Separuh Bintang Karya : Evline Kartika | part 3 |


PART 3
Rico melepas helm dan turun dari motornya. Beberapa motor lain sudah berjajar di sampingnya. Ah, tetep nggak ada yang bisa nyaingin motor Harley gue, ujarnya dalam hati menghibur diri sendiri. Sejenak dia tersenyum, sebelum, dua detik kemudian , sebuah motor lain parkir di sampingnya. "Hey, what's up, man? Tampang lo kusut banget. Kenapa lagi?" Christian melepas helmnya dan mematikan mesin motor. Christian adalah teman dekat Rico sejak kelas 1 SMP. Jadi jangan heran, dengan sekali lihat, Christian bisa tahu suasana hati sahabatnya yang lagi kacau-balau itu. 
Sebenarnya Rico pengen banget cerita soal kekesalannya pagi ini. Tapi nggak mungkin dong. Bisa-bisa seisi sekolah tahu bahwa dia dan teman cewek sekelasnya tinggal di bawah atap yang sama. Turun harga dong ntar! Jadi, yang keluar dari mulutnya cuma, "Biasalah...." sambil menyelempangkan tasnya dan berjalan ke arah sebaliknya. Sebenarnya, para sisiwa sekolah ini sangat jarang ada yang membawa motor. Rata-rata kalau nggak dianter-jemput, ya bawa mobil. Rico juga bukannya nggak punya mobil, hanya saja dia lebih suka naik motor. Menurutnya, naik motor lebih berseri. Entah dalam segi mananya yang dimaksud dengan seni. 
Christian menyandang ranselnya dan berjalan mengikuti Rico. Nah, dari sini penderitaan para pengendara motor di sekolah ini dimulai. Bayangkan saja! Sekolah ini luasnya sepuluh hektar, terdiri atas Play Group, TK, SD, SMP, SMA, dan SMK Pariwisata. Semuanya berada dalam gedung-gedung yang berbeda (masing-masing berjarak kira-kira sepuluh meter satu sama lain). Gedung SMK Pariwisata terletak di sebelah utara, di kanannya terdapat gedung SMA (di lantai tiga) dan SMP (di lantai dua), dan kirinya terdapat gedung SD dan TK. Di sebelah selatan terbentang lapangan bola yang dikelilingi area running track dengan ukuran sebenarnya. 
Di antara lapangan bola dan gedung SMK, terdapat___juga dengan ukuran yang sebenarnya___ dua lapangan basket, dua palangan tenis, dan dua lapangan voli. Belum lagi kantin yang berukuran 10x10 meter persegi, perpustakaan dengan buku superlengkap mulai dari buku pelajaran sampai resep makanan, laboratorium kimia, fisika, dan biologi yang terpisah, ruangan kelas seluas band, serta gimnasium yang dilengkapi panggung besar. Sementara area parkir mobil seluas dua puluh lima kali dua puluh meter persegi terletak di sebelah barat. Mantep nggak tuh! 
Masalahnya, lapangan parkir motor terdapat di dekat gerbang masuk. Dari situ mereka harus berjalan melewati gedung TK, SMK, lapangan basket, dan lapangan voli, yang kalau diukur dengan garis lurus, panjangnya mencapai seratus meter. Lumayang juga sih olahraga pagi-pagi. "Eh, lo bukannya udah putus sama si Jessica?" tanya Christian saat melewati lapangan basket. Rico manggut-manggut. "Emangnya kenapa? Lo mau? Ambil aja!" Christian mencibir. "Bukan! Tuh liat! Dia lagi nungguin lo!" ujung bibir Christian yang agak dimonyongkan tepat menunjuk ke arah cewek dengan seragam ungu SMK Pariwisata, yang sedang menyandarkan punggungnya dan sesekali berjalan-jalan kecil mengelilingi ring basket. 
Untuk catatan, TK, SD, SMP, SMK Pariwisata ,dan SMA memiliki seragam yang coraknya berbeda. TK mengenakan baju bebas, SD mengenakan kemeja putih dan bawahan (celana pendek untuk cowok dan rok lipit untuk cewek) kotak-kotak biru, SMK Pariwisata mengenakan kemeja dan bawahan ungu (lengkap dengan skarf dan dasi) yang mirip pelayang restoran, SMA mengenkan kemeja putih dan rok kotak-kotak biru dengan satu belahan, sedangkan cowoknya mengenakan kemeja kotak-kotak biru dengan celana panjang biru.
