Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 15 |


Part 15
Raisha atau Chiara? 
TUNANGAN?!" Christian membelalak, lalu sedetik kemudian menutup mulutnya. Pandangannya berputar ke sekeliling kantin, mencari-cari apa ada yang mendengar ucapannya tadi. Untung saja cuma ada mereka berdua. Coba kalo ada Natya, bisa-bisa dalam waktu satu jam guru-guru pun akan berdatangan memberikan selamat. Chris menurunkan tangannya ketika melihat situasinya aman. Jari telunjuknya menowel bahu Rico. "Ah, jangan bercanda lo, Ric." "Siapa yang bercanda?" Rico merengut, memainkan mi kangkung yang baru saja si pesannya tanpa selera. "Gue aja baru tahu. Lo bayangin! Gue udah ditunangin dari SD. Bayangin! Dari SD!" "Iya, iya.... Dari SD," ujar Chris cepat-cepat melihat wajah Rico berubah garang. "Dan gue baru tahu sekarang! Sebenarnya yang tunangan itu siapa sih? Gue apa bokap gue? Lagian, dia pikir sekarang zaman penjajahan apa? Siti Nurbaya aja nggak mau dijodohin. Dia sih mending, abis kawin utang keluarganya langsung lunas. Itung-itung ada timbal balik. Lah ini.... Mestinya bokap gue yang jadi tukang nagih utang!" Mau nggak mau Chris tertawa geli. "Jangan ketawa! Bantuin gue mikir!" "Mikir apa lagi?" tanya Chris tak sabar. "Bukannya lo bilang dia itu first love-nya elo. Apa salahnya? Lo suka kan sama dia?" "Justru itu. Gue sendiri bingung." 
Chris menyeringai. "Kalo gitu cuekin aja. Toh yang tahu elo tunangan juga baru orang dalem. Di luar itu, elo tetep bisa ngeceng-ngeceng. Kalo di sekolah, lo mau cari cewek juga no problem. Mau putus, tinggal putusin. Selama Sha-Sha nggak tahu dan selama cewek lo nggak tahu. Apa masalahnya?" "Justru itu.... Nggak tahu kenapa, bokap gue malah mau bikin acara tunangan secepatnya. Malahan kalo bisa sebelum dia pergi ke Paris dua bulan lagi," ujar Rico lunglai. 
Chris melotot. Saking kagetnya dia sampai tersedak Pepsi yang sedang diminumnya. "Lo serius nggak sih? April Mop kan udah lewat." Rico tidak menanggapi. Christian menelan ludah. Jadi, sahabatnya ini sedang benar-benar tidak bercanda. "Lo beneran serius ya, Ric?" "Ampun deh, Chris. Yang kayak gini tuh nggak buat dijadiin bahan bercandaan!" Christian terdiam. "Ciya udah tahu?" Rico menggeleng. "Rencananya sih baru mau bilang ntar malem." "Apa perlu gue yang bilang?" tawar Chris. "Jangan!" sergah Rico. "Biar gue aja yang bilang." 
Tiba-tiba mata Christian menangkap sosok Jesse dan Natya dari balik punggung Rico di kejauhan sambil memberikan kode-kode. Melihat itu, Christian langsung memasang tampang serius. "Kalo gitu, gue minta elo jawab sejujur-jujurnya." Matanya memancarkan kesungguhan. "Siapa yang bener-bener lo suka? Lo nggak mungkin bingung kalo seandainya nggak ada cewek lain di hati lo. Bener, kan?" Rico berhenti memainkan sumpitnya. Matanya memandang Christian. "Maksud lo.... Ciya?" 
Chris mengangguk. "Gue minta lo buang gengsi sejauh-jauhnya dan jawab pertanyaan gue tadi sejujur-jujurnya." 
Rico terdiam sebentar. Raut mukanya berpikir keras. "Gue juga nggak ngerti. Di satu sisi, oke,
gue juga nggak ngerti sejak kapan Ciya jadi cewek spesial buat gue. Tadi di sisi lain, Sha-Sha itu penantian gue, cewek pertama gue. Dia nggak kayak gue yang gonta-ganti pacar seenaknya setelah dia pergi. Tapi dia.... Dia dengan sabarnya nunggu gue sampe hari ini. Hari kembalinya dia ke sini. Dia benar-benar nungguin gue, Chris! Di saat gue senang-senang dengan cewek lain, dia justru nolak semua cowok yang nembak dia. Di saat gue bahkan udah nggak peduli bakal ketemu lagi sama dia, dia malah terus ngebujuk nyokapnya buat balik ke sini. Apa mungkin gue nyia-nyianin dia gitu aja. Dia nyeberang lautan demi gue, Chris. DEMI GUE!!!" 
