Dilan |dia adalah Dilanku tahun 1991|Bagian 2. hari jadi| perpustakaan-kitasemua.blogspot.com


1
Waktu itu, tanggal 22 desember 1990, sekitar pukul tiga sore, aku dan dilan berduan naik motor menyusuri jalan buah batu untuk mengantar aku pulang.
  Rasanya, jalan itu, Jalan Buah Batu itu, dulu, masih sepi sekali. Belum begitu banya orang, belum begitu banyak kendaraan. Belum begitu banyak spanduk dan baliho. Trotoar juga belum dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Di tempat-tempat malah masih bisa kulihat sawah meskipun tidak begitu banyak.
  Rasanya, jalan itu,Jalan Buah Batu itu,bukan lagi milik pemkot, bukan lagi milik Bapak Ateng Wahyudi (Wali Kota Bandung waktu itu),  melainkan milik aku dan dialn. Sebagai keindahan yang nyata bahwa Dinas Bina Marga telah sengaja membuat jalan itu memang khusus untuk kami. Khusus untuk merayakan hari resmi kamimulai berpacaran pada hari itu.
  Perasaanku, terasa lebih deras dari hujan dan melambung lebih ringan dibandingkan udara. Di hatiku adalah dia, dengan perasaan hangat yang kumiliki. Di kepalaku adalah dia, dengan semua sensasiku dan alam imajinasiku yang melayang.
  Kupeluk dilan bagai tak boleh ada yang ngambil selain diriku. Kupeluk dilan sambil mengenang lagi saat pertama kali aku mulai mengenalnya. Aku tersenyum (kadang-kadang diiringi rasa bangga) bahwa Panglima Tempur it, anak bandel itu, adalah yang kini jadi milikku, adalah yang bisa kuacak-acak rambutnya kalau aku sedang kesal kepadanya. Dan itu, rasanya, tak akan ada selain aku yang berani melakukannya.
  Panglima Tempur itu adalah orang yang dulu pernah kudatangi ketika dia sedang ngumpul bersama teman-temannya di warung Bi Eem, untuk aku suruh ngerjain tugas-tugash PR-ku, padahal waktu itu aku dan dia belum resmi berpacaran.
  “Kerjain, ya?! Ya, ya, ya?!” kataku sambil senyum merayu, menatap wajahnya dan menyerahkan dua buku yang ada tugas PR-nya. “Aku mau main ke Palaguna, sama temen-temen. Dadaaah, Dilan!”
  “Hati-hati,” katanya.
  “Iya.”
  Dilan kulihat hanya tersenyum, ketika aku pergi bersama Revi, Ratih, dan Wati karena ada acara di Palaguna Plaza, yaitu mall Ipertama di Bandung, yang dulu selalu menjadi tujuan utama orang Bandung pada nongkrong dan belanja. Sekarang, di sekeliling bangunan itu sudah ditutupi oleh seng karena mau dirobohkan.
  Dan, tugas-tugas PR-ku itu memang dia kerjakan, tapi dengan dia tambahi puisi di halaman belakang bukunya:




KALAU
   “ Kalau limun menyegaran, kamu lebih. Kalau cokelat diisi kacang mete katanya enak, tapi kamu lebih. Atau, ada roti diisi ikan tuna berbumbu daun kemangi, kamu lebih. Kamu itu lebih sehat dari buah-buahan. Tahu gak? Lebih berwarna dari pelangi. Lebih segar pari pagi. Jadi,kamu harus mengerti,ya, aku menyukaimu sampai tujuh ratus turunan, ditambah 500 turunan lagi.”
-Dilan
  Atau ini:

  “Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku pasti tidak bisa karena aku Cuma mencintai Milea.”
-Dilan
  Atau ini:

  “PR-ku adalah merindukanmu. Lebih kuat dari Matematika. Lebih luas dari Fisika. Lebih keras dari Biolaogi.”
-Dilan
  Atau ini:

  “Aku ingin sekolah yang member tahu lebih banyak tentangmu melalui pendekatan Fisika dan Biologi.”
-Dilan
 
  Aku nebak, puisi yang terakhir itu pasti ada hubungannya dengan aku sebagai anak Biologi dan Dilan sebagai anak Fisika.
  Jawab Dilan, “Iya.”