 Rico menarik napas panjang. Nggak bosen-bosennya nih cewek ngejar-ngejar dia. Mulut Rico aja udah hampir berbusa untuk melancarkan berbagai penolakan. Ketika melihat Rico, cewek itu langsung berhenti mondar-mandir dan memamerkan sederetan gigi putihnya. "Gue duluan ya, bro!" ujar Christian seraya berbisik. "Dia itu cewek tercakep di SMK lho!" kemudian Christian menggabungkan diri bersama beberapa anak cowok lain yang juga sedang berjalan menuju gedung SMA. Sementara Rico mau tak mau harus membelokkan arah tujuannya ke kanan menuju cewek yang notabene adalah mantannya. 
Tanpa disadari siapa pun, ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik Rico tadi. "Lagi liat apa, Ci?" Natya ikut melongokkan kepalanya melalui jendela, berusaha melihat apa yang dilihat Ciya. Ciya mengangkat bahu. Baru saja ingin mencari-cari jawaban, tiba-tiba Natya sudah berteriak histeris. "Oh my God, Rico ganteng sekali ya??! Lo juga lagi liatin dia ya, Ci?" Ciya melongo. Yang bener aja! Masa nggak ada sih cewek di sekolah ini yang nggak ngefans sama Rico. Ciya mau bilang nggak, tapi memang kenyataannya dia sedang memerhatikan Rico dari jendela kelasnya. "Siapa cewek itu?" tanya Ciya kemudian, menunjuk sosok yang kini sedang berbicara dengan Rico. Kini giliran Natya yang melongo. " Hah? Lo nggak tahu? Dia kan mantannya Rico. Namanya Jessica. Baru putus dua bulan yang lalu. Katanya sih gara-gara si Jessica ketauan ngeduain Rixo sama si Yudy. Lo tahu si Yudy anak kelas 3 itu, kan?" Natya mengguncang-guncang bahu Ciya semangat. "Gila aja! Yudy tuh nggak ada apa-apanya dibandingin Rico. Kalo gue jadi dia, gue sih nggak bakal ngelirik cowok lain selain Rico." Natya mendekapkan kedua tangannya di dada, mendramatisir. "Seandainya gue bsa jadian sama dia....." 
Ciya menatap Natya dengan tatapan aneh seakan memohon, "Please deh!! Nggak ada cowok lain apa ya?" tapi sepertinya Natya tidak peduli, buktinya dia tetap nyerocos. "Oh iya, si Jesse, panggilannya Jessica, itu kan cewek paling cakep di SMK. Pantes aja dia sombong. Pake acara ngeduain Rico segala. Sekarang pas diputusin beneran, malah pengen minta balik lagi. Gimana sih?!" 
Mau tidak mau Ciya harus melebarkan bibirnya melihat tingkah sahabatnya itu. Natya dan Rico adalah lulusan SMP sekolah sini juga. Sekadar catatan, Rixo udah bergelut dengan sekolah ini sejak zaman SD. Tidak seperti Ciya yang anak pindahan dari SMA lain. Jadi.... Jelas Natya tahu tentang Rico jauh lebih banyak daripada yang Ciya ketahui. 
Menurut Natya, sejak SMP Rico memang sudah menjadi idola. Jangankan cewek-cewek SMP, cewek-cewek SMA sampai guru cewek pun terpikat dengan wajahnya. Iya sih, Ciya sendiri juga mengakui Rico itu sangat tampan. Otaknya memang tidak terlalu pintar, tapi Rico memang memiliki karisma yang bisa membuat semua orang terkagum-kagum dengan ucapan dan tingkah lakunya. Itu juga, masih menurut Natya, yang membuat Rico terpilih menjadi ketua OSIS waktu di SMP dulu. Dan patut diketahui, walaupun sedemikian besarnya Natya mengidolakan Rico, dia sudah punya cowok kok. Namanya Victor. 
Ceritanya begini, gara-gara naksir sama Rico tiga tahun silam, Natya berusaha mendekati Victor yang notabene teman dekatnya Rico. Tapi ujung-ujungnya, dia malah jadian sama Victor. Lucu ya? 
