Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 20 |
part* 20
Love You.... Hate You....
Penat itu kembali datang.... Kembali membuat hilang
keseimbangan dan jatuh tak terarah....
RICO mengempaskan tubuhnya ke sofa. Benaknya kembali
mengulang adegan di sekolah siang tadi.
"Kyo.... Ntar gue nginep di rumah Natya ya? Paling sampe
ulangan umum selesai." What??! Rico melotot mendengar permintaan Ciya.
Yang bener aja! Sampe ulangan umum selesai?! Itu kan dua minggu! Baru saja Rico
mau menolak, Natya sudah menarik tangan Ciya ke mobil Viktor. "Dah
Rico....," ujar Natya penuh kemenangan sambil mengedipkan sebelah
matanya.
Kalau tidak ingat ancaman Viktor saat di ruang
band___"Kalo sampe cewek gue kenapa-kenapa, jangan salahin gue kalo lo
bakal gue hajar!"___Rico pasti sudah membanting Natya ke tanah.
"Tenang aja, Ric. "Gue yang bakal ngajarin lo! Gue rela deh nginep di
rumah lo cuma buat ngajarin lo doang. Ciya udah janji kok bakal ngajarin gue di
rumah Natya. Jadi pulang sekolah, gue belajar di rumah Natya, malemnya gue
ngajarin elo di rumah elo. Oke!!" Hah?! Christian yang ngajarin? Nggak
salah?! Walaupun Rico juga nggak pinter-pinter amat, tapi ya ampun....
Christian itu kan ranking ke-20 dari 25 orang. "Heh! Lo merendahkan gue
amat sih?! Udah, si Viktor juga bakal gue suruh nginep di rumah lo. Tapi jangan
pernah berniat ikut belajar di rumah Natya! Bisa abis lo dicincang sama dia.
Lagian, maksud dia itu sebenernya baik kok. Manfaatin waktu dua minggu ini buat
mikir!"
Dan bukan alasan itu saja yang membuat Rico membanting
tubuhnya tadi.
Sepulang sekolah.... Baru saja menginjakkan kaki di rumah,
Rico sudah dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang sangat tidak disangka.
Mama dan papa Sha-Sha.
Ya tuhan.... Benar-benar mau mati rasanya. Bukan karena
pertunanga. Tapi mama dan papa Sha-sha tergolong makhluk yang sangat perfeksionis.
Dan sok romantis. Dan sangat cerewet. Begitulah menurut Rico setiap kali harus
berhadapan dengan Oom Ryan (papa Sha-Sha) dan Tante Elise (mama Sha-Sha).
Mereka selalu berkomentar tentang masakan yang agak___agak
lho, bukannya terlalu___asin, juga kalau menemukan sedikit___lebih tepatnya
sangat sedikit___noda yang menempel di bajunya. Dan macem-macem lagi deh.
Untung aja kedua orang tua itu memutuskan tinggal di hotel___hotel bintang lima
tepatnya. Kalo nggak, Bik Nah pasti selalu manyun. Pokoknya, Bika Nah sangat
tidak suka dengan mereka.
Mungkin salah satu hal yang patut di syukuri Rico adalah
mama dan papanya tidak banyak cincong seperti mereka. Seengaknya Henry dan
Fatma selalu menghargai apa yang telah dilakukan pembantu-pembantu mereka.
Sepertinya faktor itu jugalah yang membuat Bik Nah dan bibik lain-lainnya betah
kerja di sini.
Satu lagi, Ryan dan Elise sangat suka memamerkan kemesraan
di seantero jagat. Rico nggak
pernah menemukan mereka melepaskan rangkulan satu sama lain,
selalu berpandangan dengan penuh cinta, dan saling memanggil dengan kata-kata
seperti honey, darling, my love. "Bisa tolong ambilkan itu, honey?"
"Tolong pegang tasku, my love." Hiah.... merinding.
Se-playbot-playboy-nya Rico aja, nggak pernah tuh dia sayang-sayangan sampe
sebegitunya. Dan untungnya lagi, Sha-Sga menuruni bakat terpendam kedua
orangtuanya. Kalo nggak, mungkin Rico bakalan lari tunggang-langgang. Oh iya,
walaupun Ryan dan Elise tinggal di hotel, Sha-Sha tetap tinggal di rumah Rico
dengan alasan yang sangat-sangat standar: di hotel nggak ada piano buat
latihan. Terserahlah.... Yang penting kedua orang itu nggak ada di rumahnya,
Rico sudah bersyukur beribu-ribu kali.