2
Tanggal 22 desember 1990 itu adalah hari rayanya, hari yang benar-benar menyenangkan bagiku.
  Di bawah guyuran hujan, kami tertawa terbahak-bahak dan terlibat ke dalam berbagai perbincangan. Seolah-olah semuanya berakhir dengan baik setelah melewati semua peristiwa yang aku alami.
  “Aki bisa berhentiin hujan,” katanya.
  “Caranya?” tanyaku sesaat setelah aku diam.
  “Bentar,” kata Dilan. Lalau, dia berseru: “ Berhenti, hei, hujan!”
  Kemudian, Dilan diam, menunggu hasilnya. Aku juga diam.
  “Kok, gak berhenti?” kutanya.
  “Gak denger dia.”
  “Gak punya kuping?”
  “Iya.”
  Kami ketawa.
  “Aku bisa berhentiin motor,” katanya.
  “Aku tau caranya,” kataku.
  “Gimana?”
  “Rem aja,” kataku. “Gampang, kan?”
  “Kok, tau?” jawab Dilan.
  “Bayi juga tau.”
  “Bayi ajaib.”
  Dia ketawa, aku juga.
  “Aku bisa menyihir kamu jadi tambah erat meliknya,” katanya.
  “Gak usah disuruuus….,” kataku berseru sebagai bisa menembus suara hujan
  “kenapa?” Tanya Dilan.
  “Bisa sendiriii!!”
  Lalu, kupeluk dia eraaat sekali!
  “Hahaha.”
  Ya Tuhaan! Terima kasih untuk yang dulu itu, aku sangat senang! Senaaaang sekali rasanya!
3
Kira-kira setelah melewati jperempatan Jalan BKR kalau tidak salah itu di sekitar daerah SMK Bina Warga,Dilan bertanya apa cita-citaku. Kujawab saja seenaknya bahwa aku ingin jadi pilot meskipun saja aslinya enggak.
  “Kalau kamu?” kutanya balik.
  Aku juga ingin tahu apa cita-citanya
  “Aku?”
  “Iya..,” kataku.
  “Aku ingin menikah dengamu!” katanya
  Dilan menjawab dengan cepat. Aku ketawa, setelah terperangah sebelumnya.
  Gampang sekali rasanya ketika dia harus mengatakan hal itu. Asli, terdengar menjadi begitu sederhana.
  Bagiku, Dilan adalah salah satu dari sedikit orang di dunia ini yang bisa mengatakan pada apa pun yang dia inginkan, tanpa ragu-ragu.
  “Kau mau?” Dilan nanya.
  “Mauuuuuuu!!!!”
  Suaraku seperti mampu mnembus deru hujan.
4
Itu adalah benar-benar hari yang cukup indah bagiku. Rasanya, aku seperti orang yang siap untuk membiarkan dirinya membawa aku pergi ke mana pun, ke tempat terjauh mana pun yang ada di dunia, asal diizinkan oleh Ayah dan Ibu.
  Tapi, yang ia lakukan malah membawa aku pulang  karena motornya dibelokan kearah Jalan Mutiara, untuk menuju rumahku yang ada di Jalan Banteng, yaitu Jalan Banteng yang dulu masih nyaman dan cukup menyenagkan.
  Dulu, daerah itu, rasanya teduh karena dirimbuni oleh aneka dedaunan dari pohon-pohon besar yang banyak tumbuh di kanan kiri jalan. Itu adalah pohon Damar , Angsana, dan Mahoni. Trotoarnya masih oke, belum dipenuhi pedagang kaki lima.
  “Pulang aja, ya,” katanya, “takut nanti kamu sakit.”
  “Iya,” kataku, “kamu juga pulang.”
  “Iya.”
  Suaraku pelan, tapi Dilan pasti bisa mendengar karena pipi kananku merebah di punggungnya.
  Kukira itu adalah hal paling romantic yang pernah aku berikan ke Dilan, dengan tujuan agar aku juga bisa merasakan hal yang sama, hehehe!
  “Liaaa! Liaaa! Mau Mileaaa?”
  Mendengar Dilan meneriakan namaku, langsung kuangkat kepalaku dari punggungnya.
  “Apa?” tanyaku bingung.
  “Pak, mau milea?” Tanya Dilan, dengan suara sedikit agak keras kepada orang yang sedang berteduh di emper toko.
  Orang itu hanya melongo karena tidak menyadari apa yang dimaksud oleh Dilan.
  “Heh?!” seruku.
  Dan yang bisa kulakukan adalah mengacak-acak rambutnya.
  Dia ketawa.
  “Ditawar-tawarin!” kataku. “Emang aku kue?!”
  “Hahaha.”
  “Gimana kalau dia mau?” kutanya.
  “Gak apa-apa,” jawabnya. “kan, aku tau, kamunya gak akan mau.”
  “Aku maunya ke siapa?” kutanya Dilan
  Kukira, aku selalu bisa membuat pertanyaan untuk mendorong Dilan terus bicara. Bukan apa-apa karena aku senang mendengarnya.
  “Ke siapa,ya?” Dilan malah balik nanya.
  “Ke siapa?” kutanya lagi sambil senyum dengan nada sedikit mendesak. “Jawab!!!” kataku sambil menodongkan telunjukku yang kubentuk seperti pistol ke perutnya.
  “Aku sebutin satu-satu, ya?” Tanya dia.
  Aku diam seolah olah membolehkan.
  “Ke Nandan, bukan?” Tanya Dilan.
  “Enggaaaaaakkkk!” jawabku langsung sedikit teriak.
  “Ke Beni?” Tanya Dilan dengan nada suara meledek.
  “Enggak!!” jawabku menggerutu sambil kuacak-acak rambutnya.
  Dilan memang sudah tahu Beni karena aku pernah cerita.
  “Ke Anhar?”
  “Gak!!!” jawabku tegas dan langsung.
  “Ke aku?”
  “Iyaaa. Hehehe,” jawabku dengan suara pelan di telinganya.
  “Kalau akunya gak mau?” tanya Dilan.
  “Heh?! Kamu yang duluan mau!!” kataku dengan suara nyaris teriak sambil pelan kupukul bahunya.
  Dilan ketawa.
  “Sok pake ramal-ramal segala,” kataku.
  “Harusnya lamar, ya? Bukan ramal.”
  “Iyaaa,” kataku di kupingnya
  Dilan ketawa lagi
  “Sok pake ngaku-ngaku utusan kantin segala.”
  “Kapan?”
  “Itu, waktu pertama kamu dating kerumah,”
“Hahaha. Tapi, kamu suka?”
  “Iya,. Hehehe.”
  Aku tersenyum dan kueratkan lagu pelukanku

