Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 25 |
part* 25
Too Much Love Will Kill You
"KYO!!!" Ciya memukul perut Rico keras-keras
tatkala dia terbangun dan mendapati cowok itu tidur di sebelahnya, di ranjang
yang sama, dengan wajah Rico berada tepat dua senti di depan wajahnya, dan
mereka berpegangan tangan erat-erat!
Rico refleks bangun memegangi perutnya. Tapi bukannya
menjelaskan semua kemungkinan yang terjadi, cowok itu malah memeluk Ciya
erat-erat. "Ciya! Akhirnya lo sadar juga!" Rico menyodorkan sebutir
tablet dan segelas air ke tangan Ciya. Ciya melotot. "Lo pasti mikir
macem-macem lagi," gerutu Rico, memaksa tablet itu masuk ke mulut Ciya
dengan tangannya. "Lo bisa apa sih selain bikin orang panik?! Gue sampe
nggak tidur seharian, itu semua gara-gara lo!"
"Panik apanya?" Ciya cemberut sambil merenggut
gelas air dari tangan Rico. "Bukannya lo malah tidur dengan nyenyak di
ranjan gue?"
Rico mendelik. "Terserahlah.... Tahu gitu, gue biarin
lo pingsan seharian," gerutu Rico sambil berjalan keluar kamar. "Eh!
Tunggu!" Ciya menarik tangan Rico sebelum cowok itu sempat melangkah.
"Kyo, ke pantai yuk!" "Hah?!" Ciya menunjuk jarum jam yang
menunjukkan pukul setengah empat pagi. "Kita liat sunrise yuk!"
"Haahh??" "Ayo!" Ciya menarik tangan Rico berjalan
mengendap-endap keluar rumah.
Tapi begitu mereka menuruni tangga, Ciya hampir berteriak
membangunkan seisi rumah kalau saja Rico tidak menutup mulutnya, begitu melihat
Aldy dan Sha-Sha tidur di sofa dengan posisi duduk dan kepala yang bersandaran.
"Ini apa-apaan sih?" bisik Ciya melotot. Dia sudah mau berjalan marah
untuk membangunkan kedua orang itu kalau Rico tidak mencegahnya.
"Lho? Aldy nggak boleh kayak gitu! Sha-Sha kan tunangan
lo!" Ciya setengah berbisik, setengah berteriak. "Udah, biarin
aja!" Rico menarik tangan Ciya. "Lho, Kyo? Itu tuna...."
"Cerewet!" Rico menutup mulut Ciya dan menyeret cewek itu masuk ke
mobil.
***
"Batas cakrawala!" teriak Ciya menunjuk garis
khayal antara langit dan laut, yang kini seakan memiliki permata yang bertakhta
di atasnya.
Cita menatap Rico, tersenyum. Angin meniup anak-anak
rambutnya yang menutupi mata. Sejenak Rico terkesima, untuk kesekian kalinya.
Jika sedang memasang wajah seperti ini, Ciya menjadi sangat cantik. "Abu
bokap gue disebar di sini....." Ciya menyibak poninya. Sepoian ombak
menyapu lembut
kakinya. Sementara suara desir angin yang menggerakan pohon
kelapa seakan menjadi latar keheningan mereka. "Sori....," gumam Rico
pelan. "Sementara karena bokap gue. Mungkin kalo....." "Ada yang
bilang....," potong Ciya sambil menatap awan, "Tuhan itu suka nggak
adil. Ada juga yang bilang.....takdir suka mempermainkan orang...."
Rico mengerutkan dahinya, memandang Ciya tak mengerti.
"Tapi....." Ciya tersenyum memandang matahari
terbit. "Kalau memang Tuhan itu nggak adil....," dia menyatukan
telunjuk dan ibu jari kedua tangannya, membentuk segi empat dan mengarahkannya
tepat pada perbatasan langit dan bumi, "toh sekarang gue punya pengganti
keluarga gue yang hancur."
Ciya memejamkan sebelah matanya, membiarkan hanya mata
kanannya yang memandang menembus segi empat tadi. "Gue kehilangan
keluarga, tapi Tuhan masih berbaik hati memberi gue keluarga yang baru. Gue
kehilangan bokap, toh Tuhan ngasih bokap lo buat gue. Gue kehilangan nyokap,
tapi Tuhan juga masih ngasih nyokap lo buat gue. Gue juga kehilangan
kakak.....tapi ternyata....," Ciya menurunkan tangannya untuk memandang Rico,
"Tuhan ngasih lo buat gue."