Ciya melihat Rico sudah berjalan meninggalkan lapangan basket. Sepertinya mereka bertengkar, karena Jesse berlari ke gedung SMK sambil menangis. Ciya mengangkat bahu, tak mau ambil pusing dengan urusan mereka. "Eh, jangan-jangan lo naksir Rico juga ya, Ci?" Natya melayangkan pandangan curiga. Ciya melotot mendengar kata-kata Natya barusan. "Iya, gue naksir dia. Tapi kalo otak gue udah ketuker sama dengkul."
Rico membanting tasnya ke meja. Otomatis mata semua makhluk di kelas itu (termasuk Ciya) menatap ke arahnya. Tampangnya lebih kusut dibandingkan saat Ciya meninggalkannya di meja makan. Sebelum menyadari keadaan di sekelilingnya itu, Rico sudah ngacir ke WC. "Heh, kenapa lo? Masuk-masuk malah banting-banting tas," ujar Christian yang mengikuti Rico ke WC, sekarang dia berdiri di samping Rico sambil merapikan rambutnya. Rico menyemprotkan air ke wajahnya. Maksudnya sih biar bisa mengurangi rasa kesalnya. Tapi sepertinya nggak ngefek tuh. 
Rico menghela napas sambil mengelap wajahnya dengan tangan. "Sinting ya tuh cewek! Gara- gara gue nggak mau balik lagi sama dia, masa dia tadi bilang gue cowok murahan! Dia yang nyeleweng, kenapa malah jadi gue yang salah? Emangnya kalo sekarang dia putusin sama Yudy, itu salah gue? Enak aja!" 
Christian tersenyum. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa ucapan Jessica itu tepat sekali! Tetapi bukan hanya akan memperburuk suasana hati Rico, hal itu bisa-bisa membuat lidahnya juga bakal kena potong. Sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya diubah menjadi, "Terus tadi lo bilang apa ke dia?" 
Rico berjalan keluar WC, tidak peduli dengan wajahnya yang masih basah. Kata orang, kalau cowok habis cuci muka, kesannya seksi. Dan Rico memang menerapkan pepatah itu sejak dia duduk di bangku SD. Tahu deh orang mana yang bilang. Orang luar angkasa, kali ya? "Gue bilang aja kalo dia juga sama murahannya sama gue." Christian malah tertawa ngakak mendengar pilihan kalimat Rico. "Eh, kok lo malah ketawa sih?" ujar Rico tidak terima. "Sori..... Sori.... Lagian, kalo lo bilang kayak gitu, tandanya lo setuju sama dia kalo lo itu murahan. Dasar bego!" Christian membelok ke kelas masih dengan cekikikan. Sementara Rico memandang sahabatnya itu masih dengan tatapan tidak senang. "Udahlah, Ric. Masa cuma gara-gara gitu aja lo banting-banting tas segala? Cuekin ajalah! Entar juga dia bosen sendiri kalo ditolak lo terus-terusan. Kalo gue jadi lo sih gue bangga bisa dikejar- kejar cewek tercakep se-SMK." Christian duduk di belakang bangku Rico. Sekolah mereka menerapkan sistem satu meja untuk satu orang. Jadi nggak ada tuh istilah teman semeja. 
Kemudian Christian berujar lagi, "Daripada lo uring-uringan kayak gitu, mendingan juga lo cari cewek baru." Rico mendengus. "Gue lagi bete sama yang namanya cewek!"  Christian melongo. Serius nih?? Enrico Leman yang selalu merasa mati dan selalu dikelilingi cewek-cewek, bete sama makhluk yang namanya cewek? "Heh, lo salag makan ya?" Christian memandang Rico terheran-heran. 
Rico mengibaskan tangannya, tanda tidak menginginkan komentar. "Asal lo tahu ya, di rumah, gue mesti berhadapan sama cewek aneh yang baru dibawa sama bokap gue. Dan di sekolah, gue mesti ketemu sama cewek yang lebih aneh lagi yang tiap hari kerjaannya cuma bilang, 'Rico, kita balikan lagi yuk!' lama-lama gue bisa gila." Rico menelungkupkan kepalanya ke meja.
 Christian masih terbahak melihat tingkah sahabatnya yang satu ini. "Lo mau taruhan berapa sama gue? Gue yakin nggak nyampe seminggu, lo bakal udah lupa sama ucapan lo barusan." Dia menepuk punggung Rico agar kembali duduk tegak karena Pak Agus sudah masuk ke kelas. "Asal lo inget aja ya, cewek itu inceran gue! Jangan lo ambil!" Telunjuk Christian menunjuk ke salah satu cewek yang duduk di pojokan. Mata Rico melotot begitu tahu siapa yang dimaksud. "Hah??!!!" 