5
Ketika sudah sampai di depan rumahku, aku turun dari motornya.
  “Cium jangan?” Tanya Dilan tiba-tiba.
  Serius, kata-kata itu membuat aku langsung kaget.
  “Heh?”
  Mukaku pasti merah. Aku berdiri dan senyum di samping Dilan yang masih bertengger di motornya, memandangku.
  “Heh, apa?” Tanya Dilan
  Betul-betul aku jadi salah tingkah, tidak tahu harus bagai mana.
  Dengan perasaan yang bimbang, sebentar kutoleh kea rah rumahku dan lalu kupandang lagi Dilan dengan senyum malu-malu.
  Sebenarnya bias saja kulakukan hal itu, tapi aku tidak akan pernah benar-benar nyaman kalau kulakukan di tepi jalan depan rumahku!
  “Nanti, nanti! Nanti, ya. Hahaha,” kataku berusaha membuat Dilan merasa nyaman dengan gagasannya yang tiba-tiba itu.
  Dilan Cuma senyum.
  “Apa yang nanti?” Tanya Dilan sok serius
  Dengan hati yang masih berdegup, kusentuhkan jari telunjukku ke bibirnya yang tersenyum.
  Dilan ketawa.
  Kukira dia mengerti, aku sedang member isyarat bahwa yang aku maksud dengan ”nanti” adalah soal ciuman.
  “Atau … gini aja,” kata Dilan sambil mengangkat tangan kirinya.
  Jari-jarinya dibuat memoncong, membentuk seperti ular siap mematuk.
  “Ikuti, ya,” katanya.
  Aku mengangguk, lalu kulakukan hal yang sama seperti yang Dilan lakukan.
  Kemudian, Dilan menyentuh ujung moncong tangannya ke ujung moncong tangan kananku untuk membuat gerakan seperti sedang melakukan ciuman.
  Aku ketawa dan dia juga.
  Kukira itu adalah ciuman pertamaku dengan Dilan yang dilakukan secara simbolis! Hihihi.
  Habis itu, Dilan pergi.
  Beberapa detik kemudian, aku rindu ingin bertemu kembali.
6
Di rimah, kudapati Ibu sedang menelepon, Airin sedang main game Nintendo, si Bibi sedang nyetrika.
  “Kamu gak les?” tanyaku ke Airin.
  “Nanti, jam empat,” jawab Airin.
  “Basah-basahan gitu!” kata Ibu, setelah selesai nelepon.
  “Iya, tadi naik motor sama Dilan.”
  “Udah, sana mandi!” kata Ibu sambil jalan ke kamarnya.
  “Siap,ibuku.”
  Tadinya, aku mau bilang ke Ibu bahwa hari itu aku sudah resmi berpacaran dengan Dilan, tapi gak jadi, entah mengapa, aku merasa lebih baik jangan dulu, meskipun mudah saja bagiku untuk ngomong.
  Kupikir gak perlu buru-buru juga. Akan ada waktunya yang tepat kapan aku harus bilang soal itu.
  Degan hati yang tetap dipenuhi rasa rindu ke Dilan, kuambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk lalu berendam di air hangat. Nyanyi-nyanyi bahagia sambil senyum.
  Kamu pasti mengerti mengapa aku begitu. Iya, karena aku senang, hari itu aku sudah resmi menjadi pacar Dilan.
  Kukira, aku dan Dilan sangat semangat untuk itu dan untuk apa-apa yang akan datang!

Komentar

  1. jangan lupa buar berlangganan yah biar ga ketinggalan update terbaru nya

    BalasHapus

Posting Komentar