Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 26|
part* 26 (ending)
Infinite Dream
KEESOKAN harinya, Rico bangun mendapati seluruh rumahnya
penuh rangkaian mawar merah. Ciya yang juga baru bangun langsung berhenti
menguap dan melongo melihat seluruh ruangan.
"Mau jualan bunga?" tanya Ciya, menarik setangkai
mawar merah.
Rico mengangkat bahu sambil melongokkan wajahnya ke ruang
tengah. Henry dan Fatma sedang berbicara di sana. Dan ternyata.....semua
rangkaian bunga itu dikirim oleh Oom Henry buat Tante Fatma sebagai ungkapan
maaf atas kejadian kemarin malam. Dan kalau dilihat dari keadaan sekarang,
rasanya Oom Henry sayang kok sama Tante Fatma. Mungkin kurangnya komunikasi
saja yang menjadi kendala. Dan mungkin, Tante Fatma juga bersalah karena telah
menanamkan selekat-lekatnya pertanyaan bahwa suaminya itu memang mencintai
wanita lain.
"Nyokap-bokap lo udah baikan ya?" tanya Ciya lagi
saat melihat Henry dan Fatma berpelukan. Sepertinya suasana hati orangtua
angkatnya itu jadi lebih baik. "Mudah-Mudahan....," ujar Rico sambil
menarik Ciya kembali ke kamar. "Eh....." Ciya menyenggol tangan Rico.
"Kayaknya gue ngerti siapa yang nurunin bakat bermulut manis dan pintar
merayu lo. Hehehe...."
Rico mendelik. Dan sebelum cowok itu mengepalkan tangannya,
Ciya langsung ngacir ke kamar sambil cengengesan.
***
Oke.... Ternyata semua masalah memang selalu ada
pemecahannya. Hanya saja, tergantung apakah kita memang ingin mencari jalan
keluarnya atau tidak. Dan saat jalan keluar itu sudah ada, tinggal tergantung
kita apakah berani mengambil konsekuensinya atau tidak. Setiap keputusan pasti
ada risikonya, kan? Lebih baik menghadapi kenyataan pahit daripada tidak berani
menghadapinya sama sekali.
Dan akhirnya semuanya selesai!
Mama dan papa Sha-Sha sempat mengamuk-ngamuk begitu tahu
pertunangan anak mereka batal. Tapi akhirnya bisa diredam karena semua orang
(Henry, Rico, Sha-Sha, bahkan Fatma) berusaha menjelaskan dengan kalimat
sesopan dan sehalus mungkin. Ternyata pikiran bahwa mereka mau menyatukan kedua
perusahaan bertaraf internasional itu salah besar. Karena yang pertama kali
diucapkan kedua orangtua Sha-Sha waktu tahu tentang batalnya pertunangan dan
akhirnya menyerah dengan bujukan semua orang itu adalah: Oh,
whatever.....whatever.....mereka nggak tahu aja apa yang mereka perbuat. Tenang
aja, my daughter, masih banyak kok laki-laki yang mau sama kamu. Si Rico aja
yang buta. Masa dia lebih milih cewek jelek itu dibanding kamu."
Untung aja Ciya nggak denger, kalo Ciya denger, mungkin
rumah mereka akan berubah dari toko bunga menjadi tempat pemotongan sapi. Satu
lagi! Rico akhirnya memutuskan menyumbangkan lahu di konsernya Sha-Sha. Tapi
berhubung waktu konsernya tinggal seminggu lagi, Rico cuma nyumbang satu lagu
dan itu pun lagu yang memang sudah dihafalnya.
"Alah, Pagode lagi...." cibir Ciya saat menemani
Rico latihan. "Bilang aja nggak bisa lagu lain." "Waktunya udah
mepet, tahu. Tinggal seminggu mau latihan apa?" "Ya kalo gitu bikin
konser solo aja tahun depan. Kan jadi bisa lebih bagus."
"Itu udah pasti. Tapi gue mau cari sponsor dulu. Siapa
tahu ada sponsor yang denger waktu konsernya Sha-Sha trus dia mau ngebiayain
konser gue tahun depan. Sha-Sha kan udah punya nama, jadi siapa tahu banyak
sponsor yang dateng."
"Idih, bilang aja nggak punya duit. Belagu mau bikin
konser segala. Bisanya juga cuma satu lagu doang, ntar juga...." "CIYA!!!!!"
***
jadi, begitukah.....semua orang sibuk dalam satu minggu
ini.