Christian meletakkan botol Pepsi yang sudah kosong keras-keras. "Gue nggak butuh semua omong kosong lo! Gue cuma minta satu kata dari dua kata yang gue ajuin. Ciya atau Sha-Sha?" Rico mendadak beku. Hatinya benar-benar serasa diimpit batu. Pertanyaan Christian tadi sukses membuatnya kehilangan kata-kata. Christian menggebrak meja. Dia benar-benar emosi sekarang. Tidak pedulu lagi tentang berapa pasang mata yang menengok karena ulahnya itu. "Lo nggak boleh kayak gitu, sinting! Gue nggak pernah komplain lo gonta-ganti pacar seenaknya. Tapi kali ini, lo udah keterlaluan. Mana boleh lo nginjek dua perahu sekaligus. Apa lo nggak pikirin perasaan Ciya dan Sha-Sha?" 
Rico terdiam, dia seperti menangkap celah pada kata-kata Christian tadi. "Apa maksud lo? Perasaan Ciya? Apa maksud lo?" "Lo itu bener-bener goblok! Pacar lo segudang, tapi tetep aja keahlihan lo buat nangkep perasaan cewek masih seuprit. Lo pikir sendiri apa maksud gue." Christian melenggang dari sana sebelum Rico sempat bertanya lagi. "Oh ya...." Christian berbalik setelah beberapa langkah. "Soal tunangan itu.... Tenang aja. Nurut aja sama bokap lo. Dan lo pasti akan tercengang-cengang dengan ide brilian yang bakal gue pake." 
Rico masih bengong menatap punggung Chris yang berjalan ke lapangan basket, bergabung dengan Natya dan Jesse. Mau bikin ulah apa lagi sahabatnya itu? "Gimana?" tanya Natya antusias. Chris menempelkan ujung telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran. "Ada sedikit perubahan. Tapi.... Tenang aja. Kita liat tanggal mainnya." 
*** 
Rico melangkah keluar dari kantor polisi dengan wajah berseri. Tangannya langsung mengambil HP dari saku kemeja sambil berjalan ke arah motornya di parkiran. Telepon di seberang diangakt. "Halo, Aldy?" "Gimana?" tanya Aldy, sepertinya sudah tahu topik apa yang akan dibicarakan Rico. "Gue udah minta konfirmasi ke polisi temen Bokap. Sepertinya itu memang alamatnya. Tapi masih belum pasti. Dia minta waktu buat menyelidiki lebih jelas." "Oke, nggak masalah." "Oke, dua minggu lagi gue kasih kepastiannya ke elo." 
*** 
Ciya tertidur pulas di atas tumpukan buku kimia yang tengah dipelajarinya. Hal-hal yang terjadi belakangan ini membuatnya sangat lelah. Bukan saja soal Sha-Sha..... Tapi pengakuan Aldy tempo hari, belum lagi ulangan-ulangan yang menumpuk serta kebingungannya tentang perasaannya sendiri membuat otaknya terasa sangat berat. 
Rico berjalan tanpa suara dan duduk di pinggir tempat tidur Ciya, memperhatikan wajah gadis itu. Sampai saat ini pun, Rico masih gamang dengan semuanya. Tentang Ciya, tentang Sha-Sha, tentang orangtuanya, tentang pertunangan.... 
Terkadang, dia ingin sekali memaki dirinya sendiri. Apa iya, dia memang ditakdirkan menjadi playboy beneran? Tidak bisa dipungkiri, kedua cewek itu menempati posisi yang sama di hatinya. 
Bisa dibilang, Sha-Sha adalah masa lalu yang kini hadir kembali, tapi lewat dialah untuk pertama kalinya Rico dapat mengerti apa arti harapan, apa itu cinta, apa yang dinamakan berarti. Sha- Sha pernah menjadi pelitanya yang bisa membuatnya berjalan dalam gelap. Menjadi sosok yang selalu mengulurkan tangannya di saat Rico terpuruk. Cewek yang jelas-jelas datang ke hadapannya dengan menyodorkan segepok cinta yang dirawat mati-matian untuk dirinya selama lima tahun! Sebuah cinta yang selalu dideklamasikan Rixo sebagai cinta pertamanya yang setulus hati. Satu-satunya cinta yang singgah dihatinya. 
