Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 25 |


part* 25 
Too Much Love Will Kill You 
"KYO!!!" Ciya memukul perut Rico keras-keras tatkala dia terbangun dan mendapati cowok itu tidur di sebelahnya, di ranjang yang sama, dengan wajah Rico berada tepat dua senti di depan wajahnya, dan mereka berpegangan tangan erat-erat! 
Rico refleks bangun memegangi perutnya. Tapi bukannya menjelaskan semua kemungkinan yang terjadi, cowok itu malah memeluk Ciya erat-erat. "Ciya! Akhirnya lo sadar juga!" Rico menyodorkan sebutir tablet dan segelas air ke tangan Ciya. Ciya melotot. "Lo pasti mikir macem-macem lagi," gerutu Rico, memaksa tablet itu masuk ke mulut Ciya dengan tangannya. "Lo bisa apa sih selain bikin orang panik?! Gue sampe nggak tidur seharian, itu semua gara-gara lo!" 
"Panik apanya?" Ciya cemberut sambil merenggut gelas air dari tangan Rico. "Bukannya lo malah tidur dengan nyenyak di ranjan gue?" 
Rico mendelik. "Terserahlah.... Tahu gitu, gue biarin lo pingsan seharian," gerutu Rico sambil berjalan keluar kamar. "Eh! Tunggu!" Ciya menarik tangan Rico sebelum cowok itu sempat melangkah. "Kyo, ke pantai yuk!" "Hah?!" Ciya menunjuk jarum jam yang menunjukkan pukul setengah empat pagi. "Kita liat sunrise yuk!" "Haahh??" "Ayo!" Ciya menarik tangan Rico berjalan mengendap-endap keluar rumah. 
Tapi begitu mereka menuruni tangga, Ciya hampir berteriak membangunkan seisi rumah kalau saja Rico tidak menutup mulutnya, begitu melihat Aldy dan Sha-Sha tidur di sofa dengan posisi duduk dan kepala yang bersandaran. "Ini apa-apaan sih?" bisik Ciya melotot. Dia sudah mau berjalan marah untuk membangunkan kedua orang itu kalau Rico tidak mencegahnya. 
"Lho? Aldy nggak boleh kayak gitu! Sha-Sha kan tunangan lo!" Ciya setengah berbisik, setengah berteriak. "Udah, biarin aja!" Rico menarik tangan Ciya. "Lho, Kyo? Itu tuna...." "Cerewet!" Rico menutup mulut Ciya dan menyeret cewek itu masuk ke mobil. 
***  
"Batas cakrawala!" teriak Ciya menunjuk garis khayal antara langit dan laut, yang kini seakan memiliki permata yang bertakhta di atasnya. 
Cita menatap Rico, tersenyum. Angin meniup anak-anak rambutnya yang menutupi mata. Sejenak Rico terkesima, untuk kesekian kalinya. Jika sedang memasang wajah seperti ini, Ciya menjadi sangat cantik. "Abu bokap gue disebar di sini....." Ciya menyibak poninya. Sepoian ombak menyapu lembut
kakinya. Sementara suara desir angin yang menggerakan pohon kelapa seakan menjadi latar keheningan mereka. "Sori....," gumam Rico pelan. "Sementara karena bokap gue. Mungkin kalo....." "Ada yang bilang....," potong Ciya sambil menatap awan, "Tuhan itu suka nggak adil. Ada juga yang bilang.....takdir suka mempermainkan orang...." 
Rico mengerutkan dahinya, memandang Ciya tak mengerti. 
"Tapi....." Ciya tersenyum memandang matahari terbit. "Kalau memang Tuhan itu nggak adil....," dia menyatukan telunjuk dan ibu jari kedua tangannya, membentuk segi empat dan mengarahkannya tepat pada perbatasan langit dan bumi, "toh sekarang gue punya pengganti keluarga gue yang hancur." 
Ciya memejamkan sebelah matanya, membiarkan hanya mata kanannya yang memandang menembus segi empat tadi. "Gue kehilangan keluarga, tapi Tuhan masih berbaik hati memberi gue keluarga yang baru. Gue kehilangan bokap, toh Tuhan ngasih bokap lo buat gue. Gue kehilangan nyokap, tapi Tuhan juga masih ngasih nyokap lo buat gue. Gue juga kehilangan kakak.....tapi ternyata....," Ciya menurunkan tangannya untuk memandang Rico, "Tuhan ngasih lo buat gue." 