Ciya tersenyum. "Jadi, kalau mau dibilang Tuhan nggak
adil, di mana sisi nggak adilnya? Kalau dibilang takdir suka mempermainkan
orang.....toh takdir berusaha memperbaiki semuanya." Ciya memandang Rico.
"Bener, kan?"
Rico mendesah kecil. "Kenapa sih lo harus selalu
begitu?" tanya Rico. "Kenapa sih lo harus selalu sok tegar? Nggak ada
yang nyuruh lo buat jadi setegar itu. Gue rasa nggak ada salahnya kalo lo mau
nangis. Kenapa? Lo takut bokap-nyokap lo ngeliat lo nangis terus khawati?
Atau....lo takut Billy juga ngeliat dan dia jadi marah sama lo? Tuhan memang
menciptakan air mata buat nangis. Kalo emang marah, lo punya tangan buat
mukul." Rico mengguncang-guncangkan tangan Ciya.
Ciya tertawa kecil. "Segitu khawatirnya sama gue ya?"
katanya. "Semua masalah udah selesai, kan? Lalu apa yang mesti ditangisin?
Gue udah tahu gimana keadaan bokap gue. Gue udah tahu kalo gue bukan anak
haram. Gue udah tahu alasan Billy bunuh diri. Gue udah tahu dari mana Billy
ngerti soal siapa bokap dia yang sebenarnya. Gue udah tahu kenapa bokap lo mau
mengadopsi gue. Gue udah tahu siapa orang yang sering nelepon nyokap gue.
Bahkan gue juga udah tahu siapa Pianis Termuda....." "Apa?"
"Dulu, waktu masih kecil, gue pernah denger nyokap gue lagi teleon terus
ngobrolin soal pianis termuda. Dan ternyata nyokap gue lagi nelepon bokap lo
dan pianis termuda itu elo."
Rico memandang Ciya tak percaya. "Masa sih? Dunia
sesempit itu ya?"
"Mungkin bukan sempit," ujar Ciya. "Tapi
Billy emang mengirim keluarganya buat gue. Jadi.... Kenapa gue mesti marah sama
bokap lo? Keluarganya Billy kan keluarga gue juga. Nggak mungkin kan gue marah
sama keluarga sendiri?"
Rico tercenung sebentar. "Tapi keluarga gue
penyebabnya. Lo masih ngerasa kalo keluarga gue nggak salah?" tanya Rico
datar.
Ciya menarik tangan Rico ketika melihat tampang cowok itu
masih cemberut. "Papa!!!" teriak Ciya ketika kaki mereka menyentuh
air laut. "Kenalin, Pa! Ini keluarga Chiara yang baru!! Papa nggak usah
kuatir, bilang sama Mama dan Billy, Chiara pasti bahagia!!"
Rico menatap Ciya tak percaya. Untuk pertama kalinya dia
mendengar nama Chiara keluar dari mulut cewek yang benci dengan namanya sendiri
itu.
Rico menghadap laut, menggunakan kedua tangannya sebagai
pengganti corong di depan mulutnya. "Tenang aja, Oom! Chiara aman sama
saya! Dia emang suka sok tegar, tapi saat dia sedih, dia masih punya
saya!"
Ciya terpana mendengar ucapan Rico, sedetik kemudian dia
tertawa lepas.
Dan, jujur aja, Rico tidak tahu harus bilang apa melihat
Ciya tertawa seperti itu, jadi Rico hanya memeluk Ciya erat-erat. Rico tahu
tawa itu bukan sekadar melebarkan bibir semata. Tapi jauh dari semua itu, Ciya
sudah bisa menerima dirinya kembali. Tidak ada lagi Chiara yang dibencinya.
Tidak ada lagi trauma masa lalu. Tidak ada lagi kebencian. Selebihnya, Ciya
merasa kotak yang ada di hatinya benar-benar sudah terbuka lebar, menerbangkan
semua beban hingga tak bersisa. "Gue ngebatalin pertunangan gue,"
kata Rico, akhirnya. "Apa?" tanya Ciya terkejut. "Gue nggak mau
mengulang kesalahan bokap gue, Ci. Gue nggak mau salah langkah lagi dengan
menerima pertunangan yang udah direncanakan. Entah emang demi kebahagiaan gue,
atau demi perusahaan mereka." "Jadi itu alasan kenapa lo diem aja pas
ngeliat Sha-Sha sama Aldy barusan?" Ciya memandang Rico tak percaya.
