Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 19 |


part* 19 
The Meaning of The Secounds 
SHA-SHA memainkan jarinya di meja dapur sambil memandangi Bik Nah yang sedang mengocok adonan kue. Beberapa loyang terletak di hadapannya dengan permukaan bertabur terigu. Sekilas tercium aroma manis dan hangat. 
Entah kenapa hari ini menjadi begitu lengang. Sha-Sha baru menyadari bahwa ternyata rumah ini begitu besar. Hanya terdengar suara mesin pemotong rumput dan suara tak tuk dari tangai kain pel yang digunakan Bik Imah. Selebihnya hanya suara oven dan kocokan mixer. 
Non udah lama banget ya nggak ke sini? Dulu masih suka nangis, masih suka lari-larian sama si Minnie. Sekarang nggak kerasa udah gede ya. Udah cantik," ujar Bik Imah tanpa mengalihkan pandangannya dari adonan kue. Sha-Sha tersenyum kecil. "Iya, Bibik kangen nggak?" "Uuh... Pasti kangen atuh. Kan Non udah Bibik anggep kayak anak Bibik sendiri." Sha-Sha tertawa kecil. "Mmm.... Kalo Rico, Bik? Suka kangen nggak sama saya?" Bik Nah mendesah mendengar pertanyaan Sha-Sha. "Non, kalo Rico mah nggak usah ditanya. Waktu Non pergi, Rico jadi pendiaam banget. Trus jadi males latihan piano. Padahal Bibik suka banget dengerin suara pianonya Rico. Bapak sama Ibu juga makin jarang di rumah. Padahal kan kasian waktu itu Rico masih kecil. Dia sering banget nanyain kapan Non bakal pulang. Dia jadi suka... apa tuh istilahnya, be... te.... Iya, bete, Non. Udah gitu dia malah jadi keluyuran. Bawa- bawa cewek pula. Ganti-ganti lagi ceweknya. Bibik sebenarnya pengen nasehatin, tapi Rico suka banget ngambek. Jadi, ya udah, Bibik nggak bisa bilang apa-apa." Bik Nah mematikan mixer-nya lalu mulai menuang adonan kue ke dalam loyang-loyang kecil. "Suka gonta-ganti cewek, Bi?" "Iya, tapi nggak ada yang secantik Non kok," Bik Nah tertawa. "Makanya pas Non Ciya dateng, Bibik seneng banget. Sejak ada Non Ciya, rumah ini jadi nggak sepi. Tiap hari pasti adaaa aja obrolannya. Hari pertama ke sini aja, Non Ciya udah bantuin Bibik masak. Udah gitu, Rico jadi sering ketawa, jadi jarang pergi-pergi keluyuran lagi. Malah jadi rajin belajar. Bibik aja sampe heran, kok Rico bisa belajar juga?" Bik Nah terkekeh. "Tapi Non Ciya suka berantem sama Rico. Kadang-kadang suka timpuk-timpukan, suka diem-dieman seharian, suka marah-marahan. Non Ciya galak lho, Non. Dia suka banget ngomelin Rico. Bibik aja nggak berani ngomelin Rico. Tapi herannya, Rico nurut sama dia. Baguslah, Non. Soalnya sejak ada Non Ciya, Rico jadi nggak pernah bete lagi. Waktu Rico ulang tahun aja, Non Ciya yang bikin pesta. Rameee banget, padahal yang dateng nggak nyampe sepuluh orang." Bik Nah tersenyum simpul. "Tapi Non Ciya nggak bisa main piano kayak Non." 
Sha-Sha berusaha bersikap biasa mendengar ocehan Bik Nah. Berusaha melapisi setiap sudut perih yang terkuak di hatinya. Begitukan keadaannya? Begitukah yang terjadi selama ini? Sepanjang itukah makna waktu yang tertinggal? 
"Bibik kasian deh sama Non Ciya," ujar Bik Nah lagi dengan mimik wajah bersimpati. "Yang Bibik tahu, sekarang Non Ciya udah nggak punya siapa-siapa. Kadang-kadang Bibik suka ngeliat Non Ciya ngelamun sediih banget. Kalo Bibik tanya kenapa, dia cuma senyum aja. Bibik jadi nggak berani nanya, takut tersinggung." "Bik....," ujar Sha-Sha saat Bik Nah mengeluarkan kue-kue yang sudah matang dari dalam loyang, dan memulai memasukkan loyang-loyang yang masih berisi adonan ke dalam oven. "Rico sama Ciya deket ya, Bik?"
"Yah, namanya juga serumah, Non. Tiap hari serbareng. Mau nggak mau pasti deket. Ini, cobain kuenya udah mateng." Bik Nah memberikan satu cup muffin yang masih mengepul. "Sha-Sha...." tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Sha-Sha terperanjat, sampai-sampai muffin yang ada di tangannya jatuh ke meja. "Lho, Oom kok udah pulang?" 
Henry tersenyum di belakangnya sambil melonggarkan dasi garis-garis hitam-putihnya. "Kan hari ini kita mau survei lokasi konser kamu bulan depan." "Ya ampun," Sha-Sha menepuk dahinya pelan, "maaf, Oom. Saya lupa. Tunggu ya, Oom, saya ganti baju dulu." "Oh ya, Sha-Sha, sekalian nanti sore kita jemput mama-papa kamu di airport." 
