Dilan |dia adalah Dilanku tahun 1991|Bagian 1.aku| perpustakaan-kitasemua.blogspot.com
Aku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan. Lahir di
Jakarta, tanggal 10 Oktober 1972 dan sudah mandi.
Sekarang, waktu nulis buku ini,
aku tinggal di kemang, di daerah Jakarta selatan. Di sebuah rumah dengan luas
tanah 124 meter persegi dan luas bangunan 185 meter persegi. Tiga kamar tidur,
dua kamar mandi, dan tidak dijual.
Itu adalah rumah kami yang baru,
yang kami tempati sejak lima bulan yang lalu setelah rumahku yang di Jakarta
pusat di jual.
Malam ini, Minggu, tanggal 25
januari 2015, pukul 22;19 waktu indonesia bagian barat dan sepi, aku sedang di
kamarku, menikmati kopi susu, setelah tadi baru selesai shalat isya, dan terus
makan rambutan yang kubeli sepulang dari mengantar suamiku ke stasiun kereta
api karena ada urusan pekerjaan di Cirebon. Sedangkan, anakku sudah tidur di
kamarnya dari sejak pukul Sembilan tadi.
Di luar sedang hujan dan angin
berhenbus cukup kencang. Mick Jagger lagi bersama Rolling Stones di dalam
kumputerku, menyanyikan lagu-lagu lamanya yang bagus, menemani aku yang sedang
menyesuaikan diri dengan cuaca Jakarta, setelah tadi membaca sebuah buku yang
kuambil dari dalam laci mejaku, yaitu buku dengan judul:
“Dilan, Dia Adalah Dilanku, Tahun 1990”
Itu adalah buku yang aku tulis
sendiri dan sudah beredar di semua took buku kesayangan pemiliknya.
Di buku itu, aku bercerita
tentang kehidupan masa laluku, pada saat masih SMA di Bandung tahun 1990, yaitu
waktu aku masih remaja, waktu aku masih harus dimaklumi kalau emosinya belum
seimbang sehingga kadang-kadang suka susah mengontrol diri.
Saat itu, aku masih remaja dan
boleh dikatakan belum dewasa, dan belum mampu menghadapi masalah dengan benar,
sehingga harusmaklum kalau kadang-kadang ketika berusaha menyelesaikan satu
masalah justru malah menimbulkan masalah yang lainnya.
Pada bulan September tahun 1990, yaiut di sekolahku yang baru, yang ada
di daerah buah batu, bandung. Aku mulai mengenal orang bernama Dilan. Waktu
itu, aku adalah murid baru, baru dua minggu, pindahan dari Jakarta karena harus
ikut orang tua yang di pindah tugasnya ke bandung.
Dilan yang aku maksud adalah
yang dulu tinggal di perumahan ruing bandung. Rambutnya sering terlihat
berantakan, seperti ga pernah di sisir selama hidupnya dan suka pake jaket
jeans belel atau jaket army korea pemberian ayahnya yang tentara.
Kalau ke sekolah Cuma membawa
satu buku tulis, yang dia selipkan di kantong belakang celana seragamnya,
seolah-olah baginya, hanya dengan satu buku saja sudah akan cukup untuk
mencatat semua mata pelajaran yang ada di dunia dan di tambah oleh puisi yang
suka dia tulis di halaman belakangnya.
Tentu saja hal itu dianggap
tidak baik oleh menteri pendidikan atau oleh guru-guru sehingga dia sering
ditegur setiap kalau ada acara pemeriksaan buku catatan. Mungkin, kamu juga
sama seperti dia, tapi Dilan selalu mendapat ranking pertama atau minimal kedua
di kelasnya. Si Zael, teman sekelasku, dia juga sama, bawa buku tulisnya Cuma
satu, tapi nilainya jeblok, dan itu bagiku adalah kekonyolan yang tiada tara!