"Tapi bukannya lo sayang sama Sha-Sha? Dan sekarang, lo rela ngebatalin
pertunangan demi semua rasa ego lo?" "Bukan cuma demi rasa ego
gue...." "Lalu?" "Karena gue takut ngambil keputusan yang
salah." "Gimana lo tahu kalo keputusan itu salah, kalo lo sama sekali
nggak nyoba?" "Karena waktu, Ciya.....karena semuanya udah
berubah." "Apanya yang berubah?" "Karena orang yang
bener-bener gue sayang itu sekarang ada di depan gue!" Ciya terbelalak.....
Kemudian hening.... "Mau sampe kapan sih lo mempertahankan sifat jelek lo
itu, Kyo?" ujar Ciya. "Berapa kali gue bilang kalo lo mesti
serius." "Udahlah....." Rico mendesah lalu berjalan menuju
mobil. "Anggep aja gue nggak ngomong apa- apa." "Kyo!"
panggil Ciya, memandang punggung Rico yang berdiri dua meter di depannya.
"Bukannya elo sendiri yang bilang sama gue kalo cuma Sha-Sha yang ada di
hati lo? Lo yang bilang kalo nggak mungkin ada yang bisa ngegantiin dia. Lo
juga yang bilang kalo dia itu nggak sama dengan mantan-mantan lo yang lain.
Seminggu lagi lo tunangan, Kyo! Dan hari ini lo bilang pertunangan lo batal!
Dan dengan semua omongan lo yang kayak gitu, gimana gue bisa percaya sama
lo?!"
Rico berbalik, memegangi kedua bahu Ciya erat-erat. Memaksa
cewek itu menatap matanya. "Lo pikir gue nggak serius?! Gue udah sering
bilang soal ini sama lo, Ci. Tapi setiap kali gue bilang, lo selalu nganggep
gue main-main. Dan sekarang, gue mau elo tau kalo gue sayang sama lo.
Gue nggak peduli tentang Billy dan gue juga nggak peduli
tentang Aldy. Yang gue tau, gue bener-bener ngerasa sendirian tanpa lo. Lo tahu
nggak gimana kangennya gue waktu lo nginep di rumah Natya? Di rumah aja lo
selalu ngeluh susah tidur. Dan gue.....
Hampir setiap malem mikirin apa lo bisa tidur di kamar Natya. Apa lo bisa
makan di sana? Dan kemaren.....waktu gue ngeliat lo pingsan, lo tahu nggak
gimana paniknya gue? Lo pikir ngapain gue capek-capek manggil dokter? Ngapain
gue capek-capek beliin obat? Ngapain gue capek- capek nungguin lo semaleman?
Tiap kali lo sdih, apa lo pikir gue nggak khawatir? Lo pikir kenapa gue nggak
pernah pacaran lagi sejak lo masuk ke rumah gue? Lo pikir kenapa gue dengan
gampang nyebut nama lo buat jadi pacar bohong-bohongan gue? Sha-Sha memang
selalu ada di samping gue belakangan ini, tapi di otak gue cuma ada elo! Dan li
pikir apa gue bakal sembarangan ngebatalin pertunangan yang udah ada di depan
mata gue?"
Ciya menatap ke bola mata Rico. Dan semakin jauh menglihat,
Ciya mengerti, di sana cuma ada kebenaran. Keteduhan yang sama yang selalu
diberikan Billy untuknya. Dan Ciya tahu, entah sejak kapan, baik disadari
maupun tidak, sesuatu itu benar-benar luruh dalam hatinya.
Rico memeluk Ciya saat melihat sebulir air menetes dari
sudut mata gadis itu. Walaupun tidak berkata apa-apa, Rico mengerti dengan
sangat jelas, Ciya menyerah. Menyerah terhadap semua ketegarannya, menyerah
terhadap semua kesombongannya, menyerah terhadap semua masa lalunya.
Ciya berbisik pelan di telinga Rico. "Gue cuma takut lo
bakal pergi dari gue kayak Billy, Kyo....."
***
"Jadi, akhirnya otak lo udah ketuker sama
dengkul?" tanya Natya siang itu juga. Si nenek cerewet ini langsung ke
rumah Rico begitu Ciya meng-SMS-nya dengan:
akhirnya semua selesai, nat. Lega bgt rasanya.
