Felice Cahyadi - Kupu-kupu Salju (Bab 1)



 Kupu-Kupu Salju (Bab 1)
GO YOGHURT! KAMIS MALAM…
“Kita pulang aja yuk!” desak seseorang cewe pada cowo di hadapannya.
Vincentia Alice Artedja merasa tidak nyaman berada di tempat ini, bersama orang-orang yang sama sekali tidak di kenalnya.
Hari ini hari pertama di bukanya Go Yoghurt! – kafe khusus yoghurt yang di dirikan Nelia dan Frankie Djati (Sepasang kakak – beradik anak pengusaha resto terkenal, Thomas Djati). Sampai saat ini Thomas Djati sudah menggelar lima restoran, dua kafe dan sebuah coffe shop – beberapa di antaranya bahkan di waralabakan dan menarik investor Singapura.
Pembukaan Go Yoghurt! Cukup ramai, di penuhi undangan yang merupakan para kerabat dekat. Saat itu kafe ini di penuhi orang-orang yang tengah berbincang, berkenalan, dan bersenda gurau sambil di temani yoghurt pilihan masing-masing.
“Sabar.” Obet menyahut asal sambil mencomot sesendok yoghurt Alice. “Sebentar lagi kita pulang.”
Alice memutar bola matanya yang cokelat. Sejak tadi Obet bilang “sebentar lagi”, tapi kenyataannya mereka nggak pulang-pulang juga. “Tunggu apa lagi sih?” Alice mengerang gemas.
Obet tersenyum simpul. “Tunggu, gue mau ketemu teman gue dulu, ya!” Obet berkata sambil menatap adik tirinya itu.
“Temen lo? Siapa lagi?” Alice mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, seakan bisa menemukan orang yang di maksud Obet.
“Dia adik kelas gue di Virgina. Dulu kami sempat satu sekolah, tapi tiba2 dia balik ke Jakarta waktu mau masuk SMA.” Obet mengedipkan mata pada Alice. “Mau gue kenalin? Ganteng lho…”
Mendengar omongan kakak tirinya ini, Alice lagi2 hanya bisa memutar bola matanya dengan jemu. “Kalau dari tadi lo nggak lihat temen lo itu di sini, artinya dia nggak di sini. Pulang aja yuk…” Alice memelankan suaranya.
“Pasti dia datang. Karena Nelia dan Frankie kan sepupunya, dan mereka bilang…”
Alice sudah malas mendengar ocehan obet.
Mama Alice dan papa Obet – Fabio Dharmawan, seorang pengusaha berdarah Italia – resmi menikah kurang – lebih satu setengah bulan yang lalu. Pernikahan merekalah yang menjadi alasan Alice dan ibunya meninggalkan Malang untuk memulai hidup baru di Jakarta.
Segalanya jadi benar-benar istimewa untuk Alice : memiliki ayah, memiliki kakak laki-laki, tinggal di rumah besar, dan menetap di ibu kota. Semuanya benar2 baru dan bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya – ia di tinggalkan ayah kandungnya sejak sepuluh tahun lalu dan selalu kesepian di rumah kontrakan kecil dengan perabotan seadanya.
Roberto Dharmawan – alias Obet – adalah kakak cowo yang menyenangkan bagi Alice. Sama sekali bukan karena hidung mancung Obet yang khas cowo Italia atau kulit kecoklatannya yang halus lho!
Setelah sebulan lebih tinggal serumah, hubungan mereka sudah dekat dan nyaris tidak merasa canggung lagi.
Kembali pada suasana ramai di Go Yoghurt! Lagu-lagu morning musume menamabah keceriaan, dan bagi Obet – yang menggemari cewek-cewek imut asal Jepang itu – hal itu benar-benar poin plus.
Ugh! Gue udah nggak tahan! Alice cemberut.
Tepat saat itu Obet melihat seseorang menuju meja mereka sambil membawa segelas Yoghurt. Seseorang yang di kenalnya. Mata Obet berbinar, pertanda telah menemukan sosok yang ingin di temuinya sejak tadi. “Ah, itu dia…”
“Gue mau ke toilet aja deh!” seru Alice, tidak memperhatikan kakaknya. Cewe itu langsung berdiri dengan tampang kesal dan gerakan kasar. Lagi pula Alice yakin Obet belum mau pulang entah sampai kapan.
Ketika Alice memutar tubuhnya untuk pergi menjauh, tiba2 saja…
BUUUKKK!!!
Ia menabrak seseorang yang tadi berjalan cepat kearah meja mereka dan berada persis di belakangnya. Gadis itu menutup mulut, terkesiap menyaksikan yoghurt berwarna ungu muda mengotori jaket denim Ralph lauren yang di kenakan cowok itu.
“Ah, maaf…” Alice merasa wajahnya memanas. “Maaf!” ulang‟y lagi sambil merogoh tasnya dengan cepat, mencari sapu tangan.
Cowok di depannya kelihatan kaget. Dia hanya memandang wajah panik Alice yang kini sedang membersihkan tumpahan yoghurt pada jaketnya dengan saputangan pink – merah bergambar hello kitty.
“It‟s okay. Sini… gue bersihin sendiri.” Cowo itu berkata pelan – sama sekali tidak ada nada kesal apalagi marah dalam suaranya. Ketika si cowo mengambil saputangan itu, jemari mereka bersentuhan sedikit, membuat Alice dengan gugup menarik tangannya.
Obet nyaris berdiri untuk memberi sedikit bantuan – entah apa pun bentuknya. Namun ia malah membatalkan niatnya.
Alice menatap wajah cowo yang di tabraknya dengan takut-takut. Seakan menyadari penabrak mengamatinya, si cowo berhenti menyeka sejenak dan balas menatap Alice tepat pada mata cokelat cowe itu.
Alice kontan mengalihkan pandangannya dengan perasaan campur aduk.
Seketika ia ingat kunci mobil Obet ada di dalam tasnya. “Gue ke mobil duluan, Bet!” ujarnya sebelum berlalu cepat, meninggalkan cowo asing itu berdiri di samping meja yang di tempati Obet.
Sementara itu, si cowok asing terperangah. Dengan tangan masih menggenggam saputangan Hello Kitty milik Alice, sebentuk senyum terukir di wajah cowo itu.
I‟ve got to know who she is…
Kalau saja tengah malam nanti ada bintang jatuh, cowok itu akan memohon agar bisa bertemu lagi dengan Alice.

Komentar