Sha-Sha hampir tiap hari bolak-balik ngurusin dekorasi
gedung sekaligus tetek-bengeknya. Rico sibuk latihan. Henry dan Fatma? Nggak
ada konser aja udah sibuk, apalagi ada konser. Lalu apa kabar Ciya, Natya,
Jesse, dkk?? Sehari sebelum konsernya Sha-Sha.....
"Mau apa sih?!" teriak Ciya ketika pagi tadi,
tanpa ba-bi-bu lagi, Jesse dan Natya langsung menarik Ciya ke mal. Dan sekarang
mereka berada di sebuah salon yang.....mmm.....lumayan terkenal. Seenggaknya
Ciya sering membaca majalah-majalah merekomendasikan salon ini. "Gue mau
pulang!" Ciya langsung ngibrit. "Eiitsss.....stop!!!!" Natya
lebih dulu menarik tangan Ciya.
"Dua hari lagi kan konsernya Sha-Sha." "Besok, Nat,"
ralat Ciya. "Nah, apalagi besok! Masa iya elo mau tampil dekil kayak
gini?" Ciya mendelik. "Eh! Apa maksud lo gue dekil?!"
"Nggak usah banyak cincong!" seru Jesse. "Nih jadwal lo hari
ini. Dan elo nggak bakal bisa pulang sebelum jadwal ini selesai!" Ciya
mengambil secarik kertas dan langsung melotot detik itu juga.
Daftar kegiatan 1: 1. Spa ke salon 2. Creambath 3. Mandi
susu 4. Luluran 5. Facial 6. Medicure 7. Pedicure
"Hehh!! Lo pikir gue mau kawin?!"
*** Jesse dan Natya berjalan keluar dari salon dengan
langkah lunglai akibat selama empat jam yang lalu mereka sibuk menyuruh Ciya
diam. Tapi keletihan mereka terobati tatkala mereka melihat "the new
Ciya" di sana. Ciya tersenyum sambil berputar. "Gimana?"
Natya mengerutkan
keningnya sebentar, kemudian tersenyum balik pada Ciya dengan jari telunjuk dan
jempol membentuk lingkaran. Jesse mengerling pada Natya. "The mission is
almost complete." Oke..... Bayangkan saja jika seseorang yang kamu kenal
tiba-tiba berubah dari biasa menjadi luar biasa: 1. Rambut jabrik Ciya berubah
menjadi lemas lurus tergerai___setelah ditarik-tarik dan dipenuhi asap___dengan
potongan shaggy sebahu. 2. Semua kukunya dipotong rapi. 3. Kulitnya
"cling-cling" karena digosok pasir___Ciya kira scrub itu sebangsa
pasir___dan diamplas selama berjam-jam. Belum lagi mesti berendam di kolam susu
yang rasanya___Ciya sempat menjilatnya sedikit. Yaiks!!___nggak manis itu. 4.
Mukanya juga mulus setelah dua jam Ciya menjerit-jerit setiap kali mbak salon
memencet komedonya. Kebetulan kulit wajah Ciya memang nggak ada jerawat. Tapi
komedonya segudang. 5. Bulu-bulu di sekujur tubuhnya juga dibabat habis.
Nggak usah ditanya deh gimana hebohnya Ciya saat prosese wax
berjalan. Semua orang di salon itu mengira ada orang melahirkan! "Siapa
bilang lo boleh pulang?" seru Jesse ketika Ciya merengek minta pulang.
"Jadwal kegiatan lo belum habis. Nih masih ada lagi!"
Nggak usah ditanya deh gimana hebohnya Ciya saat prosese wax
berjalan. Semua orang di salon itu mengira ada orang melahirkan! "Siapa
bilang lo boleh pulang?" seru Jesse ketika Ciya merengek minta pulang.
"Jadwal kegiatan lo belom habis. Nih masih ada lagi!"
Daftar kegiatan 2: 1. Beli gaun warna putih (kalo bisa yang
agak-agak seksi) 2. Beli sepatu warna putih (yang haknya tingginya minimal 8 cm)
3. Belo kalung putih 4. Beli anting-anting putih (pilih yang agak panjang,
minimal 10 cm)
Apaan lagi ini??? Ciya membelalakkan matanya lebar-lebar.
Sebenarnya siapa sih yang mau konser? Kenapa mesti dia yang jadi ribet begini?