Menyadari bahwa seluruh kelas memandanginya akibat teriakannya barusan, Rico mengubah ucapannya menjadi bisikan. "Mata lo juling ya?" Christian mengangkat bahu. "Tipe gue kan emang beda sama lo. Ciya itu manis kok." Rico benar-benar mau pingsan dengan tiga kejadian yang dialaminya berturut-turut pagi ini. "Eh iya, cewek yang bibawa sama bokap lo itu siapa? Jangan bilang kalo itu istri kedua!" Rico benar-benar merasa lemas sekarang. Tadinya Rico mau bilang, "Cewek yang lo taksir tuh, yang dibawa ke rumah gue." tapi berhubung gengsinya cukup tinggi, dan memang belum ada yang tagu dia dan Ciya tinggal serumah, dia hanya menjawab sekenanya. "Pembokat."
What is love?? 
HARI ini cukup panas. Matahari memang sudah tidak muncul. Tapi udara malam ini cukup membuat Rico tergoda untuk berenang. Sambil ditemani orange juice yang tadi dibuatkan Bik Nah, Rico menikmati suara percikan air serta suara penyiar Prambors___Rico membawa radio ke pinngir kolam renang biar nggak terlalu sepi___yang sedang berceloteh tentang makna cinta. 
Rico mendengus. Apaan tuh makna cinta? Iya sih, sejak kecil Rico memang kekurangan yang namanya cinta. Asal tahu aja, kata pertama yang berhail diucapkan oleh Rico bukan "mama" seperti anak-anak lainnya, tetapi "bibik". Fatma dan Henry memang jarang sekali mengunjungi anak semata wayangnya itu. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis, bisnis, dan bisnis. Rico memang tidak mengenal apa itu cinta orangtua. Makanya, saat dia tahu papanya sangat memperhatikan Ciya, dia uring-uringan. Dari sekian banyak cewek yang jadian dengannya pun, nggak ada tuh yang terhitung "jadian karena cinta". Selama cewek itu memenuhi sepuluh kriteria yang telah dijelaskan, Rico sih oke-oke saja. 
Tiba-tiba Rico teringat pada satu sosok. Raisha Wellina.... Cewek yang selalu menemaninya semasa kecil. Rico lebih suka memanggil cewek itu Sha-Sha yang menghiburnya. Saat Rico kesal, kesepian, Sha-Sha selalu ada untuknya. Saat Rico sakit pun, Sha-Sha yang paling panik. Kehidupannya sampai kelas 6 SD hanya dipenuhi dengan Sha- Sha, Sha-Sha, dan Sha-Sha. Kalau mau membahas makna cinta, mungkin satu-satunya cewek yang mengenalkan kata cinta hanya Sha-Sha. Dahulu mereka tinggal bersebelahan. Rico masih ingat dengan jelas awal mula pertemuan mereka. 
Rico baru kelas satu SD saat menemukan seekor anjing pudel kecil yang tanpa sengaja masuk ke dalam rumahnya. "Minie.... Minee...." tiba-tiba seorang gadis kecil melongokkan wajahnya dari balik pagar. "Itu Minie!!" gadis itu tertawa pada baby sitter-nya saat melihat anjing yang dipegang Rico. Tawa yang lucu. Tawa yang polos. Tawa yang membuat Rico tidak bisa melepaskan pandangannya sedetik pun.
Rico membuka pintu pagar. "Ini anjing kamu?" Gadia itu mengangguk bersemangat. Sejak itu mereka berteman, menghabiskan waktu bersama, bermain dan tertawa bersama. 
Namun, sejak Papa Sha-Sha memusatkan bisnisnya ke Taiwan, tepat pada saat kenaikan SMP, Sha-Sha dan keluarganya pindah ke sana. Tidak ada tangis perpisahan, tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada benda kenangan, tidak tersisa apa pun tentang kepergian Sha-Sha. Sha- Sha hanya tersenyum sambil melambaikan tangan saat Rico mengantarnya ke airport. "Aku pasti kembali lagi!" 