Dengan semua untaian di atas, bukankah tidak sulit memastikan siapa yang ada di hatinya? Tapi kenapa yang terjadi justru kebalikannya? Kenapa dia malah sama sekali tidak tertawa gembira saat mendengar berita pertunangan itu? Kenapa dia malah bingung tanpa alasan yang jelas? Oke, mungkin alasannya cukup jelas. Dia tidak tahu siapa yang sungguh-sungguh ada dalam hatinya. 
Rico memandangi wajah Ciya yang masih tidur pulas. Siapa cewek ini sebenarnya? Bukankah dia hanya anak yang tidak mengerti asal-usulnya? Bukanlah dia hanya cewek aneh yang mati- matian mencintai cowok yang jelas-jelas sudah meninggal? Siapa dia? Kenapa kehadirannya bisa menjadi begitu berpengaruh? Kenapa cewek aneh kurus kering seperti dia bisa membuat Rico berubah sampai begitu jauh? 
Rico menarik napas panjang. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada diary biru yang tersembunyi di balik file-file kimia yang berserakan. Tanpa suara, diambilnya diary tadi. 
Dibukanya halaman pertama, di situ terpampang selembar foto keluarga Ciya yang dulu. Rico membalik-balik halamannya. Banyak puisi tertulis di sana, penuh potongan-potongan kejadian istimewa, foto-foto masa lalu dengan semua orang yang tidak familiter dalam benak Rico. Selebihnya, penuh coretan-coretan yang tidak dimengerti. 
Hanya saja, semua hali yang ditulis Ciya, semua puisi yang dibuat dan semua foto terpajang.... Semua tentang Billy. Dan Rico merasa tidak nyaman dengan hal itu. 
Dia terdiam. Sebersit perasaan aneh muncul di benaknya. Mungkinkah dia cemburu?! Tapi pertanyaan tadi tertepis saat tangannya membalik halaman terakhir. Mata terbelalal melihat kalimat yang tertulis di sana. 
Billy...... Ternyata akan selalu ada akhir bagi sebuah kisah. Dan mungkinkah waktu kita memang sudah berhenti..... Sampai di sini..... 
___Chiara 
Rico mengatupkan kedua bibirnya. Otaknya sibuk mencerna semua kemungkinan yang bisa dan
akan terjadi. Apa maksudnya? Mungkinkah?? Rico tidak berani menebak. Dan dia tisak mau menebak. Dia takut tebakannya akan salah dan malah memperparah perasaannya saat ini. Ditutup dan dikembalikannya diary itu ke tempat semula. 
Rico mengelus rambut Ciya perlahan, kemudian ditepuknya pipi gadis itu. "Hei, bangun! Tidurnya di kasur," ujarnya di telinga Ciya. Kalau sejak awal Rico tahu Ciya lebih sering tidur di meja belajar, di balkon, dan di sofa, mungkin dia akan memberitahu papanya agar tidak usah repot-repot membelikan cewek itu kasur. Double bed pula. 
Rico merengut saat Ciya tetap bergeming. "Tuh, kan," ujarnya kesal. "Kenapa sih ada cewek yang tidurnya kayak babi?!" 
Akhirnya dia mengalah, bangkit dan menggendong Ciya ke tempat tidur. Bibirnya mengulum senyum saat menyelimuti cewek itu. Pikirannya melayang ke saat Ciya merawatnya tempo hari. 
Rico merebahkan tubuhnya di sofa. Ia memeluk boneka panda Ciya, kemudian memejamkan mata di sana. Tanpa ada yang tahu, ada seseorang yang menahan sakit hatinya melihat semua kejadian tadi dari kejauhan. 
*** 
"KYOOOOO!!!!!" 
Rico melonjak bangun mendengar teriakan tadi. Matanya langsung memicing saat sinat matahari menusuk matanya lurus-lurus. Tapi dia masih bisa melihat Ciya yang melotot di depannya sambil menunjuk-nunjuk dan berteriak histeris. "Lo ngapain? Kenapa lo tidur di sofa gue?" Ciya memperhatikan bajunya dan baju Rico berulang- ulang. Masih utuh. Pastinya tidak terjadi apa-apa. Trus kenapa cowok itu bisa tidur di sofa kamarnya? 