"Jangan protes!" cetus Natya ketika melihat Ciya hendak membuka
mulut. "Tenang ajalah. Besok kita akan mem-buat semua orang di konser
Sha-Sha tercengang-cengang." "Ada juga orang tercengang-cengang
ngeliat permainannya Sha-Sha," Cita cemberut. "Ngapain gue yang mesti
dicengang-cengangin?" "Cerewet!!" Dan begitulah..... Ciya mau
tak mau harus memasuki entah berapa puluh toko baju, mencoba entah berapa ratus
gaun, dan memilih entah berapa ribu aksesori. Mulai dari toko baju bermerek
yang harganya berjuta-juta___" Gila lo! Kalo gaun polos kayak gini
harganya tiga juta, mending gue beli kali gelondongan trus gue jahit
sendiri!"___sampai ke toko kecil dengan harga cuma puluhan ribu___"
Ini mah sama aja gue beli baju di kaki lima, Jesse."
Mulai dari gaun putih polos dengan desain simpel___"Lo
pikir sekarang zaman Yunani yang pake baju cuma kain dilitin?"___sampai
gaun kuning dengan desain berumba-rumbai___"Buset! Emang gue mau konser
dagdut?"
Mulai dari anting-anting yang panjangnya menyentuh
bahu___"Sekalian aja lo taro kalung di kuping gue!"___sampai kalung
yang desainnya panjang dan bertumpuk-tumpuk___"Lo mau, gue dikira alih
profesi jadi dukun?" Mulai dari sepatu yang berhak lima belas senti___"Kenapa
nggak sekalian beliin gue egrang aja?"___sampai sepatu bot
selutut___"mau nyuruh gue naik kuda?" Dan saat semuanya selesai....
Mereka bertiga langsung jatuh terkapar di kasur Natya.
***
Jam tujuh malam keesokan harinya.....
Semua orang sudah hampir memenuhi Gedung Ground Art___tempat
konsernya Sha- Sha___sejak jam lima sore tadi. Ternyata nama Raisha Wellina di
kalangan pemusik sudah cukup terkenal. Sehingga walaupun harga tiket hampir
mencapai setengah juta rupiah, tetep aja ludes habis!
Suasana Ground Art tidak berbeda jauh dengan Gedung
Nasional. Hanya saja di sini nuansanya jauh lebih klasik. Pertama kali masuk ke
gedung ini, kita seperti diseret ke nuansa tahun 60-an.
Permadani cokelat dengan gambaran lilitan bunga terbentang
di seluruh ruangan. Seluruh dinding dicat dengan warna tembaga. Semua peralatan
bernuansa perak dan penuh dengan ukiran. Sepasang patung Cupid emas putih
menyambut pengunjung di hilir tangga. Dan di sepanjang tangga, berderet lampu
tempel dengan ukiran kupu-kupu.
Semua bangku di ruang konser berwarna cokelat tua.
Deretannya berbentuk setengah lingkaran yang semakin ke belakang akan semakin
meninggi. Sebuah lampu kristal gantung superbesar tertampang dengan megah di
tengah-tengah. Tebaran kupu-kupu kertas bergelantungan di seluruh ruangan. Dan
panggung yang berhiaskan tirai sutra perak membuat suasana seperti berada dalam
dunia peri.
Begini ceritanya.......
Konsep konsernya Sha-Sha kali ini bertajuk "Infinite
Dream". Masih inget kan, dongeng-dongeng sewaktu kita kecil? Masih inget
juga kan, seberapa besarnya rasa percaya kita waktu kecil dulu terhadap hal-hal
itu? Rasa percaya itulah yang membuat mimpi selalu ada.
Nah....biasanya juga, dongeng itu selalu identik dengan
peri. Coba deh diinget-inget lagi! Dalam kisah Cinderella, ada yang namanya Ibu
Peri. Dalam kisah Putri Tidur ada peri jahat dan peri baik. Dalam kisah Pinokio
ada yang namanya Peri Biru. Dalam kisah Peterpan ada peri yang namanya
Tinkerbeel. See?? Hampir semua dongeng identik dengan peri. Karena itu, Sha-Sha
memutuskan mengambil objek peri untuk menerangkan konsep mimpi yang tidak
terbatas.
Cumaaa.....karena konser ini bukan buat anak kecil, perinya
diganti dengan kupu-kupu. Trus, biasanya peri itu kan bawa tongkat sihir yang
kalau digerak-gerakkan akan keluar cahaya perak. Makanya ruangan konser
didominasi warna perak dan bentuk kupu-kupu.
