Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 2|
part* 2
Rico membanting buku gegrafinya ke kasur. Sinting! Baru
seminggu masuk sekolah, udah ada ulangan. Sekolah apaan tuh? Gedungnya aja yang
bagus, tapo semua gurunya nggak berperasaan. Apalagi ditambah harus sekelas
dengan saudara tirinya yang menurutnya cukup aneh! Tolong dicatat besat-besar!
ANEH!!! Masih terngiang di benaknya saat kemunculan cewek itu pertama kali di
rumahnya.
Dia datang dengan membawa koper superbesar dan rambut lurus
tergerai. Tadinya Rico pikir, anak angakt itu identik dengan pakaian lusuh,
tubuh superdekil, tampang yang mengenaskan karena hidup sebatang kara dan kurus
ceking karena kurang makan, and guess what? He's totally wrong! Kenyataannya
amat sangat berbeda dari apa yang dibayangkannya. Cewek itu jauh sekali dari
kesan lusuh, apalagi dekil. Kulitnya putih, bajunya juga layaknya anak
ABG___tank top pink, celana jins, dan sepatu pump biru cerah. Wajahnya memang
terlihat pucat, tapi senyumnya masih melekat di wajahnya. Tubuhnya juga tidak
bisa dibilang ceking, walau untuk ukuran Rico, dia masih termasuk kurus.
"Rico, mulai sekarang dia jadi adik angkat kamu. Jangan
galak-galak! Dia bakal tidur di kamar atas, sebelahan sama kamar kamu,"
kata Papa saat memperkenalkan cewek itu.
What?! Masuknya ceweknya cewek asing ke rumah ini aja sudah
membuat Rico pusing setengah mati. Dan sekarang makhluk aneh itu harus tidur di
kamar sebelahnya? Memang sih di rumah besar itu ada enam kamar. Di lantai bawah
terdapat empat kamar. Yang satu, kamar yang paling besar, kamar mama dan papa
Rico. Yang satu lagi, kamar tamu. Kadang-kadang kalau sedang berada di Jakarta,
Papa sering mengundang rekan bisnisnya makan malam dan menginap. Sisanya, yang
dua lagi itu, kamar pembantu. Sedangkan di lantai atas ada dua kamar. Yang satu
miliknya, sedangkan yang satu lagi memang tidak terisi. Dan dia tidak ibsa
membayangkan, lantai dua yang biasanya menjadi daerah kekuasaannya kini harus
dibagi dua dengan cewek asing yang sama sekali tidak dikenalnya. "Kenalin.
Gue Vannesa Chiara. Panggil aja Ciya. Maaf ya udah ngerepotin. " Ciya
mengulurkan tangan kanannya. Mau tak mau
Rico membalasnya sekilas. "Enrico Leman." Belum lagi ras herannya
hialng, tiba-tiba Ciya nyerocos. "Wah, namanya bagus banget! Tapi
kepanjangan ah, nggak enak manggilnya. Gimana kalo.... mm.... Enrico.... Ah
iya, gue panggil Kyo aja ya? Bagus kan, Kyo? Dulu gue punya kura-kura kecil.
Namanya juga Kyo. Lucu, kan?" Rico melotot. Sinting! Masa dia disamain
sama kuyya? Jadi begini nih keadaan anak angkatnya Papa yang katanya baru
kehilangan nyokapnya? Sama sekali nggak ada kesan kalau dia sedang
berkabung.
Sejak kehadiran Ciya di rumah ini, Rico tidak bisa tidur
nyenyak dan makan dengan enak. Bayangkan saja, Papa yang tidak pernah ingat
ulang tahunnya (ulang tahun Rico maksudnya), Papa yang di kepalanya hanya ada
bisnis, Papa yang pulang hanya setahun sekali itu, tiba-tiba balik ke Jakarta
hanya untuk ngurusin pengangkatan anak yang boro-boro punya hubungan darah,
yang bahkan Rico sendiri pun nggak kenal.
"Kan kasihan dia udah nggak punya siapa-siapa
lagi," ujar Papa beberapa hari lalu saat Rico memperotes tindakan papanya
itu. Cih, baru kali ini dia mendengar papanya yang gila uang itu berbicara
tentang makna kasihan. Siapa sih sebenarnya cewek itu? Yang Rico tahu hanya
sebatas: 1. Papa Ciya pergi dari rumahnya dua tahun yang lalu,
2. Kakak Ciya meninggal setahun yang lalu karena overdosis,
dan 3. Mama Ciya tiba bulang yang lalu meninggal karena sakit jantung. Yang
bener aja! Masa Papa ngangkat anak yang asal-usulnya aja berantakan?
