Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 14 |

part* 14 
Cinta Itu Dilema? 
VIKTOR menatap Ciya yang sedang menggandeng Aldy masuk ke mobil seusai sekolah. Disikutnya Natya yang sedang duduk di gerbang SMA sambil menunggu mobil jemputannya. "Lo liat deh...." Viktor menyorongkan dagunya ke arah Ciya. "Apa bener si Ciya nggak ada feeling apa-apa sama Rico?" 
Natya berhenti memainkan kukunya lalu memandang serius ke arah Vios hitam yang sudah bergerak maju. "Emangnya lo pikir si Rico itu ada feeling sama Ciya?" Natya mendengus. "Baru liat cewek cantik dikit udah berani-beraninya dia main mata di depan Ciya. Sama siapa tuh namanya? Sha.... Siapa? Raisha ya?" tanya Natya, melirik sebentar ke arah Viktor, dan disambut dengan anggukan Viktor. "Panggilannya Sha-Sha, kan? Nama kok kayak nama vetsin. Bagusan juga nama gue." "Heh! Kalo ngomong jangan sembarangan! Kalo emang si Rico nggak ada apa-apa sama Ciya, mana mungkin dia ampe jombli berbulan-bulan kayak gini? Apalagi bisa sampe dapet nilai sembilan pas ulangan math. Gue aja cuma dapet lima." "Itu mah emang elonya yang bego," sungut Natya. "Dapet jelek kok malah nyalahin orang lain. Makanya belajar! Tiap hari kerjaannya cuma main PS." "Cerewet! Itu kan karena gue belom memperlihatkan kehebatan gue! Kalo gue udah beraksi, lo malah tercengang-cengang nanti," Viktor cengengesan. "He-he-he-he.... Dikira lucu ya? Rico itu bisa dapet bagus juga karena dia belajar." "Nah.... Itu dia!" Viktor mengacungkan telunjuknya. Natya mengerutkan dahi. Akhir-akhir ini cowoknya emang suka bertindak aneh. "Coa lo pikir. Sejak kapan Rico pernah serius belajar?" Viktor menjentikkan jarinya. "Sejak ada Ciya. Sejak kapan Rico mulai berhenti ngejar cewek? Juga pas Ciya dateng. Sejak Rico jadi sering ketawa tiap hari? Lo inget kan, dia itu rajanya jutek. Tiap hari kalo nggak gue yang kena sasaran mood-nya dia, pasti Christian yang kena. Dan sekarang.... Apa pernah dia begitu lagi? Dan itu karena...." "Karena Ciya....," sambung Natya cepat. "Exactly! Jadi kesimpulannya, nggak mungkin Rico no feeling sama Ciya. See?? Nah, masalahnya si Ciya itu nggak ngasih tanggapan. Jadi.... Rico-nya capek nunggu, kali. Trus pas banget deh si Raisha nongol," ujar Viktor dengan nada yang semakin pelan karena dilihatnya tampang Natya yang melotot. "Kata siapa Ciya nggak ngasih tanggapan! Kalo sampai si Rico nggak sadar, itu karena volume otaknya emang nggak normal. Walapun Ciya juga nggak bilang apa-apa sama gue, gue aja nangkep kok. Lo nggak liat hari ini dia uring-uringan gara-gara kemaren si Sha-Sha dateng? Lagian, kalo bener Ciya nggak ada apa-apa, mana mungkin dia mau dengan sabarnya ngajarin yang otaknya rada kurang itu. Apalagi pura-pura pacaran. Padahal gue tahu, dia itu keki setengah mati, tapi tetep aja dibela-belain. Oh ya, satu lagi. Waktu itu mereka pernah ke Dufan bareng. Si Rico nggak cerita ke elo ya?" tanya Natya mengakhiri kalimatnya. Viktor membelalak. "Serius lo?" Natya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Jadi??" "Jadi...." 
*** 
"Lagi suntuk, kan?" Aldy menyerahkan secangkir cokelat yang masih mengepulkan uap panas. Ciya tersenyum. Itulah yang paling disukainya dari Aldy. Dapat mengerti dengan jelas
perasaannya tanpa ada kata "kenapa". 
Ciya bangkit, memandang interior kamar ini sampai sedetail-detailnya. Di meja belajar masih ada stoples berisi seribu bintang yang dibuat Ciya saat Aldy berulang tahun ke-12. Di dinding masih terpasang foto-foto masa kecil mereka bertiga dengan berbagai pose dan gaya. Di cermin masih terlihat coretan tanda tangan tertempel di poster Spiderman ukuran besar. Tidak ada yang berubah.... Bahkan setelah sembilan bulan Ciya tidak pernah ke ini lagi. 
Disibaknya tirai biru itu. Terpampang sebuah bercat salem yang sangat dikenalnya. Kerinduan tiba-tiba menyeruak. Ingin rasanya Ciya kembali mengetuk pintu rumah seberang dan berkata, "Ma, aku pulang...." Namun, pikiran itu seketika berhenti saat seorang anak kecil berlari keluar diikuti pengasuhnya. Tatapan mata itu pun seketika memudar. Ciya mendesah tertahan. Rumah itu bukan rumahnya lagi, dan penghuninya pun bukan keluarganya lagi. Tiba- tiba pintu terbuka. Dilihatnya Tante Ang___mamanya Aldy, namanya Angriana tapi disingkat jadi Ang saja___masuk sambil tersenyum lebar-lebar dan merangkulnya. "Chiara, apa kabar? Tante kangen banget sama kamu! Kamu kemana aja? Kenapa nggak pernah mampir lagi ke rumah? Padahal Tante sering lho masak spageti kesukaan kamu." 