Rico beranjak ke balkon dan menghirup udara malan
sebanyak-banyaknya di sana. Dia memandang ke balkon sebelah. Aneh rasanya tidak
menemukan Ciya di sana. Biasanya cewek itu pasti akan tersenyum sambil teriak,
"Liat tuh! Bintang aja lebih cakep daripada lo." Dan hari ini,
bintang pun seperti tidak mau mengalah untuk menemaninya.
Rico menarik napas panjang lalu mengacungkan telunjuk dan
ibu jarinya ke langit. "Billy!" teriaknya. "Gue nggak bakal
kalah sama lo! Gue nggak bakal ngalah sama lo yang cuma bisa ngasih setengah
dari bintang-bintang yang ada di dunia!!" Dan di saat yang sama, sebuah
SMS masuk. Apa pun yang tjd.... Gue nggak bakal nyerahin Ciya ke lo.....
***
"Masih nggak ada kabar, Ci?" tanya Natya dari
balik buku sejarahnya.
Ciya melemparkan HP-nya ke kasur. "Nggak ada. Sama
sekali nggak ada." Ciya melemparkan bukunya lalu tidur telentang di
samping Natya. "Ditelepon nggak dijawab. Ditelepon ke rumah juga selalu
ngggak ada. Di-SMS nggak pernah dibales. Ilang aja lah sekalian," gerutu
Ciya kesal. Baru kali ini dia melihat Aldy sekesal itu. Iya sih, emang kemarin
dia juga yang salah. Kalo dia nggak ngikutin ajakan Rico yang konyol itu dan
nggak bolos, Aldy juga nggak bakal semarah itu. Tapi kalo mau marah kan nggak
perlu sampe segitunya.
Natya menutup buku sejarahnya. Keningnya berkerut tanda dia
sedang berpikir. "Mungkin nggak ya..... Kalo Aldy bunuh diri?"
"Heh!!" Ciya melemparkan bantal tepat ke muka Natya, membuat cewek
itu jatuh terlentang. "Kalo ngomong jangan aneh-aneh!"
"Lho?" Natya balik melemparkan bantal ke muka Ciya sambil membetulkan
rambutnya yang kusut. "Siapa yang ngomong aneh-aneh? Itu kan cuma dugaan
gue. Lagian elo juga siih." "Lho?" Ciya melempar bantal lagi ke
muka Natya. "Kenapa jadi gue yang salah?"
Natya mendesis, lalu melempar bantalnya ke lantai.
"Semuanya tuh nggak bakal ruwet kayak gini kalo elo nggak plin-plan!
Masalah sepele kok dijadiin susah." "Ap...." "Apa?"
Natya memotong. "Mau bilang 'apa'? Hih.... Gue nggak ngerti deh. Elo itu
sebenernya pinter apa goblok sih? Apa sih, Ci, susahnya buat jujur sama diri lo
sendiri? Apa sih susahnya ngakuin siapa yang yang bener-bener ada di hati lo
saat ini? Aldy tuh udah cukup sabar buat nungguin lo! Lo mau dia nunggu berapa
lama lagi? Asal lo tahu.... Nunggu tuh bukan pekerjaan yang gampang. Menunggu
itu melelahkan lho."
Ciya mendesah.
"Lo nggak bisa nge-judge gue segampang itu. Semua tuh nggak segampang yang
lo pikir. Nggak segampang yang semua orang pikir." "Apa lagi? Gue
tahu lo masih nggak biasa terima soal Billy, tapi.... "Natya!" ujar Ciya setengah teriak.
"Gue udah bisa terima soal Billy. Gue udah ngerelain semuanya. Tapi justru
karena itu gue takut. Lo liat, semua orang yang gue sayangin itu pergi
ninggalin gue. Mulai dari bokap gue, nyokap gue, Billy, dan sekarang Aldy. Gue
nggak mau semua itu berjanjut, Nat. Gue takut ka...." "Mau sampai
kapan lo mikir konyok kayak gitu? Persoalah bokap lo, nyokap lo, dan Billy,
semua itu karena takdir, Ci. Bukan karena mereka sayang sama lol tapi justu
karena sikap nggak jelas lo itu maka Aldy pergi! Liat gue! Apa karena gue
sayang sama Viktor terus dia bakal ninggalin gue? Nggak, kan? Menghadaplah ke
depan, Ciya.... Belajarlah untuk lebih berani! Dan elo bakal tahu.... Segala
sesuatunya pasti bisa menjadi jauh lebih baik."
Komentar
Posting Komentar