“Bukuku ada di sini,” jawab
Dilan suatu hari, menunjuk kepalanya, ketika aku Tanya kenapa cuman bawa satu
buku. “kalau oulpennya, masih di took, sih. Nanti aja beli ya.”
Habis itu, aku Cuma bias tersenyum.
Dilan juga sama, waktu itu masih
remaja, yaitu masih anak remaja yang harus dimaklumi kalau punya jiwa
pemberontak dan tidak suka diatur. Yaitu, anak remaja yang masih harus
dimaklumi kalau kadang-kadang tidak bias menahan keinginannya. Yaitu, anak
remaja yang masih harus dimaklumi kalau unek-unek di dalam hatinya suka berubah
menjadi rasa dendam karena disimpan.
Di sekolahnya, Dilan dikenal
sebagai Palinglima Tempur dari salah satu geng motor yang ada di bandung. Ke
mana-mana selalu memakai motor jenis CB Gelatik yang sudah dia modif.
“Emang jadi anggota geng motor
syaratnya apa?”
“Harus punya motor,” jawab
dilan.
“Berarti kalau mau jadi anggota
geng kereta harus punya kereta, ya?” kataku dengan nada seperti orang kesal.
Dilan ketawa.
Dulu, anak-anak geng motor,
hamper pasti adalah anak dari keluarga ekonomi menengah keatas karena faktanya
hanya kalangan merekalah yang mampu beli motor. Berbeda dengan sekarang,
rasanya hampir semua orang sudah bias beli motor. Udah pada kaya atau karena
jaman sekarang sudah ada kemudahan kredit.
Berarti, dengan begitu, pada
zaman dulu, syarat untuk bias menjadi anggota geng motor adalah, selain mau,
harus puna orangtua dengan ekonomi berkecukupan.
“kalau gak punya motor, namanya
geng bonceng motor,” katanya. “ ini memang motor ayahku,” kata dilan lagi.
“Bukan motor hasil keringatku sendiri. Kau tau kenapa aku pake?”
“Kenapa?”
“Biar orang pada tau aku belum
bisa beli motor dengan uang sendiri,” jawab dilan berbisik.
“Hehehe.”
“Jangan complain: ah, itu, kan,
motor orangtuanya.”
“Kenapa?” Kutanya.
“Gak akan kudenger”
“Kenapa? Kenapa gak didenger?”
kutanya lagi.
“Karena kalau ayahnya sudah bias
beliin dia motor, dia gak akan ngomong gitu lagi.”
“Hehehe.”
Biar bagaimanapun, itulah dilan,
yang kemudian resmi berpacaran denganku. Dimulai di warung bi Eem, pada tanggal
22 Desember tahun 1990, dinyatakan secara lisan dan di atas kertas bermeterai
untuk dijadikan Dokumen perasaan katanya.
Tapi, aku mau pacaran dengan
dilan bukan karena dia anggota geng motor atau karena dia dikenal sebagai anak
dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Sama sekali bukan!!!
Sebab kalau aku mau ke dia
karena geng motornya, ada banyak anak geng motor lain yang bias kupilih
sembarangan. Kalau aku mau sama dia disebabkan oleh karena dia berasal dari
keluarga berada, ya, udah terusin aja pacaran sama beni, dia orang kaya, yaitu
pacarku yang aku putusin karena gak tau perasaan, temperamental dan sombong,
juga cenderumg merendahkan orang lain.
“ Boleh gak kalau aku gak suka
kamu ikut-ikutan geng motor?” kutanya Dilan suatu hari.
“Denger ya, Lia. Kamu harus tau,
senakal-nakalnya anak geng motor, mereka juga shalat pada waktu ujian prektek
agama,” katanya.
Mendengar itu langsung
kuacak-acak rambutnya karena aku kesal!
“Aku juga rajin shalat
idulfitri,” katanya, seraya menghindar untuk jangan kuacak-acak lagi rambutnya.
“Iya. Setahun sekali!!” kataku
jengkel.
Dilan ketawa.