Hari ini Sha-Sha juga pakai gaun warna perak. Gaun model
sabrina dengan taburan kristal dari bagian bahu sebelah kanan menyebar ke
bagian pinggang, tempat bergelantungan kupu-kupu
palsu berwarna violet. Rambutnya digulung ala cewek-cewek di
komik Candy-Candy. Tau kan model rambut para lagy zaman dulu? Mungkin kalau
Sha-Sha sekalian pake sayap bohong- bohongan, konser kali ini bakal berubah
jadi pentas teatrikal.
***
"Wueitss....." Christian menyalami Rico saat tiba
di pintu masuk Ground Art. "Keren banget lo, man! Bener nih nggak mau
tunangan?!" ledek Chris, sementara Natya, Jesse, dan Viktor ikut menyalami
Rico. Rico mendesis sambil tertawa kecil. "Pasti tunangan. Tapi nggak
sekarang, man!" serunya sambil membalas uluran tangan teman-temannya.
"Eh, mana Ciya?" "Caelahh.....udah dicariin aja. Takut ilang
ya?" Viktor mengedipkan sebelah matanya. "Tenang aja! Lagi dijemput
sama Aldy." "Apa?" tanya Rico terkejut. "Sama Aldy?"
"Cemburu nih?" tanya Natya nyengir. "Gue kan sama viktor,"
Natya merangkul Viktor, "Jesse juga sama Chris," Jesse merangkul
Chris. "Ya udah, mau nggak yang jemput Ciya kan Aldy."
Rico memelototi Natya. Kenapa sih cewek ini menyebalkan
sekali?! "Nah, itu Ciya!" teriak Natya sambil menunjuk dua orang yang
beranjak ke arah mereka. Dalam sekejap Viktor dan Chris membelalakkan matanya
menatap sosok yang ditunjuk Natya. Yakin itu Ciya? Kok berubah jadi cantik
begitu? "Oke kan kerjaan gue?" ujar Natya meminta persetujuan Viktor.
"Hai...." Ciya tersenyum sambil merangkul Natya. "Udah lama
nyampenya?" "Gila!" seru Viktor tak percaya. "Ciya nih?
Cantik banget!" "Baru sadar gue cantik?" guraunya lalu memandang
Rico. "Cantik, kan?"
Dan jujur aja, sampai detik ini pun Rico masih bengong
menatap cewek di hadapannya itu. Okelah, mungkin Ciya nggak secantik Cinderella
dalam dongeng. Hanya saja, percaya nggak percaya, Rico benar-benar terpesona
melihat Ciya malam ini. Dengan balutan gaun baby doll pink yang lucu, (akhirnya
jadi warna pink, karena Ciya merasa warna putih kayak orang kawinan), rambut
digerai setengah dengan hiasan kupu-kupu kecil, dan make up tipis yang
menghiasi wajahnya, Ciya terlihat sangat mengesankan. "Heh!" Ciya
menepuk bahu Rico. "Cantik nggak?" Rico tersenyum.
"Lumayan....."
Ciya melongo. Cowok itu bilang apa? Lumayan? Cuma lumayan?
Udah capek-capek ngikutin aturannya Natya sampe seluruh badan sakit, semua bulu
dicabutin, nyari baju berjam-jam, muka dipoles nggak keruan begini, mesti
latihan pake sepatu tinggi sampe keseleo..... Dan ucapan yang diterima cuma
LUMAYAN?! Cowok itu gila ya?
Ciya mendesis. "Lo kalo sama cewek lain bisa muji-muji
dengan sangat manis. Kenapa sama gue pelit banget sih? Udah ah, kita duduk aja
di dalem!" gerutu Ciya sambil ngeloyor pergi. "Eh!" Rico menahan
tangan Ciya sebelum cewek itu sempat melangkah. "Bohong kok! Cantik
banget!"
***
Lampu mulai diredupkan. Tirai perak sedikit demi sedikit
mulai terbuka. Tepuk tangan terdengar bergemuruh. Rico memperhatikan
sekelilingnya. Tiba-tiba saja dia merasa seperti berada di sebuah adegam deja
vu. Rasanya kangen sekali saat-saat seperti ini. Tapi, tunggu sebentar.
