Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 4 |


part* 4 
CHocolate and You 
SORENYA, sepulang sekolah, Rico pergi ke supermarket dan membeli cokelat sebanyak- banyaknya. Malam ini dia harus berhasil menjalankan rencananya. 
Pukul sembilan malam..... 
Ciya baru saja selesai menyikat gigi. Sekarang, dia bersiap kembali meneruskan membaca novel All-American Girl-nya Meg Cabot yang baru saja dibeli sore tadi. 
Ciya mendengus. Seandainya kehidupan itu bisa dilewati seindah cerita-cerita dongeng yang sangat mengharumkan dan membahagiakan itu, seandainya dirinya bisa menjadi seorang Cinderella, seandainya dia bisa menjalani kehidupan selayaknya film Princess Diaries, seandainya dia bisa menjadi Harry Potter. Kehidupan mereka yang secara tiba-tiba berubah menjadi sangat berbesa. Dari upik aku menjadi putra raja, dari cewek biasa-biasa saja menjadi calon ratu, dari seorang pecundang menjadi pahlawan. Alangkah baiknya kalau perubahan hidupnya pun seperti itu. Bukannya dari sebuah keluarga menjadi sebatang kara. Oke, sekarang memang dia memiliki keluarga baru. Tapi, please deh, keluarganya sekarang bukan orangtua dengan dua anaknya, melainkan lima pembantu dan dua anak yang kesepian. Ditambah lagi, kelakuan saudara tiri yang tidak___sama sekali tidak___menyenangkan. Terdengar ketukan di pintu. 
Ciya menelengkan kepalanya lemas. Siapa sih? Dia sebenarnya malas beranjak, tapi mau tak mau dia harus merosot dari duduknya semula untuk membukakan pintu. Tapi dia mengunci pintunya, untuk berjaga-jaga agar "insiden telanjang" tidak terjadi lagi. Setidaknya, terhindar untuk terjadi yang kedua kali. Dia terpaksa menutup novelnya dan menggeser ke arah permadani sebelum akhirnya benar-benar tegak berdiri untuk berjalan. 
Ciya buru-buru merapatkan pintu kembali saat mendapati sosok Rico yang sedang berdiri di depan pintu. Tapi sebelum daun pintu itu kembali menutup. Tangan Rico sudah mendorong duluan sambil terus-terusan mengumandangkan berbagai rayuan, seperti "jangan ditutup!", "Biarkan gue masuk!", "Gue nggak bakalan macem-macem lagi, gue janji!", dan yang sejenis seperti itu. Sejenak mereka terlibat dorong-dorongan pintu yang cukup seru, sampai akhirnya Ciya menyerah. Bukan karena tidak kuat, tapi dia tiba-tiba merasa konyol, Ngapain coba, dorong- dorongan pintu sama cowok geblek itu? Jadi kayak orang bego aja. 
Akhirnya Ciya mundur beberapa langkah dan membiarkan Rico masuk. Dengan senyum lebar, Rico melenggang masuk dan langsung duduk di sofa empuk itu. "Heh! Duduk di sana!" Ciya menunjuk ke ujung sofa yang terletak menempel dengan dinding kaca yang mengarah ke balkin. Saat itu dinding kacanya sudah tidak tampak, tertutup tirai pink bermotif percikan bunga, yang terbuat dari sutra. Sementara dia sendiri duduk di ujung yang lain. Rico merengut, tapi tetap beringsut satu meter ke kanan. "Ini...." sebelum sempat Ciya bertanya, Rico sudah lebih dulu mengulurkan sebatang cokelat yang dibelinya tadi siang. Dahi Ciya berkerut. "Apa lagi nih? Lo kasih racun ya?" Bibir Rico kembali merengut. Dia udah capek-capek beli, malah dikira yang nggak-nggak. Iya sih, dia emang pengen ngebujuk Ciya, tapi kan cokelatnya nggak dikasih racun. "Kalo nggak mau ya udah....," sahutnya sambil kembali beranjak keluar.
"Eeh.... Tunggu.... Tunggu...." Ciya memang selalu tidak tahan dengan benda yang satu itu. "Sini, duduk lagi. Gue mau kok. Sini.... Sini cokelatnya," ujarnya sambil menyambar cokelat tadi sebelum Rico kembali duduk di tempatnya semula. 