Rico berjalab keluar kamar. Buku geografinya ditinggal
begitu saja. Lampu kamar Ciya sudah padam. Maklumlah, semuap pintu di rumah itu
terbuat dari kaca yang digrafir. Jadi, Rico bisa melihat lampunya sudah padam
atau belum. Dia beranjak turun mengambil minum. Langkahnya terhenti saat
melihat papanya duduk di sofa. "Papa belum tidur?" tanya Rico. Pria
itu tersenyum dan menyururhnya duduk di sebelahnya. "Kamu masih marah sama
Papa karena mengangkat anak tanpa menanyakan pendapatmu dulu?"
Rico hanya diam. Bukannya memang selalu begitu? Nggak pernah
ada pendapat!
Pria setengah baya itu mengembuskan napas panjang memandangi
putra semata wayangnya. "Papa tahu Papa udah bikin kamu sama mama kamu
kecewa banget sama Papa. Tapi, Papa punya alasan kuat di balik semua ini. Hanya
saja, Papa nggak bisa bilang sekarang. Mama kamu juga masih keki tuh sama Papa.
Makanya dia tidur duluan."
Rico memandang wajah papanya. Dia benar-benar tidak habis
pikir. Selama ini papanya orang yang paling terbuka perhadapnya. Tapi kenapa
mendadak jadi misterius begini? "Yah, kecewalah. Aku kan sama sekali nggak
kenal sama dia. Anaknya aneh begitu, lagi. Kenapa sih Papa nggak ngangkat anak
yang laen aja? Yang bagusan dikit gitu."
Papanya tergelak mendengar ocehan anaknya. "Rico, dia nggak
seburuk itu kok. Oh ya, lusa Papa mau berangkat ke Singapura sama Mama. Abis
itu mungkin ke Korea. Kamu baik-baik sama dia ya. Kalian juga kan baru satu
minggu masuk sekolah, jadi jangan berkelakuan aneh- aneh. Ciya itu selalu dapat
peringkat kelas, jadi kalau kamu kesulitan pelajaran, tanya aja sama dia. Dan
kalau visa, kalian pulang-pergi sekolah sama-sama saja. Kamu kan bawa motor.
Papa sengaja memasukkan dia ke SMA yang sama dengan kamu biar kalian bisa
saling membantu." Rico melongo . Heh? Enak aja! Ngapain juga ngeboncengin
dia ke sekolah? Sesaat Rico mengingat kejadian tepat seminggu yang lalu.
Rico membaca deretan huruf yang tertera pada selembar kertas
yang dia pegang. Senyum puas muncul di wajahnya. Kemudian dia berjalan dan
masuk ke kamar Ciya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rico bengong melihat
kamae itu kosong. Masih jam enam pagi kok udah gak ada orangya sih? Tapi
semenit kemudian matanya melotot melihat Ciya yang baru keluar dari kamar mandi
hanya dengan mengenakan selemar handuk!
Rico tidak begitu jelas mendengar umpatan apa yang keluar
dari mulut Ciya. Yang jelas, segala jenis bantal dan perabotan beterbangan ke
arahnya, membuat dia lari tunggang-langgang keluar kamar. Setengah jam
kemudian....
Mereka duduk berhadapan di sofa yang terdapat di depan kamar
mereka berdua. Di depan kamar Ciya dan Rico terdapat terdapat semacam
perpustakaan kecil. Pada salah satu sisi dinding penuh berbagai buku. Di sisi
yang lain terdapat komputer dan sofa hijau. Di sofa itulah mereka duduk saat
ini. "Ini....." Rico menyerahkan selembar kertas. "Apaan
nih?" Ciya mulai membaca kata per kata.
PERATURAN 1. Di
sekolah harus pura-pura saling tidak kenal apalagi ngaku-ngaku sodara. 2.
Pulang dan pergi sekolah sendiri-sendiri. 3. Kalau di rumah nggak boleh
nanya-nanya persoalan peribadi. 4. Pemakaian komputer harus keizin Rico. 5.
Harus menjaga privasi satu sama lain, jadi nggak boleh masuk kamar orang lain
sembarangan. Ciya mengerutkan dahinya kemudian tertawa. "Apaan nih? Masih
zaman ya, pake peraturan-peraturan segala? Kyo lucu deh....." Mata Rico
hampir keluar beberapa senti. Bukan hanya karena Ciya tidak menanggapi
perjanjian itu, tetapi lebih karena dia dipanggil "Kyo". "Jangan
panggil gue Kyo!" Rico hampir berteriak, tapi Ciya hanya senyam-senyum.
