Separuh Bintang Karya : Evline Kartika
Separuh Bintang
Karya : Evline Kartika
Karya : Evline Kartika
"KASIHAN sekali gadis itu. Ayahnya dulu kabur, kakaknya
overdosis, sekarang ibunya meninggal. Sekarang pasti dia sebatang kara."
Gadis itu berdiri mematung di hadapan makam ibunya. Peti sudah bergerak turun
memasuki lubang makam. Tapi gadis itu tetap tidak menunjukkan apa pun. Hanya
diam.... Diam.... Dan diam saja. Seakan tak ada seorang pun di
sekelilingnya.
Dua tahun yang lalu..... Suara bantingan barang menjadi
backsound keadaan rumah itu. Suara tangisan mamanya mengiris-iris hari Chiara.
Sejak sebulan yang lalu, orangtuanya selalu bertengkar. Chiara sendiri tidak
tahu apa penyebab pastinya pertengkaran itu. Yang dia tahu, dia benci keadaan
ini. Dia benci suasana rumah yang kacau seperti ini. Dia kangen papanya yang
dulu! Ke mana perginya Papa yang sangat menyayanginya itu? Ke mana perginya
Papa yang selalu membawa keceriaan dan kebahagiaan? Sosok setengah baya muncul
di hadapannya, memandanginya dengan tatapan jijik. Dia bukan Papa! Dia bukan
Papaku! Chiara selalu menanamkan kata-kata itu dalam hatinya. Papanya pasti
telah mati. Ya, pasti begitu. Papanya tidak mungkin seperti ini. "Chiara,
kau anak haram! Kau bukan anak Papa!" TARRR!!! kata-kata itu meluncur
begitu saja. Kata-kata yang terdengar seperti umpatan dibandingkan pernyataan.
Mendadak Chiara tidak bisa berpikir. Jangankan berpikir
sekarang, bernapas pun rasanya sulit. Chiara ingin sekali tertidur. Dia ingin
tidur dan saat bangun dia akan mendapatkan semuanya kembali seperti semula. Ini
pasti mimpi. Chiara memandang mamanya, meminta dukungan. Cepat katakan padaku
bahwa semua ini cuma mimpi! Chiara berteriak dalam hati. Tapi mamanya hanya
bisa terisak, dan terus terisak. Chiara beralih memandang kakaknya. Tapi Billy
hanya memeluknya. Sayangnya, semuanya ini nyata.... Tanpa menjelaskan apa pun, setelah
mengucapkan dua kalimat itu. Papanya benar-benar menghilang. Setiap hari,
Chiara melihat mamanya selalu menunggu di depan pintu, menunggu dan menunggu.
Tapi papanya tidak pernah kembali.
Setahun yang lalu..... "Billy, gue pinjem kamus lo
ya...." Chiara masuk dan mendapati kamar Billy kosong melompong.
Akhir-akhir ini dia memang jarang melihat kakaknya. Setelah kepergian papa,
kakaknyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Beban Billy pasti sangat
berat. Selain harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, Billy juga harus
menanggung biaya pengobatan mamanya yang mengidap penyakit jantung. Semua itu
pasti tidak sedikit jumlahnya, apalagi jika harus ditanggung oleh remaja yang
baru berumur 18 tahun. Tiba-tiba pandangan Chiara membuka plastik kecil itu dan
ia mengerutkan dahinya. Apa hubungan Billy dengan benda ini? Chiara berpikir
keras. Ini jelas bukan obat Mama. Lalu apa ini? Jangan-jangan.....
Chiara mencoba menepis semua pikiran buruknya. Tapi bayangan
kakaknya dan tablet-tablet itu bergantian muncul dalam otaknya. Chiara ingin
teriak, dia ingin menangis, dia ingin marah. Dia sudah benar-benar lelah
menghadapi semuanya. Tanpa sadar, sebilah tablet memotong nadinya begitu saja,
tidak hanya sekali.... Dua kali.... Tiga kali.... "Chiara!!!!! Apa-apaan?!
Lo gila ya!" Chiara mendengar teriakan Billy tiba-tiba, terputus-putus.
Perasaannya panas dan dingin tidak keruan. Sinar lampu pun terlihat nyala dan
padam bergantian. Sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
Chiara membuka mata. Semua tampak putih. Sekilas saja, dia
tahu ini rumah sakit. "Kita butuh uang. Gue cuma punya cara itu. Gue cuma
anak SMA, ra. Gue butuh kerja apa? Cuma itu satu-satunya jalan. Gue nggak make
kok. Sumpah! Gue cuma ngedarin."
Chiara tak habis berpikir mendengar perkataan Billy. Chiara
tidak habis berpikir tentang semuanya. "Gue sayang sama lo!"
kata-kata Billy membuat Chiara gemetar. Memang bukan hanya sekali Billy
mengucapkan empat mata tadi. Dan Chiara tahu, Billy menyatakan perasaan sayang
yang bukan hanya sekadar dari mulut seorang kakak. Untuk sekeian detik
berikutnya, mereka berpelukan.
Dua minggu kemudian, Chiara menemukan kakaknya telah
terbujur kaku dengan busa memenuhi mulut. Chiara menjerih sekeras-kerasnya,
menangis sekencang-kencangnya. Chiara mengguncang-guncang tubuh Billy sekeras
mungkin, memanggil-manggil nama Billy tanpa henti. Chiara merasa mulutnya sudah
kering, suaranya pun sudah tidak mampu keluar lagi. Tapi Billy tetap bergeming.
Billy overdosis.
Tiga bulan yang lalu.....
Kesehatan Mama semakin memburuk. Sudah tidak ada obat yang
bisa dimakan. Hampir setiap malam Chiara bermimpi semua orang meninggalkannya.
Dan hari itu, mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Tiba-tiba Mama pingsan
dan berhenti bernapas. Chiara hanya menatap tubuh mamanya ambruk ke tanah. Dia
tidak melakukan apa pun. Dia tidak berteriak seperti saat Billy meninggal, dia
tidak menangis seperti saat menemukan Billy yang sudah terbujur kaku, dia
bahkan tidak berlaro menghampiri mamanya untuk memastikan apakah mamanya masih
hidup atau tidak. Dia hanya tahu dia benar-benar ingin mati saat itu juga.
Chiara menatap peti itu tersiram tanah. Dan dia tetap
bergeming. "Chiara....." satu sosok merangkul pundaknya. Terlihat
sangat prihatin. Tetapi, Chiara menepisnya. "Mulai sekarang, jangan
panggil gue Chiara."

Komentar
Posting Komentar