Hanya lima patah kata itu yang keluar dari mulut Sha-Sha. Entah kenapa, saat itu Rico sangat percaya. Rico merasa sangat percaya Sha-Sha akan kembali lagi. Dia menunggu, menunggu, dan terus menunggu. 
Kepergian Sha-Sha cukup membuat Rico sangat kesepian. Awalnya mereka terlalu rutin mengirim surat. Maklum, dulu kan SMS dan internet belum populer. Ada sih, tapi kan belum setenar sekarang. Kalau telepon, bisa-bisa papanya bangkrut gara-gara ngebayarin anaknya telepon Jakarta-Taiwan tiap hari. Jadi, alat paling populer untuk berhubungan jaraj jauh cuma surat. Pertama, seminggu sekali.... Lama-lama dua minggu sekali, sebulan sekali, sampai akhirnya tidak ada kabar sama sekali. Rico capek menunggu. Dia ingin Sha-Sha kembali. Dia benci sendirian. 
Nah, dari sinilah awal masa-masa ke-PLAYBOY-an Rico dimulai. Saat masuk SMP, banyak cewek yang mendekatinya. Sebenarnya Rico tidak tertarik pada mereka. Tapi merekalah yang membuat Rico tidak lagi kesepian. Setiap dia bosan dengan satu cewek, cewek yang lain sudah mengantre untuk menjadi pacarnya. Dan Rico menikmati itu. Setidaknya dia merasa tidak sendirian. 
Tanpa sengaja. Pandangan Rico tertuju pada kamar Ciya. Cewek itu membuka pintu balkon dan menarik bangku ke sana. Tadinya Rico ingin menenggelamkan kepalnya ke bawah air agar Ciya tidak melihatnya, tetapi sepertinya Ciya memang tidak tertarik melihat ke bawah. Pandangannya tertuju ke langit dan bintang-bintang di atas sana. Rico mengecilkan suara radionya. Sekilas dia melihat Ciya berkomat-kammit seperti orang yang sedang ngomong sendiri. Tapi tiba-tiba..... Ada sesuatu yang berkilau tertimpa sinar lampu di pipi Ciya. Air matakah? Hah? Yang bener aja! Masa sih cewek itu bisa nangis juga? Rico mengucek-ngucek matanya. Memastikan penglihatannya tidak salah. Tapi itu benar-benar air mata..... Ciya menangis?? Rico cepat-cepat memasukkan tubuh dan kepalanya ke dalam air ketika pandangan Ciya beralih ke bawah setelah tidak kuat lagi menahan napad, dengan hati-hati dia memunculkan matanya untuk melihat keadaan Ciya. 
Rico melongo. Ciya menopang kepalanya dengan kedua lengan yang dilipat dan disandarkan ke pagar balkon. Yang benar aja! Dia tidur? Ngapain dia tidur di balkon begitu? 
Rico mengambil handuknya dan bergegas ke atas. Dia mendapati pintu kamar Ciya terbuka setengah. Dengan mengendap-endap, Rico masuk dan menemukan Ciya benar-benar tertidur di balkon. Rico menggumam setelah melihat wajah Ciya lebih dekat, "Beneran air mata." 
Sesaat dia tergugah untuk menghapus air mata di pipi Ciya. Dan bertepatan dengan itu, suara SMS membuat Ciya terbangun. Jeng.... Jeng.... Jeng.... Bisa ditebak, Ciya membuka mata dan mulutnya ternganga lebar-lebar melihat Rico masuk ke kamarnya dengan setengah telanjang. "KYOOOOOOOOO!!!" Lemparan sandal menerjang tubuh Rico. "Mau apa ke sini? Kenapa nggak pake baju?" Ciya mengambil gunting dan menyorongkannya. "Dengar ya! Gue ini cewek baek-baek. Belom pernah begituan. Jangan macem-macem!" Mendenar itu, bukannya marah, Rico malah timbul isengnya. Dia malah berjalan mendekati Ciya. 
"Kyoooo.... Jangan ke sini. Ini liat!" jari Ciya menunjuk gunting yang dipegangnya. "Jangan maju lagi! Gue takuut!" 
Rico berusaha menahan tawa melihat tingkah cewek di depannya itu. Tapi dengan tampang sok serius, dia tetap berjalan mendekati Ciya, merebut gunting kemudian mendorong tubuh Ciya sampai terentang di ranjang. Kedua tangannya memegang kedua tangan Ciya erat-erat. Saking dekatnya wajah mereka berdua saat ini, Ciya memejamkan mata erat-erat sambil menyerukan berbagai gumaman. 