"Kalo gitu gue juga punya peraturan," ujar Ciya dengan senyum licik.
"Kalo gue boleh manggil elo dengan panggilan Kyo, apa pun peraturan yang
elo buat pasti gue turutin. Gimana?"
Rico merasa darahnya sudah hampir sampai ubun-ubun. Bener
nggak sih nyokapnya anak ini bar meninggal? Kok nggak ada sedih-sedihnya? Mimpi
apa pula dia, kok bisa dapet adik angkat kayak gini? Bayangan Rico sebelumnya
karena dia anak tunggal, seorang adik adalah sosok yang manis, ramah, lucu,
cantik, dan pintar. Tapi begitu melihat Ciya, semua pikiran itu langsung kabur
entah ke mana. Sebenarnya nggak bisa dibilang kalau Ciya itu adik angkat,
karena toh mereka seumur. Rico hanya lebih tua dua bulan dibanding Ciya.
"Eh, jangan bengong!" Suara Ciya membuatnya terkejut. "Gimana?
Gue kan cuma punya satu aturan. Masa nggak mau? Lagian nama Kyo kan
lucu."
Rico menelengkan kepalanya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi,
dia kembali mengambil kertas tadi dengan kasar dan berjalan masuk ke kamar.
"Hei...." Belum lagi tiga langkah, suara Ciya membuat langkahnya
terhenti. Rico berbalik. Ciya menyungging senyum penuh kemenangan. Sesaat Rico
ingin sekali menghajarnya kalau tidak pngat makhluk yang ada di hadapannya itu
berjenis kelammin perempuan. "Lo tuh aneh ya?" Ciya menyilangkan
kakinya ke atas sofa. "Pertama, gue nggak pernah ngerasa punya saudara
selain kakak gue sendiri. Lagian emangnya gampang nganggep orang yang sama
sekali belom gue kenal jadi kakak gue? "Kedua, gue bakal dianter-jemput
sama temen gue. Dan yang lebih penting lagi, dia itu bawa mobil. Jadi, mau
sebagus apa pun motor li, tetep aja yang namanya mobil lebih bagus daripada
motor. Dan gue juga nggak butuh dianter-jemput sama lo. "Ketiga, emangnya
gue mau tahu apa soal perbadi lo? Tenagn aja, lo bukan tipe gue kok. Lo tuh
cuma bagus di tampang doang, tapi...." Ciya menunjuk-nunjuk dahinya.
"Otak lo kosong." Rico melotot. Tapi Ciya tak peduli. "Keempat,
gue juga tahu diri kok. Komputer itu kan emang punya lo. Gue juga nggak bakal
make punya orang lain tanpa izin. "Kelima, bukannya tadi lo yang masuk
duluan ke kamar gue sembarangan? Untung tadi gue pake handuk. Coba kalo gue
nggak pake apa-apa?"
Masih dengan senyumnya, Ciya berjalan masuk ke kamar,
meninggalkan Rico yang saat itu mengeluarkan asap dari berbagai lubang di
tubuhnya. Cewek itu bukan saja membuatnya kesal, tapi juga sudah membuat harga
dirinya habis sampai tetes terakhir.
Sejak saat itu, Rico sangat ingin membunuh Ciya.
1) Sebuah perkenalan
SUASANA makan hari ini sangat tidak mengenakkan. Setelah
seminggu yang lalu papa dan mama Rico berangkat ke Singapura, suasana rumah
jadi hening. Sebenarnya tadinya suasananya juga sudah hening, tapi sekarang
jadi lebih hening lagi. Sejak pertama kali masuk ke rumah ini, Ciya merasa
sedikit heran. Keluarga ini suka sekali dengan keheningan ya? Jarang banget
Ciya melihat Rico ngobrol dengan mama dan papanya. Dia lebih suka menghabiskan
waktu di kamar dan di depan komputernya. Sedangkan Ciya, mulutnya sudah gatal
pengen ngomong, meskipun tentang hal-hal yang nggak penting.
Rico sendiri masih tidak begitu memahami apa yang ada di
pikiran cewek yang sekarang tinggal serumah dengannya. Terkadang Rico mendapati
cewek itu melamun dengan tatapan sedih menyayat hati. Tapi di saat lain, dengan
gampangnya cewek itu tertawa riang tanpa peduli apa pun yang ada di sekitarnya.