"Hah?!" Ciya menatap Natya tak mengerti.
"Bukannya lo dulu bilang, 'Kalo sampe gue suka sama Rico, berarti otak gue
udah ketuker sama dengkul," ujar Natya menirukan gaya Ciya sambil tertawa.
Ciya mendelik. Natya semakin tergelak. "Jadi, udah jadian nih
ceritanya?" "Sebenarnya nggak bisa dibilang jadian juga sih,"
kata Ciya memeluk guling. "Dia nggak nembak gue. Dia cuma bilang kalo dia
sayang sama gue."
Natya mengembuskan napas lega. "Akhirnya bocah itu
bilang juga. Gue pikir dia bakal jadi pengecut selamanya." "Eh!"
Ciya menimpukkan bantal ke muka Natya. "Lagian elo juga ngapain pake acara
bilang gue udah jadian sama Aldy segala?" "Kok lo malah marah sama
gue sih? Mestinya kan lo bilang makasih sama gue. Kalo bukan gara- gara gue
bilang kayak gitu, Rico mana berani bilang sayang sama lo?" Natya
mengedipkan sebelah matanya.
Ciya bergidik geli melihat tingkah Natya. "Dia nggak
sepengecut itu, tahu. Lagian dia juga tahu kalo elo tuh bohong. Sebenarnya dia
udah pernah bilang suka sama gue. Tapi gu pikir dia bercanda."
"Wuuhh.... Sekarang ngebalin deh."
"Bukan ngebelain. Tapi dia itu nggak berani bilang
karena dia pikir gue masih belum bisa ngelepasin Billy. Jadi, dia takut
ditolak...."
Natya melongo. "Rico? Takut ditolak? Huhahahah....
Puih! Cowok buaya kok takut. Ditolak!" Ciya tertawa kecil. "Lo kenapa
jadi sentimen begitu sama dia? Bukannya waktu dulu lo ngefans sama dia?"
"Nggak, sejak gue tahu dia cowok plinplan! Dan gue kan lebih sayang sama
temen gu.....hah!" Natya terkesiap melihat Sha-Sha berdiri di tengah
pintu. Dia menepuk-nepuk dadanya, kaget. "Ya ampun, Sha. Nakutin gue aja.
Rambut lo tuh panjang, jangan berdiri diem begitu! Gue pikir kuntilanak."
Natya bangkit. "Gue ambil minum deh. Lo mau juga, Ci?"
"Mau," jawab Ciya singkat lalu tersenyum mempersilahkan Sha-Sha
duduk. "Hai." Sha-Sha duduk di samping Ciya sambil menyerahkan
selembar kertas. "Tiket konserku. Dateng ya?"
Ciya memandang tiket itu lalu menatap Sha-Sha. "Sha,
tentang pertunangan lo....maaf....gue...." "Memangnya semua bisa
selesai dengan kata maaf ya?" ketus Sha-Sha, memandang Ciya sinis.
"Kalo mau jadi aku, kamu pikir kamu bisa memberikan maaf nuat orang yang
udah ngerebut tunangannya?" Ciya mendesah. "Gue tahu kalo....."
"Kenapa sih?" sergah Sha-Sha sedikit membentak. "Kenapa kamu
mesti suka sama dia? Kenapa kamu mesti ngerebut dia dari aku?"
Ciya terdiam sebentar. "Emangnya cinta itu butuh alasan
ya? Bukannya cinta itu sesuatu yang tidak terduga? Bisa daatng pada saat yang
tidak terduga, pada orang yang tidak terduga, pada tempat yang mungkin juga
tidak terduga. Tadinya.....gue juga nggak pernah kepikir buat suka sama
dia."