Rico tersenyum. Terkadang, dia merada lucu dengan tingkaj Ciya. Cewek itu sangat kekanakan. "Bantuin gue ya!" kata Rico setelah kembali duduk. Ciya mencibir, pantesan aja tadi baik. Ada maunya sih? Ciya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Rico melotot. Belum juga bilang disuruh bantuin apa, masa udah nolak duluan. "Yakin nggak mau?" 
Rico lalu keluar sebentar dan masuk lagi membawa sekeranjang besar penuh cokelat. Ada yang chocochips, ada yang chocomilk, ada yang.... Macem-macem. Ciya hanya melongo melihat cokelat sebanyak itu. Air liurnya mulai menetes-netes. Iyalah, keranjangnya aja segeda keranjang buat naruh pakaian kotor. Melihat cokelat sebanyak itu, tiba-tiba saja Ciya seperti kehilangan kesadaran. "Apa pun boleh...., ucapnya dengan mata berbinar-binar, seperti anak anjing yang baru saja diberi tulang. Tangannya mencomot satu bungkus cokelat yang berbentuk segitiga. Tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Rico. Ciya memandang Rico dengan tatapan aneh. Rico pikir Ciya tersadar dan akan menarik kembali ucapannya barusan. Tapi ternyata bukan. "Hei!" tiba-tiba Ciya beringsut mendekati Rico. Rico memandangnya sedikit takut. Kenapa cewek yang nggak mau deket-deket sama dia kurang dari dua meter, sekarang malah mendekatinya? Bahkan tangan terjulur ke wajahnya. Plek! Tangan Ciya tepat menyentuh dahi Rico. Ciya tampak agak terperanjat. "Gila, badan lo panas banget! Kenapa nggak bilang dari tadi?" Ciya beranjak, mengorek-ngorek lacinya mencari termometer. "Sini.... Tidur di sini!" ujar Ciya kemudian setelah menemukan termometernya. Dia menepuk-nepuk ranjangnya. Tapi Rico hanya melongo. Masa dia di suruh tidur di sana? "Buruan!" Mata Ciya nyaris keluar melihat Rico diam saja. "Gue nggak papa kok. Abis tidur juga ntar....." Rico menghentikan perkataannya melihat Ciya yang semakin melotot. Rico tahu, semakin dia menolak, mata cewek itu akan semakin keluar. Jadi, dia pasrah saja berbaring di ranjang Ciya. Tangan Ciya kembali terulur memegang dahinya. Rasanya dingin. 
"Badan lo panas banget! Pasti gara-gara kemaren lo telanjang malem-malem. Makanya jadi orang jangan suka iseng." Ciya menyodorkan termometer itu kemulut Rico. "Ayo gue ukur dulu. Gue ke bawah dulu ambil air hangat." 
Selepas pintu ditutup, Rico mengembuskan napas panjang, Iya sih, peningnya makin menjadi- jadi saat ini. Dari tadi siang badannta terasa tidak enak. Tapi biasanya ia cukup minum obar saja. Diperlakukan begini malah rasanya jadi aneh. 
Rico membalikkan badannya ke kiri, sepintas matanya menatap tiga foto berbingkai manis. Masih dengan termometer di mulutnya, dia beringsut bangun untuk melihat foto di meja belajar itu dengan lebih jelas. Di tengah-tengah ada foto empat orang, sudah jelas itu pasti foto Ciya dengan keluarganya. Foto yang terletak paling kiri memuat foto cowok yang sudah dikenal Rico, itu Aldy. Tapi Rico mengerutkan dahi saat melihat foto yang paling kanan. Siapa ya? Tunggu dulu, cowok ini mirip dengan cowok yang ada di foto keluarga Ciya
"Siapa ya?" ujar Rico dalam hati. 
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, cepat-cepat Rico membanting tubuhnya ke kasur, mengambil posisi seperti semula. Ciya membawa dua baskom dan dua handuk kecil. Setelah meletakkan dua baskom tadi ke meja kaca yang ada di depan sofa, Ciya mengambil kembali termometer dari mulut Rico. "Tuh kan, 39,1 derajat. Masih bilang nggak papa, lagi. Buka baju gih!" ujarnya sambil mencelup dan memeras salah satu handuk kecil. 
Ciya mendengus. "Dasar cowok mesum! Kenapa otak lo cuma ada yang begituan-begituan doang sih? Emangnya gue nafsu apa sama cowok belagu kayak lo. Nih, cium!" Ciya menyodorkan handuk yang ada di tangannya itu. Wangi aroma jeruk nipis. "Kalo badan lo dibalurin ini, panasnya lebih cepet turun. Masa gitu aja nggak tahu." 