Aku mau pacaran dengan dilan
bukan juga oleh karena dia anak yang bandel, bukan juga oleh karena dia suka
berantem. Karena aku juga tau bahwa itu adalah perbuatan yang tak baik, yang
tidak bagus dicontoh oleh seluruh anak-anak di dunia, walau masih bisa dianggap
lah lumrah sebagai hal biasa pada anak usia remaja, tetapi bagiku, itu adalah
hal buruk yang tidak aku sukai dari Dilan. Bukan apa-apa, aku takut dia akan
mendapat hal buruk dari oleh karena itu.
“Si Dadang, kau tau si Dadang
gak?” Tanya Dilan.
“ Dadang mana?”
“Gak tau, ya?”
“Kok, sama, ya? Aku juga gak
tau.”
“Ih!”
“Kalau si Guntur?”
“Kamu gak tau juga?” kutanya
balik.
“Itu teman sekelasmu.”
“Oh, iya. Kenapa dia?”
“Dia itu diam, bukan karena
baik.”
“Karena apa?”
“Karena, gak berani. Karena,
takut. Gak siap dimarahin.”
Aku diam.
“Harusnya, dia juga dimarahi
karena penakut. Dunia butuh orang pemberani. Yes?”
Aku diam.
“Kamu piker bandel itu gampang?
Susah. Harus tanggung jawab sama yang dia udah perbuat,” kata Dilan lagi.
Aku diam menyimak.
Diam-diam, sebetulnya aku suka
dengan pemikiran dilan. Kau boleh tidak setuju, tapi dilan juga berhak memiliki
pendapatnya sendiri. Kamu bukan penguasa dunia, bukan pemilik keberadaan, jadi
dilan juga berhak untuk tidak menerima pendapatmu sama sebagaimana halnya kamu
punya hak tidak menerima pendapatnya karena dilan juga bukan pemilik
keberadaan.
“Baik itu gampang. Tinggal diam,
udah, deh, selesai,” katanya
“Tapi, anak nakal ngerepotin
orang lain.”
“Gak ada anak nakal, reuninya
gak akan rame.”
“Iya,” kataku tersenyum.
“Kau tau, kalau sekolah ini
diserang, siapa yang akan membela? Kami ini, lah! Si Guntur, sih, pasti lari.
Guru-guru juga sembunyi, tuh.”
“Hehehe.”
“Tanpa anak nakal, guru BP gak
akan ada kerjaan. Harusnya, guru BP itu berterima kasih, deh, ke anak-anak
nakal,” kata Dilan tersenyum.
“Hehehe. Jadi inget dulu kamu
pernah bilang. Semua siswa itu sombong, Cuma kamu yang mau ke ruang BP,”
kataku
Dilan ketawa.
Menurutku, aku mau pacaran
dengan dilan lebih karena sikapnya padaku selama ini. Menurutku, dia itu
memiliki kepribadian yang aku inginkan. Memiliki pemikiran yang mampu mengubah
pola pikirku yang lama.
Apa yang ia lakukan rasanya
sellalu adalah hal yang lain dari yang lain. Yaitu, hal berbeda yang sulit ku
duga untuk selalu membuat aku merasa surprise
dan merasa menjadi seseorang yang begitu istimewa, merasa menjadi wanita
yang begitu diharagai.
Setiap kali di sampingnnya,
hatiku selalu akan senang, terutama ketika aku sedang bercakap-cakap dengannya.
Dia itu selalu bisa membuat aku ketawa atau minimal Cuma tersenyum.
“Aku bisa membuat kamu tidak
ketawa,” katanya pada suatu hari.
“coba!” kutantang dia
Lalu, dia berseru:
“Tidak ketawa! Alakazam!!!” katanya, sambil ia
ayunkan jari telunjuknya kea rah mukaku.
“hahaha.”
Aku ketawa, tapi ketawanya
pura-pura, bukan benar-benar ketawa, melainkan hanya untuk membuat dia merasa
gagal menyihir.