Rico melihat ke arah
Natya cs Gadis itu melambai-lambaikan tangannya sambil meneriakkan kata-kata,
"Rico, I love you!" dan kalo mau tahu kenapa Viktor nggak marah,
karena cowok itu juga sedang melemparkan ciuman berkali-kali dengan meneriakkan
kata-kata yang sama walaupun tanpa suara. Sedangkan Jesse, dengan tampang
jaimnya nggak mungkin berani bertingkah aneh-aneh kayak gitu. Tapi, justru
cowoknyalah yang bermasalah. Chris memang nggak melakukan hal-hal di luar batas
akal sehat. Hanya saja, cowok itu menggelar spanduk besar-besar dengan tulisan
"WE LOVE YOU, RICO!" YA AMPUUUNNN!!!!!!! Kalau saja Rico tidak ingat
bahwa dia sedang berada di tengah-tengah panggung, mungkin dia tidak akan
segan-segan melemparkan grand piano di hadapannya ini ke arah empat orang
itu!
Ciya menatap Aldy yang juga tidak tahu harus berkomentar apa
melihat tingkah teman-temannya itu. Dia mendengus kecil. Kenapa sih dia mesti
terjebak di antara manusia-manusia abnormal begini? Iya sih, mereka itu emang
temennya. Tapi kalo temennya rada norak kan jadi ikut malu juga.
Denting piano mulai terdengar. Ciya sedikit terpana. Walaupun
bukan hanya sekali Ciya melihat Rico memainkan lagi ini, entah kenapa, saat ini
rasanya sedikit berbeda. Entah karena efek ruangan atau karena Rico terlihat
sangat ganteng saat ini. Ciya juga sempat melihat para penonton di bagian depan
berkasak-kusuk tentang Rico. Entah membicarakan tentang hilangnya Rico pada
tahun-tahun belakangan ini, atau tentang permainannya yang masih seperti dulu.
Mudah-mudahan sih, seperti yang Rico bilang, ada sponsor yang tertarik
membiayai konsernya lagi.
Ciya merogoh sisi dalam tasnya dan menemukan secarik kertas
putih di sana. Sesaat sebelum mereka masuk, Rico sempat menyelipkan kertas itu
ke tangan Ciya diam-diam.
Abis gue main, tunggu di belakang gedung ya. Jangan bilang
siapa-siapa!
Ciya tertawa kecil melihat tulisan yang tertera di sana.
Sejak kapan SMS jadi nggak berguna?
"Mau kemana, Ci?" tanya Aldy saat Ciya beranjak
dari tempat duduknya tepat setelah Rico membunyikan not terakhir. "Ke WC
sebentar...."
***
"Apa-apaan sih tuh orang berdua?!" Natya
membanting pantatnya di ranjang Ciya. Pasalnya, setelah Ciya pamit ke WC, dia
nggak nongol-nongol lagi. Natya pikir ada apa-apa. Nggak lucu kan kalo
tiba-tiba Ciya pingsan di kamar mandi. Akhirnya, Natya dan Jesse rela-relain
jongkok- jongkok memeriksa setiap WC demi sahabatnya itu. Setelah nyerah
mencari ke semua ruangan, Jesse akhirnya mencoba menelepon Ciya. And guess
what?? Tanpa rasa bersalah Ciya cuma bilang, "Hehehe.....sori, Jess. Gue
jalan duluan sama Rico ya. Lo tunggu di kamar gur aja. Jadi nginep, kan? Kamar
gue nggak gue kunci kok. Viktor sama Chris tunggu di kamar Rico aja. Gue pulang
maleman kayaknya. Oke? Bye!" Klik. Langsung ditutup!
Whaattt?!! Kalo tahu gitu, ngapain coba capek-capek
kuatir?!
"Udahlah, Nat," ujar Viktor menyodorkan segelas
air putih lalu duduk di kursi meja belajar Ciya.
"Bukannya elo yang paling semangat supaya mereka
jadian? Sekarang, mereka pergi berdua, bagus dong."
"Iya bagus. Tapi nggak dengan cara ngilang begitu.
Tuhan nyiptain mulut juga buat ngomong. Kan seenggaknya gue nggak perlu kalang
kabut nyariin dia. Bikin panik aja," gerutu Natya, meletakkan gelas kosong
ke meja.
"Gua nggak nyangka mereka berdua jadian juga. Gue pikir
kita mesti ngejalanin rencana kita dulu baru mereka bisa jadian," ujar
Chris. "Padahal gue udah pikir mateng-mateng tuh. Jadi, pa konser, kita
pura-puea ngumpetin Ciya di gudang kek, di WC kek, trus kita bilang sama Rico
kalo Ciya hilang, nah, pas Rico berhasil nemuin Ciya, dia pasti terpana ngeliat
Ciya jadi cantik berkat ide lo, Nat," kata Chris pada Natya. "Abis
itu mereka jadian deh...." "Iya, saking bagusnya rencana lo, sekarang
malah kita yang kena nyariin Ciya yang ilang!" ujar Jesse.