Terkadang, mau berpikir berapa ratus kali pun, Ciya tidak
pernah dapat mengetahui kenapa dia bisa menyukai cowok belagu itu. Bukan karena
Rico itu tampan (Ciya selalu menganggap cowok putih itu penyakitan), bukan
karena Rico baik hati (Ciya lebuh merasa Rico lebih suka menyiksa orang
dibandingkan baik hati), apalagi karena Rico lucu (iya, saking lucunya sampe
minta ditampar). Sering kali keterbatasan bahasa membuat sesuatu yang simpel
pun menjadi sulit dideskripsikan. Bahkan saat Ciya bertanya alasan Natya
menyukai Viktor pun, Natya hanya akan menjawab, "Soalnya Viktor
itu.....gimanaaaa, gitu." "Lagi pula....," lanjut Ciya, "lo
juga salah kok." Sha-Sha melotot mendengar ucapan Ciya. "Mungkin kalo
lo nggak seegois itu, kalo lo nggak pergi selama itu, kalo lo nggak ninggalin
Rico sendirian di sini, kalo lo ngggak terlalu berambisi untuk menjadi pianis
terkenal, dan kalo lo sekaliii aja ngasih kabar ke dia, mungkin sampai sekarang
Rico masih tetap jadi pianis berbakat. Mungkin Rico masih tetep mencintai lo
sampe sekarang. Mungkin lo tetep jadi satu-satunya cewek yang ada di hati dia.
Mungkin pertunangan lo masih tetep berjalan mulus. Dia mungkin nggak ada nama
Vanessa Chiara. "Aku nggak butuh argumen kamu." "Sha...."
"Tenang aja," potong Sha-Sha. "Aku udah ngelepasin Rico kok.
Jadi, aku minta jangan pernah mengulangi apa yang udah aku lakukan. Don't ever
him alone!"
Tanpa berkata apa-apa lagi, dan tanpa menunggu Ciya
berkata-kata lagi, Sha-Sha beranjak keluar. Natya hanya bengong ketika gadis
itu melewatinya. "Kok dia ngomong begitu sih?" ujar Natya tidak suka.
Dia menuang air dingin ke gelas lalu meletakkan itu ke meja. "Udah jadi
orang ketika, masih berani bentak-bentak, lagi....."
"Jangan gitu, Nat." Ciya mengambil gelas dari tangan
Natya. "Mungkin kalau diliat dari keadaan sekarang, Sha-sha memang orang
ketiga. Tapi kalo diliat dari lima tahun yang lalu, orang ketiga itu mestinya
gue."
***
"Ciya udah tahu soal batalnya pertunangan lo?"
tanya Aldy, menyandarkan tubuhnya pada bangku taman. Matahari bersinar tertutup
awan. Menyiratkan bias-bias sinar redup di pepohonan dan rerumputan. Rico
mengangguk. Aldy hanya tersenyum kecil. "Al....," ujar Rico pelan.
"Soal Ciya..... Mungkin selama enam belas tahun ini, lo yang selalu ada
buat dia. Kadang-kadang gue sering ngerasa kalah sama lo karena lo lebih
mengerti dia dibanding gue. Tapi, satu hal yang gue mau lo tau. Suatu saat
nanti, gue pasti bakal lebih bisa mengerti dia dibanding lo mengerti dia."
Aldy menatap Rico. "Maksud lo?" "Gue nggak akan ngelepasin
Ciya!" Aldy tertawa kecil. "Ternyata lo emang bener-bener sedarah
sama Billy! Ucapan lo sama persis dengan apa yang dia bilang ke gue sebelum dia
ketemu bokap lo. Tapi nyatanya, malah dia yang ngelepasin Ciya duluan, kan?!"
Aldy tersenyum sinis. "Billy itu kakak gue. Bukan gue! Dan gue nggak akan
sebego dia!"
Aldy mengangkat bahu sambil memandang Sha-Sha yang berjalan
mendekati mereka. "Gue pegang omongan lo! Dan kalo sampai lo nyakitin Ciya
kayak Billy yakitin dia, dengan alasan apa pun...." Aldy berdiri dari
duduknya, mempersilahkan Sha-Sha duduk di sana. "Gue pasti bikin lo babak
belur...." Aldy tersenyum sambil mengacungkan telunjuknya tepat ke muka
Rico, lalu beranjak ke kamar Ciya.
***
Ciya memeluk boneka Tweety-nya sementara Aldy megotak-atik
CD player-nya. Natya akhirnya pulang karena sedari tadi sepertinya banyak
sekali orang yang mau berbicara dengan Ciya. Berdua saja! Menyebalkan! Natya
juga kan mau ngobrol sama Ciya. Kalo nggak, ngapain dia jauh-jauh datang ke
sini. Tapi berhubung dia mengerti masih banyak yang harus diselesaikan,
akhirnya dia mengalah. Lagian, kalo ngobrolnya setelah semuanya selesai, pasti
akan bisa tahu ceritanya lebih lengkap, kilahnya sambil tertawa saat Ciya
mengantarkannya ke pintu depan. Ciya hanya bisa mendelik melihat tingkah
temannya itu. "Yo...." Ciya menepuk-nepuk sofa di sampingnya agar
Aldy duduk di sana. "Makasih ya." "Makasih buat apa?" Aldy
memencet tombol on. Lagu Pachelbel's Camon terdengar. "Kenapa sih selera
musik lo makin nggak keruan?" gerutunya lalu duduk di samping Ciya.