*** 
Aldy keluar dari ruang ujian dengan langkah gontai. Hari ini hari terakhir UAN. Bukan saja hatinya yang sakit, otaknya juga tidak dapat berfungsi dengan baik. 
Dia meletakkan tasnya di tanah dan menyandarkan tubuh di dinding kelas. Pandangannya menyapu keseluruhan gedung sekolah. Masih teringat saat Ciya, Billy, dan dirinya pertama kali memasuki sekolah ini dengan seraga, putih merah. Di telingapun masih terngiang canda tawa yang mereka lewati bersama. Begitu banyak kenangan, begitu banyak waktu yang telah terlewati. Dan setiap sudut sekolah ini begitu banyak menyimpan masa lalu. 
Aldy memejamkan matanya. "Billy....," dia berucap lirih. "Gue sayang sama dia. Apa salah kalo gue sayang sama dia?" 
Dia mengambil HP dari dalam tasnya. Tertera sembilan SMS dan lima misscall. Aldy baru saja mau menghapus semua SMS itu ketika dia melihat salah satunya terdapat nomor tidak dikenal. Jln. Telaga Biru IV no. 52, Griya Hijau, Bandung. 
*** 
Sha-Sha memandang pohon-pohon yang seakan-akan bergerak mundur. Dia mendekap kedua lengannya di dada. AC mobil tiba-tiba saja terasa menjadi begitu dingin. Pikirannya melayang entah ke mana. Berusaha mencerna makna setiap kata yang terucap dan setiap tindakan yang terlihat. Tanpa sadar dia bergumam, "Apa iya semuanya bisa berjalan selancar itu?" 
Henry memandang gadis yang sudah dianggap keponakannya itu dengan heran. Beberapa kali dia mendapati Sha-Sha bergumam sendiri. "Kenapa, Sha?" "Ah?" Sha-Sha menatap Henry sambil melebarkan matanya. "Nggak ada apa-apa, Oom." Sha-Sha menggeleng-geleng ketika dia menyadari gumamannya tadi ternyata cukup keras untuk didengar. 
Sejak tadi Henry sudah menerangkan dengan panjang-lebar seluruh rencana yang dibuat untuk konser dan pertunangan Sha-Sha. Tapi tidak ada satu kata pun yang menyangkut di otak Sha- Sha. Selebihnya, hanya gelisah, gelisah, dan gelisah. Mungkin benar sebuah pertanyaan kuno.... Jika semuanya berubah, itu pasti karena waktu. Tapi, apa iya harus berubah sedemikian jauh? "Tenang saja," Henry mengelus rambut Sha-Sha dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang setir.
 Sha-Sha tersenyum dipaksakan. "Oom kok nggak bilang soal pertunangan ini ke Rico?" Henry tersenyum. "Nggak ada bedanya kan kalaupun nggak bilang? Toh, Rico pasti setuju. Lagi pula...." tiba-tiba saja senyum itu lenyap. Berganti dengan ekspresi yang tidak tertebak. "Lagi pula.... Oom nggak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kali." Sha-Sha mengerutkan dahinya, menatap Henry meminta penjelasan. "Sha-Sha...." Henry menepuk bahu Sha-Sha beberapa kali. "Cinta itu bukanlah sesuatu yang sempurna. Adakalanya cinta itu tidak pernah berubah, tapi tidak jarang cinta bisa berubah menjadi tidak seperti sediakala. Dan Oom ingin Rico benar-benar mencari cinta yang membuat sesuatu yang terlepas itu kembali menjadi sempurna." 
Hehh??? Sha-Sha makin mengernyitkan dahinya. Tuh orang lagi ngomong apa? Sempurna? Tidak sempurna? Berubah? Tidak berubah? Cinta apaan tadi yang dia bilang? "Oom..." Akhirnya Sha-Sha lebih memilih mengutarakan pertanyaan yang satu ini dibanding harus memikirkan filosofi Henry yang tergolong aneh itu. Lagian, Sha-Sha kan sekolah musik. Bukannya sekolah filsafat! "Kok Oom ngangkat Ciya jadi anak sih, Oom? Emangnya aa hubungan apa?" 
Mendengar itu, wajah Henry menegang, walaupun hanya sepersekian detik. Selebihnya dia kembali memamerkan senyum tipis. "Banyak hal yang sulit dimengerti, Sha. Dan mungkin, di saat kamu menyadarinya sesuatu itu telah berubah menjadi penyesalan, sehingga akan sulit membuatnya kembali utuh." Henry menarik napas panjang. "Untungnya, masih ada kesempatan. Biarpun tidak lagi utuh, asalkan bisa diperbaiki. Sedikit saja, pasti akan memberi arti." Toeng!! Apaan lagi ini? Sha-Sha jadi tidak habis pikir. Sebenarnya Henry itu pengusaha atau ahli sastra?? 
Henry melirik Sha-Sha, yang mengernyitkan dahinya sekilas. Henry tersenyum. "Suatu saat semuanya pasti akan jelas, Sha. Hanya saja, saat ini bukan waktu yang tepat."            

Komentar