Ciya tersenyum. "Jadi, kalau mau dibilang Tuhan nggak adil, di mana sisi nggak adilnya? Kalau dibilang takdir suka mempermainkan orang.....toh takdir berusaha memperbaiki semuanya." Ciya memandang Rico. "Bener, kan?" 
Rico mendesah kecil. "Kenapa sih lo harus selalu begitu?" tanya Rico. "Kenapa sih lo harus selalu sok tegar? Nggak ada yang nyuruh lo buat jadi setegar itu. Gue rasa nggak ada salahnya kalo lo mau nangis. Kenapa? Lo takut bokap-nyokap lo ngeliat lo nangis terus khawati? Atau....lo takut Billy juga ngeliat dan dia jadi marah sama lo? Tuhan memang menciptakan air mata buat nangis. Kalo emang marah, lo punya tangan buat mukul." Rico mengguncang-guncangkan tangan Ciya. 
Ciya tertawa kecil. "Segitu khawatirnya sama gue ya?" katanya. "Semua masalah udah selesai, kan? Lalu apa yang mesti ditangisin? Gue udah tahu gimana keadaan bokap gue. Gue udah tahu kalo gue bukan anak haram. Gue udah tahu alasan Billy bunuh diri. Gue udah tahu dari mana Billy ngerti soal siapa bokap dia yang sebenarnya. Gue udah tahu kenapa bokap lo mau mengadopsi gue. Gue udah tahu siapa orang yang sering nelepon nyokap gue. Bahkan gue juga udah tahu siapa Pianis Termuda....." "Apa?" "Dulu, waktu masih kecil, gue pernah denger nyokap gue lagi teleon terus ngobrolin soal pianis termuda. Dan ternyata nyokap gue lagi nelepon bokap lo dan pianis termuda itu elo." 
Rico memandang Ciya tak percaya. "Masa sih? Dunia sesempit itu ya?" 
"Mungkin bukan sempit," ujar Ciya. "Tapi Billy emang mengirim keluarganya buat gue. Jadi.... Kenapa gue mesti marah sama bokap lo? Keluarganya Billy kan keluarga gue juga. Nggak mungkin kan gue marah sama keluarga sendiri?" 
Rico tercenung sebentar. "Tapi keluarga gue penyebabnya. Lo masih ngerasa kalo keluarga gue nggak salah?" tanya Rico datar. 
Ciya menarik tangan Rico ketika melihat tampang cowok itu masih cemberut. "Papa!!!" teriak Ciya ketika kaki mereka menyentuh air laut. "Kenalin, Pa! Ini keluarga Chiara yang baru!! Papa nggak usah kuatir, bilang sama Mama dan Billy, Chiara pasti bahagia!!" 
Rico menatap Ciya tak percaya. Untuk pertama kalinya dia mendengar nama Chiara keluar dari mulut cewek yang benci dengan namanya sendiri itu. 
Rico menghadap laut, menggunakan kedua tangannya sebagai pengganti corong di depan mulutnya. "Tenang aja, Oom! Chiara aman sama saya! Dia emang suka sok tegar, tapi saat dia sedih, dia masih punya saya!" 
Ciya terpana mendengar ucapan Rico, sedetik kemudian dia tertawa lepas. 