Chris tertawa. Tapi tiba-tiba tawanya lenyap ketika melihat
Sha-Sha dan Aldy berdiri di depan pintu. "Sejak kapan lo berdua di
sana?" "Sejak lo bilang udah mikir mateng-mateng." Aldy tertawa
kecil lalu duduk di sofa. Sha-Sha ikut duduk di sebelahnya. "Sori,
Al," kata Chris merasa bersalah. "Gue nggak bermaksud buat...."
"Nggak papa kok." Aldy menepuk-nepuk punggung Sha-Sha. "Gue sama
Sha-Sha udah ngerelain mereka kok." Chris sedikit terkejut mendengar itu.
"Yakin nggak apa-apa? Gue kan jadi nggak enak. Atau..." Tiba-tiba saja,
seakan tersadar sesuatu, Chris mendelik dengan mulut membulat sambil
mengacungkan jari telunjuk ke arah Aldy dan Sha-Sha. "Ooww....elo sama
elo.....?" "Bukan gitu...." Sha-Sha menggoyang-goyangkan
tangannya.
"Eh....," seru Viktor tanpa memedulikan omongan
yang terjadi barusan, "iin foto siapa ya?" Dia mengacungkan foto
Billy. "Payah nih Ciya. Mestinya kan dia masang foto Rico. Kok masang foto
cowok lain sih? Foto Rico malah nggak ada." "Mana?" Natya
merebut foto berbingkai itu dari tangan Viktor. "Ini mantannya Ciya. Iya
nih, seharusnya diganti. Gue copot ah....." "Nih...." Viktor
dengan sigap menyodorkan selembar foto Rico. "Gue colong dari kamarnya
Rico. Hehehe....," ujarnya, menjawab ekspresi Natya yang bengong saat dia
menyodorkan foto itu. "Sebenarnya yang punya kamar siapa sih?" ucap
Jesse melihat tingkah mereka bertiga. "Udah sembarangan masuk, nyolong
foto, lagi." "Apaan nih?!" seru Natya tanpa memedulikan Jesse.
"Ada surat....." Dia mengambil satu amplop yang terjatuh saat dia
membuka bingkai foto tadi.
Aldy langsung beranjak dari duduknya. "Tulisan
Billy..." gumamnya saat melihat tulisan yang tertera di sana. Serentak,
Jesse, Natya, Viktor, Chris, dan Sha-Sha mengerubungi kertas itu. "Apa
isinya?"
Chiara.....
Di saat udah waktunya melepas foto ini, apa udah mengerti
kenapa gue melakukan semua ini? Apa udah menemukan pengganti gue? Gue agak
nggak rela sih. Tapi siapa pun itu..... Gue harap lo bisa menemukan yang
terbaik buat lo. Yang bisa menjadi
sandaran lo di saat lo sedih. Yang bisa menemani lo saat lo
bahagia. Yang bisa selalu ada saat lo butuh seseorang. Yang bisa menutup semua
kekurangan yang udah gue kasih buat lo. Sebenarnya gue tahu dengan sangat jelas
perasaan Aldt terhadap lo. Tapi, mungkin ini egoisnya gue. Gue nggak rela aja
menyerahkan lo ke dia. Dia memang teman gue yang terbaik, teman terbaik yang
melebihi apa pun.....apa pun! Apa pun, Chiara..... Kecuali elo! Mungkin semua
hal masih bisa gue relain buat kalah dari dia. Semua hal! Kecuali elo. Elo
aja..... Tapi ternyata keegoisan gue malah menyeret semua orang ke dalam
masalah. Jadi, apa sekarang gue masih pantas nggak merelakan lo untuk orang
yang bisa membahagiakan lo? Nyatanya, gue lebih pengen lo bahagia. Entah dengan
Aldy atau lainnya yang mendampingi lo sekarang. Tapi satu hal! Dalam kehidupan
mendatang, gue pasti akan mengambil kembali tempat yang memang seharusnya
menjadi posisi gue. Gue yakin, Tuhan nggak bakal segitu nggak adilnya. Mulai
dari sekarang, gue bakal bilang sama Tuhan kalo di kehidupan nanti gue nggak
mau jadi kakak lo. Gue mau jadi pacar lo!
Love you, Billy.....