"Ini musik buat kawinan, tahu."
Ciya tersenyum, tidak memedulikan gerutuan Aldy.
"Makasih buat semuanya. Buat udah rela-rela nyari bokap gue demi
ngungkapin semuanya." Aldy menepuk kepala Ciya pelan. Ciya mengangguk.
"Sebenarnya gue sempet ngerasa kalo selamanya gue bakal terperangkap di
antara Billy dan masa lalu gue. Tadinya gue pikir gue nggak bakal lebih dari
sekadar Chiara yang menghindar menjadi seorang Ciya." Aldy hanya diam
menanggapi omongan Ciya. "Yo, maafin gue ya...."
Aldy menatap Ciya. "Buat apa?"
"Buat penantian lo selama ini," kata Ciya.
"Mestinya gue bilang ini dari awal. Tapi gue emang egois. Gue nggak
berani. Gue takut lo bakal pergi dari gue." Ciya tersenyum tipis.
"Yo, gue bersyukur banget punya seseorang kayak lo. Gue beruntung banget
punya seseorang yang selalu ada tiap kali gue butuh pertolongan. Seseorang yang
bersedia nungguin gue tanpa kemplain. Terutama buat usaha lo nyari bokap gue
dan menguka semua misteri tentang masa lalu gue. Elo bener-bener malaikat dalam
hidup gue."
Aldy menyandarkan tubuhnya bibirnya membuat garis tipis.
"Gue mesti bilang kalo gue mungkin nggak bisa ngebiarin lo buat nunggu gue
lagi."
Aldy memandang Ciya, menanti alasan selanjutnya.
Ciya menarik napas panjang. Dari gurat wajahnya, Ciya tahu
cowok itu bertanya kenapa dalam diam. "Karena.....ada seseorang yang tanpa
dia sadari, dengan caranya sendiri, telah nyadarin gue kalo semua ini hanya
bagian dari hidup. Dia orang yang pertama kali membuat mikir kalo gue
masih.....gue sangat beruntung karena gue masih punya kesempatan hidup yang
kedua kali. Dan gue yakin, ada sesuatu yang membuat semua masa lalu gue menjadi
seperti itu," ujar Ciya. "Segala sesuatu memang terjadi dan itu pasti
ada sebabnya. Hanya saja, bukan itu yang paling penting. Yang penting adalah
bagaimana cara gue menghadapi semua itu. Dan orang itu..... Untuk pertama
kalinya membuat gue sadar tentang arti kenyataan." Ciya menatap ke luar
jendela. "Mungkin ada hal-hal yang memang seharusnya tidak terjawab.....
Tapi hidup itu kan tergantung matahari terbit dari mana. Kalo emang udah
mestinya pagi, kenapa gue mesti menuju malam?" Aldy menatap gadis
kecilnya. "Jadi, akhirnya lo sadar?" "Sadar apaan?"
Aldy tertawa kecil, merangkul Ciya. "Inget ya! Lo mesti
laporan sama Billy kalo sekarang lo udah nemuin pengganti dia. Sekalian bilang
sama nyokap-bokap lo kalo ternyata gadis kecilnya udah menjadi sedewasa
ini." "Eh, nggak usah ngatur! Tadi siapa yang tidur di sofa berduaan?
Pake acara dempet-dempetan kepala, lagi...."
***
"Kenapa dia?" tanya Sha-Sha, memandang Rico dalam
temaram lampu taman. "Kenapa harus Ciya?" "Apa semuanya jadi
berubah kalo bukan Ciya?" tanya Rico, memberikan lolipop pada Sha-Sha.
"Nggak suka permen." Sha-Sha menepis tangan Rico.
Rico menggeser duduknya. "Kenapa? Lo merasa dia nggak
lebih baik dari lo?" tanya Rico. Sha-Sha tidak menjawab.