Ciya agak risi saat mendengar nama lamanya, tapi hatinya tidak ingin mengusik susana haru wanita yang sudah dianggap sebagai mamanya sendiri itu. 
Tante Ang melepas rangkulannya. Telapak tangannya masih menggenggam bahu Ciya, sehingga jarak mereka hanya selengan. "Kamu kurusan ya? Makan yang banyak dong! Tante baru pulang kerja bih. Terus si mbok bilang kamu ke sini." Dia kembali memeluk Ciya. "Aduh, kangen banget sama kamu." 
Ciya jadi tertawa kecil. Ternyata Tante Ang ini memang tidak pernah berubah. Selalu baik hati. "Sama, Tante. Saya juga kangen sama Tante." Ciya sengaja menggunakan kata ganti "saya" untuk menyebut dirinya, karena dia masih belum memiliki cukup keberanian untuk memanggil dirinya dengan kata ganti "Chiara". "Ayo, makan dulu. Tadi Tante kebetulan beli mie. Yuk, makan!" Tante Ang merangkul Ciya turun ke bawah. "Ayo, Aldy kamu nggak juga," ujarnya lagi memanggil anaknya. 
Tante Ang sibuk membuka bungkusan mie dibantu Mbok Sarni, sementara mulutnya terus mengoceh. Ciya sendiri kadang jadi berpikir, sepertinya Natya lebih cocok jadi anak Tante Ang jika dilihat dari kemiripan sifat suka "berbicara yang berlebihan kadarnya". "Iya, tahu nggak sih, Chi. Si Aldy itu sering banget ngomongin kamu. Dari kamu yang begini, kamu yang begitu, kamu suka ini, kamu suka itu...." 
Ciya menatap Aldy yang mulai memelototi mamanya itu. "Pokoknya tiap hari topik yan paling sering diomongin itu cuma kamu. Sampe-sampe si Oom aja pusing. Saking pusingnya, Tante jadi berencana melamar kamu saja supaya si Ald...." "MAMAAA!!!" 
*** 
"Ci....," ujar Aldy seusai mereka makan. "Would you be my girl?" Ciya terperangah. Walau ini bukan yang pertama kali Aldy berbicara seperti itu, tetap saja muncul gejolak aneh dalam dirinya. Bingung.... 
Bukankan dulu Ciya pernah mencintainya? Bukankah cowok ini sempat ada di hatinya? Bukankah cowok ini selalu menjaganya seperti Billy? Bukankah dia juda sempat mengharapkan cowok ini berkata demikian? Billy sudah tidak ada, dia juga sudah bisa membuat semuanya menjadi kenangan. Apa lagi yang harus diperhitungkan? Cepat jawab, Ciya! Ada sebagian dari suara hatinya yang berteriak. Cepat bilang iya! 
Ciya membukamulutnya. Tapi tak ada suara yang keluar dari sana. Ada apa dengan dirinya saat ini? Apa lagi yang membuatnya bingung? 
Aldy menarik napas. Dia sudah menebak apa yang ada dalam pikiran gadis di depannya ini. Ciya membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering, mencoba bicara. "Yo...." Ciya menunduk, terdengar gumaman lirih dari bibir tipisnya. "Saat ini gue sendiri nggak yakin dengan perasaan gue." 
Aldy tersenyum pahit. Walaupun dia tahu, cepat atau lambat dia akan mendengar ini. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Penyesalan yang bergumul di seluruh tubuhnya terasa begitu menyesakkan. Hatiya bicara, "Dam di saat kau menyadari perasaanmu yang sesungguhnya, tet bukan namaku yang akan kausebut." Sekarang, jembatan itu telah roboh sepenuhya. Bergantu dengan jalan beraspal. Hanya saja jalan yang beraspal dan mulus itu bukankah cinta. Melainkan persahabatan. Ya, hanya persahabatan. Masihkah ada kesempatan untuk mendapatkan kembali jembatan tadi? 
*** 
Ciya menatap bintang dengan nanar sambil memeluk lututnya di balkon. Dibiarkannya angin dingin menyapu tubuhnya hingga mengigil. Kata-kata Aldy masih terngiang dengan jelas di telinganya. 
Ya Tuhan.... Ternyata sejak dulu pun dia tidak bertepuk sebelah tangan. Dan sekarang, di saat dia menemukan kebenaran itu, haruskah kebenaran itu menjadi sesuatu yang yang sia-sia? Sebenarnya, bagaimana perasaannya sekarng? Kepada siapa perasaan saat ini? Ya Tuhan, Ciya memukul-mukul kepalanya gemas. Kenapa jadi begini? Sebenarnya ada apa dengan dirinya? 
Di tempat lain, Sha-Sha memperhatikan perubahan dalam sosok Rico. Walaupun Rico tepat berada di sampingnya, Sha-Sha merasa dirinya seperti bersama batu apung. Dingin.... Apalagi di pinggir kolam renang. Malam-malam, lagi. 
Sering cowok itu menatap ke arah balkon, tempat seorang cewek sedang mendekam di dalam kekalutan. Tidak hanya sekali, tapi cewek di balkon itu benar-benar telah menyedot perhatian Rico seutuhnya. Sha-Sha memperetat rangkulannya. Tidak apa-apa. Toh Rico tetap tunangannya.    

Komentar