"Tuhan, bunuh cowok ini, Tuhan. Biar dia disambar petir, disambar geledek, disambar apa pun boleh. Mau pake kayu, martil, gergaji, pisau, obeng, semuanya boleh. Tuhan, cowok ini memang kurang ajar. Lempar dia, Tuhan. Ayo, Tuhan...." 
Mendengar itu, tawa Rico meledak. Dia melepaskan kedua tangan Ciya dan tertawa sampai terjongkok-jongkok di lantai. Ciya membuka mata. Dahinya berkerut melihat tingkah cowok itu. Apaan lagi nih? "Heh! Kenapa ketawa??" Cya berdiri dan mengambil jarak agak jauh. Rico masih tetap dengan posenya sambil cekikikan. "Elo lucu banget!! Tadi gue cuma bercanda! Lagian gue juga nggak nafsu sama cewek kayak lo!" 
Ciya mengatupkan bibir. Sedetik kemudian dia menangis. "Tadi gue beneran ketakutan setengah mati, tau nggak!!" 
Kontan Rico menghentikan tawanya. Dia berjalan menghampiri Ciya.  "Jangan deket-deket! Keluar sana! Dasar jahat!" Rico merasa bersalah. "Sori, tadi gue cuma bercanda." Tapi Ciya masih memandangnya dengan tatapan curiga. "Terus ngapain lo nggak pake baju?" 
Rico memperhatikan badannya yang hanya mengenakan celana renang. Iya sih, dengan penampilan kayak gini, siapa yang bakalan nyangka perbuatannya tadi nggak serius. "Ini... Ini tadi gue abis berenang. Terus gue lihat lo tidur di balkon. Jadi...." Rico menghentikan perkataannya saat melihat mata Ciya yang sangat tidak bersahabat. "Iya deh, gue salah. Maaf...." Nggak dimaafin!" ujar Ciya sambil mengusap air matanya. "Bawain gue cokelat dulu, bru dimaafin!" Rico bengong. Beneran nih cewek ini udah umur enam belas tahun?" Ngapain bengong?! Cepetan ambilin cokelat sana!" Rico mendengus, tapi kakinya tetap melangkah keluar menuju lemari es.
Rico menepuk-nepuk kepalanya. Sepertinya telanjang dalam waktu cukup lama malam tadi baru terasa efeknya sekarang kepalanya terasa pening.  Dia turun dari motoe dan merapikan seragamnya yang lecek terkena sapuan angin. Hari ini dia juga tidak memakai jaket, yang membuat pusingnya semakin menjadi-jadi karena saking kerasnya angin yang menerpa tubuhnya saat naik motor. 
Rico masih memijit-mijit dahinya saat melewati lapangan basket dan.... Yaak.... Kembali dia menemukan sosok cewek yang paling tidak ingin ia temui. "Tidaaakk!!! Jangan lagi!" teriaknya dalam hati. 
Entah sudah berapa minggu cewek itu terus-terusan memburunya dengan pertanyaan yang sama, "Rico, mau nggak kita balikan lagi?" Rico saja sudah bosan mendengar kata-kata itu. Bukan hanya karena dia memang nggak ada feeling dengan Jessica, tetapi hal itu juha mengurangi jumlah cewek yang mendekatinya karena takut kehidupan SMA mereka terancam. Jessica kan terkenal suka ngelabrak siapa pun yang mendekati Rico. Dan bagi Rico, kehilangan fansnya adalah bencana besar! Oleh karena itu, dia memutuskan harus menghentikan Jessica saat ini juga. 
Begitu melihat Rico, Jessica langsung berlari ke arahnya. Niat Rico yang ingin menyelesaikan masalah tiba-tiba lenyap begitu saja. Dia malah refleks ikut berlari menghindari kejaran Jessica. Sekilas mereka tampak seperti pasang kekasih di film-film India yang sedang kejar-kejaran. Untung hari itu masih terhitung sangat pagi, sehingga belum banyak murid yang datang. Kalo nggak, bisa-bisa mereka jadi tontonan. 
