat apa?" Rico menelengkan kepalanya. "Dia kan bokap lo...." "Bokap gue?!" Ciya mendadak emosi. "Bokap macam apa yang ninggalin keluarganya gitu aja? Bokap macam apa yang nggak punya tanggung jawab? Apa lo pikir kalo gue nemuin bokap gue, dia bisa memperbaiki kesalahannya? Apa lo pikir dia bisa menghidupkan Billy sama nyokap gue lagi? Kalo emang bokap gue masih
realistis, dia nggak perlu ninggalin keluarga gue hanya karena gue anak hara. Apa dia pikir gue bisa milih mau dilahirkan jadi anak siapa? Apa dia pikir gue salah karena gue bukan anak kandung dia? Gue juga nggak mau jadi anak haram, gue juga nggak jadi anak yang nggak ngerti siapa bokap kandung gue sebenarnya. Tapi apa adil kalo dia menghukum gue dengan membuat semua orang yang gue sayangi pergi dari gue?" Selaput bening mulai menggantung di sisi luar bola mata Ciya. "Satu lagi.... Gue nggak butuh bokap PENGECUT!" Kata terakhir itu terasa menggaung di telinga Rico. Dan bola mata itu tidak mampu lagi menampung kristal-kristal bening yang menyeruak keluar. Ciya menangis. 
Rico merengkuh cewek itu dalam pelukannya. Baru pertama kali ini Rico melihat Ciya sungguh- sungguh menangis di hadapannya. Biasanya cewek itu terlalu angkuh untuk mengeluarkan air mata. "Jangan peluk gue!" bentak Ciya sambil menghapus air matanya dengan kasar. "Kalau dipeluk, malah nggak bisa berhenti nangisnya." Rico tertawa kecil. Cewek ini.... "Kalo mau nangis, nangis aja. Tampang lo tuh udah jelek. Mau nangis apa nggak nangis, jeleknya tetep sama." 
Ciya merengut. Mendengar kata-kata tadi, dia kehilangan mood menangis. Gantinya, dia balik bertanya. "Lo nggak kaget?" "Hmm??" "Lo nggak kaget waktu gue bilang kalo gue anak haram?" "Gue tahu kok," Rico nyengir, "tadi gue nanya sama Aldy. Dia cerita semuanya tentang eli, Billy, bokap lo, nyokap lo, tentang semuanya. Soalnya kalo gue nanya sama elo, pasti gue malah dibentak-bentak." "Lo... Ketemu sama Aldy cuma buat nanyain itu?" "Ya nggak juga, tapi salah satu faktornya ya.... Itu." 
*** 
Dua nisan putih..... Hari ini Ciya bolos sekolah. Tadi pagi dengan suksesnya dia membohongi Rico dan Aldy sehingga mereka percaya dirinya sakit beneran. Jadi.... Di sinilah dirinya saat ini. Billy Hermawan.... Merina Hermawan.... Berulang kali Ciya membaca tulisan yang tertera pada kedua nisan itu dan hasilnya tetap sama. Billy Hermawan dan Merina Hermawan. Tidak terbayang olehnya, ada dua tubuh yang tertidur di dalam sana. Di dalam sekotak batu yang hanya berhiaskan tanda salib di atasnya. 
Tangan Ciya gemetar saat meletakkan satu buket lily putih di makam mamanya. Sekilas dilihat, cewek itu tampak seperti orang kedinginan. Sudah lewat setengah tahun sejak terakhir kali dia datang ke sini. Dan selama itu sudah banyak hal terjadi. "Ma, aku datang...." Ciya berlutut di sisi makam. Tangannya terulur merayapin foto hitam putih seorang wanita yang sedang tersenyum. Wajah yang selalu terlihat lelah. Sekaligus wajah yang selalu memberinya ketenangan. 
Selama setengah jam dihabiskannya untuk berceloteh tentang kehidupannya saat ini. Mulai dari kepindahannya, rasa depresinya, kehidupannya yang mulai menjadi lebih baik, kesedihannya kegembiraannya, dan emosinya.