“Gagal! Gak bisa diajak kerja
sama!” kata Dilan mengeluh.
“Hahaha.”
Kali ini aku betul-betul ketawa,
karena memang ingin ketawa ketika
melihat mukanya.
“Terima kasih kerja samanya,”
kata dia kemudian dan tersenyum.
“Hahaha.”
Rasanya dia selalu bisa membuat
aku gembira. Rasanya, dia selalu bisa melengkapi hari-hariku. Bisa selalu
membuat aku terjebak pada suatu keadaan yang lebih dari Cuma sekedar rasa
senang.
Aku suka cara dia peduli padaku.
Aku suka bagaimana dia bisa membuat aku merasa aman tinggal di dunia yang
katanya penuh bahaya ini.
“Tapi,aku gak bisa melindungi
kamu dari nyamuk,” kata dilan di telepon dengan nada sok mengeluh.
“Gak apa-apa. Kan, ada obat
nyamuk.”
“Ternyata, Baygon lebih baik
dari aku.”
“Hehehe, kamu juga baik.”
“Rasanya aneh aku dibilang
baik.”
“Hehehe. Katanya ada ibu-ibu di
kompleks perumahan yang melarang anaknya temenan sama kamu, ya?” kutanya.
Info itu aku dapat dari Nandan,
entah bagaimana Nandan tahu.
“Ya. Ibunya si Ipul, itu. Tapi
si ipul tetep aja mau berkawan sama aku. Jadi, buat aku si ipul itu kawan aku
sejati. Udah teruji. Ttep aja mau berteman, sampe belabelain siap dimarah
ibunya. Hahaha.”
“Kalau… orangtuaku melarang aku
pacaran sama kamu. Gimana?”
“Ah, gak apa-apa gak pacaran
sama kamu juga, deh.”
Aku diam.
“Asal kamunya tetep ada di bumi.
Udah cukup, udah bikin aku seneng,” katanya lagi.
Kata-katanya selalu akan bisa
membuat perasaanku melambung. Kau bisa saja menganggap itu gombal, tapi bagiku,
hal macam itu perlu juga diungkapkan. Karena kalau benar bagimu kata-kata itu
tidak penting, lalu mengapa engkau sakit hati ketika mendapat kata-kata makian?
Lalu, mengapa engkau tersinggung. Ketika mendengar kata-kata hinaan? Bukankah
makian dan hinaan itu juga sama, Cuma sekedar kata-kata? Mengapa tidak kau
anggap juga sebagai omong kosong?
Ah, pokoknya ada begitu banyak
hal yang aku sukai dari dia, sampai sulit kalau harus dikatakan semuanya.
Memang, di antaranya ada juga yang membuat aku jengkel, tetapi tepat saja itu
akan selalu bisa membuat aku tersenyum.
Ya, cinta mungkin aneh, tapi
dengan orang seperti dia di dunia, menurut aku kerasa menjadi lebih asyik,
kerasa lebih seru dan menyenangkan! Setiap aku bangun tidur, selalu ingin
kupastikan bahwa dia masih ada di Bumi.
Jika kau anggap aku berlebihan
di dalam menilainya, aku bias maklum, mungkin itu disebabkan oleh karena selama
hidupmu kamu tidak pernah mendapat seperti apa yang aku rasakan.
Sebenarnya, aku tidak mau lagi
berpikir kenapa kemudian aku memiliki rasa suka kepadanya. Lebih mudah
kukatakan bahwa aku tidak tahu mengapa kemudian aku jatuh cinta padanya.
Pokoknya , itu adalah scenario yang
paling menakjubkan dalam hidupku. Bagaimana kemudian dia bias mengubah
pikiranku. Bagaimana kemudian dia bisa mendekor ulang dan mengubah warna
hidupke.
Itulah Dilan bagiku. Itulah Dilan
menurut penilaianku. Kamu boleh punya pendapat berbeda dan itu tidak akan
mengubah penilaianku padanya.