Epilog
Dan cinta itu telah memilih cinta.... "MAU kemana,
Kyo?" tanya Ciya saat Rico memarkir mobilnya. Ciya melongokkan wajahnya,
berusaha melihat apa yamg tersembunyi di balik pagar bambu yang ada di
hadapannya. "Masuk yuk!" ajak Rico sambil mendorong salah satu sisi
pagar tersebut ke dalam. "Rumah lama sih, tapi bagus kok." "Ngapain sih ke sini?" Ciya
merinding melihat keadaan di sekitarnya yang gelap gulita. "Takut ah,
Kyo...." Ciya berbalik lagi keluar. "Heh!" Rico menarik tangan
Ciya. "Nggak apa-apa kok. Setan juga takut sama tampang lo!"
Ciya mendelik. "Tambah nggak mau ikut!" gerutunya.
Rico tertawa. " Bercanda..... Kalo udah liat, pasti lo berubah pikiran
deh!" Rico menggenggam tangan Ciya. "Ayo, jalan....." Mau nggak
mau Ciya cuma pasrah. "Nah, di sini!" Rico berhenti di sebuah tempat.
"Ada apa?" Ciya melihat ke sekelilingnya. Tapi tetep nggak ada yang
bisa dilihat. Cuma pohon, rumput, pohon lagi, rumput lagi. Apanya yang bagus?
Rico tersenyum, lalu dalam hitungan detik tiba-tiba saja
semua pohon dan ranting bersinar. Ciya terbelalak. Rasanya seperti melihat
ratusan bintang yang merajut mengelilingi pohon dan dedaunan, yang merambat
dari satu dahan ke dalam lain, membuat lilitan keperakan jembatan Bimasakti.
"Suka?" tanya Rico.
Ciya memandang Rico tak percaya. "Gila! Bagus banget!!
Rico tertawa. "Satu lagi....." Dia menarik Ciya ke tempat yang
sedikit lebih tinggi. "Liat...." Rico menunjuk ke arah tebing di
bawah mereka. Dan di sana terpancar ribuan cahaya kelap-kelip lampu dari
seluruh rumah yang berada tepat di kaki bukit ini. Ada juga cahaya lampu mobil
yang melintasi jalan-jalan kecil, terlihat seperti komet yang terus-menerus
meluncur ke arah yang berlawanan.
Ciya menatap Rico, masih tak percaya. "Ini?"
Rico tersenyum, merangkul Ciya. "Ini bintang-bintang di
bumi yang bisa gue kasih buat lo. Billy cuma bisa memperlihatkan kepada lo
separuh dari bintang-bintang yang ada di langit." Rico menunjuk ke atas.
"Dan sekarang gue yang ngasih lo separuhnya lagi. Mungkin bukan dari sisa
bintang yang berada di belahan bumi yang lain. Tapi bintang-bintang yang bisa
gue rangkai untuk selalu bersinar kapan pun lo mau. Bintang-bintang yang bisa
selalu ada di saat lo butuh untuk cerita. Bintang-bintang yang bisa selalu ada
kapan pun lo sedih. Bintang-bintang yang bisa selalu ada di saat lo ingin
ditemani tertawa. Bintang-bintang yang nggak perlu menunggu malam yang cerah
untuk muncul." Ciya terpana. "Lo rela ninggalin konsernya Sha-Sha
cuma demi ini?" "Demi lo....." Rico memeluk Ciya.
"Ci.....apa boleh gue menggantikan bintang-bintang itu? Apa boleh gue yang
menjadi pengganti cahaya-cahaya kecil buat lo? Apa boleh gue yang menjadi
sandaran bahu lo saat lo sedih? Apa boleh gue yang membuat lo tersenyum? Apa
boleh bintang- bintang itu beristirahat dari tugasnya untuk ngejagain
lo?"
Ciya terdiam mendengar perkataan Rico. "Tugas
bintang-bintang itu berat lho, Kyo," ujarnya di pundak Rico. "Harus
bisa menghadapi manjanya gue, cengengnya gue, emosinya gue, egoisnya
gue, begonya gue...."
Rico melepaskan pelukannya sebelum Ciya menyelesaikan
perkataannya yang tarkhir. Membuat kalimat itu menggantung begitu saja.
"Emang tugas bintang-bintang separah itu?" Rico membelalak.
"Kalo gitu nggak jadi deh....."
Ciya melongo menatap Rico. Apa-apaam sih cowok ini? Baru
kali ini ada cowok yang nembak terus bilang nggak jadi. Ciya mendesis kesal.