Dia mengakhiri kalimatnya dengan tiga patah kata, yang bila didengar para bunda mana pun di dunia ini pasti akan merasa lega setengah mati. "Ma, aku bahagia...." 
Kemudian Ciya berpaling pada nisan sebelahnya dan meletakkan setangkai mawar putih. Sebenarnya ini salah satu alasan kenapa Ciya sangat menyukai bunga itu. Mawar putih adalah bunga pertama yang diberikan Billy kepadanya. Satu-satunya benda yang tidak mampu dia lepaskan. 
Jemari Ciya menyentuh permukaan tulisan di atas nisan yang mulai berdebu. Memandang foto cowok berusia 18-an itu dengan tatapan campur aduk sebenarnya alasan utama Ciya ke sini hari ini untuk memastikan perasaannya yang sesungguhnya. Baik tentang dirinya maupun tentang Billy. Dia tidak ingin lagi tenggelam dalam semua ketidakpastian yang membuatnya sangat lelah. 
Ciya menyebut nama Billy dengan gumaman tak jelas. Kemudian tercipta keheningan yang lama. Sangat lama.... 
Entah apa yang ada di benak Ciya. Dia hanya duduk diam di sampihg nisan dengan pandangan terarak pada langit. Tak ada air mata menetes di pipinya, juga tak ada mimik wajah menahan tangis yang menyayat luar biasa. Di wajahnya hanya Tersungging senyum tipis yang samar. "Billy, terima kasih." lagi-lagi hanya tiga kata yang terucapa sebelum akhirnya Ciya melangkah meninggalkan tempat itu. Senyumnya masih melekat dan ayunan kakiya menyatakan bahwa semua bebannya memang seharusnya dia tinggalkan. 
*** 
Sesosok siluet memandang Ciya dari jauh. Tapi tidak cukup jauh untuk dengan jelas memperhatikan gerak-gerik dan semua ucapan Ciya. Aldy..... Dia berjalan mendekati makam Billy sesaat setelah Ciya pergi, lalu jatuh terduduk. Tanpa Ciya mengucapkan sesuatu pun, Aldy cukup mengerti apa arti senyuman itu. 
Billy adalah kenangan.... Hanya kenangan... 
Hanya saja, bukan dia pengganti bukan dia yang ada di hadapan Ciya saat ini. Bukan dia pengganti kenangan tadi. Aldy tahu bukan dirinya yang bisa membuat Ciya mengambil keputusan sejauh ini. 
Aldy menyesal telah mengenal Ciya begitu lama. Seandainya dia baru mengenal Ciya minggu lalu, atau bulan lalu, dia bisa menjadi keledai dungu yang tidak mengerti apa pun. Jika rasanya juga pasti tidak akan sesakit ini. 
Benarkah ada sesuatu yang disebut takdir di dunia ini? Jika memang ada, akankah takdir itu menjadi begitu kejam? Membuat dirinya merasa dipermainkan, dengan harus menyerahkan gadia yang paling dia sayangi kepada orang lain. Bahkan untuk yang kedua kali..... 
Ruang gereja terlihat lengang. Hanya ada beberapa orang sedang berdoa di pojok dan beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu lantai. Suara lonceng terdengar samar-samar.
 Ciya melangkahkan kakinya ragu-ragu. Sudah berapa lama dia tidak pernah ke sini? Setahun? Dua tahun? Dia sendiri sudah lupa. Setelah tragedi itu datang, semuanya menjadi abu-abu. Bahkan dia sendiri ragu apakah Tuhan masih mengenalinya. 
Ciya berlutut di barisan bangku paling depan. Kepalanya menengadah ke patung besar Yesus di kayu salib yang tergantung di belakang altar. Jemarinya saling mengatup di depan dada. Doa kecil terucap lirih dari bibirnya. 
Tuhan, bicaralah padaku, inikah jalanku? Benarkah tindakanku? Tuhanku, jangan tinggalkan aku.... Jangan memintaku untuk memilih. Karena mereka semua sangat berarti.....                      

Komentar