Tapi, mari kita kembali ke soal
buku “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990”.
Di buku itu, aku hanya bisa menyelesaikan
ceritanya sampai resmi berpacaran dengan Dilan. Kamu boleh bilang ceritanya
menggantung, tapi aku merasa perlu untuk membaginya ke dalam beberapa episode,
dalam rangka bisa membagi rangkaian peristiwa itu berdasarkan pada
masing-masing kejadian.
Nah, kisah di buku yang pertama
itu adakah merupakan episode awal yang menceritakan saat-saat di mana Dilan mulai melakukan pendekatan, sampai akhirnya
resmi berpacaran denganku!
Sekarang, mala mini, mau aku
terusin lagi ceritanya, untuk kujadikan sebagai buku kedua, yang aku beri
judul:”Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991”.
Judulnya hamper sama, tetapi cuma
beda tahunnya saja. Buku kedua ini adalah periode berikutnya yang akan
menceritakan saat-saat aku sudah mulai berpacaran dengan Dilan di tahun 1991!
Terimakasih aku sampaikan untuk
Piyan, untuk Bowo, untuk Wati, untuk Revi, dan beberapa kawan SMA-ku yang lain,
yang sudah berusaha menghubungiku setelah membaca buku”Dilan, Dia Adalah Dilanku, Tahun 1990,” dengan harapan bisa
membantu aku mengingat lagi apa yang dulu pernah terjadi.
Kukira cukup manfaat, bagaimana
akhirnya aku bisa mendapat referensi agar bisa membuat cerita sambungannya
menjadi lebih lengkap. Apalagi, jika harus jujur, sebenarnya aku sering mengalami kesusahan ketika harus
mengingat lagi kejadian yang sudah lama berlalu secara rinci.
Begitulah, meskipun aku tidak
ahli dalam menulis, tetapi aku akan berusaha untuk bisa . aku akan berusaha
untuk menceritakan semuanya dengan jujur, dan dengan keadaan diriku yang kini
sudah menjadi sarang rindu, yaitu sarang rindu yang berisi oleh banyak hal yang
pernah kulalui di masa itu. Dan juga dengan keadaan diriku yang masih merasakan
segala macam emosi yang berkaitan dengan itu.
Di dalam ceritaku nanti, ada
beberapa nama yang terpaksa harus kuganti dengan nama yang lain. Hal itu
kulakukan demi menjaga kerahasiaan identitas dari orang yang bersangkutan agar
tidak merembet menjadi suatu persoalan dengan pemilik tempat dan orang-orang
yang bersangkutan.
Bahkan, di buku “Dilan, Dia
Adalah Dilanku, Tahun 1990,” aku tidak pernah menyebut nama tempat dimana aku
sekolah dan tidak pernah menyebut nama geng motor Dilan secara jelas. Salah satu
alasannya adalah aku tidak ingin merembet menjadi suato persoalan karena sudah
dianggap sudah merusak kredibilitas atau membuat mereka menjadi bangga diri
karena kupuji.
Tentu daja, tidak bisa dihindari
bahwa di dalamnya, aku juga membuat banyak opini terhadap sesuatu, atau terhadap
seseorang, tetapi aku bisa kalau kamu tidak setuju dengan opiniku karena kita
semua memiliki pendapat yang berbeda terhadap hal-hal itu.
Nyatanya sering begitu, kita
tidak akan selalu bisa setuju antara satu sama lainnya dan aku menyebut hal itu
sebagai sesuatu yang lumrah. Hanya saja
untunglah kita masih diberi kesadaran untuk saling menghormati dan menghargai
pendapat orang lain.
Oke, sebelum malam jadi larut,
sebelum aku nanti ngantuk, atas nama masa lalu mari aku lanjutkan ceritanya:

jangan lupa berlangganan yah biar ga ketinggalan part selanjutnya
BalasHapus