Bukan kesal sama Rico. Okelah, dia kesal dipermainkan begitu, tapi dia jadi
lebih kesal pada dirinya sendiri karena sesaat tadi dia benar- benar lupa bahwa
Rico itu playboy. "Hei!" Rico tertawa melihat tampang Ciya.
"Nggak enak kan, kalo lagi serius-serius diajak bercanda? Makanya kalo gue
lagi serius, jangan dikira bercanda. Dari pertama kali gue bilang suka sama lo
di Dufan, sampe saat ini, gue serius."
Ciya cemberut. Jadi nggak tahu mesti percaya apa nggak. Rico meletakkan kedua tangannya di pipi Ciya.
"I don't know why I'm falling in love with you. But one thing that I know
is.... I need you."
Ini bukan pertama kalinya bagi Rico dalam hal
"Nembak-nembakan" atau "kegiatan" lainnya yang sejenis itu.
Ciya juga bukan orang pertama yang ditanyainya dengan kalimat serupa. Kalimat
pertanyaan yang biasanya diucapkan sambil lalu dengan asal yang kemudian selalu
mendapatkan jawaban "ya" atau sebuah anggukan samar malu-malu.
Sementara kali ini, dia harus memompa segala keberanian dari
dalam dirinya sebelum mengucapkan kata-kata tadi. Kata-kata yang biasanya dia
ucapkan tanpa peduli apa jawaban yang akan diterimanya, kini membuat
perasaannya berdebar-debar aneh tak keruan. Kebiasaan menyenangkan untuk selalu
mendapat jawaban "ya" malah menjadi bumerang bagi dirinya. Kini, dia
justru takut mendapat jawaban yang sebaliknya. Rico tidak pernah lagi mengalami
perasaan aneh seperti ini sejak.....
Ciya terdiam menatap Rico sampai akhirnya beberapa patah
kata meluncur pelan. "Maaf, Kyo, mungkin gue nggak bisa...." Rico
terbelalak mendengar ucapan Ciya. Tadi Ciya bilang apa? Nggak bisa?
Ciya tersenyum, gantian meletakkan tangannya di pipi Rico,
membuat cowok itu menatapnya. "Maaf, Kyo. Gue nggak bisa nolak lo.
Hehehe....."
Rico benar-benar lemas sekarang. Dasar Ciya! Ciya tertawa.
"Kalo gue sampe nolak lo, mungkin yang paling sakit hati itu bukan lo,
tapi gue."
Rico memeluk Ciya. "Jangan bercanda lagi! Kalo sampe lo
bilang ucapan lo barusan cuma bohong, mungkin gue nggak bakal nganterin lo
pulang." Rico menatap Ciya. "Gue tentang lo ke bawah sana!"
Ciya tergelak lalu memandang bintang-bintang. "Billy,
muali hari ini, dia yang bakal ngejagain gue!" teriak Ciya. "Jadi lo
tenang aja di sana! Gue pasti bahagia! Lo juga mesti bahagia!!"
Rico tersenyum lalu mencium pipi Ciya. "Billy itu orang
baik. Dan katanya orang baik itu setelah meninggal akan berubah jadi bintang
sampai kehidupan selanjutnya. Tapi sampe kehidupan selanjutnya pun, gue nggak
bakal ngasih dia kesempatan buat ngedeketin lo lagi!"
Ciya mencibir. "Kita liat aja!" "Liat aja
apaan?" "Liat aja kalo lo sampe berani ngeluarin kebiasaan playboy lo
lagi!" "Eh! Mestinya gue yang bilang begitu! Liat aja kalo lo sampe
selingkuh sama Aldy!" "Liat aja kalo lo sampe cinta lagi sama
Sha-Sha!" "Lia aja kalo lo masih bilang nggak bisa ngerelain
Billy!" "Li...." Rico memeluk Ciya sebelum cewek itu berlanjut
dengan kalimatnya. "Nggak usah liat-liatan lagi....," ujar Rico
tersenyum. "Sekarang, ayo bilang sayang sama gue!" "Hah?!"
"Lo belom pernah bilang kalo lo sayang sama gue! Ayo bilang!"
"Belom pernah bilang ya?" Ciya tertawa. "Ehm....oke.... Gue cuma
mau bilang sekali, jadi dengar baik-baik!" Ciya berdeham. "Gue sayang
sama.....bintang! Hahaha...." "CIYAAA!!!!!"
Komentar
Posting Komentar