Sampai di gedung SMA, akhirnya Rico menghentikan langkahnya. Dia sudah tidak kuat berlari lagi. Dengan napas terengah-engah, dia duduk di bangku panjang di depan laboratorium biologi. Jessica, juga dengan napas terengah-engah, duduk di sampingnya. "jesse, kita temenan ajalah. Gue capek tiap hari terus-terusan kayak gini. Gue yakin lo pasti bisa nemuin cowok lain yang lebih baik dari gue," kata Rico setelah berhasil menenangkan detak jantungnya. Jesse memandangnya, seakan sudah bosan dengan kata-kata yang Rico ucapkan. Sama bosannya dengan Rico yang sudah dapat menebak kata-kata apa yang akan Jessica katakan. "Kenapa?" Tuh, bener kan? Rico mengembuskan napas panjang, "soalnya gue udah jadian sama cewek gue yang baru. Jadi, plleeeeaaaasssseeeee!!! Jangan ganggu gue lagi! Jangan ngejar-ngejar gue lagi!" kata-kata itu tiba-tiba tanpa sadar terucap begitu saja. Jessica mengerutkan kening mendengar perkataan Rico barusan. Jadian?? Kok nggak pernah ada beritanya? " Sama siapa?" Toeeng!!! Rico sama sekali tidak memikirkan hal itu. Kata-kata jadian benar-benar di luar pikirannya. Tapi tiba-tiba sebuah nama melintas. "Namanya Ciya." Waduh! Kok bisa dia ya? Rico menepuk dahinya sendiri, tapi dia cepat-cepat memamerkan senyum lagi___lebih tepatnya menyeringai___saat menyadari Jessica memperhatikan perubahan wajahnya. "Ngerti kan sekarang alasannya? Jadi jangan ganggu gue lagi!" ujarnya sambil berlalu menuju tangga. Belum lagi tiga langkah, Rico berbalik. "Oh ua, jangan sekali-kali merusak ketenangan cewek gue! Kalo sampe gue tahu macem-macem sama dia, lo bakal berhadapan sama gue! Ngerti?!" Rico menepuk kepalanya kencang-kencang. Haduh! Gimana ini? Kenapa bisa nama Ciya yang kusebut? Mau nggak mau mesti ngajak dia buat kerja sama.
Tapi, kemudian Rico teringat peristiwa dua jam yang lalu.... 
Wangi nasi goreng menggelitik hidung Rico saat memasuki ruang makan. Dia melihat Ciya, masih memakai celemek renda-renda, sedang menuangkan susu ke dalam dua gelas. Memang, Ciya tidak suka sarapan hanya dengan roti bakar, jadi sejak dua minggu yang lalu Ciya selalu membantu Bik Nah menyiapkan sarapan. Kadang-kadang masak bubur, kadang-kadang masak nasi goreng. Sebenarnya tidak dibantu Ciya pun, asalkan Ciya memberi perintah, Bik Nah pasti akan memasakkan apa pun yang mereka inginkan. "Lo, nggak kasihan ya! Bik Nah kan udah 60 tahun. Bantuin sedikit nggak ada salahnya, kan?" ujar Ciya saat Rico bertanya kenapa Ciya ikut memasak. Baru kali ini Rico melihat ada cewek seumuran dia yang bisa masak. Semua mantan pacarnya biasanya nggak ada yang bisa masak. 
Sebenarnya, Rico menikmati masakan Ciya. Memang tidak seenak masakan restoran, tapi benar-benar memberi kesan masakan rumah. Sesuatu yang sangat jarang dirasakan Rico. 
Sejak dua minggu yang lalu itu juga, Rico mulai merasakan adanya perasaan sedikit akrab dengan Ciya. Memang sih, masih tersisa rasa cemburu tentang perlakuan papanya yang agak berbeda, tapi mereka sudah mulai banyak bicara. Seenggaknya, lebih banyak bicara dibanding pertama kali Ciya datang. Namun, pagi tadi Rico hanya melihat ada satu piring di meja. "Lo nggak makan?" tanya Rico pada Ciya. "Makan kok. Tapi gue nggak mau makan satu meja sama lo! Gue mau makan di ruang TV aja. Mulai sekarang, jangan deket-deket gue kurang dari dua meter! Awas lo!" lalu Ciya ngeloyor membawa piring dan gelasnya ke ruang TV. 
Rico benar-benar lupa peristiwa itu. Tapi, pokoknya dia harus berhasil mengajak Ciya kerja sama. Apa pun caranya!             

Komentar