Dan, jujur aja, Rico tidak tahu harus bilang apa melihat Ciya tertawa seperti itu, jadi Rico hanya memeluk Ciya erat-erat. Rico tahu tawa itu bukan sekadar melebarkan bibir semata. Tapi jauh dari semua itu, Ciya sudah bisa menerima dirinya kembali. Tidak ada lagi Chiara yang dibencinya. Tidak ada lagi trauma masa lalu. Tidak ada lagi kebencian. Selebihnya, Ciya merasa kotak yang ada di hatinya benar-benar sudah terbuka lebar, menerbangkan semua beban hingga tak bersisa. "Gue ngebatalin pertunangan gue," kata Rico, akhirnya. "Apa?" tanya Ciya terkejut. "Gue nggak mau mengulang kesalahan bokap gue, Ci. Gue nggak mau salah langkah lagi dengan menerima pertunangan yang udah direncanakan. Entah emang demi kebahagiaan gue, atau demi perusahaan mereka." "Jadi itu alasan kenapa lo diem aja pas ngeliat Sha-Sha sama Aldy barusan?" Ciya memandang Rico tak percaya. "Tapi bukannya lo sayang sama Sha-Sha? Dan sekarang, lo rela ngebatalin pertunangan demi semua rasa ego lo?" "Bukan cuma demi rasa ego gue...." "Lalu?" "Karena gue takut ngambil keputusan yang salah." "Gimana lo tahu kalo keputusan itu salah, kalo lo sama sekali nggak nyoba?" "Karena waktu, Ciya.....karena semuanya udah berubah." "Apanya yang berubah?" "Karena orang yang bener-bener gue sayang itu sekarang ada di depan gue!" Ciya terbelalak..... Kemudian hening.... "Mau sampe kapan sih lo mempertahankan sifat jelek lo itu, Kyo?" ujar Ciya. "Berapa kali gue bilang kalo lo mesti serius." "Udahlah....." Rico mendesah lalu berjalan menuju mobil. "Anggep aja gue nggak ngomong apa- apa." "Kyo!" panggil Ciya, memandang punggung Rico yang berdiri dua meter di depannya. "Bukannya elo sendiri yang bilang sama gue kalo cuma Sha-Sha yang ada di hati lo? Lo yang bilang kalo nggak mungkin ada yang bisa ngegantiin dia. Lo juga yang bilang kalo dia itu nggak sama dengan mantan-mantan lo yang lain. Seminggu lagi lo tunangan, Kyo! Dan hari ini lo bilang pertunangan lo batal! Dan dengan semua omongan lo yang kayak gitu, gimana gue bisa percaya sama lo?!" 
Rico berbalik, memegangi kedua bahu Ciya erat-erat. Memaksa cewek itu menatap matanya. "Lo pikir gue nggak serius?! Gue udah sering bilang soal ini sama lo, Ci. Tapi setiap kali gue bilang, lo selalu nganggep gue main-main. Dan sekarang, gue mau elo tau kalo gue sayang sama lo.
Gue nggak peduli tentang Billy dan gue juga nggak peduli tentang Aldy. Yang gue tau, gue bener-bener ngerasa sendirian tanpa lo. Lo tahu nggak gimana kangennya gue waktu lo nginep di rumah Natya? Di rumah aja lo selalu ngeluh susah tidur. Dan gue.....  Hampir setiap malem mikirin apa lo bisa tidur di kamar Natya. Apa lo bisa makan di sana? Dan kemaren.....waktu gue ngeliat lo pingsan, lo tahu nggak gimana paniknya gue? Lo pikir ngapain gue capek-capek manggil dokter? Ngapain gue capek-capek beliin obat? Ngapain gue capek- capek nungguin lo semaleman? Tiap kali lo sdih, apa lo pikir gue nggak khawatir? Lo pikir kenapa gue nggak pernah pacaran lagi sejak lo masuk ke rumah gue? Lo pikir kenapa gue dengan gampang nyebut nama lo buat jadi pacar bohong-bohongan gue? Sha-Sha memang selalu ada di samping gue belakangan ini, tapi di otak gue cuma ada elo! Dan li pikir apa gue bakal sembarangan ngebatalin pertunangan yang udah ada di depan mata gue?" 
Ciya menatap ke bola mata Rico. Dan semakin jauh menglihat, Ciya mengerti, di sana cuma ada kebenaran. Keteduhan yang sama yang selalu diberikan Billy untuknya. Dan Ciya tahu, entah sejak kapan, baik disadari maupun tidak, sesuatu itu benar-benar luruh dalam hatinya. 
Rico memeluk Ciya saat melihat sebulir air menetes dari sudut mata gadis itu. Walaupun tidak berkata apa-apa, Rico mengerti dengan sangat jelas, Ciya menyerah. Menyerah terhadap semua ketegarannya, menyerah terhadap semua kesombongannya, menyerah terhadap semua masa lalunya. 
Ciya berbisik pelan di telinga Rico. "Gue cuma takut lo bakal pergi dari gue kayak Billy, Kyo....." 
*** 
"Jadi, akhirnya otak lo udah ketuker sama dengkul?" tanya Natya siang itu juga. Si nenek cerewet ini langsung ke rumah Rico begitu Ciya meng-SMS-nya dengan: 
akhirnya semua selesai, nat. Lega bgt rasanya. 