Bukan cuma sekali-dua kali Rico memperhatikan Ciya, mulai dari cara bicara,
cara berjalan, dan cara mengekspresikan sesuatu. Rico tahu, apa pun itu, ada
yang tersamar dari setiap tingkah lakunya.
Dan yang jelas, walaupun Rico tahu, dia tidak peduli.....
Dan tidak mau peduli. Karena cewek ini yang merebut perhatian papanya. Huh!
"Kyo....," panggil Ciya. Tapi Rico tetap asyik menikmati roti
bakarnya tanpa peduli Ciya memanggilnya. Ciya mendengus. "Kyoooo!!!"
kali ini panggilan Ciya terdengar lebih panjang dan lebih lama. Dan sepertinya
tetap tidak berhasil. Rico tetap bergeming. Akhirnya Ciya melemparkan serpihan
roti ke muka cowok itu. Sekali..... Tak ada reaksi. Dua kali.... Tetap tak ada
reaksi. Tiga kali.... Dan BERHASIL! Rico akhirnya melihat ke arah Ciya.
Sayangnya, dengan mata yang hampir copot keluar. "Mau apa sih?!"
Ciya mendelik saat tahu dia dibenak. "Galak amat sih!
Emangnya kenyang apa makan roti doang? Nggak ada makanan lain apa? Orang kaya
kok makannya cuma roti? Gue aja dulu biar nggak kaya-kaya banget, tiap pagi
makan nasi." "Cerewet! Kalo masih mau makan, masak aja sendiri. Perut
kok kayak gentong!" "Eh! Gue kasian sama lo, tau! Nggak liat ya,
badan lo kaya cicak kering? Heran gue, kok banyak ya cewek yang mau sama
lo?!"
Patut diketahui, Rico tingginya 180 cm dengan berat 53 kilo.
Untuk ukuran cowok, itu termasuk sangat kurus. Tapiiii, ternyata Rico sangat
terkenal PLAYBOY! Sampai saat ini, rekornya yang tertinggi adalah empat kali
putus dan empat kali jadian dalam satu bulan. Bisa dibilang, waktu jadian sama
satu cewek cuma satu minggu. Sinting ya? Walaupun rekor itu terjadi setahun
yang lalu, bersadarkan isu yang beredar, nggak ada tuh masa jadian yang lebih
dari satu bulan. Kerennya lagi, Rico itu dinobatkan sebagai cowok populer di
sekolah biarpun waktu itu baru kelas 1. Mantan-mantannya itu memiliki sepuluh
kategori: 1. Populer 2. Cantik 3. Mesti pake rok mini
4. Tinggi 5. Putih mulus 6. Berdada ukuran minimal 34B 7.
Ramping 8. Rambut bonding (masih zaman ya?) 9. Berpinggul besar dan berpinggang
kecil 10. Tapi goblok!
Iya lah.... Mau-maunya aja jadian sama orang gila kayak Kyo.
Seenggaknya, itu menurut Ciya. Sebenarnya Rico itu tampan. Sangat tampan malah.
Hidungnya mancung, matanya cokelat terang, kulitnya putih. Maklum, gitu-gitu
Rico kan ada darah Jerman-nya. Tapi jujur saja, selain cakep, Ciya tidak
Okelah, dia termasuk salah satu gitaris di band sekolah___ini juga yang membuat
cewek-cewek lebih histeris___tapi kalau hanya ditunjang dengan sifatnya yang
pemarah dan emosian, apalagi suka nyuekin orang, menurut Ciya nggak ada bagus-
bagusnya. Pokoknya, menurut kamu Ciya, Rico itu belagu! BELAGU!!! Rico hendak
membalas ucapan Ciya. Namun, baru saja mulutnya mau terbuka.... "Ciya....."
Ada orang asing yang masuk ke ruang makan itu. Ciya mengembangkan senyumnya
melihar siapa yang datang. "Hei, Yoyo!! Tunggu ya, gue ambil dulu di
atas," ujarnya sambil berlari tanpa memedulikan rotinya baru setengah
dimakan dan Rico yang sedang menahan geram. Ini dia nih, teman yang dibilang
Ciya bakal mengantar-jemput. Namanya Ryonaldy Hartanu. Biasanya dipanggil Aldy.