Rico menelengkan kepalanya. Emang iya? Dia baru tahu jeruk nipis bisa membantu menurunkan panas. Akhirnya, setelah berpikir beberapa menit, Rico membuka bajunya juga. "Balik badannya!" perintah Ciya. Tidak sampai dua detik, Rico sudah merasakan handuk itu berjalan di sekujur punggungnya. Rasanya sejuk. Pantes aja, cewek-cewek suka make jeruk nipnis buat maskeram. "Enak ,kan?" ujar Ciya melihat Rico tidak mengeluarkan protes lagi. "Balik lagi sini!" Ciya lalu menggosok-gosokkan handuk itu di kala dada Rico sampai air jeruk nipis di baskom itu habis. "Udah, pake baju lagi deh." 
Ciya beralih ke baskom di sebelahnya. Melakukan hal yang sama seperti pada handuk yang pertama, kemudiam melipatnya dan menaruhnya di dahi Rico. Kali ini rasanya hangat. Dia lalu beringsut mengambil selimut dari samping ranjang (maklum ranjangnya kan duoble bed) dan membentangkannya dia atas tubuh Rico. 
Sejenak, Rico merasa sangat nyaman. Seumur hidupnya belum pernah dia merasa senyaman ini. Biasanya, kalau dia sakit, mamanya pasti hanya akan memanggil dokter dan mencekoki dia dengan obat. Setelah itu, dia pasti tertidur dan terbangun keesokan harinya dengan keadaan membaik. Tapi dia tidak pernah merasakan perlakuan seperti ini sebelumnya. Apa mama Ciya selalu melakukan ini setiap Ciya sakit? Rico bertanya dalam hati. Apa begini bentuk perhatian seorang ibu yang sebenarnya? 
Pikiran Rico agak-agak buyar saat melihat Ciya berjalan ke lemari dan mengambil satu selimut lagi. Dia meletakkannya di sofa. "Udah enakan?" tanya Ciya sambil bersimpuh di samping Rico.  Rico mengangguk. Dan kali itu, entah mengapa, Rico merasa senyum Ciya manis sekali. 
"Bagus deh. Kalo besok pagi panasnya udah turun, nggak perlu minum obat. Kalo masih panad, baru minum obat. Kalo tiap sakit minum obat melulu, ntar badan lo penuh bahan kimia. Ya udah, tidur deh. Gue jagain lo di sini." Ciya mematikan lampu kamar, dan hanya menyalakan lampu baca di samping tempat tidur, kemudian duduk di sofa sambil mengambil kembali novel yang tadi tertunda dibaca. 
Tiba-tiba Rico tersadar. Dia hanya berdua dengan Ciya di kamar ini dan mereka tidur di kamar yang sama. Rico mendongak, memandang Ciya yang duduk di sofa yang letaknya empat puluh sentimeter di belakang ranjang. Dia menaikkan sebelah alisnya saat mendapati Ciya sedang membaca dengan selimut yang disampirkan di pahanya.
"Lo tidur di sofa?" tanyanya pada Ciya. Ciya menatap Rico dari balik novelnya. Dia meneleng. "Gue kan mesti ganti kompresan lo kalo udah kering. Untung aja besok hari sabtu. Jadi kita libur sekolah dan gue nggak perlu takut bangun kesiangan. Udah deh, lo tidur aja." Rico melongo. Maksudnya, Ciya jadi nggak tidur ya? Rico jadi merasa nggak enak. Dia kembali mendongak untuk melihat Ciya, tapi Ciya sudah kembali tenggelam dalam novelnya. "Ci, itu siapa?" ujung telunjuk Rico mengarah ke foto-foto di meja belajar. Ciya menggerakkan bola matanya tanpa menggerakkan kepalanya. "Itu Kak Yoyo." "Iya, gue tahu. Maksud gue, yang di paling kanan." "Oh, itu Billy, kakak gue. Ganteng, kan? Kalo dibanding elo sih, lo nggak ada apa-apanya." Rico mendesis. Dasar Ciya! "Yoyo itu siapa lo, Ci?" tanya Rico kemudian. 