"Hah?!" Ciya menatap Natya tak mengerti. "Bukannya lo dulu bilang, 'Kalo sampe gue suka sama Rico, berarti otak gue udah ketuker sama dengkul," ujar Natya menirukan gaya Ciya sambil tertawa. Ciya mendelik. Natya semakin tergelak. "Jadi, udah jadian nih ceritanya?" "Sebenarnya nggak bisa dibilang jadian juga sih," kata Ciya memeluk guling. "Dia nggak nembak gue. Dia cuma bilang kalo dia sayang sama gue." 
Natya mengembuskan napas lega. "Akhirnya bocah itu bilang juga. Gue pikir dia bakal jadi pengecut selamanya." "Eh!" Ciya menimpukkan bantal ke muka Natya. "Lagian elo juga ngapain pake acara bilang gue udah jadian sama Aldy segala?" "Kok lo malah marah sama gue sih? Mestinya kan lo bilang makasih sama gue. Kalo bukan gara- gara gue bilang kayak gitu, Rico mana berani bilang sayang sama lo?" Natya mengedipkan sebelah matanya. 
Ciya bergidik geli melihat tingkah Natya. "Dia nggak sepengecut itu, tahu. Lagian dia juga tahu kalo elo tuh bohong. Sebenarnya dia udah pernah bilang suka sama gue. Tapi gu pikir dia bercanda." "Wuuhh.... Sekarang ngebalin deh."
"Bukan ngebelain. Tapi dia itu nggak berani bilang karena dia pikir gue masih belum bisa ngelepasin Billy. Jadi, dia takut ditolak...." 
Natya melongo. "Rico? Takut ditolak? Huhahahah.... Puih! Cowok buaya kok takut. Ditolak!" Ciya tertawa kecil. "Lo kenapa jadi sentimen begitu sama dia? Bukannya waktu dulu lo ngefans sama dia?" "Nggak, sejak gue tahu dia cowok plinplan! Dan gue kan lebih sayang sama temen gu.....hah!" Natya terkesiap melihat Sha-Sha berdiri di tengah pintu. Dia menepuk-nepuk dadanya, kaget. "Ya ampun, Sha. Nakutin gue aja. Rambut lo tuh panjang, jangan berdiri diem begitu! Gue pikir kuntilanak." Natya bangkit. "Gue ambil minum deh. Lo mau juga, Ci?" "Mau," jawab Ciya singkat lalu tersenyum mempersilahkan Sha-Sha duduk. "Hai." Sha-Sha duduk di samping Ciya sambil menyerahkan selembar kertas. "Tiket konserku. Dateng ya?" 
Ciya memandang tiket itu lalu menatap Sha-Sha. "Sha, tentang pertunangan lo....maaf....gue...." "Memangnya semua bisa selesai dengan kata maaf ya?" ketus Sha-Sha, memandang Ciya sinis. "Kalo mau jadi aku, kamu pikir kamu bisa memberikan maaf nuat orang yang udah ngerebut tunangannya?" Ciya mendesah. "Gue tahu kalo....." "Kenapa sih?" sergah Sha-Sha sedikit membentak. "Kenapa kamu mesti suka sama dia? Kenapa kamu mesti ngerebut dia dari aku?" 
Ciya terdiam sebentar. "Emangnya cinta itu butuh alasan ya? Bukannya cinta itu sesuatu yang tidak terduga? Bisa daatng pada saat yang tidak terduga, pada orang yang tidak terduga, pada tempat yang mungkin juga tidak terduga. Tadinya.....gue juga nggak pernah kepikir buat suka sama dia." 