Pengecualian untuk Ciya, Ciya lebih suka memanggil dia Yoyo. Biar lebih gampang
manggilnya, kilah Ciya. Tapi emang dasarnya Ciya aja yang suka ganti-ganti nama
orang seenaknya. Aldy lebih tua satu tahun darpada Ciya. Sejak pindah ke
SMA-nya yang "baru", mereka memang tidak bersekolah di tempat yang
sama lagi, tapi masih dalam kategori searah, jam masuk dan pulang sekolahnya
pun sama. Jadi dia menyempatkan untuk menjemput Ciya dulu. Bisa dibilang Aldy
itu kecil sekaligus cinta pertamanya Ciya. Sayangnya, cinta Ciya hanya bertepuk
sebelah tangan.
Waktu itu Ciya kelas 5 SD. "Yoyo, Chiara suka sama
Yoyo." saat itu, entah keberanian dari mana yang membuat Ciya berani
mengungkapkan perasaan yang telah dirasakannya sejak umur lima tahun. Aldy
adalah satu- satunya orang yang selalu ada di samping Ciya, selain Billy. Dari
TK, mereka bersekolah di sekolah yang sama dan tinggal di rumah yang berhadapan.
Tetanggaan maksudnya. Rumah Ciya yang dulu berada di depan rumah Aldy. Waktu
kecil, hampir setiap hari mereka main bertiga. Mau melakukan apa dan pergi ke
mana selalu bertiga. Setiap menangis dan tidak ada Billy yang menghiburnya,
Ciya pasti akan datang pada Aldy.
Pernah suatu hari, saat berumur tujuh tahun, Ciya digigit
anjing. Waktu itu Billy sedang menemani mamanya ke supermarket sedangkan
papanya juga belum pulang kerja. Akhirnya, Aldy-lah mengoleskan obat merah,
menempalkan tensoplas, dan membujuk Ciya berhenti menangis. Karena Ciya tidak
mau berhenti menangis, Aldy mengajak Ciya ke taman, di sana ada rumah-rumahan
kecil tempat mereka bersembunyikan kalau sedang dimarahin. Aldy mendongengkan
cerita dan bernyanyi sampai Ciya tertidur. Aldy ikut tertidur dan baru
terbangun saat matahari sudah terbenam.
Saat mereka pulang ke rumah, mamanya hampir-hampir memarahi
Ciya karena pergi tanpa izin. Namun berkat bujukan Aldy, mama Ciya tidak jadi
marah. Aldy adalah orang yang paling berarti buat Ciya. Sejak kecil, Billy dan
Aldy adalah sabuk
pengaman bagi Ciya. Tetapi semua rasa "berarti"
dari Ciya hanya dibalas dengan kata-kata, "Chiara, Chiara kan masih kecil.
Belom boleh suka-sukaan dulu." Jeng.... Jeng.... Jeng.... Masih kecil
apaan? Aldy kan cuma lebih tua setahun? Dasar cowok sok tua!
Buat Ciya itu hal paling memalukan seumur hidupnya. Walaupun
Aldy tidak mengatakan hal-hal yang menjurus pada penolakan, buat Ciya itu
penolakan terbesar yang pernah diterimanya. Sejak saat itu Ciya tidak pernah
lagi menggunakan kata-kata "Chiara dan Yoyo" dalam percakapannya.
Berganti dengan kata-kata "gue dan elo". Kalaupun setelah itu Ciya
menemukan seseorang yang lebih berarti dalam hidupnya, tetap saja Aldy adalah
cinta pertamanya.
Wajah Aldy juga tidak kalah tampan dibandingkan
dengan wajah Rico. Bedanya, Aldy lebih bertampang orintal khas Asia. Kulitnya
juga lebih cokelat. Tapi justru itu yang membuat Ciya suka. Dia tidak suka
dengan cowok berkulit putih, kesannya penyakitan. "Dahh, Kyo....!" teriak
Ciya sambil berlari dari tangga dan menggandeng Aldy keluar. Tapi sedetik Ciya
berbalik lari menghampiri Rico. Rico sudah bersiap menerima permintaan maaf.
Tetapi dia salah besar! Ciya hanya mau mengambil sisa rotinya yang belum
termakan, kemudian kembali berlari menyusul Aldy, meninggalkan Rico melotot.
Deru mobil terdengar menjaug. Rico masih bengong dengan kejadian yang membuat
amarahnya kembali meledak. Kalau saja dia tidak ingat jarum sudah menunjukkan
pukul setengah tujuh, mungkin dia masih sempat mematahkan sendok yang ada di
tangannya menjadi dua bagian.
Komentar
Posting Komentar