Pertanyaan itu rupanya bisa membuat Ciya menurunkan novelnya dan memandang Rico. "Kenapa tanya-tanya?" Rico mengangkat bahu. "Nggak papa, gue pikir dia cowok lo." Dalam hati Rico berharap Ciya mengatakan tidak. Kalo nggak, gagal total rencananya. 
Ciya mendengus dengan bibir yang dimonyongkan. "Kalo dulu dia nggak nolak gue sig mungkin sekarang dia itu mantan cowok gue." 
Rico agak terkejut mendengar ucapan Ciya. Wah, hebat juga nih cewek bisa nembak duluan. Tapi.... "Kok mantan?" Ciya mengerutkan dagunya kemudian melebarkan bibirnya ke satu sisi. "Soalnya sekarang udah punya cowok lain?" Ciya meneleng, walaupun Rico tidak bisa melihatnya. Kemudian Ciya bangun untuk mengambil kompresan Rico yang sudah agak kering. "cowok itu...." Ciya mencelupkan lagi handuk kecil itu ke air, memerasnya, dan meletakkannya kembali ke dahi Rico. Sejenak pandangannya menerawang , tnpa sadar air matanya menetes. Ciya langsung buru-buru menghapusnya. Matanya mendapati Rico sedang memandanginya. "Heh!" bentak Ciya. "Apa liat-liat? Kenapa dari tadi nanya-nanya melulu? Cepet tidur.
Keesokan harinya.... Pukul tujuh pagi. 
Rico membuka mata. Perasaannya sudah jauh lebih enakan dibanding kemarin. Ciya sedang tidur di atas permadani bulu dengan kepala bersandar pada dudukan sofa. Selimut hanya tersampir di kakinya. Entah mengapa,Rico meraa ada sesuatu yang aneh yang bergetar dalam hatinya saat memandang Ciya. Tidak sama seperti saat dia memandang mantan-mantannya, tidak sama seperti saat dia memenangkan pemilihan ketua OSIS, tidak sama seperti saat dia mendapat hadiah-hadiah ulang tahun. 
Ciya menggeliat, mengucek-ngucek matanya kemudian menguap lebar-lebar. Melihat itu, Rico kembali pura-pura tidur. Dengan mata yang baru seperempat terbuka, tangan Ciya terulur memegang dahi Rico. "Udah nggak panas." "Ciya membereskan baskom-baskom bekas air kompresan. Dia menumpuk baskom bekas air jeruk nipis di bagian paling bawah, handuknya disampirkan di pinggir baskom yang paling atas. Dengan mata terpejam, Ciya berjalan membungkuk ke arah pintu. Dia baru tidur jam empat pagi. Jadi nggak heran kalau saat berjalan pun dia seperti berada di alam mimpi. 
"Adaww.....!" Ciya menjerit saat kepalanya menabrak pintu. Salah sendiri, jalan kok merem. Cipratan air mengenai piamanya. Dia melenguh kesal. Udah nggak tidur, pake acara kepentok
pula. Akhirnya dia membuka setengah matanya dan berjalan membungkuk ke dapur. Sementara Rico yang menikmati pertunjukan tadi malah sibuk cekikikan di balik bantal. 
"Rico masih dalam posisi tidur saat Ciya kembali dari dapur. Ciya mengguncang-guncang tangan kanan Rico walaupun matanya sendiri sudah tinggal tiga watt. "Kyo, bangun...." tapi Rico tetap di posisinya. "Kyo..... Bangun...." "Kyoooooo!!!" Mendengar teriakan Ciya yang lebih parah daripada suara kuntilanak, Rico bukan hanya membuka mata, tapi langsung duduk menepuk-nepuk dadanya. Kaget. "Bangun! Gue mau tidur. Lo pindah ke kamar lo sana! Gue baru tidur tiga jam," omel Ciya. "Tapi, Rico malam tersenyum tanpa rasa bersalah. "Lo mau bantuin gue, kan?" "Ciya menatapnya bingung. "Kan gue udah bantuin elo." 