Terkadang, mau berpikir berapa ratus kali pun, Ciya tidak pernah dapat mengetahui kenapa dia bisa menyukai cowok belagu itu. Bukan karena Rico itu tampan (Ciya selalu menganggap cowok putih itu penyakitan), bukan karena Rico baik hati (Ciya lebuh merasa Rico lebih suka menyiksa orang dibandingkan baik hati), apalagi karena Rico lucu (iya, saking lucunya sampe minta ditampar). Sering kali keterbatasan bahasa membuat sesuatu yang simpel pun menjadi sulit dideskripsikan. Bahkan saat Ciya bertanya alasan Natya menyukai Viktor pun, Natya hanya akan menjawab, "Soalnya Viktor itu.....gimanaaaa, gitu." "Lagi pula....," lanjut Ciya, "lo juga salah kok." Sha-Sha melotot mendengar ucapan Ciya. "Mungkin kalo lo nggak seegois itu, kalo lo nggak pergi selama itu, kalo lo nggak ninggalin Rico sendirian di sini, kalo lo ngggak terlalu berambisi untuk menjadi pianis terkenal, dan kalo lo sekaliii aja ngasih kabar ke dia, mungkin sampai sekarang Rico masih tetap jadi pianis berbakat. Mungkin Rico masih tetep mencintai lo sampe sekarang. Mungkin lo tetep jadi satu-satunya cewek yang ada di hati dia. Mungkin pertunangan lo masih tetep berjalan mulus. Dia mungkin nggak ada nama Vanessa Chiara. "Aku nggak butuh argumen kamu." "Sha...." "Tenang aja," potong Sha-Sha. "Aku udah ngelepasin Rico kok. Jadi, aku minta jangan pernah mengulangi apa yang udah aku lakukan. Don't ever him alone!" 
Tanpa berkata apa-apa lagi, dan tanpa menunggu Ciya berkata-kata lagi, Sha-Sha beranjak keluar. Natya hanya bengong ketika gadis itu melewatinya. "Kok dia ngomong begitu sih?" ujar Natya tidak suka. Dia menuang air dingin ke gelas lalu meletakkan itu ke meja. "Udah jadi orang ketika, masih berani bentak-bentak, lagi....."
"Jangan gitu, Nat." Ciya mengambil gelas dari tangan Natya. "Mungkin kalau diliat dari keadaan sekarang, Sha-sha memang orang ketiga. Tapi kalo diliat dari lima tahun yang lalu, orang ketiga itu mestinya gue." 
*** 
"Ciya udah tahu soal batalnya pertunangan lo?" tanya Aldy, menyandarkan tubuhnya pada bangku taman. Matahari bersinar tertutup awan. Menyiratkan bias-bias sinar redup di pepohonan dan rerumputan. Rico mengangguk. Aldy hanya tersenyum kecil. "Al....," ujar Rico pelan. "Soal Ciya..... Mungkin selama enam belas tahun ini, lo yang selalu ada buat dia. Kadang-kadang gue sering ngerasa kalah sama lo karena lo lebih mengerti dia dibanding gue. Tapi, satu hal yang gue mau lo tau. Suatu saat nanti, gue pasti bakal lebih bisa mengerti dia dibanding lo mengerti dia." Aldy menatap Rico. "Maksud lo?" "Gue nggak akan ngelepasin Ciya!" Aldy tertawa kecil. "Ternyata lo emang bener-bener sedarah sama Billy! Ucapan lo sama persis dengan apa yang dia bilang ke gue sebelum dia ketemu bokap lo. Tapi nyatanya, malah dia yang ngelepasin Ciya duluan, kan?!" Aldy tersenyum sinis. "Billy itu kakak gue. Bukan gue! Dan gue nggak akan sebego dia!" 
Aldy mengangkat bahu sambil memandang Sha-Sha yang berjalan mendekati mereka. "Gue pegang omongan lo! Dan kalo sampai lo nyakitin Ciya kayak Billy yakitin dia, dengan alasan apa pun...." Aldy berdiri dari duduknya, mempersilahkan Sha-Sha duduk di sana. "Gue pasti bikin lo babak belur...." Aldy tersenyum sambil mengacungkan telunjuknya tepat ke muka Rico, lalu beranjak ke kamar Ciya. 
*** 
Ciya memeluk boneka Tweety-nya sementara Aldy megotak-atik CD player-nya. Natya akhirnya pulang karena sedari tadi sepertinya banyak sekali orang yang mau berbicara dengan Ciya. Berdua saja! Menyebalkan! Natya juga kan mau ngobrol sama Ciya. Kalo nggak, ngapain dia jauh-jauh datang ke sini. Tapi berhubung dia mengerti masih banyak yang harus diselesaikan, akhirnya dia mengalah. Lagian, kalo ngobrolnya setelah semuanya selesai, pasti akan bisa tahu ceritanya lebih lengkap, kilahnya sambil tertawa saat Ciya mengantarkannya ke pintu depan. Ciya hanya bisa mendelik melihat tingkah temannya itu. "Yo...." Ciya menepuk-nepuk sofa di sampingnya agar Aldy duduk di sana. "Makasih ya." "Makasih buat apa?" Aldy memencet tombol on. Lagu Pachelbel's Camon terdengar. "Kenapa sih selera musik lo makin nggak keruan?" gerutunya lalu duduk di samping Ciya. "Ini musik buat kawinan, tahu." 