"Sha...." Rico mengelus rambut gadis itu. "Mau tahu apa alasan
gue dulu suka sama lo?" Rico menatap Sha-Sha. "Elo cantik....dan
sampai sekarang pun elo masih tetep cantik. Elo selalu memberi gue semangat di
saat gue membutuhkannya. Elo selalu mendukung apa pun yang gue lakukan dan gue
suka semua itu...." "Lalu kenapa alasan itu nggak cukup buat
memperbaiki semuanya, Ric?"
"Karena gue nggak punya alasan apa pun buat suka sama
Ciya, Sha. Bue bener-bener nggak
tahu apa yang bikin gue suka sama dia. Gue juga sama sekali
nggak pernah terpikir bakal suka sama cewek kayak dia. Waktu pertama kali gue
kenal dia, nggak ada satu pun dari dirinya yang gue suka. Semua sifat dia
kebalikan semua sifat lo. Dan kalo lo tanya di mana bagusnya Ciya, sampe
sekarang pun gue nggak ngerti. Dia nggak pernah mau tahu kondisi hati orang
lain. Apa pun yang ada di otaknya pasti dikeluarin saat itu juga, nggak peduli
kata-kata itu bakal nyakitin atau nggak. Tiap hari pasti berantem. Nggak pernha
bisa ngalah. Selalu bikin orang panik. Bisanya cuma nyalahin orang.
"Seandainya gue punya alasan buat suka sama dia,
mungkin akan lebih mudah buat gue mencari alasan lain yang membuat gue bisa
berhenti mencintai dia. Nyatanya, alasan-alasan itu nggak ada! Yang jelas, Ciya
selalu membuat gue jadi diri gue sendiri saat ada di sampingnya. Nggak perlu
jaim, nggak perlu sok baik, nggak perlu muluk-muluk. Dia nggak pernah ngasih
gue nasihat, tapi dia selalu berhasil membuat gue berpikir ulang sebelum
membuat keputusan. "Gue juga nggak tahu sejak kapan semua itu bikin gue
nggak bisa kehilangan dia. Setiap kali dia sedih, entah kenapa gue jadi ikut
sedih. Setiap kali liat dia nangis, gue juga jadi ikut kuatir. Setiap kali dia
sakit, mungkin gue jadi jauh lebih sakit dari dia.
"Elo selalu berusaha melakukan yang terbaik buat siapa
pun. Tapi Ciya lebih suka membuat orang itu melakukan yang terbaik buat dirinya
sendiri. Dan tanpa sadar, gue bener-bener jadi apa adanya di depan dia.
Tapi....." "Udahlah....." Sha-Sha berjalan menuju kolam renang,
lalu duduk kursi malas yang ada di sana. Rico mengikutinya. "Aku udah
denger hal yang sama dari Ciya. Dan aku nggak butuh omong kosong lagi. Intinya,
apa pun itu, nggak bakal bisa ngubah feeling kamu sama dia, kan?" Rico
mengangguk pelan. "Aku nggak mau maafin kamu," ucap Sha-Sha.
"Aku nggak mau maafin kalian berdua." Rico mendesah pendek. Dia sudah
tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Tapi aku sadar aku juga salah," kata Sha-Sha.
"Ciya benar. Seharusnya aku nggak menghilang terlalu lama. Aku nggak
pernah menyangka kalo lima tahun itu memberikan jarak yang sangat
panjang." Sha-Sha memercikkan air kolam renang dengan tangannya.
"Soal pertunangan....," Sha-Sha berbalik menatap Rico, "aku
setuju. Kita batalin aja."
Rico terbelalak. Entah dia mesti takut atau senang mendengar
pernyataan itu. "Tenang aja," ujar Sha-Sha sekan membaca pikiran
Rico. "Soal mama-papaku, aku pasti bisa ngebujuk mereka. Aku juga nggak
mau tunangan sama orang yang nggak sayang sama aku. Lagian.....kayak yang kamu
bilang, aku baik, aku cantik. Dan rasanya terlalu sia-sia kalo aku ngasih semua
itu ke orang yang nggak bisa menghargai kebaikanku. Setidaknya, aku juga berhak
bahagia, kan?"
Rico tersenyum. Semuanya terasa begitu melegakan
sekarang. "Dan sekarang....," kata Rico, "kayaknya gue butuh
penjelasan kenapa mantan tunangan gue tidur sama orang lain tadi pagi!"
Komentar
Posting Komentar