Terdengar langkah-langkah yang menuju ke sana dengan kasak-kusuk yang semakin jelas. Mendengar itu, tanpa peduli dengan matanya yang masih mengantuk, Rico buru-buru mengunci pintu, tangannya langsung mendekap mulut Ciya saat seseorang mengetuk pintu. 
Ciya melebarkan matanya menatap Rico, membuat mata belonya itu seperti hendak loncat keluar. Kakinya melonjak-lonjak berusaha melepaskan diri sambil berteriak-teriak dengan suara teredam telapak tangan. Rico balas melotot, "Jangan berisik! Ntar dikira kita ngap-ngapain!" Apa dia bilang? Ciya meronta-ronta. Bukannya cowok itu memang sudah ngapa-ngapin? Kalo nggak, kenapa bisa tidur di sini? "Nggak apa-apa, Ma. Tadi ada tikus!" teriak Rico cepat saat mendengar suara Fatma yang khawatir. "Apa?? Mana mungkin ada tikus?" kata Bik Tum merasa bersalah. "Tiap hari Bibik bersihin kamarnya Non Ciya." "Tikusnya dateng dari jendela, Bik. Semalem Ciya lupa nutup pintu balkon," ujar Rico tak sabar. "Udah, nggak ada apa-apa kok. Rico lagi cari tikusnya. Kalo pintunya dibuka, takut tikusnya kabur keluar." Tangannya masih mendekap mulut Ciya kencang-kencang. Takut cewek itu mengucapkan kata-kata aneh.
"Mau dibantuin nggak?" tanya Henry bersemangat. Mungkin faktor terlalu lelah di kantor membuatnya merasa menangkap tikus adalah mainan baru penghilang stres. "Nggak usah, Pa. Udah, tenang aja. Pasti dapet! Papa Mama turun aja dulu!" 
Terdengar gerutu-gerutu tidak puas di balik pintu, tapi perlahan-lahan mulai menghilang beriringan dengan suara langkah yang semakin menjauh. Rico melepaskan tangannya dari mulut Ciya dan mendapati cewek itu terengah-engah kehabisan napas. Sepertinya dia menekap mulut Ciya terlalu kuat. 
Ciya menepuk-nepuk dadanya. "Lo mau gue mati ya? Lo nggak baca buku biologi, kalo nggak ada oksigen di otak, orang bisa mati, tahu!" Ciya merengut sambil menarik napas panjang- panjang. "Sekarang jelasin! Ngapain lo tidur di kamar gue?" Rico tidak menjawab. Jarinya menunjuk ke jarum jam yang bergeser ke angka enam lewat tiga puluh menit. "Lo mau telat ke sekolah?" 
Ciya benar-benar keki sekarang, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyambar handuk yang tergantung di dinding depan kamar mandi. "Kalo gitu gue pergi bareng lo! Jelasin di mobil! Sekalian tolong telepon Yoyo, bilangin dia nggak usah jemput!" BLAM! pintu kamar mandi dibanting. 
*** 
Seperempat jam kemudian.... 
Ciya mengigit setangkup roti di mulutnya, sementara tangannya sibuk membawa buku-buku pelajaran yang belum sempat dia masukkan tadi malam. Rambutnya belum disisir dan bajunya masih awut-awutan. Dilihatnya Rico tidak kalah berantakan. Rambut yang biasanya berdiri runcing dengan gel tebal, sekarang kupluk seperti kuda poni. Tangannya menjinjing sepatu dan kaus kaki yang belum terpasang di tempatnya. "Bawain gue roti juga sekalian!" perintah Rico sambil berlari menuju pintu mobil. 
Ciya yang sudah sibuk dengan benda-benda bawaannya, akhirnya memaksa setangkup roti lagi masuk ke mulutnya. Henry hanya geleng-geleng melihat tingkah dua anak itu, sedangkan Fatma hanya melirik dari sudut koran pagi yang tengah dibacanya. Sepertinya nyonya ini memang benar-benar tidak pedulu pada apa pun kecuali uang. 
Sha-Sha berjalan ke arah jendela. Memandang ke arah mobil yang beranjak ke luar pagar.       

Komentar