Detik itu juga, Rico mengerti bahwa Ciya ternyata salah paham. Akhirya dia menceritakn awal mulanya saat dia berkejar-kejaran dengan Jessica sampai adegan saat dia mengaku bahwa Ciya adalah ceweknya. Ciya melongo. Tadinya dia pengen banget meninju hidung Rico saat itu juga. Namun behubung rasa kantuknya saat ini sudah merajalela, dia hanya bisa merosot ke lantai. Ciya mengaduh lirih. Kenapa saudara angkatnya itu bisa menjadi sebego itu sih?" jadi, maksudnya bukan ngebantuin buat ngerawat lo ya?" Rico menggeleng. "Haduh! Kalo gitu ngapain gue capek-capek begadang semaleman." Rico mendelik, dia agak tersinggung mendengar ucapan Ciya barusan. "Kenapa mesti nyebut nama gue sih? Kenapa bukan Nia kek, Mia kek, Dhea kek? Kan lo tinggal bilang kalo cewek lo itu nggak satu sekolah. Kan beres. Kenapa mesti nyebut nama gue?" 
Ciya menyandarkan kepalanya ke soga sambil memeluk boneka panda yang ditaruhnya di sana. Rico merengut. "Jadi, mau apa nggak?" "Nggak!" Rico melotot. "Bener nggak mau?" "Nggak!" "Eh, semua cewek di sekolah pengen jadi cewek gue lho. Kenapa elo malah nggak mau? Lagian, ini kan cuma bohonga. Gue juga nggak nafsu sama cewek gepeng kayak lo." 
Ciya mencibir. "Emang gue pikirin. Mau yang ngejar lo banyak kek, mau semua cewek pengen jadi pacar lo kek@ mau boongan kek, mau dada gue rata kek. Pokoknya nggak deh!" Rico kembali merengut. Lagian, siapa juga yang ngomong soal dada rata?? "Nggak bisa, lo mesti setuju." Ciyam mendengus. "Heh?! Kenapa gue mesti setuju?" "Liat tuh!" telinjuk Rico mengarah ke bungkus-bungkus cokelat yang berserakan di meja kaca. Benar sekali, Ciya hampir menghabiskan setengah keranjang pakaian cokelat yang diberikan Rico tadi malam. "Lo udah ngabisin cokelat yang gue kasih. Jadi lo mesti setuju sama perjanjina kita. Gue kasih lo cokelat dan elo mesti bantuin gue." 
Ciya memoyongkan bibirnya sambil memandang Rico dengan mata hampir tertutup. "Tapi kan gue udah ngerawat lo. Cokelatnya jadi upah buat ngerawat lo aja ya?" Ciya menguap tanpa menutupnya. "Gua ngantuuukk." Saking kesalnya, Rico malah memangggil nama Ciya keras-keras, "Chiara!" 
Begitu mendengar nama itu, Ciya kontan menghentikan segala gerakan di tubuhnya. Rahangnya mengera. Matanya membuka lebar-lebar. 
Rico menatap mata Ciya. Sesaat dia merasa ngeri menatap sepasang mata itu. Bukan karena mata itu menatapnya dengan penuh kemarahan, bukan karena mata itu menatapnya dengan penuh kebencian, juga bukan karena mata itu menatapnya dengan kesedihan. Justru Rico tidak menemukan perasaan apa pun dalam tatapan Ciya. Tatapannya.... Hampa. Ciya berkata lirih, "Jangan pernah panggil gue Chiara." 
Mulut Rico terbuka, tapi sejurus kemudian menutup kembali. Sepertinya dia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menyelesaikan keadaan ini. Sejenak keheningan menyelimuti aura di sekeliling mereka berdua. Rico sibuk menebak-nebak apa lagi yang ada di pikiran cewek tu. Untung saja saat itu HP Ciya bunyi. Rico menarik napas lega saat Ciya beranjak mengangkat HP-nya. "Halo, Yo....." Rico menahan napas saat Ciya menyebutkan nama cowok itu. Nama cowok yang lumayan menyita perhatiannya sejak pertama kali Ciya pindah ke sini. Ia ingin tahu apa hubungan Ciya yang sebenarnya dengan cowok itu. "Mau ke mal?" Ciya melanjutkan. "Boleh.... Tapi gue mau tidur dulu ya. Soalnya...." Mata Ciya mendelik menatap Rico, yang saat ini dianggap Ciya sebagai sumber penderitaannya tadi malam. "Gue kurang tidur semalem. Jam empat sore aja ya?" Ciya tersenyum, pertanda Aldy memberikan kata setuju, sebelum akhirnya Ciya memencet tombol berwarna merah. "Bye...." 
Ciya mendapati Rico masih memandangnya dengan tatapan minta persetujuan. "Apa liat-liat?" "Bener nggak mau?" "NGGAAAAKKKK!!!"

Komentar