Membayar dengan Uang Krincingan
Membayar dengan Uang Krincingan
Kisah Abu Nawas hadir
kembali untuk menghibur para pembaca setia yang budiman. Cuaca yang hujan
tak menghentikan langkah admin untuk menulis agar semuanya bisa bergembira
dengan cerita lucu membuat perutmu sakit. Makanya jangan terlalu terbahak-bahak
ya kawan karena masih ada cerita lucu tiap bulannya hanya di sini.
Nah kali ini admin mengambil judul Abu Nawas membayar dengan uang recehan, uang krincingan logam yang lebih dari dua buah sehingga bisa menimbulkan bunyi cring cring...
Pada waktu persediaan uang Abunawas telah menipis, Abu Nawas merasa perutnya keroncongan. Namun bukanlah Abu Nawas kalau tidak mempunyai trik untuk memenuhi kemauannya tersebut. Bagaiman ceritanya nih.
Nah kali ini admin mengambil judul Abu Nawas membayar dengan uang recehan, uang krincingan logam yang lebih dari dua buah sehingga bisa menimbulkan bunyi cring cring...
Pada waktu persediaan uang Abunawas telah menipis, Abu Nawas merasa perutnya keroncongan. Namun bukanlah Abu Nawas kalau tidak mempunyai trik untuk memenuhi kemauannya tersebut. Bagaiman ceritanya nih.
Kisahnya
Pada suatu ketika Abu Nawas
melakukan perjalanan yang panjang. Pada hari itu perutnya belum terisi makanan
sedikitpun sehingga tak heran kalau dia merasakan keroncongan dengan amat
sangat. Namun dia memeriksa kantong uangnya, dia hanya menemukan beberapa
keping uang, sementara perjalannya masih jauh. Bila uang itu digunakan untuk
membeli sesuatu, nanti ongkos perjalanannya tidak akan terbayar.
Walaupun tubuhnya lemas karena belum makan seharian, Abu Nawas tetap melangkahkan kakinya meskipun langkahnya gontai.
Pada saat melihat kedai yang ramai pembeli, Abu Nawas tak kuasa untuk tidak memasukinya. Dari bilik dapur terlihat mengepul asap makanan yang sangat lezat. Abu Nawas langsung menghirup aroma masakan itu dengan kuat-kuat. Dari aromanya , Abunawas sudah membayangkan sajian yang lezat untuk dirinya.
Hal itu diulanginya berkali-kali hingga Abunawas puas.
Aroma Masakan yang Lezat
Walaupun tubuhnya lemas karena belum makan seharian, Abu Nawas tetap melangkahkan kakinya meskipun langkahnya gontai.
Pada saat melihat kedai yang ramai pembeli, Abu Nawas tak kuasa untuk tidak memasukinya. Dari bilik dapur terlihat mengepul asap makanan yang sangat lezat. Abu Nawas langsung menghirup aroma masakan itu dengan kuat-kuat. Dari aromanya , Abunawas sudah membayangkan sajian yang lezat untuk dirinya.
Hal itu diulanginya berkali-kali hingga Abunawas puas.
Aroma Masakan yang Lezat
Setelah
Abu Nawas sudah merasa cukup puas dengan aroma masakan yang dihirupnya, dia pun
pergi meninggalkan kedai tadi. Dengan senyuman yang tipis, dia keluar dari kedai
tersebut.
Tapi, belum jauh dia melangkahkan kakinya meninggalkan kedai itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari si pemilik kedai.
"Hai, mau kemana? Bayar dulu!" teriak pemilik kedai.
Mendengar teriakan itu, Abu Nawas menghentikan langkahnya. Dengan tenang sekali dia menghadapi si pemilik kedai. Meskipun dia cukup keheranan kenapa pemilik kedai menghentikan langkahnya padahal dia tidak makan atau minum barang sedikitpun di kedai itu.
"Enak saja main nyelonong pergi, bayar dulu baru boleh pergi,"kata pemilik kedai saat mereka berhadapan.
Tapi, belum jauh dia melangkahkan kakinya meninggalkan kedai itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari si pemilik kedai.
"Hai, mau kemana? Bayar dulu!" teriak pemilik kedai.
Mendengar teriakan itu, Abu Nawas menghentikan langkahnya. Dengan tenang sekali dia menghadapi si pemilik kedai. Meskipun dia cukup keheranan kenapa pemilik kedai menghentikan langkahnya padahal dia tidak makan atau minum barang sedikitpun di kedai itu.
"Enak saja main nyelonong pergi, bayar dulu baru boleh pergi,"kata pemilik kedai saat mereka berhadapan.
Uang Kencring-Kencring
Kemudian Abu Nawas menganggukkan
kepala tanda setuju dengan kata-kata pemilik kedai. Dengan santainya Abu Nawas
merogoh kantong uangnya. Selang beberapa lama, tapi uangnya tidak segera diberikan
kepada pemilik kedai. Malah Abu Nawas bermain-main dengan uang recehnya dengan
cara mengocok kantong uangnya, lama kelamaan suaranya uang receh terdengar
kerincing-kerincing.
"Ayo...mana uangnya...bayar ! "teriak pemilik kedai.
"Baik, ini bayarnya," kata Abu Nawas sambil mengocok kembali uang recehnya sehingga timbul suara kerincing-kerincing.
"Lho, mana uangnya, dari tadi cuma mendengar suaranya saja, "kata pemilik kedai yang semakin geram.
Kemudian Abu Nawas menjawab,
"Itu tadi bayarnya, aku bayar pakai suaranya saja karena di kedaimu aku hanya dapat baunya saja....!"
Mendengar jawaban itu, si pemilik kedai hanya bisa tersenyum dengan malunya.
Hehe...ada saja si pemilik kedai ini. Bagaimana bisa orang hanya mencium aroma masakan dari bilik kedai kok disuruh membayar. Tapi pintar juga Abu Nawas dibayarnya pakai suaranya saja, tidak dengan uang
"Ayo...mana uangnya...bayar ! "teriak pemilik kedai.
"Baik, ini bayarnya," kata Abu Nawas sambil mengocok kembali uang recehnya sehingga timbul suara kerincing-kerincing.
"Lho, mana uangnya, dari tadi cuma mendengar suaranya saja, "kata pemilik kedai yang semakin geram.
Kemudian Abu Nawas menjawab,
"Itu tadi bayarnya, aku bayar pakai suaranya saja karena di kedaimu aku hanya dapat baunya saja....!"
Mendengar jawaban itu, si pemilik kedai hanya bisa tersenyum dengan malunya.
Hehe...ada saja si pemilik kedai ini. Bagaimana bisa orang hanya mencium aroma masakan dari bilik kedai kok disuruh membayar. Tapi pintar juga Abu Nawas dibayarnya pakai suaranya saja, tidak dengan uang

Komentar
Posting Komentar