Ciya tersenyum, tidak memedulikan gerutuan Aldy. "Makasih buat semuanya. Buat udah rela-rela nyari bokap gue demi ngungkapin semuanya." Aldy menepuk kepala Ciya pelan. Ciya mengangguk. "Sebenarnya gue sempet ngerasa kalo selamanya gue bakal terperangkap di antara Billy dan masa lalu gue. Tadinya gue pikir gue nggak bakal lebih dari sekadar Chiara yang menghindar menjadi seorang Ciya." Aldy hanya diam menanggapi omongan Ciya. "Yo, maafin gue ya...."
Aldy menatap Ciya. "Buat apa?" 
"Buat penantian lo selama ini," kata Ciya. "Mestinya gue bilang ini dari awal. Tapi gue emang egois. Gue nggak berani. Gue takut lo bakal pergi dari gue." Ciya tersenyum tipis. "Yo, gue bersyukur banget punya seseorang kayak lo. Gue beruntung banget punya seseorang yang selalu ada tiap kali gue butuh pertolongan. Seseorang yang bersedia nungguin gue tanpa kemplain. Terutama buat usaha lo nyari bokap gue dan menguka semua misteri tentang masa lalu gue. Elo bener-bener malaikat dalam hidup gue." 
Aldy menyandarkan tubuhnya bibirnya membuat garis tipis. "Gue mesti bilang kalo gue mungkin nggak bisa ngebiarin lo buat nunggu gue lagi." 
Aldy memandang Ciya, menanti alasan selanjutnya. 
Ciya menarik napas panjang. Dari gurat wajahnya, Ciya tahu cowok itu bertanya kenapa dalam diam. "Karena.....ada seseorang yang tanpa dia sadari, dengan caranya sendiri, telah nyadarin gue kalo semua ini hanya bagian dari hidup. Dia orang yang pertama kali membuat mikir kalo gue masih.....gue sangat beruntung karena gue masih punya kesempatan hidup yang kedua kali. Dan gue yakin, ada sesuatu yang membuat semua masa lalu gue menjadi seperti itu," ujar Ciya. "Segala sesuatu memang terjadi dan itu pasti ada sebabnya. Hanya saja, bukan itu yang paling penting. Yang penting adalah bagaimana cara gue menghadapi semua itu. Dan orang itu..... Untuk pertama kalinya membuat gue sadar tentang arti kenyataan." Ciya menatap ke luar jendela. "Mungkin ada hal-hal yang memang seharusnya tidak terjawab..... Tapi hidup itu kan tergantung matahari terbit dari mana. Kalo emang udah mestinya pagi, kenapa gue mesti menuju malam?" Aldy menatap gadis kecilnya. "Jadi, akhirnya lo sadar?" "Sadar apaan?" 
Aldy tertawa kecil, merangkul Ciya. "Inget ya! Lo mesti laporan sama Billy kalo sekarang lo udah nemuin pengganti dia. Sekalian bilang sama nyokap-bokap lo kalo ternyata gadis kecilnya udah menjadi sedewasa ini." "Eh, nggak usah ngatur! Tadi siapa yang tidur di sofa berduaan? Pake acara dempet-dempetan kepala, lagi...." 
*** 
"Kenapa dia?" tanya Sha-Sha, memandang Rico dalam temaram lampu taman. "Kenapa harus Ciya?" "Apa semuanya jadi berubah kalo bukan Ciya?" tanya Rico, memberikan lolipop pada Sha-Sha. "Nggak suka permen." Sha-Sha menepis tangan Rico. 
Rico menggeser duduknya. "Kenapa? Lo merasa dia nggak lebih baik dari lo?" tanya Rico. Sha-Sha tidak menjawab. "Sha...." Rico mengelus rambut gadis itu. "Mau tahu apa alasan gue dulu suka sama lo?" Rico menatap Sha-Sha. "Elo cantik....dan sampai sekarang pun elo masih tetep cantik. Elo selalu memberi gue semangat di saat gue membutuhkannya. Elo selalu mendukung apa pun yang gue lakukan dan gue suka semua itu...." "Lalu kenapa alasan itu nggak cukup buat memperbaiki semuanya, Ric?" 
"Karena gue nggak punya alasan apa pun buat suka sama Ciya, Sha. Bue bener-bener nggak
tahu apa yang bikin gue suka sama dia. Gue juga sama sekali nggak pernah terpikir bakal suka sama cewek kayak dia. Waktu pertama kali gue kenal dia, nggak ada satu pun dari dirinya yang gue suka. Semua sifat dia kebalikan semua sifat lo. Dan kalo lo tanya di mana bagusnya Ciya, sampe sekarang pun gue nggak ngerti. Dia nggak pernah mau tahu kondisi hati orang lain. Apa pun yang ada di otaknya pasti dikeluarin saat itu juga, nggak peduli kata-kata itu bakal nyakitin atau nggak. Tiap hari pasti berantem. Nggak pernha bisa ngalah. Selalu bikin orang panik. Bisanya cuma nyalahin orang.  
"Seandainya gue punya alasan buat suka sama dia, mungkin akan lebih mudah buat gue mencari alasan lain yang membuat gue bisa berhenti mencintai dia. Nyatanya, alasan-alasan itu nggak ada! Yang jelas, Ciya selalu membuat gue jadi diri gue sendiri saat ada di sampingnya. Nggak perlu jaim, nggak perlu sok baik, nggak perlu muluk-muluk. Dia nggak pernah ngasih gue nasihat, tapi dia selalu berhasil membuat gue berpikir ulang sebelum membuat keputusan. "Gue juga nggak tahu sejak kapan semua itu bikin gue nggak bisa kehilangan dia. Setiap kali dia sedih, entah kenapa gue jadi ikut sedih. Setiap kali liat dia nangis, gue juga jadi ikut kuatir. Setiap kali dia sakit, mungkin gue jadi jauh lebih sakit dari dia. 
"Elo selalu berusaha melakukan yang terbaik buat siapa pun. Tapi Ciya lebih suka membuat orang itu melakukan yang terbaik buat dirinya sendiri. Dan tanpa sadar, gue bener-bener jadi apa adanya di depan dia. Tapi....." "Udahlah....." Sha-Sha berjalan menuju kolam renang, lalu duduk kursi malas yang ada di sana. Rico mengikutinya. "Aku udah denger hal yang sama dari Ciya. Dan aku nggak butuh omong kosong lagi. Intinya, apa pun itu, nggak bakal bisa ngubah feeling kamu sama dia, kan?" Rico mengangguk pelan. "Aku nggak mau maafin kamu," ucap Sha-Sha. "Aku nggak mau maafin kalian berdua." Rico mendesah pendek. Dia sudah tidak tahu harus bicara apa lagi. 
"Tapi aku sadar aku juga salah," kata Sha-Sha. "Ciya benar. Seharusnya aku nggak menghilang terlalu lama. Aku nggak pernah menyangka kalo lima tahun itu memberikan jarak yang sangat panjang." Sha-Sha memercikkan air kolam renang dengan tangannya. "Soal pertunangan....," Sha-Sha berbalik menatap Rico, "aku setuju. Kita batalin aja." 
Rico terbelalak. Entah dia mesti takut atau senang mendengar pernyataan itu. "Tenang aja," ujar Sha-Sha sekan membaca pikiran Rico. "Soal mama-papaku, aku pasti bisa ngebujuk mereka. Aku juga nggak mau tunangan sama orang yang nggak sayang sama aku. Lagian.....kayak yang kamu bilang, aku baik, aku cantik. Dan rasanya terlalu sia-sia kalo aku ngasih semua itu ke orang yang nggak bisa menghargai kebaikanku. Setidaknya, aku juga berhak bahagia, kan?" 
Rico tersenyum. Semuanya terasa begitu melegakan sekarang. "Dan sekarang....," kata Rico, "kayaknya gue butuh penjelasan kenapa mantan tunangan gue tidur sama orang lain tadi pagi!"

Komentar